Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 74. Pulang


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, lagi dan lagi Gara mendapatkan kesempatan untuk lari dari tanggung jawabnya sebagai pewaris tunggal CW Sejahtera. Dengan alasan sebagai suami bertanggung jawab pada istrinya.


"Ran, maafkan aku yah. Sekali lagi kamu harus menjadi perwakilan ku di kantor. Aku sangat berhutang budi dengan mu. Kharisa masih harus menjalani beberapa terapi di sini." Ungkap Gara di telepon saat Randa menghubunginya.


"Hah sudahlah. Besok-besok aku sepertinya harus bertemu dengan Tuan Tedy." Mendengar nama sang Ayah di sebut Gara mendadak panik.


"Untuk apa? ini bukan karena aku takut. Tapi kamu tahu sendiri kan keadaan istri ku?" tutur Gara.


Randa terkekeh mendengar penjelasan dari Gara. "Lihatlah bahkan aku hanya menyebutkan nama Ayahmu saja, kau sudah panas dingin seperti itu. Dasar mental kerupuk."


Wajah panik Gara berubah menjadi ekspresi masam. "Lalu untuk apa kau bertemu dengan Ayahku?" tanyanya penasaran.


"Untuk menghapus nama mu sebagai ahli waris dan aku yang akan menggantikannya. Bagaimana? kau setuju? hahaha."


"Sialan, sudah aku matikan dulu teleponnya. Kharisa sebentar lagi akan keluar dari ruangan terapi."


Sambungan telepon pun di putus oleh sepihak. Randa hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Gara. Sungguh tidak memperlihatkan jiwa kepemimpinan sama sekali.


Sudah satu Minggu lamanya Kharisa menjalani pengobatan di temani sang suami. Tak jarang Nyonya Harina bersama suaminya dan juga kedua adik kembar Kharisa menjenguk.


Perkembangan mulai terlihat, Kharisa sudah semakin terlihat tenang. Meski di awal, wanita itu sempat ingin melukai dirinya sendiri. Ia mencoba untuk menusuk perutnya dengan pisau buah di ruangan rawat saat Gara terlelap.


Beruntung saat ini semua sudah mulai membuahkan hasil. Gara sungguh menunjukkan jiwa tanggung jawabnya pada sang istri. Meski jiwa itu belum ia miliki untuk di perusahaan.


Di sisi lain, tepatnya di sebuah rumah tahanan. Tampak wanita cantik yang sudah duduk di dalam ruangan khusus besuk narapidana. Reynka, yah gadis itu tampaknya masih belum memutuskan hubungan dengan pria yang membuat Kharisa depresi, Khard.


"Silahkan, waktu besuk hanya dua puluh lima menit." tutur seorang petugas rutan itu dengan tetap berdiri di ambang pintu.


Manik mata Reynka menatap kehadiran Khard. "Ada informasi penting yang ingin aku sampaikan sebelum kau bebas dengan jaminan ku." tutur Reynka dengan wajah serius.


"Informasi penting?" Randa mengernyitkan dahinya dalam.


Reynka langsung mencondongkan tubuhnya agar bisa menjangkau telinga Khard. "Pria itu sudah membuat wanita mu keguguran. Anakmu sudah tiada." bisik Reynka setengah menahan tawanya.


Seketika tangan Khard yang begitu geram langsung menggubrak meja di ruangan itu. "Apa?!" hardiknya.


Mendengar keributan, petugas itu langsung mendekat. "Ada apa ini?"


"Tidak apa-apa, Maaf." sahut Khard cepat.


Terlihat jelas wajah penuh kemarahan di raut pria itu meski wajahnya sudah mulai di tumbuhi bulu-bulu halus di sana. Melihat hal itu sungguh Reynka puas. "Aku memang ahli dalam memainkan peran ini. Aku tunggu hasil kerja dari mu, pria bodoh." batinnya.


"Gara benar-benar keterlaluan. Aku harus menghabisinya." Kharisa mendengar hal itu sontak terkejut.


"Hey, apa yang kau katakan? aku tidak mengijinkan hal itu, Khard. Aku mau kau memisahkan mereka. Lagi pula jika kau bersama wanita mu, kalian bisa membuat anak lagi, bukan? sudahlah jangan berpikir bodoh. Apa kau mau hidupmu masuk ke tempat terkutuk ini lagi? ingat! aku hanya akan membantu membebaskan dirimu kali ini saja. Dan buat mereka berpisah."

__ADS_1


Tanpa kata, Reynka langsung meninggalkan Khard di ruangan itu. Kini ia di giring kembali ke dalam jeruji besi. Hukum yang ia jalani memang tidak begitu lama di bandingkan kasus pemerkosaan pada wanita di bawah umur.


"Lihatlah Gara, aku akan membuat perhitungan padamu setelah aku keluar. Aku tidak akan perduli dengan nyawamu. Kau sudah membunuh darah daging ku dengan Kharisa."


Khard kini sudah kembali berada di kamar tahanannya bersama beberapa tahanan dengan kasus yang berbeda tentunya.


Para mata sudah menatapnya dengan tajam. Sejak pertama kali Khard masuk ke dalam kamar itu, ia selalu mendapat perlakuan tidak baik. Bukan tanpa sebab, karena peraturan di kamar itu semua tahanan harus bisa bekerjasama dalam hal yang baik. Seperti solat bergantian menjadi imam hingga urusan piket bersih-bersih.


"Wah orang yang tidak punya salah sudah kembali. Hey, apa kamu masih merasa sok di dalam sini? hah!" hardik salah satu ketua kelompok di kamar itu.


"Maaf, Bang. Saya tidak bermaksud sok."


