
Nyonya Harina tersenyum sembari menatap kedua pria itu dengan tatapan menunggu jawaban.
"Kak Risa hamil?" Suara Vano kembali terdengar. Ia ingat dengan kejadian aneh yang menimpa Kakaknya beberapa hari belakangan ini.
"Apa Kharisa belum ada bicara dengan kalian?" tanya Nyonya Harina lagi.
Vino dan Vano menggelengkan kepala mereka pelan. "Mungkin Kharisa ingin memberikan kita kekuatan." seru Nyonya Harina.
"Yasudah kalian belum makan, kan?" tanya Nyonya Harina.
"Iya, Bu." jawab Vano.
"Ayo makan." ajak Nyonya Harina dengan senangnya.
Mereka bertiga kembali melangkah menuju ruang makan, di sana Reynka tampak melirik ke sudut rumah yang terarah ke bagian kamar Gara.
Ia berusaha mencari celah agar bisa bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
"Aku yakin Gara akan bisa kembali ke pelukan ku." ucapnya dalam hati penuh percaya diri.
"Ayah, sudah selesai periksanya?" tanya Nyonya Harina menghampiri suaminya di sofa.
"Iya sudah, Bu." sahut Tuan Tedy.
"Ayo Ibu antar ke kamar, oh iya Bibi tolong siapkan Vino dan Vano makan yah." pintah Nyonya Harina yang meminta pelayan itu melayani kedua adik Kharisa.
Sedangkan Reynka yang duduk di sofa tidak ada yang menghiraukan keberadaannya. Matanya tampak kesal.
"Tenang Reyn, kedatangan mu kesini bukan untuk mencari perhatian mereka, tapi Gara." tuturnya dalam hati.
***
Di kamar, Kharisa yang terkejut melihat kehadiran suaminya segera bangun dari tidurnya.
"Mengapa bangun? tidurlah lagi. Aku hanya ingin membersihkan tubuh." ucap Gara.
"Ada yang ingin ku bicarakan." tutur Kharisa.
Gara duduk mendekat ke arah istrinya menunggu Kharisa mengatakan sesuatu padanya.
"Ibu mengetahui aku hamil." ucapnya ragu.
Wajah Gara tampak gugup, ia berpikir jika Nyonya Harina akan marah karena Kharisa mengakui tentang pemerkosaan itu.
"Apa Ibu melukai mu?" tanya Gara cemas.
"Hentikan, Ibu tidak melakukan apa-apa." Kharisa memegang tangan Gara yang sibuk memeriksa keadaan istrinya saat itu.
__ADS_1
"Ibu hanya mengetahui aku hamil, Ibu sama sekali tidak mengatakan apa pun, dan aku juga tidak mengatakan apa pun. Hal itu terjadi begitu saja." tutur Kharisa.
"Syukurlah." ucap Gara.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, kini pintu rumah itu terdengar suara ketukan.
Gara dan Kharisa menoleh ke arah pintu itu. "Apa itu, Ibu?" tanya Kharisa.
Gara segera beranjak dari tempat tidurnya menuju ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Tangannya memutar knock pintu dan terlihatlah sosok wanita yang sempat mengisi hati Gara hingga membuatnya melenyapkan satu nyawa pria, yaitu Katroy.
"Gara aku merindukan mu." ucap Reynka dengan lancangnya memeluk tubuh pria itu.
"Suara wanita." ucap Kharisa lirih.
Reynka sama sekali tidak perduli dengan status Gara saat ini yang sudah menikah.
"Apa-apaan ini?" pekik Gara yang menepis kasar pelukan Reynka padanya.
"Gara, aku sangat merindukanmu. Aku tahu kau juga pasti merindukan aku, kan?" Suara Reynka terdengar begitu manjanya.
Kharisa sangat penasaran dan segera keluar, ia melihat Gara sudah mendorong kasar tubuh Reynka dari pelukan itu.
Mata Reynka langsung tertuju pada Kharisa di dalam sana.
"Wanita itu." Kharisa tampak syok melihat kehadiran Reynka lagi di depannya.
"Kak Risa, ada apa?" Vino dan Vano berlari mengejar Kharisa yang memperhatikan Gara dan Reynka di depan halaman.
"Kakak juga tidak tahu." jawab Kharisa tanpa memandang wajah kedua adiknya.
"Sudah ku peringatkan jangan pernah muncul di kehidupan ku lagi. Apa masih kurang yang aku lakukan hari itu?" tanya Gara setengah berteriak.
"Gara kita mulai semuanya dari awal. Aku akan menjadi wanita mu seutuhnya." tutur Reynka.
Gara menepis kasar tangan Reynka dan membalikkan tubuhnya hendak melangkah masuk. Tatapan Gara menangkap Kharisa yang berdiri di antara kedua adik kembarnya itu.
