Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 76. Kecemburuan


__ADS_3

Netra indah milik Kharisa masih tak bisa berkedip melihat kepergian suaminya menuju kembali ke ruang kerjanya. Syok, jelas itu yang Kharisa rasakan kali ini.


Gara menciumnya. Ah rasanya sungguh seperti mimpi. Tapi benar perasaan sepertinya sudah jauh lebih mengerti dari pada logika keduanya. Mereka sudah saling jatuh cinta.


Senyuman terlukis indah di wajah wanita itu. Gara yang duduk kembali di kursi kerjanya tersenyum lebar melihat tatapan sang istri.


Sampai ia tak sadar dengan kehadiran orang di ruangan itu. "Ehem." suara deheman Randa terdengar memecahkan kegembiraan Gara.


"Kamu, ada apa?" tanya Gara langsung bias.


"Apa perlu aku membantu ruang kerja kalian agar menjadi satu?" tanyanya menggoda.


Tentu. Dengan senang hati Gara akan menyetujui usulan Randa. Tapi sayang belum sempat Gara menjawab, tiba-tiba suara seseorang terdengar menggema di ruangan itu.


"Tidak, Randa. Usulan mu itu bisa membuat Kharisa dan Gara tidak fokus bekerja." Mata Gara membulat mendengar suara yang menggema di ruangannya.


"Ma-maafkan saya, Tuan." tutur Randa menundukkan kepala.


"Ayah!" hardik Gara yang menyadari jika Tuan Tedy telah memasang alat penghubung di ruangan putranya. Tentu bukan tanpa tujuan, ia ingin memantau kegiatan anaknya itu.


"Saya keruang kerja saya dulu, Gara." ucap Randa langsung pergi karena enggan mendapatkan pertanyaan yang jauh lebih dalam lagi.


"Gara konsentrasi bekerja. Kalau tidak, Ayah akan memisahkan tempat kerja kalian lebih jauh lagi." ancam Tuan Tedy yang mengerti jika anaknya sudah mulai jatuh cinta.


Gara mulai menegakkan tubuhnya dan memulai pekerjaannya. Satu persatu berkas ia cermati, penjualan perusahaan terlihat menurun dari tampilan grafik bulanan.


"Mengapa bisa turun seperti ini?" batinnya heran.


Pria itu memeriksa seluruh pemasaran yang perusahaan tujukan semua masih sesuai dengan standar. Ia kembali mengecek pemasukan untuk menyesuaikannya lagi. Semua sudah sesuai, "Dimana yang salah? apa ada masalah dengan hasil produksinya?" gumam Gara mengusap kasar wajahnya.


Di sisi lain, Kharisa tampak memeriksa perkembangan pembangunan CSR di salah satu kota kecil yang berada di sekitar pabrik pengelolaan sampah plastik itu.


"Ternyata dia jenius juga. Sudah bagus untuk rancangannya." Kharisa memperhatikan satu demi satu rancangan.


"Danau yang indah." Kharisa meraba gambar hasil jepretan di berkas itu. Danau yang berada di laut.


Waktu terus berjalan dengan cepat. Kini sudah tiba waktunya jam makan siang.


Tok


Tok


Tok


Tiga kali suara ketukan terdengar dari luar ruang kerja Kharisa. Ia menoleh menangkap sosok pria yang sudah berjalan ke arahnya. Entah mengapa Gara saat ini terlihat jauh lebih agresif.


Sementara Kharisa merasa masih sangat malu untuk menatap pria itu lagi.


"Ayo makan." ajak Gara.


"Oh iya." ucapnya kemudian mereka pergi keluar kantor untuk menuju restoran yang tidak begitu jauh.


Saat Gara hendak menuju ke mobil tiba-tiba Kharisa menghentikannya. "Kita makan di situ saja." sahut Kharisa.


"Tapi..." Gara menggantungkan ucapannya. Ia ragu dan takut jika Kharisa kembali mengalami depresi.

