
Kharisa tampak percaya dengan ucapan suaminya. Ia kembali duduk di sisi Gara kemudian terus mengompres hidung mancung itu.
"Apa kau masih ingin menjaga jarak dariku, Kharisa?" Gara menggenggam tangan wanitanya di sela-sela aksi pengompresan berlangsung.
Kharisa terperanjat kaget mendapati tangannya sudah di genggam sang suami.
Tiba-tiba terdengar suara adzan dzuhur berkumandang. "Aku mau pergi solat dulu. Apa kau tidak ikut?" tanya Kharisa segera mengalihkan pembicaraan.
Gara yang tadinya begitu percaya diri kini terdiam membisu. Manik matanya berotasi tak beraturan. "Apa ibadahku masih akan di terima jika mengingat tanganku sudah penuh dengan nyawa orang-orang?" batinnya.
Kharisa menghela nafasnya kasar. "Baiklah kau tidak usah menjawab. Kau pasti tidak akan mau melakukan kewajibanmu. Aku pergi dulu." Kharisa segera meninggalkan ruangannya tanpa memperdulikan Gara yang terdiam tampak merenungkan segala kesalahannya.
"Maaf untuk diriku yang belum bisa menjadi imammu, Kharisa." lirih Gara yang memandangi kepergian sang istri hingga tidak terlihat lagi seiring pintu lift bergeser menutup.
Hari sudah menghabiskan waktu setengah, kini para pekerja berlalu lalang karena jam istirahat sudah tiba.
Pintu ruangan terbuka kembali, Gara melihat sosok Randa di hadapannya yang sudah menyunggingkan senyumannya. "Wah, kau berbakat semakin kesini rupanya."
Gara mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" tanyanya penasaran.
Saat Randa hendak meraih hidung Gara, dengan cepat Gara menepis tangan itu lalu membuangnya ke udara.
"Jangan menyentuhnya, ini hanya milik istriku."
Randa terkekeh mendengar kata istriku. "Oke...oke. Lalu apa ini adalah sebagian trik yang sudah kau praktekkan dari misi kita dulu untuk melunakkan target?"
"Randa, sudahlah jangan membahas hal itu. Aku tidak ingin malamku akan menjadi tidak bisa tidur kembali."
Keduanya terus bersenda gurau. Sementara Kharisa yang berada di musholla tersadar usai memanjatkan segelintir doa penuh harap pada yang maha kuasa. "Ya Allah, apa ibadahku ini di terima? aku kan belum mandi bersih. Kharisa mengapa kau sampai lupa untuk mandi bersih tadi? ini gara-gara dia. Seharusnya tidak terlalu menghabiskan tenaga huh."
Kini Kharisa hanya mengutuk dirinya yang pikun. "Apa yang harus aku lakukan? tidak mungkin jika aku mandi saat ini? Ya Allah kali ini saja Kharisa minta ampun sebesar-besarnya. Setelah pulang dari kantor Kharisa janji akan mandi segera." ujarnya dalam hati sembari menangkupkan kedua tangannya.
Usai melaksanakan solat, Kharisa bergegas menuju ke kantin yang berada di kantor itu. "Aku makan di kantin saja. Rasanya perutku tidak begitu lapar. Tapi bagaimana dengan Gara? apa aku makan di ruangan saja bersamanya?"
__ADS_1
Akhirnya dengan belas kasih, Kharisa pun berinisiatif untuk membelikan makanan untuknya dan juga untuk sang suami. Kemudian ia menuju ke ruangan kerjanya.
"Loh Kak Risa? mau kemana?" tanya Vino yang berpapasan dengan sang Kakak.
"Ini habis membeli makanan untuk Kakak dan Gara."
"Oh...sudah cinta yah Kak?" goda Vino sembari mengulum senyumnya.
Kharisa memutar malas matanya, kemudian bergegas pergi meninggalkan sang adik tanpa mau menjawab pertanyaannya.
Saat pintu lift terbuka, Kharisa menatap ke arah ruang kerjanya. Terlihat jelas Gara dan Randa sedang berbincang-bincang sesekali Randa terlihat ingin di layangkan bogem mentah oleh Gara.
Kharisa melangkah sembari tersenyum, melihat pemandangan di depannya. Randa benar-benar nekat menggoda Gara si wajah datar itu.
