
"Apaan sih tuh mulut?" Vino menyenggol lengan saudara kembarnya saat menyadari Tuan Tedy membela sang anak.
"Maaf Ayah, Vano hanya khawatir dengan Kak Risa." ujarnya seraya melepaskan pelukannya pada tubuh sang kakak.
"Lagi pula Kakak ipar juga tidak ada di sini. Biasanya dia akan menghilang bukan? jika sudah membuat kesalahan." Lagi-lagi Vino ikut menimpali pembicaraan saudaranya. Padahal tadi dirinya yang meminta Vano agar bungkam.
"Vino, Vano, Kakak tidak pernah mengajarkan kalian lancar berbicara seperti itu pada Ayah!"
Suasana hening. Kedua pria berwajah serupa itu menundukkan kepalanya.
"Kharisa, kasihan adik-adikmu. Vino, Vano, semuanya baik-baik saja. Kakakmu hanya syok karena insiden di pabrik tadi." terang Tuan Tedy.
Keduanya memang belum mengetahui tentang insiden itu. Mereka terlalu sibuk untuk bekerja dan fokus dengan kuliah mereka.
"Insiden?" tanya keduanya serentak.
"Sudahlah, kalian masih di bawah umur. Ayo sekarang kita makan saja." Kharisa pun mengajak semuanya untuk menikmati makan malam.
Nyonya Harina dan Tuan Tedy menggeleng seraya tersenyum melihat perdebatan tiga saudara itu.
Sendok dan garpu terus terdengar saling beradu merdu. Seiring berkurangnya makanan di piring masing-masing.
"Semoga setelah ini kebahagiaanku dengan Gara sempurna. Ya Allah biarkan aku memulai keluarga kecil bersama suamiku dengan tenang." Kharisa membatin.
***
Setelah mendengar semuanya dari Gara, kedua orangtua Khard beserta keluarga lainnya yang berada di kantor polisi terdiam. Bahkan mereka tidak sanggup menatap wajah pria di hadapannya ini.
"Jadi untuk kasus ini kami harap selesai sampai di sini Bapak, Ibu dan semuanya. Ini adalah murni kecelakaan dan tidak ada unsur sengaja maupun pembunuhan." ungkap Pak Polisi yang ada di hadapan mereka.
"Tuan, maafkan saya dan istri saya. Kami sama sekali tidak mengerti jika anak kami bisa berbuat sejauh itu. Khard sosok yang baik dan patuh. Kami tidak mengerti apa yang membuatnya berubah seperti itu." ucap Ayah Khard dengan wajah kecewanya.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya paham ini semua memang karena cinta buta. Semua manusia kelemahannya hanya satu yaitu hatinya. Dan anak Bapak mendapatkan wanita yang begitu memikat hatinya. Saya sudah memaafkan itu bersamaan dengan saya yang tidak bisa menolong anak anda. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya juga meminta maaf karena tidak bisa menolong saat itu." sahut Gara dengan tulus.
"Bu, kita pulang sekarang?" tanya Ayah Khard pada sang istri.
__ADS_1
Kemudian istrinya mengangguk pelan sembari mengusap air matanya. "Tuan, maafkan anak kami. Dan sampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga dan istri anda terutama. Saya benar-benar terpukul mendengar kasus yang menimpa istri anda karena ulah putra kami." Lagi-lagi Ibu Khard memeluk sang suami, tangisnya pecah setelah mengucapkan hal itu pada Gara.
Tentu kepergian anak mereka seakan melempar aib di wajah kedua orangtuanya. Mengetahui riwayat kejahatan Khard yang sudah memperkosa Kharisa cukup membuat mereka malu untuk memandang wajah Gara.
Miris. Miris sekali Gara menatap kesedihan para keluarga yang tengah berduka saat ini justru harus menerima kenyataan pahit tentang sebuah kebenaran.
Mata Gara pun tampak berkaca-kaca, "Aku bahkan tidak jauh lebih buruk dari Khard. Mungkin dia sangat memalukan, tapi aku jauh lebih memalukan. Sudah berapa banyak nyawa yang aku lenyapkan bahkan banyak keluarga yang sudah menyumpahi aku."
