Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 56. Kepanikan Keluarga


__ADS_3

Wajah tegang penuh amarah kini terpancar jelas di wajah Nyonya Harina yang sudah lama tak pernah terlihat lagi oleh sang suami.


Manik mata abu-abu milk Tuan Tedy kini berusaha menanamkan penglihatannya saat ia baru membuka matanya yang terlelap.


Saat tangan Nyonya Harina ingin bergerak menutup pintu kamar, terdengar suara Tuan Tedy.


"Mau kemana? mengapa tidak ijin padaku?" tanya Tuan Tedy menatap tubuh yang berdiri terdiam tanpa kata di tengah pintu yang masih terbuka itu.


Nyonya Harina baru saja sadar jika kepanikannya ini membuat suaminya jadi terbangun. "Ayah, istirahatlah. Ibu ada urusan penting. Ini demi anak kita, Gara."


Nyonya Harina berjalan cepat meninggalkan sang suami. Ia tidak ingin Tuan Tedy memaksakan diri untuk ikut bertindak kali ini. Nyonya Harina yang setengah berlari segera menuju mobilnya.


"Minggir Pak Jun!" pintah Nyonya Harina cepat.


"Nyonya, biar saya antar..." Teriakan Pak Jun yang seperti percuma saja. Karena Nyonya Harina sudah tak mendengarnya.


Kegarangan yang selama ini tersembunyi dari diri Nyonya Harina akhirnya keluar setelah kesabarannya selama ini menghadapi Mr. Dave.


Selama ini ia sabar, karena yakin jika jalan itu bukanlah sebuah paksaan. Melainkan keinginan Gara, putranya sendiri. Dan saat ini Nyonya Harina tidak akan membiarkan Mr. Dave membuat putranya mengurungkan niat baik untuk tidak melanjutkan keinginan keluar dari mafia.


"Pak Jun, kemana istriku?" tanya Tuan Tedy yang begitu paniknya hingga ia berlari keluar rumah dengan memegangi dadanya yang mendadak sesak lagi.


"Nyonya Kharisa, Tuan Vino, Tuan Vano." Pak Jun sudah berteriak dengan wajah berkeringat dingin. Ia berusaha memegang tubuh Tuan Tedy yang terkulai lemas di pelukannya itu.


Ketiga adik dan Kakak itu segera berlari saat mendengar suara gaduh di luar rumah yang masih tak terlalu jelas di indera pendengaran mereka.


"Suara Pak Jun." Vano menduga tepat sasaran.


Kharisa mengusap kasar air matanya lalu menatap kedua adiknya bergantian. Seketika itu juga mereka mendekati sumber suara.


Di sana sudah terlihat Pak Jun, Yati dan Silvi yang berusaha membantu Tuan Tedy berbaring di sofa.


"Astaga, Ayah." Kharisa berlari mendekati mertuanya yang sudah kesulitan bernafas.


"Kha-ri-sa, apa yang ter-jadi?" tanya Tuan Tedy masih bernafas tersengal jelas.

__ADS_1


"Pak Jun, kita bawa Ayah ke rumah sakit sekarang. Ibu, dimana Ibu?" tanya Kharisa panik mencari sosok wanita yang biasa selalu berada di samping Tuan Tedy.


"I-tu Nyonya tadi pergi naik mobil, Nyonya." jawab Pak Jun tergugup.


Kharisa benar-benar kebingungan, ia khawatir dengan suami. Ia juga khawatir dengan Ibu mertuanya. Tapi di sini ia juga sangat khawatir dengan Ayah mertuanya. Terlebih lagi Kharisa tidak tahu kemana Nyonya Harina pergi? Situasi benar-benar sedang mengobrak abrik hatinya kali ini.


"Ya Tuhan, tolong bantu keluarga Kharisa kali ini. Berikan lindungan mu pada kami semua." ucap Kharisa sembari menangis mencium punggung tangan Tuan Tedy.


"Ayo Pak Jun." ajaknya.


Kini Vino dan Vano membantu Pak Jun membawa Tuan Tedy ke mobil. Mereka semua pergi ke rumah sakit dan meninggalkan dua pelayan itu di rumah.


Sepanjang jalan Kharisa terus berdoa demi keselamatan Tuan Tedy. "Ayah, kuat yah. Kita sebentar lagi akan sampai. Kharisa mohon." ucapnya tanpa bisa menahan tangis yang begitu mendalam.


"Jika sampai terjadi sesuatu, ini semua aku yang mengakibatkan. Aku terlalu egois memaksakan semuanya. Seharusnya aku tidak seperti ini. Maafkan aku Gara, Ayah, Ibu."


Jika di perjalanan ini mobil yang berisi tangis ketegangan demi nyawa seseorang, berbeda halnya dengan Nyonya Harina yang melajukan mobilnya sendiri menuju suatu markas yang tentunya ia sangat tahu. Sementara menyetir, ia meraih ponsel dan menghubungi seseorang.


