
Jika cinta tak mampu meluluhkan, jangan salahkan kekhawatiran yang akan mengutarakan isi hati sesungguhnya.
__________________________________
Ruangan tinggi tampak ricuh, para pekerja berlari kesana kemari dengan kepulan asap yang sudah memenuhi di setiap ruangan tersebut.
"Ah..." teriak Gara kala kakinya terjebak dengan benda yang jatuh dari atap.
"Gara." teriak Randa yang sudah berlari lebih dulu dari sahabatnya tersebut.
"Pergilah! cepat! Jangan perdulikan aku. Cepat keluar dar tempat ini, Randa. Bantu semuanya." pintah Gara dengan wajah kesakitan karena kesulitan menyingkirkan benda yang menimpa kakinya dengan kobaran api tersebut.
"Tidak, ayo aku bantu." tolak Randa namun saat itu juga Gara mendorong kasar tangan temannya untuk berlari.
"Cepat pergi. Bahagiakan keluargaku dan anakku." teriak Gara.
Perlahan asap semakin penuh hingga Randa berlari dengan langkah beratnya meninggalkan sahabat yang sedang bertaruh dengan kobaran api itu.
"Kharisa, maafkan aku. Maafkan semua perlakuan burukku. Aku mencintaimu. Selamat tinggal, Sayang." Perlahan mata elang khas bule itu pun mulai menutup bersamaan dengan tubuhnya yang ikut terbakar.
Rintihan terdengar menggema di ruangan yang hangus terbakar itu.
Bagaimana jika Kharisa mengetahui suaminya telah pergi meninggalkan dirinya dan calon anaknya? Tidak. Gara tidak boleh lepas tanggung jawab begitu saja setelah begitu banyak rintangan yang mereka lewati.
"Tidaaaaaak!" Semua orang begitu terkejut saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar yang kebetulan tidak tertutup rapat pintunya.
Serentak berlari ke sumber suara. "Kharisa." ucap Gara meraih wajah istri yang mandi keringat sore itu.
"Kak Risa." teriak Vino yang baru saja sampai di kamar sang Kakak.
Nafas yang memburu, keringat yang bercucuran membuat Kharisa gerah. "Biar aku bantu-" (ucapan Gara yang hendak membantu mengusap pelu sang istri terhenti kala tubuh wanita itu memeluk erat tubuhnya).
"Jangan tinggalkan aku..." tangis Kharisa masih ketakutan.
Semua terdiam. "Kak begitu besar cinta Kakak padanya. Baiklah, aku akan mendukung apapun yang menjadi kebahagiaan Kak Risa. Selama itu akan baik-baik saja." batin Vino yang menyerah untuk menentang hubungan sang Kakak dan Kakak iparnya.
__ADS_1
"Aku di sini. Maafkan aku baru pulang dari kantor. Aku tidak akan meninggalkanmu." tutur Gara pelan sembari membalas pelukan sang istri.
"Sayang, ada apa? kau mimpi buruk?" tanya Nyonya Harina mendekati sang menantu dan mengusap kepalanya.
"Tadi...tadi, aku mimpi Gara terbakar, Bu. Dan kantor Ayah juga habis terbakar. Aku takut." ucap Kharisa merasa khawatir jika mimpinya akan menjadi pertanda buruk.
Perlahan Nyonya Harina pun duduk di samping menantunya. "Sayang, jangan khawatir. Kau tidur terlalu sore, makanya mimpi buruk. Jangan tidur sore lagi yah, tidak baik. Sebaiknya mandi dan sholatlah agar tenang." saran Nyonya Harina di jawab anggukan oleh Kharisa.
"Ayo Vino, Vano, Randa, kita keluar." ajak Nyonya Harina.
Gara yang mendengar nama Vino menoleh seketika terkejut. Pasalnya ia belum mengetahui tentang kedatangan adik iparnya yang satu itu.
Vino menatap mata Gara dengan tatapan acuh dan segera keluar dari kamar sang Kakak.
***
Usai makan malam saat itu, semua berkumpul di ruang keluarga tanpa terkecuali. Sejenak keheningan yang saling mengisi ruangan tersebut.
"Kharisa, buka map itu." pintah Tuan Tedy pada benda tipis di meja.
Kala tangan tak berdaya itu menarik beberapa lembar dari map terlihat tulisan pengalihan kekuasaan perusahaan CW Sejahtera dari kepemilikan Tuan Tedy beralih pada Kharisa beserta dua adiknya.
"Tidak, ini tidak mungkin, Ayah." ujar Kharisa lirih sembari menggelengkan kepalanya.
Tuan Tedy tersenyum lembut. "Kalian kelola bersama sebagai permintaan maaf dari keluarga kami. Mungkin semua kekayaan kami tidak akan bisa menggantikan kepergian kedua orangtua kalian. Tapi Ayah harap setidaknya bisa membantu kalian dan banyak orang di luar sana." tutur Tuan Tedy mantap.
