
"Ga-ra... dimana dia, Bu?" tanya Tuan Tedy dengan suara bergetar berusaha menembus kata.
Terlihat alat bantuan yang menempel di hidungnya berembun. "Gara sudah kembali, Ayah. Tenanglah, sekarang Ayah yang penting harus sembuh yah."
Tubuh tua yang masih berusaha kuat itu, kini mencoba melebarkan manik matanya. Melirik ke setiap sudut ruangan itu seperti mencari-cari sesuatu.
"Gara di ruangan sebelah, Ayah. Dia menjaga Kharisa." terang Nyonya Harina.
"Kharisa, apa yang terjadi dengannya, Bu?"
Nyonya Harina ragu untuk memberi tahu apa yang Kharisa alami, karena ia sendiri juga belum tahu jelas apa yang terjadi dengan menantunya itu.
"Kharisa kelelahan, Ayah. Ayo sekarang kita istirahat. Vino, tidurlah." pintah Nyonya Harina.
Nyonya Harina berbaring di sebelah suaminya sementara Vino sudah kembali tidur di sofa.
"Ayah, Ibu tidur di kursi saja yah. Ayah kesempitan."
Tuan Tedy menggelengkan kepalanya, "Tidur di sini saja yah, Bu? apa Ibu tidak merindukan Ayah? hem?"
Nyonya Harina mengembangkan senyumnya begitu lebar. Akhirnya ia memeluk tubuh sang suami kemudian memejamkan matanya. Semua tidur dengan tenang malam itu.
***
Tanpa terasa waktu begitu singkat, kelelahan yang masih seharusnya di tenangkan kini memaksa netra indah itu harus bangun. Gara mengerjap beberapa kali, merasa tempat tidur yang ia tempati saat ini terasa tidak lagi sesak.
"Kharisa." ucapnya cepat saat menyadari tangannya tak lagi menyentuh tubuh wanitanya. Matanya melirik ke segala sudut ruangan itu, namun tidak menemukan sosok yang membuat jantungnya berdetak tenang itu.
"Kharisa, astaga." Gara beranjak turun dari tempat tidurnya saat mendengar guyuran air di dalam kamar mandi. Ia tak memperdulikan keadaan tubuhnya kesekian kalinya rasa sakit itu menusuk-nusuk hingga terasa beberapa luka kembali terbuka di sana.
Vano yang masih mendengarkan nada indah dari dalam mulutnya terperanjat kaget saat Gara membanting pintu kamar mandi.
Ia masuk ke dalam dan mendapati Kharisa tengah menangis di bawah guyuran shower.
Wajah panik tubuh kuat kini terlihat melemah saat berdiri di depan wanita yang tengah meringkuk dengan tubuh gemetar menahan tangisnya.
Perlahan buliran bening itu lolos dari netra indah itu. Gara benar-benar terpukul melihat keadaan Kharisa.
Layaknya orang yang putus asa, penuh ketakutan. Seakan ada bayangan yang terus menghantuinya. Itulah yang Kharisa rasakan saat ini.
Derap langkah tak mampu di tangkap oleh rungu. Setiap langkah yang diambil sangatlah rapuh. Wajah sedih nyaris tak memiliki semangat lagi, seiring setiap tetesan air mata yang wanitanya keluarkan saat ini.
Gara meringkuk menutupi tubuh Kharisa yang basah di bawah sana. Ia ikut merasakan apa yang istrinya rasakan.
__ADS_1
Kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan rasanya untuk Kharisa harapkan selain menginginkan masa yang begitu terkutuk itu hilang dari jalur hidupnya.
Mengapa Tuhan begitu kejam memberikan titik ujian di perjalanan hidupnya? andai bisa melakukan protes, bisakah meminta ujian yang lebih berat tanpa membuat dirinya menjadi wanita yang begitu hina? Sayang, semuanya tidak akan bisa di rubah.
Jika bisa di katakan dengan kasar, begitu egoisnya kah Tuhan memberikan kepuasan pada pria brengsek seperti Khard, sementara Kharisa merasakan penderitaan dan hinaan sepanjang hidupnya.
Di bawah guyuran air, kelopak mata terpejam erat, rasa nyeri menghantam dirinya. Sakit, sungguh sakit sekali.
"Kakak ipar, ayo kita bawa Kak Risa kembali." ajak Vano yang sudah mengusap beberapa kali air matanya.
Sejak tadi ia sudah menangis saat menyaksikan semua drama pagi di kamar mandi itu. Lebih tepatnya bukan drama, melainkan kenyataan hidup yang di tulis dalam skenario sangat-sangat tidak adil.
