Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 71. Bipolar


__ADS_3

Semenjak kejadian hari itu, kini Kharisa selalu berada di dalam rumah. Gara yang sudah mulai aktif di kantor bersama Randa tampak kesal.


Di ruangan utama kantor milik Tuan Tedy, tepat di kursi kebesaran yang saat ini menampilkan seorang pria tengah menatap tumpukan berkas di atas meja.


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 itu artinya saatnya untuk makan siang. Namun tidak untuk Gara. Ia menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi kerja itu sembari terus menatap hampa pada berkas yang belum usai ia kerjakan.


"Argh... mengapa membosankan sekali kerja seperti ini? jika dulu aku hanya menggunakan kekuatan dan taktik saja, rasanya jauh lebih menyenangkan. Astaga Gara, sadarlah kau sudah meninggalkan pekerjaan itu."


Mendengar dengusan kasar di ruangan yang tidak tertutup itu, Randa dengan cepat berlari menghampiri Gara.


"Ada apa? apa kau sakit?" tanyanya cemas.


Manik mata hitam legam itu menatap Randa dengan intens. "Yah sakit, mataku sakit melihat gunung kertas di depan ini."


Randa terkekeh mendengar aksi protes dari Gara. "Bersabarlah. Lama-lama kau juga akan terbiasa. Apa sebenarnya kau ingin kembali untuk mengambil profesi seperti dulu lagi?" tanya Randa menggoda temannya itu.


"Sudahlah, sebaiknya kau saja yang mengatasi ini. Aku ingin pulang."


Gara bergegas pergi meninggalkan ruangan tanpa menunggu Randa selesai berbicara. "Hey... sebenarnya siapa pewaris kantor ini? hah!"


Namun sayang, teriakan Randa sama sekali tak di gubris oleh Gara. Pria itu tampak sudah memasuki lift dengan wajah datarnya.


Sementara Vino dan Vano, untuk sementara mereka masih bekerja di bagian lantai bawah. Karena mereka masih dalam tahap training, sama seperti pekerja lainnya. Bagaimana pun kedua anak itu harus melewati prosesnya.


Di sisi lain, seorang wanita yang tengah memarkir kan mobil tepat di depan kantor Tuan Tedy tersenyum lebar saat mengetahui mangsanya sudah muncul di hadapannya.


"Gara," Reynka buru-buru melepaskan seat belt dari tubuhnya dan berlari turun dari mobil untuk mengejar Gara yang hendak membuka mobilnya.


Wanita itu langsung menerkam Gara dari belakang dengan tidak tahu malunya. "Gara, aku merindukan mu."


Suara yang sangat tidak asing tentunya bagi Gara. Ia mengeratkan rahangnya berusaha tidak bertindak kasar pada wanita yang dulu pernah begitu ia cintai.


"Lepas, Reyn!" hardik Gara tanpa mau menoleh ke arah Reynka yang sudah menempel sempurna di tubuhnya.


"Tidak mau, sebelum kau berjanji akan memberikan aku waktu kali ini. Aku mohon Gara jangan siksa aku seperti ini. Kau mungkin membenci ku. Tapi apa salah jika sampai saat ini aku masih begitu mencintai mu? aku juga tidak ingin seperti ini. Aku tidak ingin merusak hubungan mu dengan dia. Tapi tolong Gara, bantu aku agar bisa merelakan mu."


"Maaf, aku tidak bisa. Kau bisa mempertanyakan itu semua pada dirimu sendiri. Aku sudah di tunggu oleh istriku." Gara menghempaskan tangan Reynka yang melingkar sempurna di tubuhnya dan segera masuk ke dalam mobil.


"Bahkan dengan cara baik-baik pun kau tidak mau membantu ku, Gara. Lihat saja, jangan salah kan aku jika semuanya terjadi di luar dugaan mu." Reynka menyunggingkan senyumannya yang masih menatap kepergian Gara dengan mobil.


"Masih juga wanita itu mengganggu kakak ipar." sahut Vano yang geram melihat tingkah Reynka.


"Biarlah, setidaknya kita yakin Kakak ipar tidak akan goyah dengan godaan nenek lampir cantik itu." tutur Vino terkekeh saat melihat reaksi saudara kembarnya yang menatap dirinya tajam.


"Apa katamu cantik? dasar berondong!" pekik Vano lalu meninggalkan Vino seorang diri menuju restoran yang bersebelahan dengan kantor mereka.