"Dan ini Kharisa, perusahaan orangtua kalian juga sudah kami kembalikan padamu. Terserah kalian mau kalian kelola seperti apa."
Bagai di terpa hujan uang, kini ketiga saudara tanpa ayah dan ibu itu tercengang tak percaya. Ini bagai mimpi mendapatkan perusahaan dua yang besar sekaligus. Lalu bagaimana dengan keluarga Tuan Tedy? Tidak. Kharisa tidak akan tega membiarkan keluarga yang begitu baik padanya selama ini menjadi kesulitan.
"Tidak, Ayah. Kharisa tidak bisa menerima ini semua. Kalian sudah sangat baik dengan kami, walau ada sedikit masalah. Tapi itu semua bukan keinginan kalian." tolak Kharisa.
"Kau tidak bisa menolak lagi, Kharisa. Ini semua sudah teralihkan dan sah. Kelola dengan baik apa yang sudah menjadi hakmu." pintah Nyonya Harina tersenyum tulus.
Kharisa menatap wajah suaminya yang sama sekali tidak ada beban baginya. "Aku ikhlas, aku sama sekali tidak keberatan. Terimalah pemberian Ayah." tutur Gara.
__ADS_1
"Aku akan terima..." seru Kharisa masih menatap wajah sang suami.
"Terimakasih, Sayang. Sekarang aku bisa tenang." ucap Gara.
"Tapi untuk mengelola, kau yang akan mengelola seperti sebelumnya. Dan aku bersama adikku akan mengelola perusahaan Ayah dan Bunda." ujar Kharisa.
Keduanya pun berpelukan, semua yang ada di ruangan itu hanya merasa ikut bahagia. Vino masih diam mematung.
"Bahkan mereka tidak takut kehilangan harta mereka saat ini? Apa aku telah salah sempat membenci keluarga mereka?" batin Vino tertunduk meratapi kemarahannya yang sulit untuk di kendalikan.
***
Setelah pengalihan harta warisan tersebut, kini dua perusahaan yang sudah masuk dalam jajaran perusahaan paling berkembang pesat tampak mencuri perhatian para pemburu berita.
Sudah beberapa bulan berlalu dari hari mengharukan itu, kini Kharisa yang sudah tampak buncit pagi itu mulai berjalan bergandengan tangan dengan Gara memasuki kantor Tuan Tedy.
"Sayang, Ayah dan Ibu kapan pulang?" tanya Kharisa begitu manis.
"Tidak tahu, kenapa? kau ingin menyusul mereka honeymoon?" tanya Gara menggoda sang istri dengan merangkul dan mencium pipi chubby sang istri.
"Hahaha mana ada orangtua honeymoon, tidak. Aku hanya rindu saja." ucap Kharisa yang merindukan sosok orangtuanya.
Yah, sudah satu bulan tepatnya kedua pasangan yang tak lagi muda itu menghabiskan masa tua mereka dengan berkeliling dunia. Beruntung kesehatan Tuan Tedy sudah begitu membaik dan bisa berjalan normal lagi. Itulah janji yang ia inginkan penuhi pada istri tercintanya. Ingin berkeliling dunia di akhir masa-masa bahagia mereka sembari menunggu kehadiran calon cucunya.
"Sayang, apa hari ini kau akan berkerja seharian lagi?" tanya Kharisa saat mereka baru sampai di ruangan kerja suami tercintanya.
"Yah sepertinya, dan kau akan mengajariku banyak hal seperti biasanya kan? apa kau keberatan mengajar suami bodohmu ini?" goda Gara yang memang sangat jujur mengakui dirinya tidak begitu pandai. Bahkan di awal kepemimpinannya saja sempat membuat banyak hal kacau di perusahaan Ayahnya yang kini menjadi milik istrinya.
"Hem..." Kharisa menghela napas pelan. "Aku bosan," keluhnya kemudian duduk di sofa ruangan kerja sang suami.
Gara pun mulai bekerja dengan wajah seriusnya, Kharisa yang menatap wajah tampan itu sesekali tersenyum geli. Mengingat bagaimana kacaunya perusahaan di awal pengendalian sang suami. "Ada apa? kau menertawakanku?" sahut Gara yang sadar.
"Aku hanya heran, mengapa bisa Ayah memiliki anak sepertimu. Ayah begitu cerdas. Tapi kau..." Kharisa kembali terkekeh.
Belum sempat kedua kembali saling bercanda saat Gara hendak menyerang istrinya dengan gelitikan mendadak terdengar suara ricuh di depan kantor mereka.
__ADS_1
"Keluar! Keluar kalian!" teriak para pericuh di depan kantor tersebut dengan alat pengeras suara.