Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 39. Pengabdian Randa


__ADS_3

"Siapa yang menjemput Kharisa? mengapa Kharisa terlihat aneh sekali saat melihat mobil itu?" gumam Rifal yang begitu tampak penasarannya dengan tatapan yang terus memperhatikan kepergian Khariasa hingga kini sudah tidak terlihat lagi.


Gara segera melajukan mobilnya ke arah yang Kharisa ketahui dengan jelas jika itu bukan arah ke rumahnya. Tatapan Gara begitu dingin dengan pandangan yang masih fokus menyetir mobil.


"Mau kemana ini?" tanya Kharisa.


Gara masih tidak menjawab pertanyaan Kharisa, "Gara, aku mau pulang." pekik Kharisa.


Melihat reaksi menakutkan suaminya, Kharisa bukannya takut namun ia justru meraih stir mobil itu berusaha untuk menghentikan kelajuan yang semakin di percepat oleh Gara.


"Kharisa hentikan!" hardik Gara.


"Turunkan aku!" bantah Kharisa.


"Kharisa, aku bilang hentikan."


Gara dan Kharisa semakin ribut di atas mobil hingga keduanya tanpa sadar saat hampir menabrak kendaraan lainnya yang berpapasan dengan mereka.


"Aaaaaaaa." Kharisa berteriak begitu nyaringnya hingga wajahnya ia lindungi dengan kedua tangannya, air matanya yang sudah berjatuhan karena syoknya.


"Hey, kau baik-baik saja?" tanya Gara saat mobil sudah berhenti dengan mendadak.


Suasana hening, Kharisa masih tidak bersuara. Ia menangis tersedu-sedu dan Gara dengan cepatnya memeluk tubuh yang bergemetar itu.


"Lepaskan aku!"


Gara yang begitu mendalami pelukan itu tanpa siaga sudah terlepas dari dorongan kasar Kharisa. Wanita itu beranjak keluar dari mobil suaminya dan berlari keluar.


"Kharisa." teriak Gara lalu keluar mengejar Kharisa yang sudah berlari.


Gara berlari sekuat tenaganya mengejar istrinya dan ia kembali meraih tangan Kharisa. "Kharisa, tunggu aku."


"Apa lagi Gara? kau mau apa lagi dariku? aku tidak punya apa-apa tolong pergilah." ucap Kharisa dengan wajah marahnya.


Gara menarik cepat tubuh Kharisa dan segera membenamkan tubuh wanita itu ke dalam pelukannya meski Kharisa beberapa kali memberontak.

__ADS_1


"Aku mohon tenanglah." ucap lirih Gara.n


"Pergi dariku." bantah Kharisa.


Gara masih menggelengkan kepalanya seraya mempererat pelukan itu, ia berusaha menahan Kharisa yang memberontak di dalam sana.


"Apa aku salah jika aku marah kau berduaan dengan pria itu?" ucap Gara yang membuat Kharisa terkejut setengah mati.


Terdengar suara tawa di mulut Kharisa. "Hahaha kau sepertinya sudah hilang akal atau kau sedang melakukan akting apa lagi ini?"


Gara melepaskan pelukan itu dan mencengkram erat kedua lengan Kharisa. Keduanya saling bertatapan dengan dalam tanpa ada kata.


"Em...em..." teriak Kharisa yang tidak bisa mengatakan apa pun saat bibirnya sudah di lahap habis oleh Gara.


Cukup lama Gara melancarkan aksi bibir itu di pinggir jalan hingga beberapa pengendara tanpa sengaja menatap heran ke arah mereka.


"Apa yang kau lakukan?" Kharisa berteriak melampiaskan kekesalannya pada Gara yang sudah begitu lancang menyentuh bibirnya itu.


"Aku hanya berusaha meyakinkan mu jika aku tidak sedang merencanakan apa pun. Kita ke mobil sekarang." Segera Gara dengan cepat menarik lengan Kharisa dan membawanya ke mobil.


Ia memasukkan Kharisa ke mobil tanpa perduli dengan penolakan istrinya lagi. Kharisa tak kuasa melawan kekuatan suaminya. Tak ada lagi suara apa pun yang Gara dengan dari istrinya.


"Lebih baik di rumah, meski kamar sempit setidaknya dia tidak akan membuat keributan karena ada dua adiknya." gumam Gara tersenyum menyeringai.