"Apa kau masih ingin memberikan ku bantuan yang pernah kau tawarkan beberapa tahun yang lalu?" tanya Nyonya Harina.


"Tentu selama aku masih hidup, aku tidak akan pernah menarik kata yang pernah aku katakan padamu, ada apa? mengapa kau baru sekarang menyetujuinya? setelah putramu terjerumus kasus begitu banyak? apa kau baru sekarang terbuka pikiran mu, Harina?" tanyanya.


"Hengki, aku tidak punya banyak waktu saat ini untuk berdiskusi dengan mu. Sekarang aku dalam keadaan sulit. Tolong bantu aku, meski aku tidak ingin berkaitan dengan seorang dewan mafia seperti mu. Tapi kali ini aku tidak memiliki pilihan lain. Tolong aku kali ini. Putraku sedang dalam bahaya. Hanya kau yang bisa mengatasi Dave kepar*t itu."


"Oke baiklah, itu adalah hal yang paling mudah untukku. Yang terpenting kau sudah memberi ku perintah. Semua akan lebih baik. Pulanglah, aku akan membawa putra mu keluar saat ini juga."


"Tapi-"


"Jika ingin meminta bantuan ku, jangan membantah."


Sambungan telpon pun terputus. Nyonya Harina yang menangis sepanjang jalan kini menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menghela napasnya kasar. Tubuhnya tampak bergemetar. Ia menunduk pada stir dan meneteskan kembali air matanya. Hatinya sungguh hancur merasakan putranya yang saat ini tentu dalam keadaan yang sedang mengkhawatirkan.


"Gara, kau benar-benar menyiksa batin Ibu, Nak. Ibu sakit jika sampai terjadi sesuatu dengan mu, Nak."


Ketegasan pada manik mata Nyonya Harina kini tertutup dengan buliran bening yang terus lolos begitu saja. Kedua bahunya bergetar, ia menangis tanpa suara lagi. Hanya memeluk stir mobil dengan erat yang bisa mewakili kegundahan di hati ibu satu anak itu.

__ADS_1


Ponsel Nyonya Harina kini bergetar yang kesekian kalinya. Ia meraih benda persegi panjang itu dari tas clutch miliknya.


Anakku Kharisa. Begitu nama kontak yang memanggilnya sejak tadi.


Tangannya menyentuh layar yang berkelip itu dan segera menempelkan benda tipis tepat di daun telinganya.


"Ibu, Ibu dimana? katakan! Kharisa akan jemput Ibu yah? Ayah sedang kami bawa ke rumah sakit." Suara cemas Kharisa terdengar jelas di seberang telepon sana.


Deg.


Jantung Nyonya Harina terhenti seketika. Bagaimana ia bisa melupakan keadaan suaminya yang begitu kaget dan syok saat melihat kepanikannya di rumah tadi.


Wajah Nyonya Harina yang sedih mendadak tercengang. Ia membungkam mulutnya yang terbuka itu. Buliran bening itu lolos kembali untuk yang ke sekian kalinya.


"Ayah..." ucapnya lirih.


"Katakan di rumah sakit mana? Ibu akan kesana sekarang juga, Kharisa." pintah Nyonya Harina cepat.


"Di rumah sakit xx, Bu."


Sambungan telpon pun terputus. Nyonya Harina menginjak pedal gas mobilnya secepat mungkin. Kini untuk urusan putranya ia akan percayakan penuh dengan Hengki. Yang terpenting saat ini kesehatan Tuan Tedy harus pulih kembali.


Nyonya Harina yakin, jika putranya pria kuat. Ia tidak akan lemah di tangan siapa pun termasuk Ayah didiknya sekali pun.


Di sisi lain, tepatnya di penjara bawah tanah. Kini anggota mafia pilihan Mr. Dave tampak menghampiri Gara yang sudah terbaring lemah. Bahkan bajunya pun sudah tak basah dengan darah lagi. Pakaian itu sudah kering lebih tepatnya lembab dengan bau anyir.


Randa terus menggelengkan kepala. Ia tidak ingin Gara menyerahkan nyawa pada mereka begitu saja. Ia sudah mengorbankan diri demi membela Gara, ia tidak ingin jika perjuangannya ternyata sia-sia dan Gara bersih keras keluar dari kelompok mafia itu.


Tentu akhir yang pasti Gara akan mati di tangan mereka.


Apa yang terjadi dengan Tuan Tedy kira-kira? apakah Tuan Tedy bisa di selamatkan?


Dan apakah Hengki bisa membantu Nyonya Harina kali ini dengan mudah?


Nantikan ceritanya di episode berikutnya yah!

__ADS_1


__ADS_2