
Atas ijin pihak rumah sakit dan karena keadaan Kharisa juga memang memungkinkan untuk di bawa ke rumah. Akhirnya Gara mendapatkan ijin membawa istrinya pulang. Dengan senang hati, ia mempersiapkan kepulangan Kharisa seorang diri.
"Sudah?" tanya Kharisa yang melihat suaminya menarik koper mini.
"Sudah, ayo kita pulang. Ayah dan Ibu pasti kaget." tutur Gara.
Kharisa berjalan dengan di gandeng sang suami. Keduanya menuju ke mobil dan masuk. Kemudian Gara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di perjalanan.
"Kamu kenapa kok tiba-tiba minta pulang? apa ada yang membuat mu takut?" tanya Gara penuh hati-hati.
"Takut? sejak kapan aku takut? aku hanya kangen rumah dan semua penghuni rumah." elak Kharisa dengan wajah cerianya.
Gara yang fokus menyetir jadi gagal fokus akibat menikmati pemandangan segar yang sudah lama layu kini kembali mekar. Senyuman Kharisa.
"Natap tuh jangan ke samping. Tuh jalanan di depan." ledek Kharisa sembari mengarahkan dagu sang suami agar menatap ke arah jalanan.
"Kamu cantik." sahut Gara.
Wajah Kharisa merona mendengarnya. Rasanya mereka masih belum benar-benar menjadi sepasang suami istri saat ini. Buktinya saja degupan jantung Kharisa sangat sulit di kontrol.
"Astaga kenapa jantung ku seperti ini sih? apa karena gombalan dia?" batinnya.
Tiba-tiba di sela-sela lamunan Kharisa mendadak terdengar suara klakson mobil dari arah yang samping begitu nyaring.
"Astaga, Gara!" Kharisa setengah berteriak saat melihat hampir saja kendaraan mereka menyerempet pengendara lainnya.
"Maaf-maaf." tutur Gara yang tersadar dari lamunannya.
Suasana hening sampai beberapa saat mobil memasuki halaman kediaman Tuan Tedy. Nyonya Harina dan Tuan Tedy merasa penasaran mendengar klakson mobil.
Keduanya menuju ke depan pintu utama untuk memastikan siapa yang datang ke rumah mereka.
"Kharisa, Gara " ucapnya serentak saat melihat anak mereka keluar dari mobilnya.
Kemudian terjadilah momen pelukan bergantian dengan sang menantu. "Ibu, Ayah, Kharisa kangen."
"Sayang, kita juga kangen. Tapi bukannya kamu besok baru pulang?" tanya Nyonya Harina.
"Iya, Bu. Tapi Kharisa minta pulang sekarang. Beruntung Dokter sudah memberikan ijin."
"Oh Ya Tuhan... yasudah ayo kita masuk. Kamu harus banyak istirahat dulu." Saat Nyonya Harina hendak menuntunnya menuju ke kamar, Kharisa menghentikan langkahnya dan otomatis langkah semua ikut terhenti.
"Bu, dimana Vino dan Vano?"
"Mereka sedang di kantor, Ayah. Sudah jangan cemaskan anak dua itu. Mereka baik-baik saja, sayang. Kamu harus cepat sembuh yah?" ucap Tuan Tedy.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan tempat kerja Kharisa?" tanyanya penasaran.
"Rifal sudah menyetujui pengunduran diri yang aku ajukan waktu itu. Kalau pun kamu mau bekerja kita harus satu kantor. Oke?" sahut Gara.
"Iya sayang, kamu haru harus selalu berada di sisi suamimu. Kamu harus menjaganya." ucap Nyonya Harina.
"Bu, kenapa Kharisa yang menjaga? aku sebagai suami yang harus menjaga istrinya." bantah Gara tidak terima.
Kedua orang tua itu tertawa. "Yah kamu harus di jaga dan di bimbing. Kharisa jauh lebih berani dalam hal bisnis bukan?"
Kharisa di bawa menuju ke kamarnya. Dan hari itu Gara langsung masuk kerja karena perintah dari sang istri.
***
Seiring berjalannya waktu, kini Kharisa sudah mulai bekerja di perusahaan milik Ayah mertuanya. Bersama sang suami.
Pagi itu, Gara, Kharisa dan kedua adiknya sudah selesai sarapan. "Ayah, Ibu, Kharisa pamit kerja dulu yah?" tuturnya sembari mencium punggung tangan mertuanya secara bergantian.
"Iya, sayang. Hati-hati yah. Gara jaga istrimu. Jangan biarkan dia sendirian."
"Iya, Bu."
Semuanya berpamitan kemudian melajukan mobil berbeda tentunya. "Vino, Vano, bawa mobilnya jangan laju-laju." pintah Kharisa setengah berteriak saat hendak memasuki mobil suaminya.
"Siapa, Kak." ucap keduanya serentak.
"Iya Bu, Ayah harap juga seperti itu. Tapi Ayah khawatir dengan menghilangkan si Dave ini. Ayah tahu pria itu tidak akan melupakan segala sesuatu begitu saja." ucapnya.
"Hengki juga sedang mencari keberadaannya, Ayah. Untuk saat ini Dave tidak berada di Indonesia bisa di pastikan. Setidaknya dia jauh dari kita."