"Rupanya pengampunan dari Gara masih belum cukup? apa kau ingin di jebloskan ke penjara? hah!" Randa yang melihat kehadiran Reynka yang kebetulan baru ingin melangkah menuju mobilnya kini terhenti.


Ia menoleh kemudian mendekati Randa. "Kau bodoh atau terlalu polos? Gara itu masih sangat mencintai ku. Mana mungkin dia akan memasukkan diriku ke penjara. Harusnya kau berpikir akan hal itu."


"Wah wah benarkah? sungguh hebat. Aku bahkan yang statusnya lebih renda dari Gara tidak sudi memiliki kenalan wanita seperti mu. Apa lagi itu status mantan. Sungguh menjijikkan pengemis cinta."

__ADS_1


Seketika mata Reynka melotot marah, tangannya mengepal begitu kuat. Namun Randa hanya tersenyum mengejek padanya kemudian pergi bersama Vino menuju restoran.


Setelah perjalanan singkat, kini mobil Gara sudah tiba di halaman rumah milik Tuan Tedy. Gara berjalan dengan tatapan datarnya menuju dalam rumah.


Manik mata tajam itu menangkap sosok Ayah dan Ibu yang tengah berada di meja makan bersama dengan istri tercintanya.


"Gara, kau sudah pulang?" tanya Tuan Tedy.


"Aku hanya ingin makan siang dengan kalian saja. Setelah ini aku akan pergi bekerja." sahut Gara sembari mendaratkan tubuhnya di kursi meja makan.


Kharisa dengan sigap melayani suaminya dengan berbagai macam lauk pauk yang ia tata di atas piring pria itu. Tidak ada kata-kata pengantar untuk Gara makan. Suasana hening, Kharisa jauh lebih pendiam dari pada sebelumnya.


Mata sembab yang selalu tampak di siang hari namun tidak ada yang berani menanyakan hal itu pada Kharisa.


Usai acara makan siang, kini Tuan Tedy kembali ke kamarnya untuk mengkonsumsi obat di bantu oleh Nyonya Harina.


"Ayah, sebenarnya ada apa yah dengan Kharisa? Ibu sangat khawatir, akhir-akhir ini dia sangat jauh berbeda."


"Iya, Ayah juga berpikir demikian, Bu. Nanti kita harus tanyakan pada Gara." tutur Tuan Tedy.


"Baiklah. Sekarang Ayah istirahat yah. Ibu tungguin setelah itu Ibu akan turun menemui Gara dan Kharisa."


Di meja makan kini tinggallah Kharisa dan Gara yang masih terdiam tanpa kata. Hanya mata Gara yang sesekali mencuri-curi pandang pada sang istri.


"Kau mau kita liburan?" tanya Gara.


Kharisa melirik sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, besok lusa kita akan berangkat. Tapi berjanji padaku kau tidak akan melakukan semuanya seperti semalam dan sebelum-sebelumnya."


Tanpa Gara ketahui hal itu bukanlah kemauan Kharisa. Ia hanya mengikuti apa yang terjadi pada dirinya tanpa bisa melawan.


Flashback on


Di tengah malam tepat jam 12.00 Gara terbangun saat sadar di sebelahnya tidak ada Kharisa. Ia mengerjapkan matanya berusaha menyadarkan diri.


"Dimana dia?" gumam Gara yang belum sempat turun dari tempat tidur sudah mendengar keributan di balkon kamar mereka.


"Astaga Kharisa." Seketika Gara menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu beranjak mendekati sumber suara.


"Aaaaaaa." Beberapa kali suara jeritan terdengar jelas ke kamar Gara di iringi suara hempasan meja yang beberapa kali di pukul.


Gara mengintip aksi sang istri. Matanya membulat mendapati Kharisa yang tampak acak-acakan rambutnya dan menangis bahkan sesekali menghantamkan kepalanya pada meja tersebut.


"Kharisa, hentikan! kau menyakiti dirimu." Gara mencegah Kharisa saat hendak kembali melanjutkan aksinya. Ia memeluk erat Kharisa yang duduk di kursi sembari menangis serak. Suaranya bahkan hampir tak terdengar karena kehabisan saat berteriak tadi.


"Lepas. Lepaskan aku!" Kharisa berusaha meronta dari pelukan suaminya.


Gara berusaha kuat menggendong Kharisa dan mereka pun masuk ke kamar kembali. Tanpa melepaskan pelukannya, Gara memberikan obat penenang untuk sang istri.


Sesaat kemudian, Kharisa pun terlelap kembali. Gara meraih ponsel untuk menghubungi Dokter yang menangani istrinya.


