Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 66. Kembali Mengingat


__ADS_3

Belum sempat Gara dan Randa menyelesaikan percakapan mereka tiba-tiba saja suara pintu kembali terdengar di ketuk.


Netra kedua pria itu serentak menoleh ke arah pintu yang kini sudah terbuka.


Pemandangan yang indah wanita cantik dengan penampilan formal begitu memukau di depan kedua pria itu.


Gara menatap cuek sementara Randa terlihat kesulitan meneguk salivahnya.


Rika. Wanita cantik teman sekaligus rekan kerja Kharisa, wanita yang saat ini terbaring lemah di atas tempat tidur. Ia menarik bibirnya hingga terlihat senyuman ramah di sana.


Suasana hening, canggung. "Maaf, saya teman sekantor Kharisa. Apa boleh saya masuk?" ucap Rika dengan ragu.


Karena kedua pria tidak ada yang merespon kehadirannya.


"Oh. silahkan." sahut Gara cuek.


Rika duduk di kursi sebelah Kharisa berbaring, sementara Gara masih tetap dengan posisi awalnya yang masih berada di tempat tidur sang istri.


Terlihat Rika meletakkan tas milik Kharisa. "Bagaimana dengan Kharisa? apa dia mengalami hal yang mengkhawatirkan?" tanyanya dengan wajah ragu.


Bara dan Randa tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, karena Rika bukanlah orang yang dekat dengan mereka. Terlebih lagi ini sangat privasi dengan kehidupan mereka. Namun saat Rika mencermati kedua wajah pria itu bergantian, ia seakan paham.


Tak ingin menunda informasi dan kecurigaannya, ia pun mengatakan apa yang ada di benaknya sejak malam tadi.


"Saya minta maaf jika telah lancang. Namun semalam saya menerima telepon dari ponsel Kharisa. Sepertinya pria itu bukan anda."


Mata Gara membulat mendengar pengakuan Rika, "Telepon? pria?"


Gara bergerak cepat meraih tas milik sang istri. "Iya, saya berpikir mungkin itu telepon dari anda dan setelah kalian teleponan Kharisa mendadak pingsan kemarin. Saya pikir jika anda ingin mengucapkan sesuatu jangan sampai membuat Kharisa ketakutan. Kasihan dia." tutur Rika dengan penuh peringatan.


Tentu saja ia mengira jika pria itu adalah Gara, pria yang bersama Kharisa saat ini. Karena jika di ingat saat di telepon ia menyebut pria gila, itu tandanya jika pria yang menelponnya pria yang di cintai Kharisa.


"Tunggu, tapi mengapa suara kalian berbeda?" Rika kembali berpikir keras berusaha mengingat nada bicara dan juga suara khas penelpon semalam.


Sedangkan Gara yang tidak memperdulikan Rika berbicara kini tengah sibuk mengotak atik ponsel istrinya. Ia membuka satu persatu pesan. Sudah bisa di pastikan jika pria itu adalah Khard.


Rahang Gara mengeras saat membaca semua pesan di ponsel istrinya.


Randa yang melihat ekspresi temannya bisa menebak satu hal. "Diakah?" tanyanya tepat sasaran.


"Ya." jawab Gara singkat.


Rika terdiam mencermati wajah kedua pria yang bersamanya saat ini.


"Kau?" tanya Gara yang menunjuk ke arah Rika.


Dengan pahamnya Rika tersenyum. "Yah, aku Rika." sahutnya.

__ADS_1


"Bisakah beritahu dengan atasanmu kalau Kharisa tidak bekerja dulu-"


"Tidak, aku ingin bekerja. Pekerjaan ku masih banyak, Gara." Kharisa yang masih terlelap tiba-tiba terdengar bersuara saat indera pendengarannya menangkap kata kerja.


Gara berdecak kesal. "Hei, kau masih sakit. Jangan memaksakan diri dulu." pekik Gara.


Kharisa berusaha menopang tubuhnya dan duduk di tempat tidur itu. Rika memberikan senyuman persahabatan pada Kharisa.


"Iya Kharisa, kau jangan ke kantor dulu. Aku akan ijinkan pada Presdir Rifal. Kau istirahatlah dulu." pintah Rika menyetujui ucapan Gara. "Lagi pula apa kau tidak betah di temani pria tampan sepertinya? hah?" lanjut Rika dengan berbisik.


"Rika, aku harus kerja. Aku tidak bisa seenaknya bolos kerja. Aku punya tanggung jawab, Gara." Kharisa menjelaskan pada wanita itu dan juga Gara.


Kalau sudah keras kepala seperti ini Gara pasti lemah. "Oke, kalau kau memaksa. Tapi Randa akan bersama mu sepanjang hari. Karena aku harus ke kantor Ayah." ucap Gara.


Mata Kharisa melirik tubuh sang suami dengan tatapan syoknya. Ia ingat jika Gara harusnya masih terbaring lemas.


"Mengapa semua kau lepas?" tanya Kharisa yang menatap ngeri pada lengan Gara di sana. Beberapa bekas luka tembak masih membekas jelas.


"Sudah aku baik-baik saja."


