Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 12. Perjanjian Pernikahan


__ADS_3

Setelah menenangkan Kharisa, Vino dan Vano akhirnya bergegas mengantar kakaknya untuk masuk ke kamar.


"Kak Risa, istirahatlah dengan lelap. Kakak besok harus bekerja, kan?" tanya Vino.


"Iya besok Kakak harus bertemu dengan pria itu, Vino." ucapnya dalam hati sembari menimpali perkataan adiknya.


Ia pun memberikan sebuah anggukan pada adiknya. Vino dan Vano segera bergegas meninggalkan kakaknya sendiri di kamar dengan suara hujan yang semakin terdengar deras.


Sesampainya mereka berdua di kamar, "Van, apa yang Kak Risa sembunyikan yah?" tanya Vino dengan rasa khawatirnya.


"Entahlah, apa ini menyangkut pernikahan Kakak dengan anak Tuan Tedy?" dugaan Vano sungguhlah tepat pada sasaran, namun mereka tentu tidak berani menduga-duga seperti itu tanpa pengakuan dari kakaknya.


Sampai malam pun semakin larut dan membuat semuanya tertidur pulas di dalam balutan selimut tebal, wajah Kharisa tampam sembab. Beberapa kali terdengar ia batuk dan mengusap kasar hidungnya yang seperti akan mengalami gejala flu dan batuk.


Namun karena rasa lelahnya, Kharisa enggan menghiraukan dirinya itu. Ia tetap menikmati tidurnya sebelum besok pagi ia harus bergegas kerja.


***


Pagi yang tidak terlihat cerah seperti biasanya menemani kepergian Kharisa ke kantor. Vino dan Vano sudah seperti biasanya mereka menyambut kedatangan guru privatnya.


Mereka sudah kembali fokus belajar sementara Kharisa yang baru tiba di kantor nampak beberapa kali bersin.


Sembari terus berjalan melangkahkan kakinya ke ruang kerja, tiba-tiba ia kembali bersih. "Haaaah." Suara Kharisa begitu terkejut saat mengetahui seoang pria yang terkena dahagnya itu.


"Ma-afkan saya." tutur Kharisa dengan wajah terkejutnya


Pria itu adalah Khard, seorang yang di percaya oleh Tuan Tedy untuk mengawasi Kharisa selama bekerja. Bisa di bilang Khard adalah sekertaris untuk Kharisa.


"Tidak apa-apa. Sepertinya kau sedang tidak sehat. Apa sebaiknya kita pergi ke rumah sakit?" tanya Khard dengan perhatiannya.


Kharisa sungguh tidak enak hati melihat wajah Khard yang kotor itu. Dengan cepat Kharisa menarik Khard untuk ke toilet.

__ADS_1


"Biarkan aku saja." ucap Khard mencegah tangan Kharisa untuk menyeka wajahnya.


Khard sudah membasuh wajahnya, mereka berdua tampak hening tak ada percakapan. Namun menyadari ekspresi Kharisa yang canggung, Khard dengan cepat mencairkan suasana.


"Sudah jangan canggung seperti itu, Nona. Aku sungguh tidak apa-apa." lanjut Khard dengan wajahnya yang menyunggingkan senyuman.


"Jangan memanggilku seperti itu, panggil saja aku Kharisa." ucapnya menolak.


Khard pun setuju dengan kesepakatan seperti itu. Kini mereka berdua tampak jauh lebih akrab. Kesepakatan mereka untuk saling memanggil nama saja.


"Khard, hari ini adalah hari pertama kita bekerjasama, aku mohon pengertiannya jika aku masih kurang paham." tutur Kharisa.


Khard pun memberikan sebuah anggukan tanda ia setuju. Keduanya masuk ke dalam ruangan kerja Kharisa.


Mereka tampak serius di meja masing-masing dengan pekerjaannya. "Aduh aku lupa untuk yang ini menetapkan anggarannya di tambah dengan yang mana yah?" tanya Kharisa dalam hati.


Akhirnya ia pun bergegas menuju meja kerja Khard untuk bertanya.


"Aaaaaa." teriaknya karena tanpa sadar Kharisa terjatuh dan beruntung Khard lebih cepat menangkapnya.


Tanpa mereka berdua sadari dari sisi yang tidak jauh, ada sepasang mata yang tengah mengamati pergerakan mereka barusan.