Randa dan Gara yang menyadari kehadiran Kharisa mendadak hening di ruangan itu. "Randa, maaf aku tidak tahu jika kau ada di sini. Aku hanya membawa dua porsi makanan. Sebentar aku meminta pekerja untuk membelikanmu." Saat Kharisa hendak beranjak meraih telepon genggam Randa sudah lebih dulu mencegahnya.
"Em...aku akan pergi makan di kantin. Kalian makanlah. Aku tidak enak jika harus menjadi orang ketiga di ruangan ini, kan?"
Hening. Kharisa melirik Gara kemudian melangkah duduk di sofa. Jarak keduanya tidak begitu dekat. Kharisa langsung menata makanan di atas meja.
"Makanlah, setelah ini sebaiknya kau pulang saja. Biarkan aku yang berada di sini." ujar Kharisa di sela-sela makan mereka.
"Bagaimana aku bisa makan, jika tanganku saja kelelahan sudah memegangi kompresan ini sejak tadi..." Gara tampak menggantung ucapannya.
Kharisa terdiam gugup memandangi sang suami. "Suap." pintah Gara dengan wajah tanpa ekspresi.
Meski sebenarnya ia saat ini tengah menahan senyuman penuh kemenangan saat Kharisa tak berkomentar sedikitpun dan segera menyuapi sang suami dengan teliti.
"Aku mau yang ini." Gara menunjuk lauk lainnya.
Kharisa hanya diam menurutinya saja. "Aku mau minum." ujarnya lagi.
Kharisa meraih gelas dan membantu suaminya untuk minum.
__ADS_1
"Kau tidak makan?" tanya Gara.
"Nanti aku akan makan setelahmu." sahut Kharisa.
"Makanlah bersamaku. Kata orang jika kita makan satu wadah dan satu sendok itu artinya kita akan sulit di pisahkan."
"Ternyata pria sepertimu yang tidak percaya Tuhan saja masih bisa percaya dengan makhluk ciptaannya." sahut Kharisa sangat tepat sasaran.
Gara meneguk sulit salivahnya. Matanya melirik tanpa aturan mendengar sindiran sang istri. "Siapa bilang aku tidak percaya Tuhan?" tanya Gara.
Tujuan ingin menggombal malah menjadi tersudut. Kasihan sekali kamu Gara, sepertinya kau memang tidak bisa beralih profesi dari pemilik perusahaan sampai seorang suami romantis. Semuanya bahkan menjadikan kewibawaanmu sebagai seorang pria jatuh terjun bebas.
Dimana dirimu yang selalu membuat musuhmu musnah tanpa bisa meremehkanmu?
"Sudahlah makan bersamaku." Gara kembali melanjutkan permintaannya.
Kharisa menuruti kemudian mereka menghabisi satu kotak makanan dan tersisa satu lagi. Kharisa tampak keluar memanggil salah satu pekerja dan memberikannya.
***
Tanpa terasa waktu sudah berlalu begitu cepat, kini Kharisa dan Gara sudah menuju ke mobil untuk pulang. Seharian bekerja di gedung itu membuat keduanya memutuskan untuk segera tiba di rumah.
Keduanya masuk ke mobil dengan Gara yang bertukar posisi dengan Kharisa yang menyetir mobil. Rasanya ia tidak rela jika sang istri yang membawa mobil, namun demi memperpanjang manjanya pada Kharisa, ia rela.
"Cih... apa-apaan dia meminta wanita ku menyetir mobil untuknya?" umpat sosok pria yang sedari tadi mengamati kepergian Kharisa dan Gara sejak dari kantor.
"Anda kau sendiri di dalam mobil, ingin rasanya aku menubruk mobilmu ini hingga terjun ke laut Gara. Sayang, ada wanita ku bersamamu saat ini." batik Khard yang sudah melajukan mobilnya mengikuti perjalanan pulang suami istri tersebut.
Setengah perjalanan, Kharisa baru sadar jika ada mobil lain yang mengikuti arah jalan mereka.
"Kenapa seperti ada mobil yang mengikuti kita?" tanya Kharisa.
Gara yang sejak tadi sibuk mencuri pandang pada sang supir wanita cantik melalui spion dalam mobil itu baru sadar akan perkataan Kharisa.
__ADS_1