Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 43. Usaha Gara


__ADS_3

"Sudah jangan terlalu lama berdandannya." sahut Gara yang masih saja memperhatikan Kharisa dari pantulan kaca.


"Sebaiknya kau mandi sana." pintah Kharisa yang enggan membalas ucapan Gara.


Gara bangun lalu segera menuju ke kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya beberapa menit di dalam kamar mandi, sementara Kharisa sudah duduk di kasur memeriksa beberapa berkas yang ia sesuaikan dengan layar di laptopnya.


"Aku sampai lupa memeriksanya semalam." ucapnya dengan gerakan tangan yang sudah terburu-buru.


Hari ini adalah jadwal Rifal meeting di dampingi oleh Kharisa.


"Apa itu?" tanya Gara penasaran melihat Kharisa sibuk sendiri.


"Berkas yang harus ku periksa untuk meeting hari ini." sahut Kharisa tanpa menatap wajah suaminya.


"Kau sudah selesai mandinya?" tanya Kharisa.


"Hem." jawab Gara dan segera menata rambut yang masih basah itu sesekali ia mengusap kasar dengan handuknya.


"Aw." rintih Kharisa yang terkena percikan air dari rambut suaminya.


"Kau ini. Aku basah." pekik Kharisa.


"Mau bagaimana lagi, rambut ku memang basah." ucap Gara masa bodoh.


Kharisa menggeleng-gelengkan kepalanya merasa enggan untuk meladeni pria itu, namun Gara kembali mengibaskan rambut basahnya dan hampir saja terkena berkas yang ada di tangan Kharisa.


"Kau sengaja yah?" Kharisa kini sudah menyimpan berkas di tangannya dan menatap pada Gara.


Bukannya menjawab, kini Gara sudah menyodorkan handuk miliknya pada Kharisa. "Keringkan rambut ku, aku tidak bisa." pintahnya.


Ia melihat Kharisa yang hanya bisa menghela nafasnya kasar lalu meraih handuk itu. Gara menundukkan dirinya hingga berlutut di depan Kharisa yang masih duduk di atas kasur.


Keduanya saling berhadapan, namun Kharisa enggan menatapnya. Ia tetap fokus mengeringkan rambut suaminya.


Perlahan tangan Gara meraih kedua tangan Kharisa dan menggenggamnya erat tanpa menurunkan tangan yang saat ini menyentuh kepalanya.


Kharisa terdiam dengan bola mata yang melirik kesana kemari karena salah tingkah. Sedangkan Gara terus menatapnya begitu dalam.


Hening, tak ada ucapan yang terdengar sampai Gara perlahan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Kharisa. Kepalanya ia mulai miringkan pelan-pelan namun pasti.


"A-aku buru-buru." Kharisa yang sempat terbawa suasana kini tersadar dan segera berdiri dari duduknya. Ia berjalan melewati Gara dan meraih tas kerjanya.


"Ayo kita sarapan." ajaknya sebelum meninggalkan kamar itu.

__ADS_1


Gara yang berdiri dengan wajah datarnya segera menata rambut yang hampir kering. Ia keluar dari kamar dan meraih kunci mobilnya.


Semua sudah berada di meja makan, tak ada perbincangan hangat di meja itu. Kharisa beberapa kali mencuri pandang pada suaminya namun ia kembali menatap piring di depannya saat Gara mengetahui tatapan Kharisa.


Vino yang sadar dengan suasana itu beberapa kali menyenggol lengan Vano. Vano hanya membulatkan matanya memberikan isyarat jika Vino sebaiknya diam saja.


Tiba-tiba suara pintu terdengar ada yang mengetuk. "Siapa pagi-pagi seperti ini sudah bertamu?" tanya Kharisa memecah keheningan itu.


"Sepertinya Pak Refi, Kak. Soalnya kami meminta jadwal belajar lebih pagi biar enak." jawab Vano.


Vano memundurkan kursinya lalu ia segera beranjak ke pintu yang masih tertutup.


Benar dugaannya, dia adalah Pak Refi yang sudah mengagumi Kharisa saat pandangan pertamanya.


"Selamat pagi, semua." sapa Refi.


"Selamat pagi juga, Pak." sapa Kharisa ramah.


"Pak Refi ayo sarapan dulu." ajak Kharisa.


"Iya terimakasih. Saya sudah sarapan tadi." jawab Refi dengan sopannya.


