
Kemarahan Gara memuncak ketika mendengar penjelasan pak polisi. Manik mata hitam legam itu menatap begitu tajam. Bahkan rahang Gara pun terdengar menggertak.
"Jika aku belum insyaf, mungkin aku akan menghabisi seluruh polisi ini. Lagi-lagi uang mengalahkan segalanya." batin Gara lalu berdiri meninggalkan ruangan itu.
Kaki jenjangnya melangkah menuju ke area parkir mobilnya. Tangannya baru saja meraih gagang pintu mobil hendak membuka tiba-tiba terdengar suara yang begitu tidak asing di telinganya.
"Gara." panggil Randa seraya berlari mendekat ke arahnya.
"Ada apa? mengapa kau sudah mau pergi?"
"Apa aku boleh kembali menjadi seorang pembunuh?" Randa meneguk kasar salivahnya ketikan mendengar pertanyaan, bukan. Lebih tepatnya permintaan agar di beri pencerahan.
"Jika kau menginginkan itu, mungkin sekalipun Kharisa yang melarang, kau akan tetap melakukannya, Gara." batin Randa.
"Siapa?" tanyanya kemudian setelah berasumsi mengejek pada Gara.
"Para seragam tuh." tunjuk Gara dengan memajukan dagunya.
"Kita ke cafe dekat sini. Aku lelah." Gara masuk ke mobil tanpa menatap wajah Randa.
"Sialan, sudah buru-buru kesini malah di tinggal, terus di suruh ngekor lagi." Randa menggerutu dan kembali masuk ke mobilnya mengikuti jejak Gara.
Perjalanan yang tidak begitu jauh, akhirnya kedua mobil mewah tiba di depan sebuah cafe.
"Mungkin aku jahat kali ini. Tapi biarlah dia tergiling di pabrik dari pada istriku jadi korban lagi. Kita hampir saja kecolongan kalau saja dia tidak mati hari ini." Gara berbicara dengan wajah kesalnya. Kini mereka telah duduk berhadapan di dalam cafe itu.
"Lalu bagaimana bisa dia bisa berada di sana?" tanya Randa penasaran.
"Sepertinya ada penguntit atau ada yang memberitahu tentang kehadiranku..." Gara menggantung ucapannya.
"Randa, apa jadwal Kharisa ada yang bocorkan? ini tepat sekali dengan jadwal Kharisa yang harus pergi sendiri."
"Tidak mungkin rasanya ada yang berkhianat di perusahaan." sambung Randa menerka-nerka siapa dalang dari ini semua.
"Contoh si almarhum." sahut Gara.
__ADS_1
Randa terdiam. Benar apa yang di katakan Gara, Khard termasuk orang kepercayaan sekaligus tangan kanan Tuan Tedy masih bisa berkhianat.
Keduanya pun menikmati makanan yang sudah di sediakan di meja cafe itu. Namun tetap sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
***
Di sisi lain, anggota keluarga Khard sudah berkumpul menangis di depan sebuah rumah sakit. Mereka baru saja tiba sore hari menjelang malam.
Karena jarak tempuh yang begitu jauh dari kota tempat tinggal Khard memakan waktu cukup lama.
Wajah dan tubuhnya sudah tidak berbentuk. Hanya saja demi memudahkan proses pemakaman, maka pihak rumah sakit akan membantu jenazah agar di bersihkan terlebih dahulu. Kemudian di kafani.
Selang beberapa saat kemudian seluruh keluarga pun mengiringi perjalanan mobil ambulans untuk membawa Khard menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Suara tangisan kedua orangtua Khard terus terdengar sepanjang jalan. Wanita paruh baya berada dalam pelukan sang suami yang juga tampak sepantaran dengan usianya.
Bagaimana tidak terpukul? sampai saat ini mereka tidak tahu apa yang sudah di jalani sang anak selama ini. Karena memang pria itu tidak pernah berkomunikasi bahkan membawa-bawa kedua orangtuanya di kehidupannya.
Setahu mereka, Khard begitu sukses hingga tidak memiliki waktu untuk mengunjungi mereka.
Sungguh miris, hingga saat masa terakhir pun ia benar-benar seperti sebatang kara. Tidak ada kesempatan untuk berbakti dengan kedua orangtuanya.