Di kantor,
Semua para karyawan menyapa Kharisa dan Gara begitu hormatnya. "Selamat pagi, Tuan dan Nona." sapa Randa yang setengah menundukkan tubuhnya.
Kharisa terkekeh mendengar penuturan Randa. "Sudah panggil nama saja, rasanya lucu." pintah Kharisa.
"Tapi-"
Saat Randa ingin mengelak, Gara lebih dulu memintanya mematuhi permintaan sang istri. "Sudah, patuhi saja."
"Baiklah."
Ketiganya berjalan menuju lift. Di sela-sela keheningan Randa mengusulkan sesuatu. "Gara, bagaimana mengenai liburan kalian yang tertunda?" tanyanya. Bukan tanpa maksud tentu ia mengatakan hal itu, melainkan atas misi Tuan Tedy.
Gara melirik istrinya sekilas. "Apa kau mau kita liburan sekaligus...bulan madu." ucapnya ragu-ragu namun jelas terdengar.
Wajah Kharisa merona mendengar kata bulan madu. "Tapi bagaimana dengan Ayah dan Ibu?" tanyanya berlagak biasa saja meski jantungnya sudah berdebar antara senang dan malu.
__ADS_1
"Mereka sudah bulan madu, Kharisa." sahut Randa menimpali.
Mata Kharisa membulat sempurna saat mendengarnya. Sementara Gara tersenyum. "Bu-kan, maksudnya i-itu apa mereka tidak keberatan?"
Randa ikut tersenyum melihat gelagat Kharisa yang gugup. "Oh, tentu saja. Bahkan Tuan Tedy sangat menunggu waktu itu."
Kali ini Gara memilih untuk diam saja dan membiarkan Randa yang melancarkan jalannya hubungan mereka.
"Mengapa begitu?" tanya Kharisa lagi.
"Yah, Tuan Tedy sedang menunggu cucu hasil kalian liburan nanti."
Belum sempat pembahasan lebih jauh, akhirnya pintu lift sudah terbuka. "Aku duluan." Kharisa segera melangkah cepat meninggalkan dua pria itu namun belum sempat ia melanjutkan langkahnya, tiba-tiba heels sepatu yang ia kenakan tersangkut dengan lantai yang menopang pergeseran pintu lift.
"Aaaaa." teriaknya namun suara gaduh itu langsung terhenti saat merasakan tubuhnya sudah aman dalam dekapan sang suami.
"Kau baik-baik saja?"
Kharisa diam mematung masih memandang wajah pria yang berada di atasnya saat ini.
Randa yang melihat keadaan itu tersenyum dan perlahan melangkah meninggalkan mereka. "Kharisa." panggil Gara lagi.
"Hah...iya aku baik-baik saja." Mereka kembali ke posisi awal berdiri.
"Ayo, biar kita ke ruangan bersama." Gara langsung menggenggam tangan istrinya sembari melangkah menuju ruang kerja.
Manik mata Kharisa menatap tangannya ada perasaan senang yang ia rasakan. Genggaman yang begitu menyenangkan. Beberapa pekerja melirik pemandangan segar pagi itu. Namun Gara tetaplah dengan tatapan datarnya yang begitu tajam.
Usai mereka sampai di ruangan kerja tempat Kharisa, Gara langsung beranjak pergi. "Jangan terlalu lelah yah. Aku akan mengawasi mu dari ruanganku." ucapnya.
Kebetulan saat ini keduanya berada di ruang kerja yang berbeda. Ruangan transparan dan saling berhadapan hanya berbataskan jarak antara pekerja lainnya yang ada. Gara bahkan bisa melihat setiap gerak gerik istrinya dari tempat kerjanya.
Tidak ada kata perpisahan yang Kharisa ucapkan. Wanita itu langsung duduk di ruang kerja dan memeriksa semua hasil kerja suaminya selama ini. Termasuk program CSR yang ingin mereka lakukan.
Ada senyuman mengembang di wajahnya menghiasi setiap detik ia bekerja. "Mengapa aku jadi senang seperti ini? apa iya aku sudah mencintainya benar-benar? pria aneh sepertinya. Tapi dia memang menggemaskan." batin Kharisa.
Tanpa ia sadari dari arah tempat kerja Gara, pria itu mengernyitkan dahinya. "Kharisa senyum-senyum sambil menunduk. Apa dia sedang chating dengan orang lain?"
Rasa penasaran mulai membuat Gara tak sabar. Ia berdiri di ruangannya. Memastikan sang istri tidak memiliki ponsel selain yang ia sita.
Tak lama terdengar suara hentakan sepatu di ruangan. "Kau sedang memikirkan apa?" Suara pria yang mengejutkan Kharisa seketika membuyarkan khayalannya.
"Em... tidak ada. Aku hanya melihat ini saja." sahutnya.
"Jangan bohong." Gara mulai mendekati Kharisa dan mencengkeram kedua sisi kursi di ikuti wajah yang semakin mendekat.
Kharisa sontak menyandarkan tubuhnya untuk menghindari kedekatan wajah Gara. Tiba-tiba mata pria itu tertuju pada bibir pink segar.
__ADS_1
Ia mengecup tanpa permisi dan segera berlalu pergi. Tidak menghiraukan keterkejutan Kharisa saat ini.