Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 48. Ingin Membantu Gara


__ADS_3

Dengan posisi seperti itu ternyata mampu membawa Gara masuk ke dalam tidurnya yang nyenyak.


Kharisa yang terus terdiam kini sudah ikut tertidur pulas, ia sangat nyaman berada dekat dengan Gara. Semua yang ia takutkan seketika sirna begitu saja.


Sedangkan di kamar yang berbeda dalam satu rumah yang sama Tuan Tedy tampak berbaring dengan Nyonya Harina.


"Ayah sangat senang, Bu. Akhirnya kita punya cucu dengan hasil relawan Kharisa dan Gara tanpa kita mendesak mereka." tutur Tuan Tedy.


"Iya, Ibu juga seperti itu. Sangat terkejut kira-kira bagaimana yah wajah cucu kita nanti, Ayah? pasti dia sangat cantik atau tampan." seru Nyonya Harina larut dalam angan-angan indah itu sampai kedua pasangan suami istri itu tanpa sadar sudah terlelap dalam dinginnya malam yang mendapat kehangatan dari masing-masing pasangan.


***


Di sel bawah tanah Randa sudah semakin terlihat lemas, ia tampak pucat tak berdaya.


Mr. Dave yang baru saja tiba kini melakukan panggilan video di laptop miliknya. Salah satu anak buahnya memperlihatkan keadaan Randa yang mengenaskan membuat Mr. Dave terkekeh.


"Sungguh kasihan sekali dirimu, karena kesetiaan kau jadi menyengsarakan hidup bahkan karena kesetiaan mu juga kau bahkan sama sekali tidak di lirik sedikit pun pada Gara."


"Aku pasrah saat ini, mati atau tidak aku yakin jika hidupku memang akan tetap berakhir tragis tanpa bisa mengharapkan kebahagiaan kelak." ucap Randa dalam hatinya.


Tanpa terasa pagi kini sudah tiba menyambut cuaca yang begitu cerah.


Gara yang begitu nyenyak masih tetap dengan posisi semalam sampai Kharisa yang terbangun karena rasa mual kembali menyerang dirinya pagi.


Kharisa mendorong cepat tubuh Gara, namun kekuatan wanita itu tak sekuat pelukan Gara di tubuhnya.


"Astaga." Gara terkejut saat wajah dan kedua matanya masih terpejam tiba-tiba wajahnya basah tertumpah dengan kotoran sang istri.


Gara bangun dengan cepat lalu Kharisa berlari ke kamar mandi.


Gara ikut menyusul Kharisa dan ikut muntah karena ia tidak sanggup mencium kotoran yang ada.


Keduanya sibuk memuntahkan kotoran itu bersama, Kharisa merasa sangat tidak enak hati telah membuat suaminya kotor seperti itu.


"Maaf." ucap lirihnya setelah usai membersihkan seluruh wajahnya dengan air dan mengeringkan menggunakan tisu.


"Kemari biar aku bersihkan." ucap Kharisa lagi.


Gara hanya diam menatap wajah istrinya. "Sudah." sahut Gara meraih tangan Kharisa yang sibuk membersihkan wajahnya.


"Aku benar-benar tidak sengaja, kau sulit sekali melepaskan pelukanmu. Aku sampai tidak sempat untuk berlari." ucap Kharisa.


Gara kini mengajak Kharisa keluar dari kamar untuk meminum air mineral yang sudah tersedia di kamar mereka.

__ADS_1


"Bersiaplah, aku akan mengantarmu kerja." ucap Gara.


Kharisa pun menurutinya lalu masuk ke kamar mandi sementara Gara yang masih duduk memandangi punggung Kharisa yang kini sudah tidak terlihat lagi.


"Hari ini aku sendiri yang akan memata-matai mereka setelah aku pergi ke markas." guman Gara menatap kamar mandi yang hanya mendengarkan suara shower menyala.


Pria itu segera bersiap untuk mandi setelah Kharisa. Beberapa saat berlalu mereka berdua tampak sudah rapi dengan style masing-masingnya.


Kharisa tampak canggung setelah membuat Gara merasakan kotorannya juga tadi.


Keduanya keluar dari kamar dan melangkah menuju meja makan yang sudah lengkap di isi dengan pemilik rumah mau pun kedua adik kembarnya.


"Selamat pagi Ayah, Ibu semuanya." sapa Kharisa.


"Selamat pagi, Sayang." Tuan Tedy dan Nyonya Harina bersuara serentak dengan wajah tersenyum lembutnya.


"Kak Risa, apa benar Kakak hamil kata Ibu? mengapa Kakak berbohong pada kami?" tanya Vano dengan tatapan menyelidik.


Kharisa gelagapan ia bingung harus menjawab apa, Karena beberapa kali dirinya kerap membohongi kedua adiknya itu.


"Kak Risa baru tahu kalau dia hamil. Kami juga berpikir jika kemarin-kemarin itu hanya masuk angin." Gara ikut menimpali percakapan di meja makan itu.


