
Mobil milik Gara kini berhenti tepat di depan gerbang yang terlihat sangat kokoh dengan beberapa penjaga yang berdiri di dalam gerbang saat mata Gara melihat gerbang itu bergeser membuka dengan lebar.
Mendapat persetujuan masuk, ia segera melanjutkan perjalanan mobilnya. Sesampainya di halaman masih seperti biasa, Gara turun dari mobil dan melewati beberapa pos pemeriksaan yang sangat ketat.
Masih dengan suasana seperti biasanya. Para penjaga tak menunjukkan reaksi apa pun. Gara berhasil melewati semuanya hingga kini langkahnya mengantarkan di depan ruangan kebesaran Mr. Dave.
Pintu yang otomatis bergeser lagi saat menyambut kedatangan Gara kini memperlihatkan kursi singgasana yang bergerak beralun membawa ketenangan pada tubuh tua yang masih terlihat segar namun masih berposisi membelakanginya.
Gara menghela nafasnya pelan saat hendak melangkah masuk ke dalam ruangan Mr. Dave.
Hembusan napas berbau tembakau cukup kuat berputar-putar di dalam ruangan mewah. Lelaki yang masih terlihat gagah di usia tak lagi muda masih mampu memberikan pesonanya.
"Mengapa kau kemari? bukankah aku sudah memberikan mu tugas?" Suara Mr. Dave tiba-tiba terdengar memecah keheningan ruangan itu.
Tentu pertanyaannya sudah bisa di tebak oleh Gara. Namun, dengan wajah penuh harapan sang istri Gara berusaha menghadapi hal yang mustahil ini.
"Maafkan saya, Mr. Ada yang ingin saya ajukan pada anda." tutur Gara penuh dengan kehati-hatian.
Ia tahu hal ini sangat sulit untuk ia dapatkan, bahkan bisa di katakan Gara dengan sendirinya telah menyerahkan nyawanya.
Mr. Dave tampak memutar kursi kebesarannya dan tersenyum miring melihat Gara yang berdiri dengan menundukkan kepalanya.
"Kau tahu Gara, itu tidak akan pernah terjadi." Tanpa minta Gara meneruskan ucapannya, Mr. Dave sudah bisa menduga cepat atau lambat pria ini akan mengajukan permohonan undur diri dan itu tentu karena wanita.
"Maafkan saya, Mr. Apa pun hukumannya saya akan tetap dengan pendirian saya. Saya mohon." ucapnya dengan bersimpuh di hadapan Mr. Dave.
Seketika tangan Mr. Dave bertepuk sekali dengan suara yang lantang. Gara menatapnya dengan menengadahkan wajahnya demi bisa menangkap wajah Mr. Dave yang masih duduk bahkan bergerak untuk menyilangkan kedua kakinya.
Beberapa anggota mafia lainnya sudah masuk ke ruangan itu dengan masing-masing senjata yang mengarah tepat di posisi Gara bersimpuh saat ini.
Mereka sudah mulai mengambil bagian tangan, kaki dan bagian lainnya untuk mereka tembak. Namun satu yang tidak akan mereka tembak yaitu bagian yang akan menyebabkan kematian.
Satu kali kedipan mata Mr. Dave.
Dor
Dor
Dor
Dor
Seketika itu juga suara tembakan melayang hingga terdengar suara Gara yang merintih tanpa perlawanan. Ia akan menerima hukuman pertama itu sebagai jalan agar ia bisa keluar apa pun hasil akhirnya.
Demi sang istri tercintanya ia akan tetap bertekad keluar meski rasanya sudah sangat menyakitkan.
Di sisi lain Kharisa merasa hatinya tiba-tiba merasakan sesuatu yang benar tak nyaman. "Gara." ucapnya lirih seraya memegang dadanya pelan.
Sesak di dada membuatnya meneteskan air mata seketika. Sungguh ini perasaan yang teramat jarang bahkan bari kali pertama Kharisa merasakan hal ini. Tubuhnya yang baru selesai memakai pakaian sehabis mandi mendadak tersungkur di tepi ranjang.