Sesekali mata Gara menatap Refi dengan tatapan menyelidik. Kharisa yang sadar dengan tatapan suaminya segera beranjak dari meja makan.


"Ya sudah, Kakak kerja dulu yah." Kharisa segera berdiri dari meja maka dan mengemasi sisa makanan mereka.


Gara dan Kharisa sudah masuk ke dalam mobil, Vino dan Vano juga sudah mulai belajar. Mobil melaju ke kantor tempat Kharisa bekerja.


Seperti biasa, masih tidak ada pembicaraan di antara mereka.


"Jangan lupa nanti kita akan ke rumah." Suara Gara tiba-tiba memecahkan keheningan di perjalanan yang hampir sampai itu.


Kharisa hanya diam tak menjawab, ia begitu gugup jika harus bertemu kembali dengan Tuan Tedy dan Nyonya Harina.


Ia kembali melamun dengan tatapan kosongnya.


"Kharisa." panggil Gara.


"Hah iya? ada apa?" tanya Kharisa yang kaget.


"Aku akan menjemputmu nanti." sahut Gara lagi.


Belum sempat Kharisa menjawab kini mobil Gara sudah terparkir dengan sempurna di depan kantor tempat Kharisa bekerja.

__ADS_1


"Aku masuk dulu." ucap Kharisa segera membuka pintu mobil dan meninggalkan Gara tanpa kata.


Gara masih tak meninggalkan tempat itu, ia terus menatap kepergian Kharisa yang masih jelas terlihat sampai di dalam. Karena kantor itu di batasi dengan kaca transparan.


Kening Gara mengkerut saat melihat sosok pria yang tiba-tiba menghampiri Kharisa dan masuk bersamanya ke dalam lift.


"Pria itu lagi." ucap Gara dengan rahang yang mengerat.


Segera tangannya melajukan mobil menuju kediaman Tuan Tedy. Seperti janjinya pada Nyonya Harina jika ia akan kembali ke rumah pagi hari.


"Semua belum selesai sampai di sini. Masih ada kasus yang harus Kharisa hadapi di pengadilan." ucap Gara yang memikirkan nasib istrinya nanti.


***


"Ibu, untuk apa masak sebanyak ini?" tanya Tuan Tedy penasaran saat melihat istrinya sibuk kesana kemari bersama beberapa pelayan yang membantu dirinya.


"Gara mau kesini, Ayah. Sekali-sekali Ibu memasakkan untuknya lalu kita makan bersama." jawab Nyonya Harina.


"Ayah penasaran mengapa Gara akhir-akhir ini sepertinya aneh yah, Bu?" tanya Tuan Tedy penuh curiga.


"Sudahlah Ayah, jangan berpikiran yang tidak-tidak pada anak kita. Mungkin dia sudah mulai betah ke rumah setiap hari." sahut Nyonya Harina enggan mengambil pusing.


Namun tidak dengan Tuan Tedy, ia merasa Gara mulai menunjukkan sikap perdulinya pada kedua orang tuanya. Seperti yang sangat di harapkan Tuan Tedy selama ini.


Gara bisa bersikap dewasa karena pengaruh Kharisa, itulah harapan Tuan Tedy saat dulu. Dan tanpa ia tahu jika memang harapannya perlahan sudah mulai terkabulkan.


"Eh Gara, kau sudah datang, Nak." sahut Nyonya Harina yang melihat kehadiran putranya dari arah pintu.


Tuan Tedy yang masih tampak melamun membuat Gara bertanya-tanyan pada Nyonya Harina. Ia menaikkan kedua alisnya menatap wajah Ibunya lalu melirik ke arah Tuan Tedy.


Nyonya Harina hanya menaikkan kedua bahunya memberi isyarat jika dirinya tidak tahu.


"Ayah, ada apa?" tanya Gara yang sudah menghampiri Tuan Tedy dan membuat pria itu terkejut di atas kursi rodanya.


"Hah? Ayah tidak apa-apa." jawab Tuan Tedy.


Gara mendorong kursi roda Ayahnya menuju ke meja makan. "Ibu mengapa banyak sekali makanan? siapa yang mau datang?" tanya Gara antusias.


"Anak Ibu yang mau datang, kan?" jawab Nyonya Harina.


"Gara tidak mungkin bisa makan sebanyak ini, Bu." sahut Gara.


"Ayo kita sarapan, ini Ibu masak khusus untuk kita." ajak Nyonya Harina segera menaruhkan makanan untuk suami dan putranya.

__ADS_1


__ADS_2