Vano masuk ke kamar mandi dan membopong tubuh sang Kakak bersama Gara. Mereka menuntun Kharisa untuk duduk di tempat tidur. Kemudian Vano menutup tirai dan membiarkan Gara menggantikan pakaian istrinya.
"Aku ingin pulang." Suara lirih terdengar di bibir pucat Kharisa.
"Iya kita pulang, yang penting kau sehat dulu yah?" Gara memeluk kembali tubuh sang istri yang masih tanpa busana.
Kharisa memeluk Gara dengan suara tangis sesenggukan. Itu pertanda tangis yang benar-benar menyakitkan tentunya.
Gara mendaratkan satu ciuman di kening sang istri. Perlahan dan dengan penuh kesabaran ia memakaikan pakaian Kharisa, menyisir rambutnya dengan penuh kasih sayang. Suasana kembali hening.
Setelah usai semua aktifitas keduanya, kini Gara meminta Vano membuka tirai yang menutupi mereka.
"Kakak ipar." tegur Vano terkejut saat melihat Gara sudah melepas seluruh perban dan alat infus di tubuhnya.
"Tapi-"
"Sudahlah."
Tok
Tok
Tok
Tiga kali ketukan di luar kamar terdengar menghentikan percakapan mereka.
"Selamat pagi." sapa seorang Dokter dengan ramahnya. Yang tentunya bukan lagi Reynka. melainkan Dokter lain.
"Silahkan, Dokter." ucap Vano sopan.
Dokter itu segera memeriksakan keadaan Gara dan juga Kharisa tak lupa suster memberikan obat untuk kedua pasien itu.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Apa tidak sebaiknya alat infusnya di pasang lagi dan saya akan memberikan perban pada luka-luka anda ini?"
"Tidak usah, Dokter. Jika seperti itu saya akan terlihat seperti orang yang benar-benar sakit."
Vano yang mendengar perkataan Gara menggembungkan mulut yang ingin tertawa segera ia bungkam.
"Astaga Kakak ipar ini jarang bicara. Tapi sekali bicara mengapa membuat bibir bawahku hampir ikut tertawa sih?" batinnya.
Sementara Dokter yang berada di depan Gara pun juga tengah berusaha menahan tawanya.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi." ucapnya setelah proses pemeriksaan selesai.
Belum sempat pintu di tutup, kini terlihat sosok pria yang sudah berdiri tegak di ambang pintu itu.
"Randa,"
"Permisi, Tuan."
"Jangan memanggilku seperti itu lagi. Kita sekarang pengangguran." ketus Gara merendahkan dirinya sendiri.
Kharisa yang sudah tidak tahu kapan terlelapnya membuat mereka berbicara setengah berbisik.
"Oke baiklah, bagaimana keadaan kalian?" tanya Randa.
"Baik, hanya saja Kharisa seprtinya depresi." jawab Gara ragu saat menyadari tatapan Vano penuh selidik.
"Vano, sebaiknya kau ke ruang Ayah. Ibu akan membutuhkan mu."
"Baik Kakak ipar. Saya pergi dulu."
Setelah kepergian Vano kini tinggal Gara dan Randa yang menjaga Kharisa. Sepertinya dua pria itu memang tidak butuh waktu lama untuk memulihkan fisik mereka. Selama kekuatan tubuhnya sudah kembali tentu luka yang berada di tubuhnya sangat tidak berpengaruh.
Selama berbicara, Gara tak henti-hentinya mengusap lembut rambut Kharisa sesekali ia mencium kening wanitanya itu.
Mata Randa melirik setiap kali pemandangan mesra itu di tunjukkan oleh Gara. Entah apa maksudnya? apakah memang benar dia begitu caranya menunjukkan rasa cintanya? atau sekaligus ingin membuat Randa menginginkan hal itu juga? hanya Gara yang paham.
"Astaga, sepertinya ciuman mu itu hanya membuat Kharisa semakin tak berdaya." gumam Randa kesal.
"Randa, aku merasa ada yang aneh." tutur Gara tanpa menatap lawan bicaranya.
"Aneh apanya?"
"Sudah lama Kharisa kembali tenang, tapi mengapa ia tiba-tiba depresi lagi? ini pasti ada yang memunculkan kasus itu kembali di ingatannya. Kau mau membantu ku?" tanya Gara dengan wajah penuh harapnya.
__ADS_1
"Tentunya."
Oke, terimakasih banyak. Kau benar-benar teman sejati ku. Kalau begitu kita tidak akan jadi pengangguran. Kau akan membantu aku mengelola perusahaan Ayah."