Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 59. Kesadaran Gara


__ADS_3

Suasana ruangan rawat yang menegang kini tampak setelah suara kedatangan Kharisa yang marah atas perlakuan Reynka.


Keduanya saling bertatapan penuh aura persaingan di sana.


"Reyn, apa yang kau lakukan? biarkan Kharisa kemari." hardik Nyonya Harina menoleh ke belakang.


"Tidak akan ku biarkan, Bu. Aku tidak ingin wanita kotor ini mendekat pada Gara. Dia harus pergi, wanita pembawa sial harus pergi." Nada suara Reynka mulai menggema di ruangan itu.


Merasa tidak terima dengan penghinaan itu, Nyonya Harina pun bangkit. Ia berjalan ke arah Reynka dan segera melayangkan tangannya tepat di wajah Reynka.


Tubuhnya yang sama sekali tidak siap menerima serangan kini tersungkur ke dasar dinding. Sembari memegangi pipinya yang memerah.


Kharisa segera berlari menghampiri Gara yang terbaring lemas. Ia menggenggam tangan Gara menangis di sana.


"Ibu menamparku?" tanya Reynka geram. Tangannya sudah bergemetar menahan amarah. Ingin sekali ia membalasnya, namun sayang restu dan dukungan dari Nyonya Harina masih sangat di butuhkan.


Aura kelam yang tadi begitu jelas di wajah Reynka, kini berubah menjadi senyum getir. "Ibu ternyata lebih memilih menantu yang hamil dari pria lain, dari pada calon menantu yang begitu mencintai anaknya. Baiklah, aku akan berjuang sendiri untuk merebut cintaku."


Perkataan Reynka seakan tengah melemparkan bom di jantung Nyonya Harina dan Kharisa. Bagaimana wanita licik itu bisa tahu? itulah yang Kharisa pikirkan.


Sementara Nyonya Harina yang mendengarnya kini beralih menatap wajah Kharisa yang tadinya sempat menangis dan memeluk Gara.


"Apa maksud mu?" tanya Nyonya Harina pada Reynka.


"Sepertinya Ibu sedang di bodohi atau di ajak berdrama dengan Gara dan Kharisa? Jelas-jelas Kharisa hamil anak pria lain. Aku tahu Gara tidak mencintai Kharisa. Dia hanya kasihan pada wanita itu, benar kan Kharisa?"


Kharisa terdiam, ia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa saat ini. Hanya Gara lah yang bisa membantunya saat ini.


Nyonya Harina menggelengkan kepalanya, manik matanya melirik tajam ke arah perut Kharisa. Berbagai macam pikiran buruk sudah terlayang di pikirannya.


"Apa benar yang di katakannya, Kharisa?" tanya Nyonya Harina.


"Iya, Bu. Benar yang dia katakan." jawab Kharisa ragu.


"Gara, bangunlah. Bantu aku menghadapi ini semua. Aku mohon."


Kharisa melangkah mendekati Nyonya Harina berniat ingin menjelaskan semuanya, namun lagi-lagi Reynka menghalangi pertemuan keduanya. Nyonya Harina terdiam mematung, masih terus menatap perut Kharisa.


Lagi-lagi kejutan luar biasa yang ia dapatkan dari Kharisa.


"Pergi, Kharisa!" pintah Nyonya Harina dengan menunjukkan ke arah pintu keluar ruangan itu.


Kharisa menggelengkan kepalanya, buliran bening itu kini lolos dari kedua ujung matanya. Nyonya Harina tidak boleh mengusirnya sebelum tahu kebenarannya.


"Bu, dengarkan Kharisa dulu. Kharisa-"


"Saya bilang pergi!" pekik Nyonya Harina.


Wajahnya yang anggun itu kini sudah berubah penuh amarah. Ia benar-benar tidak menyangka dengan perilaku Kharisa. Wanita yang selama ini ia anggap begitu baik dan polosnya bisa melakukan penghianatan seperti ini.

__ADS_1


Kharisa benar-benar tidak menyangka jika hidupnya dan Gara akan mendapatkan masalah hingga membuatnya tak bisa terus berada di sisi suaminya.


Kharisa melangkah menuju pintu ruangan dengan tubuh lemasnya. Ia sangat berat untuk menuruti perintah Nyonya Harina. Andai tidak ada wanita ular itu, mungkin semuanya tidak akan serunyam ini pasti.


Kharisa menangis tak henti-hentinya, saat tangannya meraih knock pintu dan membukanya, tiba-tiba suara Gara terdengar.


"Kharisa." panggilnya yang menoleh ke arah sang istri.


Matanya masih bisa menangkap jika itu adalah Kharisa, meski tidak terlalu jelas terlihat. Gara berusaha keras untuk memfokuskan pandangannya.


Semuanya yang ada di ruangan itu menatap bersamaan pada Gara. Nyonya Harina tak memperdulikan Kharisa lagi, ia berlari cepat mendekat pada Gara.


Begitu juga dengan Kharisa, ia berlari dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Gara." Suara Nyonya Harina dan Kharisa terdengar serentak.


"Kharisa, jangan menangis. Aku sudah kembali untukmu." ucapnya yang semakin terlihat jelas wajah sang istri di hadapannya.


Tangannya ia paksa untuk meraih wajah Kharisa, Gara ingin sekali menyeka air mata itu. Tapi ia tidak memiliki kekuatan sebesar itu.