Suasana yang begitu mendung menambah langit semakin gelap. Dua pria dengan kacamata hitam baru tiba di kediaman itu. Setelah mendapat informasi dari pihak kepolisian, Gara dan Randa memutuskan untuk ikut mengantar kepergian Khard.
Di pemakaman itu juga terdapat dua orang petugas kepolisian.
Mobil ambulans sudah berlalu pergi dari pemakaman. Tinggallah para keluarga di tempat itu.
"Bapak, Ibu. Kami turut berdukacita atas kepergian Khard." ucap Gara mendekati kedua orangtua yang saling menguatkan itu.
Mereka pun terhenti dengan isakan tangisnya. Matanya yang sembab menatap ke arah dua pria tampan.
"Kamu! kamu pembunuh! Sini kamu, aku akan menghabisimu! aku tidak akan membiarkan kamu hidup setelah apa yang kamu sudah lakukan dengan anakku!" Wanita paruh baya itu seketika menyerang Gara dengan kedua tangannya yang terus memukul wajah dan dada bidang Gara.
"Bu, sudah Bu. Kita bicarakan ini baik-baik." ucap Pak Polisi dengan tegas.
__ADS_1
"Tidak, saya tidak ingin pria itu hidup. Dia pembunuh!"
"Apa yang kau ingin dari kami? Apa yang membuatmu harus menghabisi anakku? Kami bukan orang kaya sepertimu. Apa kamu merasa berkuasa dengan memperlakukan anakku seperti itu?" Kembali terdengar suara pria yang tidak lain adalah Ayah dari Khard.
"Pak, Bu, bisa kita bicara?" Gara berusaha mengontrol kemarahannya.
"Kami tidak sudi bicara dengan pembunuh sepertimu. Bahkan mulutmu itu sudah terkutuk." hardik Ibunya Khard.
"Pak Polisi, tolong penjarakan dia. Saya tidak terima pembunuh sepertinya berkeliaran bebas di luar sana. Sementara anakku sudah di kubur tanpa bentuk seperti itu." Ibu Khard kembali menuntut keadilan pada Polisi di depannya.
"Bapak, Ibu, kita harus ke kantor polisi sekarang. Untuk kasus ini kita perlu meminta beberapa keterangan dari Bapak, Ibu, dan anda Tuan Gara."
Mereka semua menuju ke kantor polisi kembali. Lelah, tentu sangat lelah. Bagaimana tidak, tenaga keluarga Khard bahkan sudah habis setelah perjalanan jauh, di tambah lagi mereka terus menangis sepanjang jalan. Dan sekarang mereka harus menuju ke kantor polisi.
***
"Ibu, apakah Gara belum pulang?" tanya Kharisa setelah keluar dari kamarnya dengan wajah pucat.
"Eh...sayang. Suamimu sepertinya sedang mengurus di kantor polisi. Ayo duduk." Nyonya Harina menggandeng menantunya ke arah sofa ruang keluarga.
Di sana tampak Tuan Tedy yang menonton acara televisi.
"Selamat malam." Terdengar suara dua pria yang tidak asing dari arah pintu. Siapa lagi jika bukan Vino dan Vano.
Keduanya tersenyum berjalan ke arah ketiga orang itu.
"Loh, Kak Risa sakit?" tanya Vino seketika menghilangkan senyuman di wajahnya dan berubah jadi cemas.
"Kak, ada apa? Kakak sakit apa?" Vano pun memeluk sang Kakak. Kecemasannya begitu tampak di wajah tampan yang selalu menunjukkan sikap pendiamnya.
Benar kata orang, pendiam itu biasanya jauh lebih berbeda jika sudah luluh. Tuan Tedy dan Nyonya Harina saling tatap melihat tingkah Vano layaknya seorang kekasih pada wanitanya.
Kharisa tersenyum melihat Vano memeluknya memeriksa kening dan seluruh tubuh Kharisa bahkan sudah di bolak balik saat itu. "Vano, Kakak baik-baik saja. Kamu jangan lebay seperti ini."
"Kak, ini bukan lebay. Apa Kakak ipar melukai Kakak lagi?" tanyanya tanpa memperdulikan keberadaan kedua orang tua itu.
__ADS_1
"Memangnya Gara seburuk itu di mata kalian?" Tuan Tedy bersuara setelah lama bungkam.