
Beningnya air laut sebening bola mata yang begitu cerah terpancar di depanku saat ini. Tidak ada kebahagiaan, tidak ada kedamaian yang aku cari lagi setelah aku menemukan semuanya berada di bola matamu yang terpancar kebahagiaan itu. Dan... kebahagiaan itu tentu dariku, pria yang begitu mencintaimu.
Gara
______________________________________________
Selimut tebal yang terus menjadi objek rebutan sepasang suami istri itu kini terlempar menjauh hingga berserakan di lantai.
"Apa? kau masih mau menutup bagian mana? semuanya sudah kuhapal lekukan itu." ujar Gara.
Seketika Kharisa menyilangkan kedua tangannya menutup bagian dada.
"Gara, sudah hentikan. Aku ini istrimu, bukan bahan pajangan yang bisa kau pandangi seperti itu." sahut Kharisa ketika merasa tidak nyaman. Gara selalu saja mengibaskan selimut yang menutupi tubuh polos istrinya.
"Dan aku suamimu. Aku berhak menikmati sekalipun hanya melihatnya. Kau sebagai istri harus patuh pada suamimu." balas Gara yang tersenyum sumringah.
"Jangan membuatku malu seperti ini. Ayo menjauhlah aku ingin mengambil pakaianku." bujuk Kharisa dengan senyuman manisnya.
Perlahan wanita itu mulai bergerak menggeser tubuhnya untuk meraih baju di sisi ranjangnya, namun seketika Gara bersuara. "Eits...aku bilang ini jadwalnya kita. Itu artinya biarkan kita tidak mengenakan apa pun yang akan menggangu aktifitas di kamar ini. Jangan membantah."
Sudahlah, sepertinya Kharisa akan lelah jika lagi dan lagi harus berdebat dengan pria di depannya.
Dengan wajah kesal dan pasrah, akhirnya Kharisa berbaring tanpa mengenakan sehelai kain pun. Wajahnya merengut, Gara benar-benar tega padanya.
Gara yang melihatnya sedikit menyunggingkan senyumannya, sejenak tangannya meletakkan gelas itu di atas meja setelah selesai minum. Pria kembali berjalan ke arah tempat tidur, tubuhnya hampir saja merengkuh sang istri.
Tring...tring... tring. Dering telepon terdengar di atas nakas. Wajahnya menekuk melihat panggilan dari nomor baru.
__ADS_1
"Aku bisa ikut gila jika mengikuti permintaanmu Gara Crisswong." batin Kharisa yang perlahan-lahan meraih selimut dan membungkus tubuhnya yang polos itu.
Seketika raut wajah Gara tampak suram, terdengar suara seseorang sesekali berteriak entah apa penyebabnya, pukulan atau tendangan atau yang lainnya. Dan jangan lupakan suara tangisan wanita yang mengiringi.
Tak lama setelah itu. "Bagaimana? apa kau masih mengenal suara mereka? atau suaraku? How are you, Gara?"
Suara yang sangat tidak asing, tidak akan pernah terlupakan oleh Gara. "Mr. Dave." ucapnya lirih.
Kharisa yang melihatnya dari arah tempat tidur mendadak menyandarkan tubuhnya di kasur. Ia bisa melihat raut kemarahan sang suami dari genggaman erat tangan yang bergetar itu.
"Hahaha...kau masih ingat ayahmu ini, Nak? pulanglah. Urusan kita belum selesai. Aku tunggu." Sambungan telepon pun terputus sepihak. Gara seketika cemas.
"Ada apa?" tanya Kharisa.
"Kita pulang sekarang." ujarnya begitu khawatir.
"Pergi kalian dari sini! pergi!" Nyonya Harina berteriak histeris ketika melihat Randa sudah tak bertenaga lagi. Tubuh dan wajahnya penuh memar bekas pukulan beberapa anggota mafia itu.
Sedangkan Tuan Tedy sudah memegangi dadanya yang kembali kambuh. Kemarahan pria itu benar-benar memuncak hingga ia ingin menyerang Mr. Dave.
"Ayah, kalian benar-benar pengecut!" Vano geram menatap bengis pada Mr. Dave.
Tidak perduli dengan dirinya dan saudara kembarnya yang juga mendapat serangan dari mereka.
"Ini tidak sebanding dengan pengkhianatan anak kalian, dan kau pengkhianat!" ucap Mr. Dave dengan tanpa dosanya melangkah pergi setelah menunjuk ke arah Randa.
"Ayah, bertahanlah. Kita segera ke rumah sakit." Nyonya Harina memangku sang suami seraya terus menangis.
__ADS_1
"Bu..." sahut Tuan Tedy semakin kesulitan menghirup udara. Dadanya sesak, rasanya begitu sakit seakan terbakar di dadanya.
"Vino, ayo bantu aku mengangkat Ayah. Setelah itu kita bantu dia." ujar Vano yang menggerakkan tubuh Ayahnya dan mulai menggendong ke mobil.
"Sudah aku tidak apa-apa. Bawalah Ayah ke rumah sakit. Cepat!" teriak Randa dengan suara lemahnya.
Mereka pun mendengar apa yang Randa katakan. Setidaknya ia masih bisa memiliki nyawa untuk bertahan. Sementara Tuan Tedy tentu tidak seperti dirinya.
Mobil pun melaju ke arah rumah sakit. Sepanjang jalan Nyonya Harina terus menangis. Vino membawa mobil sendiri dengan wajah panik. Entah kemana supir mereka.
"Ayah... bertahanlah. Ibu mohon."
"Bu, Ayah ti-dak ku-at. Kha-risa, Bu." Tuan Tedy terdengar berusaha mengatakan sesuatu namun rasanya sangat sulit untuk menembus kalimat itu.
"Ayah, tenang yah! Kharisa sedang mau memberikan kita cucu. Ayah harus sembuh." Nyonya Harina berkata seraya tersenyum. Sesekali tangannya mengusap air mata yang jatuh itu.
Perjalanan cukup padat hari itu, Tuan Tedy yang membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri erus meronta kesakitan.
"Vin, buruan!" teriak Vano semakin panik.
"Iya ini juga udah laju. Ayah bertahanlah." Vino melirik spion di depannya itu.
Wajah Tuan Tedy mulai pucat pasih. Matanya mulai menatap ke arah atas. Napasnya terlihat putus-putus.
"Ayah mencintai Ibu." Mendengar ungkapan yang mengharukan, wajah Nyonya Harina tersenyum senang sembari mengangguk pelan.
"Iya, Ayah. Ibu juga sangat mencintai Ayah. Jangan tinggalkan Ibu, Ayah. Ibu sedih jika Ayah pergi. Biarkan sedetik Ibu pergi sebelum Ayah pergi yah?"
__ADS_1