Satu pukulan kembali mendarat di wajahnya. "Makanya solat. Kamu tidak merasa berdosa sudah menodai istri orang? kamu pikir kamu bisa lepas begitu saja?"


Khard kembali di serang, mereka semua geram dengan kasus yang di lakukan oleh Khard. "Ampun, Bang...ampun." Khard di hajar habis-habisan.


Yah mungkin dengan begitu mereka merasa mendapatkan hiburan.


"Hei...apa-apaan ini?" salah seorang petugas rutan datang dan menghentikan penindasan itu.


"Kalian mau tidak mendapatkan remisi yah?" ancamnya.


Remisi adalah pengurangan masa tahanan yang sudah berdasarkan peraturan yang berlaku. Hal itu akan di berikan bagi anak tahanan yang telah berkelakuan baik selama menjalani masa tahanannya.


***


Setidaknya masa tahanan pria itu sedikit lebih ringan karena bantuan Reynka.


Sementara Kharisa yang hari ini sudah tampak ceria tengah duduk bersama Gara di taman rumah sakit.


"Ayo makan lagi." bujuk Gara menyodorkan tangannya mendekati mulut sang istri.


Kharisa membuka mulutnya diiringi senyuman di wajah cantiknya itu.


"Aaaaaa." tutur Gara.


"Wah...wah ada yang sedang bahagia nih." Tiba-tiba suara Nyonya Harina terdengar di jarak yang tidak begitu jauh dari keduanya.


"Ibu, Ayah." panggil Kharisa menoleh dan tersenyum.


"Bagaimana anak Ibu, Gara? apa sudah sehat?" tanya Nyonya Harina mencium puncak kepala Kharisa.


"Iya, Bu. Kata Dokter besok Kharisa sudah boleh pulang kok." terang Gara.


"Ayah, Ibu." lirih Kharisa.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Ada apa?" sahut Tuan Tedy.


"Maafkan Kharisa sudah menyusahkan kalian terus." tuturnya dengan sedih.


"Eits...siapa bilang menyusahkan? tidak sama sekali. Justru kami merasa susah jika menghadapi anak satu ini." tunjuk Nyonya Harina pada Gara sembari mengusap kasar rambutnya.


"Ibu." tegur Gara mendelik kan matanya.


"Sudah, jangan bicara yang tidak-tidak. Kamu sama sekali tidak menyusahkan kami. Iya kan, Ayah?"


"Iya, Bu. Ayah dan Ibu menunggu kamu cepat kembali ke rumah. Rumah sepi sekali, apalagi kantor. Kamu sangat melewatkan banyak hal lucu Kharisa." ungkap Tuan Tedy sembari melirik ke arah Gara.


"Ha lucu? apa itu, Ayah?" Kharisa tampak penasaran.


"Tuh, suamimu masa meeting saja harus berakting sakit. Dan sekarang mengambil alasan karena menjaga mu. Sepertinya kalian berdua harus bertujuan posisi. Kamu jadi laki-laki dan Gara jadi perempuan."


"Ayah, siapa bilang? tidak Kharisa. Ayah hanya ingin kamu tertawa. Itu semua tidak benar. Kamu pasti tidak akan percaya kan? mana mungkin suami mu yang mantap mafia ini bisa selemah itu." elak Gara.


Suasana di taman menjadi hangat kembali. Mereka bercanda dan Gara lah yang menjadi pusat penyiksaan oleh Tuan Tedy. Kharisa sudah tampak jauh lebih baik. Ia sama sekali tak terlihat lemah lagi seperti waktu sebelumnya.


Sampai akhirnya mereka semua memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Kharisa karena sudah waktunya untuk makan siang dan minum obat.


"Kharisa, Gara. Ayah dan Ibu pulang dulu yah."


"Iya Bu, Ayah. Hati-hati." ucap Gara.


"Ayah, Ibu. Adik Kharisa tidak merepotkan kalian kan?" tanya Kharisa saat melihat kedua mertuanya hendak bergegas meninggalkan rumah sakit itu.


"Tentu tidak, Sayang. Adik-adik mu sangat patuh dan menyenangkan. Jangan khawatir kan mereka yah. Besok kita akan menyambut kedatangan mu. Oke?"


"Baiklah, Bu. Terimakasih..." Kharisa menatap tersenyum dan ia pun mendapat satu ciuman di kening dari Nyonya Harina.


"Memangnya Ibu saja yang bisa? Ayah juga bisa kok." Tuan Tedy ikut mencium pucuk kepala menantunya.


Tanpa mereka sadari, dari sudut yang tidak jauh tampak sepasang netra indah memperhatikan gerak-gerik mereka.


"Kalian bahagia di atas penderitaan orang. Aku tidak akan membiarkan hal itu lebih lama. Terutama kamu, Kharisa. Kamu sudah merebut posisiku di rumah maupun di hati Gara. Kamu akan tahu akibatnya." Reynka melenggang pergi menuju tempat ruangannya dengan balutan jas putih kebanggaannya.


"Kita masuk yah." ucap Gara.


Dan di anggukan oleh Kharisa. Saat mereka hendak melewati koridor, tanpa sengaja netra Kharisa menangkap sosok Reynka yang melenggang semakin menjauh. Meski ia melihat dari arah belakang, namun Kharisa sangat hapal dengan postur dan penampilan wanita ular itu.


"Mengapa perasaan ku tidak enak seperti ini?" batinnya.


Sesampainya di dalam ruangan, Kharisa menahan tangan Gara yang hendak menuntunnya ke tempat tidur. "Aku mau pulang." ucapnya.

__ADS_1


"Sekarang?" tanya Gara tidak yakin.


__ADS_2