
Setelah panggilan Gara beberapa kalinya, kini dokter pun tiba. "Ada apa Tuan, anda memanggil saya apakah anda merasakan sesuatu?" tanya dokter dengan wajah antusiasnya.
"Katakan apa yang terjadi dengan tanganku dokter mengapa semua tanganku tidak bisa di gerakkan sama sekali?"
Mendengar pertanyaan Gara dokter pun menjelaskan jika tangannya untuk sementara memang benar tidak bisa digunakan namun itu hanya membutuhkan beberapa waktu saja tidak untuk selamanya.
"Apa jadi tanganku tidak bisa digunakan maupun di gerakkan? lakukan sesuatu dokter berapa pun biayanya aku akan membayarnya jangan membiarkan aku seperti ini." pintah Gara dengan kemarahan yang luar biasa.
Namun belum sempat dokter menjawabnya kini Gara merasakan ada sesuatu yang mengganggunya, ia merasa ingin buang air kecil saat itu juga.
Lagi-lagi kemarahan Gara tertunda karena ia harus masuk ke kamar mandi, dengan cepat Gara meminta dokter untuk keluar dari ruangannya.
"Sekarang Dokter keluar biarkan aku di ruangan ini sendiri." pinta Gara.
Setelah memastikan dokter keluar, kini Gara kembali bingung menatap tubuhnya bagaimana caranya ia bisa ke kamar mandi sementara ia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi terbuka menandakan jika Kharisa yang sejak tadi mandi di dalam kini sudah selesai.
Matanya menatap tajam pada suaminya namun ia enggan untuk bertanya atau mengeluarkan satu kata pun. Kini Kharisa memilih duduk kembali di sofa dan melanjutkan pekerjaannya dengan laptop yang masih menyala.
Gara yang nampak ingin meminta bantuan padanya menjadi canggung.
Akkhirnya dengan rasa gengsi yang begitu besar Gara perlahan menggeser tubuhnya turun dari tempat tidur lalu ia berusaha untuk bangun dengan kedua tangan yang diperban.
Kharisa tampak meliriknya sesekali saja untuk memastikan jika suaminya baik-baik saja namun beberapa saat setelahnya tiba-tiba Gara berteriak. "Awwww."
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Kharisa dengan cepat nembantu tubuh Gara untuk kembali berdiri karena ia terjatuh dari tempat tidurnya.
"Apa kau tidak melihatku terjatuh mengapa masih bertanya?" bentak Gara dengan kasarnya .
__ADS_1
Kharisa yang benar-benar kesal refleks menjatuhkan kembali pegangannya pada tubuh Gara hingga membuat Gara kembali terjatuh.
"Hei apa yang kau lakukan?" teriak Gara dengan mata penuh amarahnya.
"Membuatmu sakit dan aku bisa bertanya apa kau baik-baik saja?" sahut Karisa dengan menyunggingkan sebuah senyuman menyeringai pada sang suami.
Tatapan Gara begitu membunuh seakan ia berkata dalam hatinya, "Andai tanganku bisa ku gunakan akan ku patahkan kedua tanganmu untuk mengganti sakit kedua tanganku ini."
Kharisa tersenyum. "Mengapa, apa kau ingin mematahkan kedua tanganku seperti tanganmu yang sudah patah itu?" tanyanya dengan suara ketus.
Gara yang memandangnya seketika memalingkan wajahnya. "Mengapa dia bisa menebak apa yang kukatakan dalam hati apakah dia bisa membaca hati dan pikiranku?" tanyanya dengan wajah kebingungan.
Akhirnya Kharisa yang merasa kasihan pada Gara perlahan membantu pria itu untuk bangun dan membaringkannya kembali ke tempat tidur, namun Gara menatapnya lagi. "Aku ingin ke kamar mandi." ucapnya dengan wajah yang tidak ingin memandang Kharisa.
Kharisa yang ingin tersenyum menahan senyumannya dan kemudian melipat kedua tangannya berdiri tepat di depan Gara. "Ya sudah pergilah dan kalau ada apa-apa panggil saja aku." pintanya tanpa mau menawarkan bantuan untuk mengantar Gara ke kamar mandi.
Gara masih tampak terdiam iya beberapa kali bergerak menjepit kedua pangkal pahanya untuk menahan diri yang sudah ingin membuang air kecil. Kharisa yang meliriknya lagi-lagi ingin tertawa namun ia tetap berusaha menunjukkan wajah masa bodoh nya.