Kharisa masih teridam tanpa berbicara, begitu juga dengan Khard yang menatapnya dengan dalam.


"Bidadari." ucap Khard dalam batinnya.


"Cih...sudah ku duga wanita semua sama saja. Mengapa Ayah begitu mempercayainya?" ucap Gara yang merasa jijik dengan Kharisa.


"Sungguh penampilannya saja layaknya wanita terhormat dengan pakaian serba sopan, tapi tingkahnya sungguh tidak beda jauh dari Reynka." gumam Gara.


"Gara." Suara Kharisa yang begitu terkejut melihat sosok pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.

__ADS_1


Dengan wajah marahnya Gara segera menghampiri kedua orang yang baru saja berdiri memperbaiki posisi mereka.


"Ternyata dugaanku benar, kau wanita rendahan yang tidak jauh berbeda dari wanita kebanyakan di luar sana." Gara berbicara dengan wajah tersenyum menyeringai menatap ke arah Kharisa.


Kharisa begitu syok mendengar perkataan Gara yang di tujukan pada dirinya. Namun ia sadar, apa pun yang ia jelaskan tidak akan mampu mengubah pandangan pria itu terhadapnya.


"Aku tidak perduli dengan ucapan mu itu, sekarang aku ingin bicara dengan mu." Kharisa dengan langkah cepat menarik pergelangan tangan Gara.


"Lepaskan tanganku!" pekik Gara dengan menghempas kasar tangan Kharisa.


"Jangan kau fikir aku mau menikah dengan mu dan kau bisa seenaknya saja menyentuh tubuhku, tanganmu itu sungguh menjijikkan. Kotor dengan tubuh banyak pria."


Kharisa sungguh tersayat hatinya saat mendengar perkataan Gara yang begitu merendahkan dirinya.


"Tenang Kharisa, kau bukan wanita lemah. Kau bisa menghadapai pria sepertinya." guman Kharisa berusaha menguatkan diri.


"Tanganku mungkin begitu menjijikkan bagimu, tapi tanganku tidak pernah melakukan hal sehina dirimu dan menyakiti banyak keluarga karena tindakan jahatmu itu. Kau tidak jauh lebih menjijikkan dariku." tegas Kharisa dengan menunjuk kuat jari telunjuknya tepat di wajah Gara.


Keduanya saling berpandangan dengan tatapan amarah dan dendam yang tertahan di dalam sana.


"Ingat aku menarikmu bukan untuk mengambil kesempatan bahkan aku sendiri tidak sudi untuk menyentuhmu. Aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu sebelum kita menikah." ucap Kharisa dengan wajah tegasnya.


Mendadak sorot mata Gara begitu menajam, seakan ia marah mendengar kata pernikahan, namun ia juga penasaran kesepakatan apa yang Kharisa maksud barusan.


"Kesepakatan apa?" tanya Gara dengan suara khasnya.


"Bukan hanya kau saja yang tidak menginginkan pernikahan ini, aku juga sangat tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi karena jasa Tuan Tedy yang adalah Ayahmu, aku tentu tidak akan bisa menolaknya. Beliau sudah seperti ayahku sendiri. Aku ingin kita membuat sebuah perjanjian." ungkap Kharisa dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.


"Katakan perjanjian apa yang kau mau? aku tidak punya waktu jika harus mendengarkan keluhanmu itu." tegas Gara tanpa mau menatap wajah wanita itu.


"Siapa yang melakukan kesalahan di pernikahan atau siapa yang memiliki keinginan dan kemampuan untuk menghadapi Tuan Tedy, katakan jika ia memiliki kelainan hingga kita bisa bercerai. Kurasa tidak akan mungkin jika kita menolak pernikahan ini. Tidak ada alasan yang bisa meringankan beban pikiran Tuan Tedy." tutur Kharisa dengan meneguk kasar salivahnya.

__ADS_1


Karena ia sendiri tahu jika hal itu tentu tidaklah mudah bagi mereka. Bagaimana mereka bisa memiliki nyali untuk mengakui salah satu dari mereka memiliki kelainan.


"Dalam hal seperti ini bagaimana dia masih bisa memikirkan kecemasan ayahku?" tutur Gara dalam hatinya. "Tidak, ini pasti hanya topengnya saja." bantah Gara dalam hati.


__ADS_2