__ADS_1


Kharisa tersenyum. "Sudah, ayo makan. Aku baik-baik saja." ucap Kharisa melangkah lebih dulu kemudian di ikuti Gara.


Beberapa saat kemudian keduanya sampai di restoran itu. Mereka langsung memesan makanan. Kharisa tampak jauh lebih tenang.


"Syukurlah sepertinya memang saat ini sudah aman." batin Gara lega.


Di sela-sela menunggu makanan mereka berbicara tentang pekerjaan. "Bagaimana kerjaan hari ini?" tanya Kharisa.


"Entahlah, aku masih pusing." sahut Gara.


"Pusing? ada masalah?" tanyanya.


"Hem, penjualan perusahaan menurun. Padahal aku sudah memeriksa semua sasaran penjualan masih sama bahkan ada beberapa titik yang kita tambah." terang Gara.


"Setelah ini aku akan coba lihat." ucap Kharisa.


Hening kembali.


"Silahkan Tuan, Nona." hidangan pun di tata rapi di atas meja.


Kharisa mulai makan bersama Gara. Mereka bahkan bertukar lauk pauk yang ada di piring mereka.


"Ada apa?" tanya Kharisa menyadari tatapan sang suami padanya.


Tanpa menjawab. "Sini aku bersihkan. Kamu makannya seperti bayi saja." ujar Gara seraya mengusap lembut ujung bibir sang istri.


Keduanya saling bertatapan penuh arti. "Cie...cie...Kak Risa." Sontak Gara dan Kharisa bubar dari aksi pandangan itu.


"Vino, Vano. Ngapain kalian kesini?" tanya Kharisa penuh selidik.


Kedua tangannya ia jadikan tumpuan untuk wajahnya. "Kakak sudah tidak cuek lagi dengan Kakak ipar. Apa itu artinya..." Vino menggantungkan ucapan sembari terkekeh.


"Kalian benar-benar yah." Saat Kharisa ingin meraih telinga kedua adiknya, mereka sudah berlari ke meja yang lainnya.


Melihat kekesalan di wajah Kharisa, Gara hanya diam menikmati pemandangan lucu itu. "Jangan marah-marah terus. Nanti jadi cepat tua." ledeknya dengan wajah yang masih datar.


"Tau ah." Kharisa meninggalkan suaminya menuju ke kantor. Gara yang di tinggalkan segera beranjak menyusul karena ia khawatir jika Kharisa berjalan sendiri.


"Ini uangnya." Gara berteriak pada pelayanan dengan meletakkan beberapa lembar uang di meja itu.


Kharisa sudah berjalan cepat tanpa mau perduli dengan panggilan Gara di belakangnya. Tentu malu sekali Kharisa di goda dengan adiknya di depan pria yang ia cintai itu.


Sementara ia ingat bagaimana dirinya menolak Gara saat itu.


Keduanya pun sampai di kantor dan kembali fokus bekerja. Sesekali Kharisa mencuri-curi pandang ke arah ruangan suaminya di sela-sela ia sibuk dengan laptopnya.


Yang di lirik hanya menatap dirinya tanpa ekspresi. Sekali lagi Kharisa mencoba melihat wajah tampan di seberang sana, "Ah sial ketahuan lagi." umpatnya kesal segera menundukkan kepala karena malu.


"Astaga Kharisa. Kalau seperti ini kerjamu kau tidak akan bisa fokus." Akhirnya ia berdiri dan menuju kaca di mana wajah Gara selalu tampil tepat sasaran.


Kharisa menempel selembar kertas dengan alat pelekat di kaca. Gara tak habis pikir dengan tingkah istrinya. Ia menggelengkan kepalanya.


Namun seketika wajahnya tersenyum mengembang. "Sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan." Gara berinisiatif untuk meminta OB merenovasi sementara ruangan kerjanya.


Ia menghubungi seseorang dari telepon di ruangan itu. "Keruangan saya sekarang." pintahnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari luar. "Masuk." pintah Gara.


"Ada apa, Tuan?" tanyanya.