"Pergi kamu dari sini." Reynka yang tidak ingin Kharisa mendapatkan pembelaan segera menarik kasar tangan Kharisa hingga ia terlepas dari genggaman Gara.


"Kharisa."


"Gara!"


"Ibu, tolong istriku."


"Tidak, Ibu tidak menginginkannya bersama mu, Gara. Wanita yang telah hamil dan menghianati suaminya tidak pantas mendapatkan pembelaan dari Ibu." tegas Nyonya Harina.


Gara benar-benar tidak menyangka jika tutur kata Nyonya Harina bisa seperti itu. Hatinya ikut sakit mendengar Kharisa di tuduh seperti itu.


Kali ini rasanya bukan waktunya untuk menjelaskan, Gara segera mencabut jarum infus yang bersarang di tangannya hingga terlihat darah keluar.


"Gara, apa yang ingin kau lakukan?"


Dengan langkah gontai Gara turun dari tempat tidurnya, ia seketika mendapatkan pelukan dari Kharisa. Tubuhnya yang lemas kini di raih erat oleh Kharisa.


"Jangan pergi." tutur Gara penuh pengharapan.


"Aku tidak akan pergi. Kita akan bersama."


"Gara, apa yang kau lakukan? tidak sepantasnya kau masih menerima wanita ini. Dia hamil pria lain. Itu sangat menjijikkan."


Belum usai amarah Gara atas perlakuan dua wanita itu pada istrinya, kini sepertinya Reynka kembali memancing kemarahannya.


"Dia istriku, kau wanita tidak tahu malu. Seharusnya kau yang pergi. Di mana urat malu mu hah? apa kau lupa yang sudah kau perbuat padaku? pergi dari sini sebelum aku yang akan menghabisi mu sendiri di ruangan ini."


Suara lantang begitu jelas terdengar menggelegar di telinga tiga wanita, terlebih Kharisa. Ia yang masih berada di pelukan Gara bisa merasakan kemarahan suaminya itu.

__ADS_1


"Gara." Nyonya Harina yang ingin berbicara kini kembali di tatap oleh putranya.


Ia memilih diam dari pada mendapat amukan dari anaknya. Untuk hal Kharisa mungkin akan jauh lebih baik di bahas setelah semuanya membaik. Itu yang ada di pikiran Nyonya Harina


Reynka segera pergi dari ruangan dengan wajah kesalnya. Sungguh sulit melunakkan kembali hati mantan kekasihnya itu.


"Kalau aku bisa membuat mu jatuh cinta, tidak mungkin tidak bisa untuk yang kedua kalinya, Gara. Aku pasti bisa mengambil cintaku lagi."


Di ruangan rawat, kini Kharisa menuntun sang suami kembali ke tempat tidur. Ia tidak ingin Gara membuang tenaganya hanya untuk membelanya dan bisa memperburuk keadaan.


"Istirahatlah, biar cepat sembuh. Aku panggil suster dulu untuk memasangnya." Kharisa hendak berlalu pergi dari ruangan itu dengan wajah sembabnya, namun tangan Gara sudah mencegah.


"Biarkan, biarkan seperti ini. Jangan menjauh dariku lagi, Kharisa." pintah Gara terus menatap mata Kharisa.


"Diamlah, aku akan segera kembali." Kharisa memaksa untuk keluar, lagi-lagi Gara mencegah.


"Kau bisa memanggilnya dengan menekan itu."


Kharisa tersenyum, ia menepuk jidatnya. Bagaimana bisa lupa dengan fungsi tombol bantuan itu. Setelah menekannya, Kharisa kembali duduk menggenggam tangan sang suami. Ia terus duduk di sebelah tempat tidur Gara.


Sedang Nyonya Harina entah sejak kapan sudah tiada di ruangan itu. Ia memilih untuk berada di ruangan suaminya saja.


"Untung kau cepat sadar." ucap Kharisa sembari membaringkan kepalanya di pinggir kasur itu.


"Apa wanita itu sudah mengatakan pada Ibu?" tanya Gara


Kharisa tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan. Tiba-tiba ia penasaran, dari mana Reynka bisa mengetahui hal itu.


"Apa kau mengatakan sesuatu padanya?" tanya Kharisa dengan mengangkat wajahnya yang tadinya baring.


"Pernahkah aku mau berbicara padanya?" Gara justru melontarkan pertanyaan kembali.


"Lalu tahu dari mana?" tanya Kharisa penasaran.


"Kau tidak perlu pusing. Dia itu sangat tergila-gila padaku. Bisa saja semua aktifitas ku dia tahu tanpa sepengetahuan ku, kan?"


Kharisa menggeleng-gelengkan kepalanya, bisa-bisanya Gara melucu di keadaan yang seperti ini.


Tawa bahagia Kharisa yang sempat muncul seketika hilang, saat mengingat kemarahan Nyonya Harina.


"Ada apa?"


"Ibu sepertinya marah besar denganku."


"Sudah jangan khawatir, aku akan menjelaskan semuanya. Tidak sepantasnya Ibu marah, apa lagi Ayah. Justru mereka pasti akan sangat merasa bersalah jika tahu kebenarannya."


"Tidak, Ayah dan Ibu tidak boleh merasakan hal itu, Gara. Aku tidak mau."


"Sudah, serahkan semuanya padaku saja. Oke?"

__ADS_1


__ADS_2