Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 44. Pergi Berdua


__ADS_3

Akhirnya Gara melahap makanan yang begitu nikmat hingga tak lagi memperdulikan perutnya yang kekenyangan.


Nyonya Harina dan Tuan Tedy juga ikut menikmati makanan pagi itu. "Gara, apa kamu baik-baik saja?" tanya Tuan Tedy menghentikan makannya.


"Gara baik, Ayah. Memangnya ada apa?" tanya Gara.


Tuan Tedy menggelengkan kepalanya ragu, "Oh iya, Gara ingin mengatakan sesuatu pada Ayah dan Ibu." ucapnya lagi dan meletakkan kedua sendok yang ia pegang.


"Apa Gara?" Nyonya Harina begitu antusias.


"Nanti sore Gara akan membawa Kharisa kemari." ucap Gara.


Wajah kedua orangtuanya seketika terkejut. Gara bisa melihat raut wajah syok Tuan Tedy.


"Kharisa tidak seperti yang kalian dengar, itu semua terjadi karena salah Gara." ucapnya.


"Ayah, baik-baik saja?" tanya Nyonya Harina mendekat pada suaminya karena melihat wajah pucat Tuan Tedy yang sejak tadi sudah tidak bicara sedikit pun.


"Apa maksud kamu Gara?" tanya Tuan Tedy dengan kagetnya.


"Maafkan Gara, Ayah. Kharisa terpaksa melakukan hal itu karena Gara sejak awal meminta Kharisa agar membuat pengakuan seperti itu pada Ayah agar kami berpisah. Itu semua tidak benar seperti yang Kharisa katakan di surat itu, Ayah." tutur Gara.


Tuan Tedy menggelengkan kepalanya tak menyangka jika Gara bisa melakukan hal itu.


"Apa yang kau lakukan, Gara? mengapa bisa berpikiran seperti itu? sungguh kasihan nasib Kharisa, Bu." Tuan Tedy terus menggelengkan kepalanya dengan tatapan nanarnya.


"Dan satu lagi, Ayah." lanjut Gara.


"Saat itu Kharisa hampir di lecehkan oleh sekertaris kepercayaan Ayah, Khard." ucap Gara penuh hati-hati.


"Ayah." Nyonya Harina berteriak ketakutan melihat Tuan Tedy memegang dadanya karena ia merasakan sangat sesak.


"Ayah." Gara segera beranjak dari tempat duduknya dan menggendong tubuh Tuan Tedy menuju ke kamarnya di ikuti dengan Nyonya Harina.


Di kamar Tuan Tedy yang hendak di tinggalkan oleh Gara untuk mengambil minum segera mencegah putranya.


"Gara, jelaskan apa yang terjadi pada Ayah?" pintah Tuan Tedy.


Gara duduk di samping kasur dan menggenggam tangan Tuan Tedy. "Khard sudah menyukai Kharisa sejak awal Ayah mengenal kan mereka, sampai akhirnya Gara mengetahui jika pria itu sudah berencana memperkosa Kharisa, Ayah. Saat ini Khard sudah berada di sel. Gara sudah melaporkan tindakannya itu. Ayah tidak perlu khawatir, biar Gara yang mengurus semuanya." tutur Gara.


Air mata terlihat menetes di ujung pelupuk mata Tuan Tedy yang sudah berkerut itu.


"Kasihan Kharisa, Bu. Ini semua karena Ayah." ucapnya begitu sedih.


Bagaimana selama ini Tuan Tedy bisa berpikir jika yang Kharisa akui memang benar adanya. Meski dari lubuk hati yang terdalam Tuan Tedy merasa itu tidak mungkin.


"Bawa Kharisa kemari, Gara." pintah Tuan Tedy.


"Ayah, nanti sore. Kharisa sedang bekerja saat ini." tutur Gara.


Tuan Tedy dan Nyonya Harina saling memandang, mereka bingung mendengar Gara begitu banyak tahu tentang istrinya.


"Gara?" ucap Nyonya Harina seolah bertanya.


"Iya Bu, selama ini Gara sudah tinggal bersama Kharisa di kontrakan kecilnya." ucap Gara.


Nyonya Harina dan Tuan Tedy tersenyum lega mendengar ucapan putranya. "Jadi kalian sudah..."