"Berikan gorden di sisi bagian ini, dan jangan lupa bawakan saya wig yang lumayan panjang dan satu lagi patung manekin."


Meski terdengar aneh, namun ia dengan sigap menyanggupi permintaan Tuannya. "Baik, Tuan. Saya akan bawa secepatnya."


Gara pun kembali menghadap laptop setelah kepergian OB tadi. Sepersekian menit, tibalah OB itu dengan peralatan yang Gara perintahkan.


Sesuai dengan arahan Tuannya, ia mengerjakan dengan antusias. Kharisa yang hanya tertutup dengan selembar kertas itu tidak menyadari dengan kesibukan di ruangan sebelah.


"Kali ini aku ingin tahu, seberapa besar perasaan itu?" gumam Gara tersenyum getir.


"Sudah selesai, Tuan. Ini wig dan manekin di taruh di mana yah?"


"Oh itu, kamu bisa bentuk di sela-sela gorden biar terlihat seperti seorang gadis yang tengah berada di ruangan kerja ku."


"Baik, Tuan." ucapnya


Para pekerja di luar ruangan Gara merasa aneh, mereka saling berbisik hingga Kharisa yang tengah fokus dengan laptopnya merasa penasaran.


Ia melirik ke arah tangan beberapa pekerja lainnnya yang menunjuk ke arah ruang kerja suaminya.


Matanya membulat melihat sosok wanita dengan gaya terlihat membelakangi kaca itu di sela-sela gorden, kemudian tampak samar-samar seperti tengah menatap seseorang dengan keadaan menyamping.


"Siapa wanita itu? apa Reynka? tapi sepertinya beda rambutnya. Tapi siapa lagi wanita yang dekat dengannya selain Reynka? apa aku pastikan saja kesana? tapi...nanti ketahuan dong. Aduh...ini tidak bisa di biarkan. Aku harus kesana."


Kharisa melangkah hendak keluar ruangan kerjanya, tapi langkah itu ia urungkan. "Jangan mempermalukan dirimu, Kharisa. Siapa tahu itu klien. Tapi, kenapa harus pasang gorden segala?"


Gara yang mengintip dari sela-sela gorden terkekeh geli melihat kegelisahan istrinya di seberang sana. "Seberapa besar sih gengsinya dia?" batinnya menggelengkan kepala.


Pertengkaran game keduanya menjadi tontonan para karyawan di lantai itu. Mereka merasa iri melihat ke uwuan dua pasangan itu.


"Ibu Kharisa itu cemburu tapi keren loh. Dia masih mau menjaga harga dirinya sebagai wanita. Lagi pula tidak mudah kita mengendalikan logika jika sudah berhadapan dengan yang namanya cinta." ujar salah satu karyawan.


"Iya, Bu Kharisa itu wanita yang bijak. Pak Gara beruntung dapat wanita yang dewasa seperti Bu Kharisa. Tambah lagi kecerdasannya. Aku salut deh."


"Mereka lucu yah. Aku jadi ikutan gemes rasanya. Dari tadi saling ngintip tapi tetap bertahan di ruangan masing-masing."


Suara desas desus itu terhenti saat melihat kedatangan Vino dan Vano.


Para pekerja wanita terpana melihat ketampanan wajah keduanya bagaikan santapan yang segar. Masih muda.


Vino dan Vano masuk ke ruang Kakaknya setelah memberikan senyumannya pada para pekerja di sana.


"Kak Risa panggil kita?"


"Eh...iya. Kakak ikut kalian pulang nanti."


"Loh, nggak sama Kakak ipar, Kak?" tanya Vano heran.


Wajah Kharisa tampak menekuk. "Nggak, dia lagi sibuk sama gebetannya tuh." tunjuk Kharisa dengan bibirnya sedikit maju.

__ADS_1


Kedua adiknya saling tersenyum. Mereka sadar jika Kharisa sedang cemburu. "Oke Kak Risa." ucap keduanya kemudian kembali ke tempat kerjanya semula.


__ADS_2