Wajah Kharisa masih terlihat gugup setelah mendapat ciuman mendadak itu. Ia sangat malu dan tidak berani untuk memandang wajah suaminya lagi kali ini.


***


Di sisi lain, Mr. Dave tampak berdua dengan Randa. Mr. Dave yang duduk di kursi kebesarannya sembari menunggangi kursi itu hingga terlihat menyayunkan dengan santai tubuhnya terus menatap Randa yang berdiri menunduk di hadapannya.


"Bagaimana perkembangan Tedy?" tanya Mr. Dave menyelidik pada Randa.


"Tuan Tedy masih sakit, Mr." sahut Randa masih dengan posisi menunduk.


Mr. Dave tampak menganggukkan kepalanya sembari menunggu waktu mereka untuk berangkat. "Apa benar dia masih sakit?" tanya Mr. Dave sekali lagi.

__ADS_1


"Iya, Mr." jawab Randa dengan yakinnya.


Mr. Dave berdiri dari kursinya dan melonggarkan jas mewah yang melekat sempurna di tubuhnya. Saat dirinya sudah berhadapan dengan dekat oleh Randa tiba-tiba tangannya mendarat satu pukulan yang begitu keras pada wajah Randa.


"Kau sepertinya lupa siapa aku." tutur Mr. Dave yang menyadarkan Randa jika dirinya saat ini telah ketahuan berbohong.


Tuan Tedy sudah dalam keadaan tidak begitu buruk, demi melindungi Gara ia rela berbohong pada Mr. Dave. Namun sayang, Mr. Dave tidak semudah itu percaya pada mereka semua. Ia sangat bisa membaca keadaan di sekelilingnya.


"Deo." teriak Mr. Dave.


Segera salah satu pria yang juga termasuk anggota mafia itu segera masuk ke dalam ruang milik Mr. Dave. Ia menundukkan tubuhnya seraya memberikan hormatnya.


"Bawa dia ke bawah." pintah Mr. Dave.


Deo dengan cepat membawa Randa tanpa ada perlawanan lagi dari pria itu. Ia membawanya ke penjara bawah tanah untuk memberikan hukuman pada Randa sampai waktu yang belum bisa di tentukan.


Mr. Dave tampak membersihkan tangannya layaknya tengah menyentuh debu yang menempel di tangannya itu. Kemudian ia kembali tersenyum dan duduk di kursinya.


"Maafkan, aku Randa." ucap Deo yang tidak sampai hati meninggalkan Randa bersama beberapa anggota yang sudah sejak lama berada di bawah tanah itu. Randa menatap ngeri pada mereka yang sudah bertubuh kurus kering.


Randa tidak mengatakan apa pun pada Deo, ia hanya pasrah menerima hukuman itu. Karena ia tahu jelas akhir hidupnya tidaklah jauh lebih buruk dari ini nantinya. Mereka semua sudah tahu akhir hidup mereka kalau tidak mati terbunuh pasti mati terkurung di bawah tanah itu.


Pintu sel sudah terkunci dan Deo kembali naik ke markas besar Mr. Dave. "Permisi, Mr. Semua sudah selesai." tutur Deo.


"Bagaimana keberangkatan kita?" tanya Mr. Dave.


"Sudah siap. Mr." jawab Deo.


Mr. Dave berdiri menarik kera jas miliknya agar rapi dan segera melangkah di ikuti dengan Deo dan beberapa anggota lainnya. Sedangkan yang lainnya sudah bertugas untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Di bawah sel, beberapa orang yang bersama Randa tampak tertawa mengejek padanya. "Aku sungguh tidak menyangka bisa berada di sini denganmu?"


"Iya, kami pikir kau adalah satu-satunya orang yang akan bersama Mr. Dave selain Gara." sahut salah satunya lagi.


Beruntung mereka di letakannya di sel yang berbeda-beda. Hanya ada satu orang dalam satu sel.

__ADS_1


Randa masih diam tidak bergeming. "Tuan, andai saja anda tidak masuk dalam kehidupan wanita itu kita tidak akan melakukan kebohongan demi kebohongan seperti ini." gumam Randa yang mengarahkan ucapannya pada Kharisa.


Kini Randa hanya bisa berpasrah dengan nasibnya saja, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini. Hanya ada satu harapannya, yaitu Gara tidak melupakan pengabdian Randa padanya


__ADS_2