"Dasar bisa-bisanya dia membiarkan aku menahan seperti ini." gumam Gara tampak memaki istrinya.
"Ada apa?" tanya Kharisa dengan nada ketusnya setelah melihat tatapan Gara padanya.
"Dia fikir aku akan mau meminta tolong padanya? tidak akan kubiarkan." ucap Gara dalam hati.
Akhirnya Kharisa yang tidak tega kini mendekat dan membantu Gara yang berbaring untuk segera bangun dari tempat tidurnya dan memapahnya ke kamar mandi.
Sesampainya di depan kamar mandi mereka berdua saling bertatap bingung. Seakan Kharisa yang menatap Gara ingin bertanya apakah kau bisa melakukan sendiri sementara Gara yang menatapnya seolah bertanya apakah kau mau membantuku untuk melakukan di dalam, yang artinya membukakan celana Gara untuk membuang air kecil dan membersihkan miliknya.
Namun keduanya masih tidak ada yang berani melontarkan satu kata pun.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi?" tanya Kharisa.
apa kau tidak bisa melihat keadaanku seperti ini?" tanya Gara seakan ingin memperjelas pertanyaan dari Kharisa dan memberi jawaban namun ia enggan untuk mengatakannya secara langsung.
"Lalu?" tanya Kharisa lagi.
"Sial, mengapa dia selalu ingin memancingku untuk menjelaskan semuanya mengapa dia tidak mau mengerti apa yang harus dia lakukan dengan perkataanku barusan?" ucap Gara dalam hati dengan wajah kesalnya karena lagi-lagi Kharisa memancingnya untuk menjelaskan semuanya apa yang dia inginkan.
"Kharisa berhentilah berpura-pura bodoh, aku tahu apa yang telah kau pikirkan saat ini. Cepat lakukan apa yang seharusnya kau lakukan saat ini." pekik Gara.
"Ya, aku tahu apa yang harus ku lakukan jika aku berhadapan dengan orang yang normal, namun ketika aku berada denganmu aku tidak merasa jika aku harus melakukan sesuatu karena seperti yang kau katakan jika tanganku ini dan tubuhku ini sangat kotor. Aku tahu pasti kau tidak akan mau ku sentuh, kan?" tanya Kharisa.
Ingin sekali rasanya Gara membungkam mulut Kharisa namun ia sadar dengan keadaannya saat ini akhirnya Kharisa yang merasa kasihan pada pria itu mulai menarik nafas dan menuntun Gara masuk ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi Kharisa bingung apa yang harus dilakukan saat ini. "Cepat lepaskan celanaku! apa kau ingin aku kencing berdiri di hadapanmu saat ini?"
Kharisa yang benar-benar terkejut mendengar perkataan Gara seketika meneguk salivahnya.
"Dasar pria gila bisa-bisanya dia mengambil keperawanan mataku saat ini? sungguh aku tidak rela dan aku mengutukmu sebagai suami durhaka.
Akhirnya dengan akal Kharisa, ia pun memalingkan wajahnya dan mulai meletakkan tangannya di bagian celana sang suami. Tangannya tampak meraba beberapa kali dengan bergemetar hingga menemukan satu resleting yang harus ia buka di bawah sana. Sementara Gara yang melihat tingkah Kharisa hanya menyunggingkan sebuah senyuman menyeringai seakan ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini mungkin itu adalah sebuah taktik Kharisa agar terlihat polos di depannya saat ini.
"Ayo katakan apakah sudah sampai sini saja aku membukanya?" tanya Kharisa.
"Belum, lakukan lebih ke bawah lagi." pintah Gara.
Kharisa pun menurutinya namun tanpa sengaja ujung jari jempolnya menyentuh sebuah benda yang yang masih terlindungi oleh sehelai kain tipis.
"Aaaaaa." teriaknya terkejut dengan wajah yang sudah berkeringat. Kharisa sepertinya bisa menduga apa yang barusan ia sentuh sementara Gara hanya terkekeh.
__ADS_1
"Tidak usah sok polos seperti itu. Apa kau pikir aku tidak mengetahui siapa dirimu?" pekik Gara lagi.
Kharisa benar-benar kesal mengapa sudah di tolong masih saja mengatainya seperti itu. Kini Kharisa masih berdiri mematung dengan tatapan yang memalingkan dari arah Gara, ia bingung harus apa saat ini. Dan seketika Gara pun kembali bersuara. "Apa kau mau melihatnya dengan jelas hingga tidak mau pergi dari situ?"