"Kharisa." Gara melangkah menuju istrinya meninggalkan Reynka yang masih berusaha memohon.
Pria itu merangkul bahu istrinya dan menuntunnya masuk kamar kembali. Reynka hanya bisa menatap punggung pasangan suami istri itu tanpa berucap apa pun lagi.
"Lihat saja kalian." gumam Reynka tersenyum licik lalu melangkahkan kakinya pergi menuju mobil dan segera melajukan mobilnya itu.
Sedangkan Vino dan Vano yang belum selesai makan kini saling menaikkan kedua bahu mereka saling melempar tatapan acuh melihat kekesalan Reynka yang melajukan mobilnya keluar dari kediaman Tuan Tedy.
"Kita makan lagi?" ajak Vano.
Mereka kembali duduk dan melanjutkan makan yang sedikit lagi berakhir.
__ADS_1
Di kamar, Gara menuntun Kharisa berbaring kembali ke kasur.
"Istirahatlah, aku mau mandi dulu."
Gara masuk ke kamar mandi, Kharisa yang tanpa bisa menahan kantuknya sudah terlelap begitu cepat.
Beberapa menit setelah selesai di kamar mandi, Gara pun keluar dengan rambut yang basah.
Matanya tertuju pada wajah cantik Kharisa. "Aku senang kau sudah berada di sisiku saat ini dan selamanya." tutur Gara yang mendekat pada Kharisa dan mengusap lembut wajah teduh itu.
"Jika tidur seperti ini kau terlihat sangat lembut, berbeda jika sedang sadar wajah galak mu sangat membuatku ragu untuk mengajak berbicara." ucapnya sembari tersenyum geli.
Pria itu menatap dalam wajah Kharisa dan perlahan mendaratkan satu ciuman di kening istrinya kemudian memejamkan matanya. Seakan sentuhan bibir itu membawa ketenangan sampai ke dalam lubuk hati Gara.
Pria itu beranjak menuju ruang ganti pakaian dan segera memakai piyama, seperti malam biasanya, Gara memilih untuk duduk di kursi menghabiskan malam dengan terus membuka matanya tanpa bisa terlelap.
Ingatannya kembali memutar semua korban yang sudah lenyap di tangannya. Gara memperhatikan tangannya yang ia angkat tepat di depannya.
"Kedua tanganku sangat kotor, apa aku pantas memiliki anak dan membesarkan anak-anak ku kelak?"
"Ampun, saya mohon tolong berikan saya pilihan. Saya mohon Tuan, kasihanilah saya." Suara salah satu pria paruh baya yang berkedudukan sebagai pimpinan salah satu perusahaan yang menolak kerja sama dengan Mr. Dave.
Suara tembakan terdengar menembus kepala pria itu dengan lancangnya hingga membuat pria itu terduduk dan menjatuhkan tubuhnya kaku tepat di hadapan kedua kaki Gara.
"Saya mohon ijinkan saya pulang bertemu anak-anak saya." Kembali suara salah seorang pria bersujud di depan Gara namun Gara kembali menendang kepalanya lalu mencekiknya hingga pria itu tak bernyawa lagi.
"Lakukan Gara, lakukan!" pintah Mr. Dave saat sambungan telpon terhubung.
Dan Gara pun menabrakkan mobilnya agar mobil yang berada di sampingnya jatuh ke lautan itu. Semua sudah ia atur dengan sebaik mungkin. Hingga korban saat itu tidak bisa menyelamatkan diri mereka.
"Aaaaaaaa." teriak Gara begitu mengejutkan Kharisa yang sudah terlelap di kasur empuk itu.
"Astaga, Gara." ucapnya syok sembari mengusap dadanya kemudian Kharisa bangun menuju ke arah Gara.
"Ada apa?" tanya panik.
Gara baru sadar jika di kamar itu ia tidak sendirian. Gara memeluk tubuh Kharisa yang berdiri di depannya dengan erat lalu membenamkan wajahnya pada perut rata Kharisa.
Ragu-ragu Kharisa meraih kepala suaminya itu, dan mengusapnya lembut.
"Ada apa? katakan padaku? kau selalu tidak tidur jika malam."
Gara terdiam tanpa mau mengatakan apa pun, ia berdiri menatap dalam wajah Kharisa dan perlahan langkah mereka menuju ke tempat tidur.
"Biarkan aku istirahat dengan seperti ini." tutur Gara yang membenamkan wajahnya pada tubuh bagian dada Kharisa.
Detakan jantung Kharisa terasa sangat berdegup kencang dan semakin kencang. Ia merasa sangat tak karuan mendapat perlakuan seperti itu dari Gara
__ADS_1