__ADS_1
Ia ketakutan tubuhnya bergemetar buliran bening lolos begitu saja tanpa hentinya.
"Kau berjanji akan pulang demi aku." gumamnya lagi sembari menggelengkan kepala.
Batin Kharisa sungguh kuat merasakan apa yang terjadi pada sang suami.
Setelah lama Mr. Dave memberikan tawaran lagi pada Gara untuk tidak keluar, laki-laki itu kembali menolak. Ia tetap bersikeras untuk meminta keluar. Gara yakin ia bisa pulang dan keluar dari tempat itu.
Meski jika hasilnya akan sia-sia setidaknya Gara sudah menunjukkan jika dirinya berusaha untuk memenuhi keinginan sang istri.
Tubuhnya yang selalu terlihat gagah tegas itu kini sudah terkulai lemas di lantai yang beralaskan ambal mewah. Darah bercucuran di beberapa bagian tubuhnya.
Matanya tampak buram, perlahan mulai gelap dan ia kembali mengedipkan matanya demi tetap bertahan. Ia harus bisa kembali pulang, sayang Mr. Dave tak semurah hati itu padanya.
Beberapa anggota lainnya segera membopong tubuh Gara menuju ke penjara bawah tanah di mana Randa juga di kurung di sana.
Langkah kaki bahkan gerakan Gara sudah tak mampu lagi. Semua anggota badannya masing-masing mendapat tembakan.
"Tuan." Randa bersuara lemas matanya membulat kaget melihat Gara di seret dengan keadaan mengenaskan seperti itu.
Mata Gara melihat samar-samar pada Randa. Ia kaget namun kekuatannya untuk berucap tak mampu lagi ia keluarkan.
"Hey, apa yang kalian lakukan?" tanya Randa berteriak pada dua anggota yang memasukkan Gara pada sel jeruji besi itu.
Namun Randa tidak mendapatkan jawaban, kedua anggota itu segera pergi dari tempat yang sangat pengap itu.
"Tuan, apa yang terjadi?" Randa berusaha menggoyangkan tubuh Gara dari seberang sel itu. Beruntung mereka bersampingan setidaknya Randa bisa membantu menutupi bagian yang terkena tembakan itu.
Rasanya sungguh tidak mungkin lagi bisa keluar dengan selamat. Dalam pejaman matanya, Gara merasakan sentuhan lembut di kelopak matanya. Sentuhan yang Kharisa berikan padanya.
Janji yang membuat Gara terus berusaha menguatkan diri meski ia sadar jika tidak akan ada yang bisa menolong dirinya dan juga Randa saat ini.
Sungguh tidak ada yang tahu bagaimana takdir bermain di antara Gara dan Kharisa. Dengan janji yang telah ia berikan untuk akan segera pulang dan memulai hidup baru mereka.
Selalu ada pengorbanan di balik janji setia. Tidak ada yang tidak bisa di janjikan kala harga mati telah menjadi hak seseorang yang teramat di cintainya.
Kalau pun Gara ingin pulang dengan selamat tentu ia bisa melakukan dengan membatalkan permohonan pada Mr. Dave. Tapi itu bukanlah hal yang Kharisa inginkan. Ia ingin suaminya pulang dengan harapan yang telah ia gantungkan pada Gara.
Harapan yang terkesan egois namun memang sangatlah berpengaruh dalam hubungan mereka kedepannya. Karena Mr. Dave memang tidak akan melepaskan Gara dengan mudah, terlebih lagi untuk membiarkannya bersatu dengan Kharisa.
Mentari yang begitu bercahaya kini mulai meredup, seperti hati wanita yang kini tengah gundah.
Kharisa sadar kelemahannya saat ini berada pada Gara, entah sejak kapan hal itu berubah. Yang jelas semua berjalan tanpa ia sadari Gara telah masuk menjadi peran utama di hatinya.
Senja mulai datang. Matahari malu-malu masuk ke dalam kamar yang gelap. Temaram mulai merenda di langit-langit berwarna orange.
Semenjak kepergian Gara, Kharisa sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Semua orang yang berada di rumah itu menjadi panik. Mereka berpikir jika Kharisa akan keluar setelah Gara pulang.