"Tidak, kau harus di rawat dulu." bantah Kharisa.


Ayolah Gara, sepertinya tubuhmu jauh lebih lemah di bandingkan Kharisa jika di dengar dari perintah sang Nyonya itu.


"Randa, tolong panggil Dokter untuk memberikan perawatan pada suamiku." pintah Kharisa namun belum sempat Randa beranjak, Gara sudah menghentikannya.


Gara dengan sengaja memberikan gambaran dirinya yang begitu memprihatinkan pada Kharisa agar wanita itu mau mengurungkan niatnya ke kantor.


Rika dan Randa mengulum senyum mereka. Sungguh Gara ratu dramatis.


Bayangan Kharisa mulai berselancar. "Sepertinya aku hanya perlu menutup yang bagian lutut saja, karena tadi barusan keluar banyak darah." Gara terus mengoceh seperti burung.


"Aku mohon jangan membuat dirimu sengsara lagi. Sudah cukup yah." bujuk Kharisa mengerutkan keningnya.


"Kalau begitu kita di sini berdua sampai sembuh?" Gara menatap sang istri berharap akting dadakannya membuahkan hasil.


"Tidak, ada Randa. Aku sungguh baik-baik saja. Setelah pekerjaan ku selesai aku akan segera menemui mu. Oke?"


"Yasudah kalau begitu kita sama-sama pergi ke kantor." Kali ini Gara memiliki jurus ampuh untuk mencegah istrinya. Selain karena khawatir dengan kesehatan, ia juga khawatir jika pria gila itu akan hadir sementara Gara belum ingin melawan pria itu karena tenaganya memang belum sepenuhnya pulih.


"Iya Kharisa, lagi pula kalau kau memaksa kerja, nanti sakit lagi bagaimana? pekerjaan akan semakin banyak yang terbengkalai."


"Iya sudah kalau begitu aku ijin dulu yah Rika, tolong sampaikan pada Presdir Rifal."


"Oke, ini buahnya jangan lupa di habiskan. Aku ke kantor dulu. Bye." Kharisa dan Rika saling mendaratkan pipi mereka.


Kharisa dan kedua pria di ruangan itu menatap kepergian Rika.

__ADS_1


Gara sudah sengaja mematikan ponsel sang istri. Ia tidak ingin Kharisa berkomunikasi lagi dengan pria itu. Dan pagi ini sepertinya Kharisa sedang lupa dengan masalahnya.


"Apa masih sakit?" tanya Kharisa melihat setiap luka di lengan sang suami.


"Iya." jawab Gara.


"Lalu mengapa di lepas?" tanya Kharisa.


"Tidak akan berfungsi semua, kecuali obat dari kamu."


Kening Kharisa mengernyit bingung. "Dari aku?"


Keduanya tampak bertatapan sementara Randa hanya bisa menjadi obat nyamuk. "Iya, kamu elus saja sekitar lukanya pasti cepat sembuh." sahut Gara.


"Ehem." Suara Randa berdehem membuat Gara berdecak kesal.


Kharisa yang enggan mempertontonkan kemesraannya pada orang lain memilih menetap ke atas nakas. Ia melihat tas kerjanya di sana.


Saat tubuhnya bergerak ingin meraih tas kerjanya, ia kembali mengingat saat berada di ruangan kerja. Matanya menatap tajam tas itu dan menggelengkan kepala. "Tidak...jangan!"


Kharisa mendorong kasar nakas itu hingga Gara dan Randa terkejut melihat buah dan obat berhamburan bersama pecahan gelas di lantai.


"Hey... Kharisa, ada apa?" Gara meraih tubuh istrinya dan memeluknya. Kharisa menangis histeris kembali. Ia menutup mata berganti menutup telinga terus seperti itu.


"Halo sayang, aku merindukan mu."


"Jaga anak kita baik-baik yah."


Ucapan Khard kembali terngiang di ingatan Kharisa.


"Tidaaaak!"


Kharisa menjambak rambutnya hingga Gara mencengkram kuat kedua tangan sang istri. Sementara Randa sudah berlari keluar untuk mencari Dokter.


Tanpa menyerah Gara terus saja memeluk semakin erat dan mencium puncak kepala sang istri.


"Aku takut. Aku takut." Suara Kharisa terdengar terus berulang kali mengucapkan hal yang sama dan perlahan mulai menghilang setelah Dokter berhasil menyuntikkan obat penenang di sana.


Pelukan Gara mengendur, ia membaringkan tubuh istrinya. Keringat bercucuran di kening pria itu dan juga Kharisa.


"Dok, mau sampai kapan istriku seperti ini terus?" tanya Gara.


"Tuan, mungkin anda bisa mencarikan suasana baru agar pasien bisa melupakan perlahan tekanan ini. Dan bisa lebih berani menghadapi ingatannya."


Gara terdiam sembari mengatur nafasnya yang tersengal. Randa menatap miris pada Kharisa, sungguh kasihan.


"Sebaiknya anda bawa refreshing." usul Randa.

__ADS_1


Dokter dan Gara bersamaan menatap wajahnya.


__ADS_2