__ADS_1


Gara hanya menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillah." seru Nyonya Harina begitu senang mendengar jika Gara dan Kharisa sudah saling dekat.


"Doakan Gara yah, Bu." ucap dalam hati berharap jika perjuangannya akan berhasil saat ini.


"Yasudah Ayah istirahatlah. Gara mau pergi ke kamar. Untuk berkas sudah Gara periksa bersama Kharisa semalam, semuanya aman." ucapnya dan beranjak keluar dari kamar orangtuanya.


***


Di kantor, Kharisa yang sedang menemani Rifal meeting ikut memberikan masukan di meja pertemuan itu.


Perusahaan Rifal saat ini tengah mengalami penurunan profit, itu sebabnya mereka perlu mencari jalan bagaimana agar bisa meminimalisir pengeluaran perusahaan.


Setelah semua mengeluarkan suara mereka masing-masing kini saatnya Kharisa membantunya.


"Jika saya di perkenankan untuk bersuara ada baiknya jika kita melakukan penelusuran tentang pengeluaran di perusahaan, dan mana yang paling menguntungkan itu akan kita percepatan proses produksinya. Bagaimana?" ucap Kharisa.


Semua menganggukkan kepalanya setuju. "Sepertinya saya sependapat dengan Kharisa, Presdir." sahut salah satu yang ada di ruangan itu.


Rifal yang sejak tadi terus menatap Kharisa semakin terpanah. Lagi-lagi Kharisa mencuri hati pria tampan itu.


"Bisa, kalau begitu kita sebaiknya langsung turun lapangan saja, Kharisa." ucap Rifal.


"Baik Presdir, tidak masalah. Itu akan jauh lebih baik." tutur Kharisa.


Akhirnya meeting pun berakhir, kini Kharisa langsung meninjau ke pabrik bersama Rifal dan supir pribadinya.


Perjalanan yang singkat kini mereka sudah tiba di salah satu pabrik yang di miliki Rifal. Mereka masuk ke dalam pabrik untuk melihat semua barang yang di produksi.


Sampai keduanya masuk ke dalam gudang penyimpanan bahan baku. Perjalanan mereka masih panjang, ada beberapa pabrik lainnya yang mengelola jenis yang berbeda.


"Presdir, saya rasa gudang ini masih luas. Apa sebaiknya kita masuk lagi?" tanya Kharisa.


"Ini, ini sebabnya. Bagaimana mungkin bahan sebanyak ini masih tidak di gunakan dan di biarkan begitu saja?" ucapnya tampak geram.


"Kamu sini." panggil Rifal menunjuk salah satu pria yang mengikuti langkahnya.


"Siap Pak." sahutnya.


Kumpulkan seluruh pekerja bagian gudang." pintah Rifal setengah berteriak.


"Ba-baik, Pak." Pria itu berlari cepat memberi tahu agar semua segera berkumpul di depan pimpinan mereka saat ini juga.


Tak butuh waktu lama, di hadapan Kharisa dan Rifal kini sudah tampak buruh yang berbaris rapi.


"Bagaimana kalian bisa lalai di sini? lihatlah bahan sebanyak ini kalian biarkan berhamburan begitu saja?" teriak Rifal dengan geramnya.


Semua menunduk tak ada yang berani mengatakan apa pun. Wajah putih mulus pria di hadapan mereka saat ini sudah memerah.


"Kalian tidak tahu kami di kantor pusing memikirkan anggaran sedang kalian di sini begitu acuhnya membuang bahan sebanyak itu di sini? apa kalian sudah tidak ingin bekerja? hah!" pekik Rifal.


"Astaga kalau begini namanya bukan mendapat jalan keluar." gumam Kharisa.


"Pak bisa biarkan saya yang mengatasi ini semua?" tanya Kharisa pelan setengah berbisik.


Rifal tampak menganggukkan kepalanya luluh mendengar ucapan Kharisa.


Kharisa maju satu langkah di depan jajaran para buruh itu. "Mohon maaf atas ketidak nyamanan Bapak semuanya, saya di sini sebagai perantara ingin berbicara sebentar. Bapak-bapak semua saya mohon bekerja samalah dengan kami, kalian mencari sesuap nasi untuk keluarga, begitu juga dengan saya dan yang lainnya. Mari kita jaga tempat kita mencari nafkah. Bagaimana caranya agar perusahaan yang telah mengisi perut kita ini bisa tetap bertahan dan semakin maju. Lagi pula pengabdian kita yang tulus pasti akan ada keberkahan atas semua yang telah kita lakukan. Saat ini perusahaan kita tengah mengalami ancaman kebangkrutan, jadi saya mohon bekerja samalah dengan kami." tutur Kharisa penuh kelembutan.