Meja makan besar dengan berbagai macam hidangan kini hanya mendapatkan tatapan tanpa sentuhan.
__ADS_1
"Ayah, apa Ibu lihat Kharisa dulu sebaiknya?" tanya Nyonya Harina pelan.
"Iya Bu, coba Ibu tengok di kamar. Kharisa bisa sakit jika telat makan seperti ini."
Nyonya Harina berdiri dengan mendorong pelan kursi lalu beranjak menuju kamar putranya. Vino dan Vano pun mengikuti langkah Nyonya Harina.
"Ayah, kami lihat Kak Risa dulu." ucapnya sopan.
Tuan Tedy mengangguk pelan tak lupa ia menampakkan senyum ramahnya yang selalu membuatnya sangat terlihat hangat pada siapa pun.
Dorongan pintu terdengar pelan, Nyonya Harina masuk ke kamar dengan mendahulukan kepalanya. Ia menangkap sosok Kharisa yang sudah menangis tersedu-sedu di pojok tempat tidur dengan memeluk kedua kakinya yang terlipat.
Mata sembab yang sulit terbuka perlahan melirik kehadiran Nyonya Harina, sang ibu mertua yang sangat baik padanya.
Manik mata Nyonya Harina membelalak melihat keadaan menantunya. Ia melanjutkan langkah kakinya dengan cepat. Lalu naik ke tempat tidur tepat di samping Kharisa.
"Ibu." Kharisa membawa tubuhnya masuk ke dalam pelukan wanita baik itu.
"Kharisa, ada apa? apa yang terjadi? Gara menyakiti mu lagi?" suara panik Nyonya Harina yang sudah tak bisa mengontrol diri lagi membuat Vino dan Vano saling melempar tatapan ketika mereka belum sampai di kamar namun mendengar suara Nyonya Harina.
Keduanya segera berlari masuk ke dalam kamar.
"Kak Risa." serentak suara pria kembar itu mendekat pada Kakak kesayangannya.
"Ibu, Gara..." lagi-lagi Kharisa menangis tak sanggup mengatakan apa yang terjadi.
Nyonya Harina mendorong pelan pelukan Kharisa agar ia bisa menatap wajah menantunya. Tangan wanita itu mengusap lembut buliran bening yang membasahi wajah Kharisa.
"Ayo minum dulu. Setelah itu katakan pada Ibu, Kharisa." pintah Nyonya Harina berusaha tenang.
Sungguh tidak baik memecahkan suatu masalah dalam keadaan panik. Nyonya Harina tidak ingin sesuatu terjadi pada keluarganya.
Dengan begitu ia harus bisa sebijak mungkin untuk memutuskan sesuatu.
"Gara, dia pergi untuk meminta berhenti dari pekerjaannya. Tapi Kharisa sama sekali tidak mendapatkan kabar, Bu. Gara bilang jika keluar dari pekerjaan itu mereka tidak akan membiarkannya dengan mudah pergi. Perasaan Kharisa benar-benar tidak enak, Bu. Kharisa takut." keluhnya terus menangis.
Wajah Nyonya Harina yang tadinya tenang, sangat paham apa yang terjadi dengan putranya. "Dave...kau benar-benar." ucapnya begitu geram.
Tangan Nyonya Harina mengepal kini ia tidak lagi terlihat seperti Nyonya Harina. Wanita paruh baya itu segera berdiri melepas pelukan dari Kharisa.
"Bu...Ibu mau kemana?" tanya Kharisa khawatir melihat tatapan marah Nyonya Harina.
"Vino, Vano jaga Kakak kalian." pintah Nyonya Harina segera melangkah keluar tanpa menjawab apa yang Kharisa tanyakan padanya.
Suara heels kini terdengar begitu cepat menyentuh langkah demi langkah pada marmer mewah rumah Tuan Tedy. Nyonya Harina menuju ke kemarnya meraih ponsel miliknya.
Apakah yang akan Nyonya Harina lakukan untuk sang putra?
Apakah Gara akan segera kembali menepati janjinya?
__ADS_1
Saksikan kelanjutan di episode berikutnya yah!