"Sudah ayo sarapan, sebentar lagi guru private kalian pasti akan da-"


"Wah Pak Refi sepertinya anda berumur panjang." sahut Vino.


"Vino, kau ini ada-ada saja sudah seperti peramal yah." seru Nyonya Harina terkekeh geli.


"Memang benar, Bu. Kata orang tua dulu kalau ada orang yang sedang kita bahas tiba-tiba datang itu menandakan jika dia berumur panjang." terang Vino.


"Halah dasar kau yang kolot saja." pekik Vano.


"Yasudah kalian makan, Pak Refi ayo ikut sarapan dengan kami." ajak Kharisa.


"Iya ayo kemari." Tuan Tedy ikut bersuara.


"Maaf semuanya, terimakasih telah menawarkan sarapan. Tapi saya sudah sarapan tadi." tutur Refi dengan sopannya.


Semuanya segera beranjak dari meja makan setelah usai menikmati makanan itu.


Kharisa dan Gara menuju keluar di antar dengan Tuan Tedy dan Nyonya Harina. Kedua pasangan suami istri itu menatap kepergian mobil putranya dengan tatapan bahagia dan penuh harapan di sana.


"Ayah bahagia, Bu." tutur Tuan Tedy dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Ibu juga bahagia, Ayah. Akhirnya rumah kita tidak sepi lagi. Sudah ada kehidupan di sini."


Perjalanan yang canggung masih saja hening sampai mobil itu tiba di kantor tempat Kharisa bekerja.


Kharisa turun dari mobil tanpa bicara satu kata pun pada Gara. Gara yang menatap kepergian Kharisa kembali menangkap sosok pria yang berdiri tepat di arah langkah Kharisa.


Gara yang menatap tajam pada Rifal mendapatkan senyuman menyeringai. Ia menyaksikan mobil yang begitu melaju dengan kecepatan tinggi saat pertama menginjakkan gas itu.


Gara melaju ke arah markas besar Mr. Dave yang ada di Indonesia.


"Selamat pagi, Presdir Rifal." sapa Kharisa dengan senyuman ramahnya lagi-lagi senyuman itu membuat mata Rifal terpaku.


"Presdir." ucap Kharisa.


"Hah oh iya Kharisa ayo kita ke ruang kerja." ajak Rifal segera melangkah bersama dengan Kharisa menuju ruang mereka.


Beberapa kali Rifal menoleh ke arah wanita yang tengah berdiri di sampingnya saat ini. Suasana semakin canggung saat mereka berdua saja di dalam lift itu.


"Kharisa." panggil Rifal.


"Iya Presdir, ada apa? apa ada yang anda butuhkan?" tanya Kharisa sopan.


"Siapa pria itu?" tanya Rifal.


Kharisa tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia tak mengerti mengapa Rifal sampai sebegitu perdulinya hingga ingin mengetahui semua kehidupan Kharisa.


"Dia..." ucapan Kharisa yang ingin mengakui hubungannya dengan Gara terhenti saat suara lift sudah menandakan jika terbuka.


Keduanya keluar lalu duduk di kursi kerja mereka masing-masing.


"Aku tahu jika kau sama sekali tidak berhubungan baik dengan suamimu itu, Kharisa. Tenanglah perlahan aku akan berusaha menyingkirkan posisi pria itu di hatimu." gumam Rifal tersenyum licik.


Di kursi yang berbeda Kharisa merasa gelisah, ia terus memikirkan tentang keadaan suaminya yang semalam sempat berteriak hingga membangun kan dirinya.


"Sudah jelas jika dirinya memang telah banyak melakukan hal buruk, karena itulah ia tidak pernah bisa tidur sepanjang malam." gumam Kharisa hingga tanpa sadar semua ketikan di laptopnya bertuliskan Gara sebanyak ribuan kali hanya empat huruf itu yang ia ketik berulang-ulang.


"Astaga, apa yang aku lakukan? Gara? aku tidak mencintainya kan? iya Kharisa kau benar, ini hanya karena kau kasihan padanya." ucapnya dalam hati sembari jari jemari lentik itu menekan keyboard yang bertuliskan huruf ctrl a lalu menekan tombol delete.


Kharisa kembali fokus namun sekali lagi ia menghentikan aktifitasnya dan menatap dengan pandangan kosong.


"Seharusnya aku bisa membantunya, ini semua demi Ayah. Aku pasti bisa membuat Ayah bahagia di umurnya yang sudah tua itu. Gara harus bisa memutuskan untuk keluar dari golongan itu." ucap Kharisa dalam hati dengan penuh keyakinan.


Sepertinya Kharisa masih belum tahu apa konsekuensi seorang anggota mafia yang harus keluar dari kelompok sementara rahasia mereka sudah menjadi kunci satu-satunya agar tidak mudah lepas begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2