Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 90. Di Permalukan


__ADS_3

Sosok wanita anggun berdiri dengan senyum mengembang di ambang pintu dan mulai melangkah semakin mendekat ke ruang makan.


Kharisa tampak memutar matanya malas, lagi-lagi Reynka berani masuk ke rumah ini. "Ya Tuhan kok bisa sih Gara yang dingin seperti ini mau menjalin hubungan dengan wanita muka tembok seperti ini? Huuh biarlah, aku tidak mau membuang tenaga ikut campur dengan mereka. Lagi pula ada Ayah dan Ibu di sini." batin Kharisa tampak menenangkan dirinya dan enggan bersuara.


Dengan wajah tanpa malunya Reynka bertanya pada mantan calon mertuanya, Tuan Tedy. "Ayah, aku kemari khawatir dengan keadaanmu. Aku ingin memastikan kesehatan Ayah. Bolehkah? lagi pula aku tidak percaya dengan dokter-dokter yang memeriksa Ayah."


Tuan Tedy menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. "Kau tidak percaya dengan Dokter yang berpotensi seperti mereka? lalu bagaimana aku bisa percaya dengan kau?"


Reynka menghela napas pelan. Meski ia begitu gugup melihat seluruh mata menatapnya tanpa sedikitpun berniat mempersilahkan ia duduk.


Ia mulai melangkah lagi, namun seketika langkah itu terhenti saat Gara bersuara. "Berhenti di situ dan jangan berani melangkah satu langkah pun!".


Gara sudah berdiri dari kursi meja makannya, lirikannya tertuju pada sosok Randa yang sudah siap melaksanakan apapun perintah dari Gara. Dengan gerakan cepat, Gara memberi isyarat pada sang sahabat.


"Oke." sahut Randa segera meninggalkan tempat itu menuju ruang kerja mereka.


"Gara...aku ingin berbicara denganmu sebentar saja. Boleh yah?" Reynka mulai menunjukkan wajah penuh harapnya.


"Aku rasa kau sudah cukup tahu diri aku tidak ada urusan denganmu lagi. Oh iya kau boleh pergi setelah mendapat berkas itu dari Randa. Aku ingin melanjutkan makan malamku dengan ISTRIKU." Gara sedikit menekan kata istri.


Reynka mengernyitkan dahinya dalam, berkas apa yang ingin Gara berikan padanya.


"Reynka." panggil Nyonya Harina lembut. Reynka dan Kharisa serentak menatapnya dengan perasaan penuh rasa penasaran.


Wajah Reynka yang bingung kini sedikit cerah. Sepertinya usahanya untuk selalu mengejar Gara akan mendapatkan lampu hijau dari Ibu mertua.


"Iya, Bu." sahut Reynka tersenyum.


"Saya tahu kamu sangat mencintai anak saya. Kamu seorang wanita, saya juga seorang wanita sama seperti Kharisa." Nyonya Harina berusaha selembut mungkin berucap.

__ADS_1


Reynka masih tersenyum antusias menunggu kelanjutan ucapan Nyonya Harina.


"Kamu tahu bagaimana sakitnya jika sesuatu hal yang paling berharga di hidupmu di rebut oleh seseorang bukan? Saya mohon dengan sangat, jauhi Gara. Kamu tidak bisa mengalahkan kehadiran Kharisa. Anak saya, Gara. Sudah sangat mencintai dan menjagamu dengan baik dulu. Tapi siapa yang menyia-nyiakan hubungan itu? kamu. Jika kamu mencintai anak saya pergilah. Cukup membuat Gara tidak menyakitimu sudah sangat baik. Kamu layak mendapatkan cinta yang baik. Pergilah, Nak." turut Nyonya Harina.


Suasana begitu mencekam. Ruangan yang tadinya hangat berubah menjadi sangat gerah dan tegang. Reynka berdiri diam mematung. Netranya begitu berkaca-kaca.


Benar apa yang di katakan Nyonya Harina, dialah dalang dari hancurnya hubungan itu.


"Anggap saja kepergianmu akan menjadi permintaan maaf yang tulus atas penghianatan kejam yang kau lakukan dengan Katroy dulu." lanjut Nyonya Harina.