Tut Tut

__ADS_1


"Halo,"


"Malam Dok, saya barusan menemukan hal aneh pada istri saya. Dia kembali histeris saat di tengah malam. Apa sebenarnya yang terjadi? mengapa di waktu malam seperti ini?" Suara Gara terdengar terengah-engah karena kelelahan melawan gerakan Kharisa tadi.


Di seberang sana Dokter yang baru usai membaca sebuah buku kini menutup bukunya. "Depresi istri anda akan muncul di malam hari. Itu karena ia kembali teringat dengan hal yang menakutkan atau menyedihkan. Saat di malam hari suasana memang sangat hening bahkan jauh lebih sunyi. Itu sebabnya keadaan istri anda kembali kambuh. Sebisa mungkin ia tidak merasa kesepian, Tuan. Mungkin dengan begitu pelan-pelan akan membantu ingatan buruknya hilang."


"Baiklah, Dok. Kalau begitu saya akan usahakan tidak membiarkan suasana malam sunyi."


Akhirnya panggilan pun terputus. Gara kembali menatap wajah Kharisa yang terlelap. Di usapnya peluh yang mengalir di dahi Kharisa lalu di kecupnya kening sang istri.


Gara mulai menyaksikan keanehan yang di derita istrinya itu semenjak malam pertama mereka berada di rumah. Kharisa selalu melakukan hal-hal buruk ketika Gara lengah di jam-jam tertentu. Entah itu di waktu malam atau bahkan subuh. Gara berusaha berjaga di setiap malam, namun bagaimana pun ia hanya manusia biasa yang bisa mengantuk dan terlelap kapan saja.


Flashback off


Usai perjanjian keduanya untuk pergi liburan Kharisa tersenyum begitu lebarnya hingga ia tidak bisa mengendalikan kesenangannya. Kharisa berjalan sembari berloncat kegirangan menuju kamarnya.


Kening Gara mengernyit melihat Kharisa yang aneh seperti itu. "Kharisa tunggu!" teriak Gara yang berusaha mengejar istrinya ke kamar.


"Hahahaha kita akan liburan. Hahahaha aku senang sekali." Kharisa berteriak dengan lantang tanpa memperdulikan suaminya.


Ada perasaan senang melihat istrinya kembali ceria, namun entah mengapa Gara jadi bergidik ngeri sendiri setelah lama mendengarkan tawa Kharisa yang tidak bisa terhenti.


Di tutupnya pintu kamar kemudian ia menyaksikan Kharisa yang duduk di balkon kamarnya dengan suara yang masih tertawa. "Kharisa." panggil Gara.


Tanpa mau mendengarkan panggilan sang suami, Kharisa terus tertawa bahkan ia beralih masuk ke kamar dan memeluk Gara. "Kita akan liburan...hahaha."


"Kharisa hentikan." Gara merasa aneh dengan tingkah istrinya yang memeluk dirinya begitu kuat.


"Iya kita akan liburan. Sekarang istirahatlah, aku harus segera ke kantor."


"Ke kantor?" tanyanya yang berhenti tertawa.


"Iya, aku harus menyelesaikan banyak kerjaan agar kita bisa liburan. Oke?"


"Aku...aku ingin ikut."


"Tapi kau sedang sakit. Di rumah saja yah, aku akan segera pulang."


Mendengar penolakan dari Gara, Kharisa terdiam sejenak. Ia terlihat begitu sedih. Gara tidak tega jika harus meninggalkan istrinya. Namun tidak mungkin ia membawa istrinya ke kantor dalam keadaan seperti saat ini.


"Ayo berbaringlah." Dengan patuh dan penuh kecewa Kharisa menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Setelah memastikan Kharisa tenang, Gara pun keluar kamar. "Ibu," sahut Gara yang kaget melihat Nyonya Harina ada di depan kamarnya.


"Ibu akan menemani Kharisa. Kau cepatlah pulang."


"Baik, Bu. Gara pergi dulu."


Sepanjang jalan Gara terus berpikir keras. Apa yang terjadi dengan istrinya barusan. "Argh...tidak. Tidak mungkin Kharisa gangguan jiwa." pekiknya sembari mengusap kasar wajahnya yang tengah fokus menyetir mobil.


Di tengah-tengah perjalanan, Gara teringat akan satu hal. "Bipolar, tidak. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin Kharisa menderita penyakit itu." elaknya.

__ADS_1


__ADS_2