__ADS_1


Semua yang berjajar saling berbicara satu sama lain. Mereka tampak resah mendengar perusahaan itu akan bangkrut.


"Apa ini tandanya kita akan di pecat?" tanya salah satu buruh itu.


"Berdoa saja kita tidak akan bangkrut, maka dari itu saya mohon bekerja samalah dengan kami, Pak." ucap Kharisa.


"Baik kalau begitu kami akan berusaha semaksimal mungkin." ucap mereka serentak.


Kharisa tersenyum lega mendengarnya, ia segera berpamitan pergi bersama Rifal.


Pria tampan itu hanya diam menahan amarahnya. Beruntung ada Kharisa bersamanya kalau tidak ia tidak tahu apa yang terjadi.


Kini mobil sudah melaju ke pabrik lainnya. Namun Kharisa yang merasa tidak enak di perutnya kini meminta supir untuk menghentikan mobil mereka.


"Pak, tolong berhenti sebentar." pintah Kharisa.


Mobil berhenti. "Kharisa, ada apa?" tanya Rifal panik.


Kharisa sudah tidak menjawab lagi, ia turun dari mobil dan memuntahkan seluruh makanan dari perutnya hingga Rifal pun ikut turun memijat leher wanita itu dengan wajah cemasnya.


"Ini minum." pintahnya menyodorkan air.


"Kharisa, kita ke rumah sakit sekarang." ajak Rifal namun Kharisa menolaknya.


"Tidak perlu Presdir, saya baik-baik saja." ucap Kharisa.


"Tapi Kharisa-"


"Presdir kita harus ke pabrik berikutnya. Tidak ada waktu lagi." tutur Kharisa.


Selama satu hari itu mereka menghabiskan waktu untuk memeriksa pabrik di tempat yang berbeda-beda. Sampai akhirnya kini sore sudah tiba.


"Pak, kita lanjut besok saja. Hari ini kita ke kantor dulu." pintah Rifal dan mobil pun menuju kantor mereka.


Kharisa masih tampak kuat meski sebenarnya ia memaksa tubuhnya agar tetap kuat karena tidak ingin merepotkan atasannya.


Di depan kantor, Gara sudah memarkirkan mobilnya memperhatikan satu persatu pekerja yang keluar dari kantor itu.


"Mengapa dia lama sekali?" ucapnya tak sabaran.


Sudah hampir satu jam Gara menunggu Kharisa, namun wanita itu masih belum tampak juga di depan kantor.


Gara merasa bosan di dalam mobilnya, ia meraih ponsel dari saku celana hendak menghubungi Kharisa.


Tiba-tiba matanya tertuju pada satu mobil yang baru saja tiba di depan kantor.


"Kharisa? ngapain mereka?" umpat Gara. Matanya yang hitam tajam sudah begitu fokus menatap wajah istrinya yang baru keluar dari dalam mobil bersama Rifal.


Terlihat keduanya turun lalu Kharisa berpamitan untuk segera pulang.


"Presdir, saya pamit pulang." ucap Kharisa dan melangkah pergi.


"Kharisa, biar saya mengantar mu saja, Saya ke dalam sebentar." ucap Rifal meraih lengan Kharisa.


Kharisa melepaskan genggaman di lengannya dan berkata, "Tidak usah Presdir. Saya bisa pulang sendiri." tutur Kharisa.


Mata Kharisa tertuju pada mobil Gara yang sudah terparkir. Ia menghela nafasnya kasar lalu melangkahkan kakinya menuju arah Gara.

__ADS_1


"Kharisa, aku dulu sempat melepaskan mu, tapi saat ini tidak lagi. Karena kau sudah datang sendiri ke perusahaan ini dan aku tidak akan membiarkan mu pergi begitu saja." ucap Rifal dalam hati seraya terus menatap punggung Kharisa hingga masuk ke dalam mobil.


Gara yang melihat tatapan Rifal dengan sengaja menurunkan kaca mobilnya dan membalas tatapan itu penuh arti.


__ADS_2