Senyum getir tampak menahan tangis yang ingun Reynka pecahkan saat itu juga. Bibirnya pun bergetar hebat. Ia bukan hanya sekedar haus akan sentuhan, melainkan seluruh perhatian Gara lah yang begitu ia inginkan. Siapa lagi yang akan memperdulikan dirinya jika bukan Gara.


"Tidak semudah itu, Bu." ujar Reynka dengan suara lirihnya.


"Apa kau tidak takut jika apa yang Kharisa alami akan terjadi padamu?" Nyonya Harina masih berusaha membuka pikiran wanita itu.


Setidaknya jika cara keras tidak bisa membuat Reynka sadar, mungkin dengan bicara dari hati ke hati akan menyentuhnya lebih dalam.


"Gara, beri Ibu waktu." sahut Nyonya Harina.


"Reynka, Tuhan mungkin akan mudah memaafkan kita. Tapi ingat seluruh perbuatan kita pasti akan ada masa pertanggung jawabannya. Dan jangan sampai itu terjadi padamu. Kau tidak memiliki keluarga bukan? siapa yang akan melindungimu dan mengasihi mu jika sampai hal seperti itu terjadi kemudian hari?"


Nyonya Harina menghentikan ucapannya ketika melihat Randa datang mendekat pada Gara.


"Ini berkasnya." ujarnya menyodorkan sebuah map coklat pada Gara.


Gara melangkah mendekati Reynka. Kharisa masih menatap pertunjukan di depannya dengan tenang.


"Ini semua hal yang sudah kamu katakan mencintaiku dan berusaha mengejar cintamu. Aku bisa menyebarkan semua yang ada di sini hingga membuat apa yang sudah kamu tempuh saat ini akan hancur dalam sekejap. Maka, pergilah."

__ADS_1


Gara kembali menuju kursi di mana Kharisa duduk. Tangannya menggenggam tangan Kharisa yang berada di meja makan.


"Temani aku, aku mau mandi." ucap Gara melangkah beriringan dengan sang istri menuju kamarnya.


Reynka dan yang lainnya tampak penasaran dengan isi map coklat itu. Perlahan tangannya meraih lembaran di dalam map itu. Bibir mungilnya tercengang.


Matanya menatap nanar seluruh hasil dokumentasi dirinya yang sedang menikmati suasana di beberapa kamar tidur yang berbeda bersama pria yang tentunya berbeda juga.


Tangannya bergetar, urat malunya rasanya putus saat ini juga. Bagaimana bisa pria yang selalu ia kejar mengetahui semua perlakuannya di luar sana.


Map serta isi foto itu jatuh berserakan di lantai rumah itu. Nyonya Harina yang sejak tadi penasaran begitu terkejut.


"Astaghfirullah..." Tangannya membekap mulutnya sendiri saat sepasang mata itu menangkap pemandangan vulgar di lantai.


Randa hanya menyunggingkan senyum tipis menikmati keterkejutan Reynka. Mendadak wanita itu berlari keluar rumah itu. Terdengar isakan tangisnya terus semakin menjauh dan tak terdengar lagi seiring high heels yang melangkah menuju mobilnya terparkir.


Nyonya Harina mendekati beberapa foto yang masih bertebaran itu. Ia meraih satu persatu dan melihatnya dengan teliti.


"Randa, ini orang yang berbeda?" tanyanya menengadah ke arah Randa yang tidak begitu jauh berdiri.


"Sudahlah, Bu. Ayah saja sudah bisa menebak. Masa Ibu syok seperti itu?" sahut Tuan Tedy santai.


"Ayah, Ibu tidak bisa habis pikir. Reynka melakukan hal seperti ini untuk apa? uang? dia kerja Ayah?" Nyonya Harina mulai resah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Entahlah, Bu. Sudah ayo sini temani Ayah nonton." panggil Tuan Tedy enggan membahas Reynka.


"Ibu, Ayah, saya pamit ke kamar." Randa segera bergegas meninggalkan ruangan itu. Yah seperti biasa, dengan kemurahan hati keduanya menganggap Randa sudah seperti anaknya. Mereka meminta untuk dipanggil layaknya orang tua.


Tinggal sepasang suami istri yang tengah menikmati acara televisi tersebut.

__ADS_1


***


Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, tangis pun pecah sesekali Reynka memukul setir mobilnya.


__ADS_2