"Ada apa?" Randa menyenggol lengan Gara saat menyadari temannya sedang melamun.
"Hah... tidak, tidak ada apa-apa." ucap Gara gelagapan.
"Yasudah urusan dan masalah kita sudah selesai semua yah Pak, Bu. Semoga Bapak dan Ibu di beri kekuatan dan keikhlasan. Saya harus segera pergi dari sini." Gara pun meninggalkan ruangan dan kantor polisi.
Di susul keluarga Khard yang masih terdengar isakan tangisnya.
Hari sudah semakin gelap, perjalanan yang begitu ramai tak mengalihkan pikiran Gara. Penyesalannya kembali mengisi pikiran pria berparas tampan itu.
Entahlah dengan cara apa ia bisa menebus seluruh dosa yang selama ini ia perbuat. Rasanya sungguh tidak adil, Gara hidup tenang saat ini sementara mungkin banyak keluarga yang menderita akibat perbuatannya dahulu.
Selang beberapa menit, akhirnya Gara bersama Randa pun tiba. Waktu yang sama dengan selesainya makan malam di rumah megah itu. Kilauan sorot mobil itu menyadarkan Kharisa jika sang suami telah tiba.
Ia berdiri dari duduknya kemudian pamit pada seluruh anggota keluarga yang ada di meja makan untuk menyambut sang suami.
"Semuanya, Kharisa kedepan dulu yah?" ujarnya setelah mendorong kursi perlahan.
"Iya sayang." sahut Nyonya Harina seraya tersenyum.
"Vino, Vano, kalian mandi gih. Bau."
Mendengar ejekan dari sang kakak, mereka hanya mendelik kesal. "Giliran di tinggal aja kayak hilang jiwa. Suami datang langsung menghina." cerocos Vino.
"Hus...lambemu." Vano berbicara setengah berbisik di telinga saudaranya dan segera bergegas menuju ke kamar.
Ya Tuhan dari mana bocah itu mendapat kosa kata seperti itu. Vano, kamu diam-diam ternyata sekali bicara pedas juga yah.
__ADS_1
"Van, kemana lu? main ninggalin aja?" Vino bergegas berpamitan dengan kedua orangtuanya kemudian menyusul sang saudara.
"Rame yah, Ayah rumah kita?" tanya Nyonya Harina tersenyum.
"Iya Bu, mereka benar-benar membawa suasana ceria di rumah sepi kita ini." Tuan Tedy meneguk obatnya di bantu oleh sang istri.
Sementara pelayan sudah mengemas sisa makanan itu dan kembali menghidangkan makanan untuk Gara dan Randa.
Di depan rumah,
"Kharisa, kamu kok keluar?" Gara menghampiri sang istri yang sudah berdiri di depan pintu.
"Iya aku habis makan malam sama yang lain. Ayo makan, kalian lapar kan?" tanyanya seraya menunjukkan senyum pada dua pria itu.
Randa membalas senyuman Kharisa, namun sekejap wajahnya kembali datar saat menyadari tatapan dari ujung ekor mata Gara. "Beraninya kau menebar senyummu yang berbisa itu pada istriku!" seperti itulah yang Randa bisa artikan dari isyarat tatapan Gara.
"Ayo." sekali lagi Kharisa mengajak mereka masuk.
Akhirnya kedua pria itu pun masuk ke dalam rumah dan segera menuju wastafel di ruangan itu. Yah Tuan Tedy selalu ingin setiap masuk ke rumah harus membersihkan tangan. Pria itu sangat takut dengan kotor.
Usai membersihkan tangan, mereka di temani Kharisa untuk menikmati makan malam yang tertunda.
Kharisa melayani suaminya dengan penuh ketekunan. Randa masa bodoh dengan pemandangan mesra di depannya.
"Kau tidak makan?" tanya Gara.
"Sudah." jawab Kharisa singkat.
"Oh iya. Tadi keluarganya meminta maaf padamu. Mereka meminta aku untuk menyampaikan." ucap Gara di sela-sela makannya.
"Gara, apa mereka tidak menuduh yang tidak-tidak pada kita atau padamu, Nak?" Tuan Tedy terdengar menimpali dari arah kamar ia berjalan.
"Ayah." Gara melihat sang Ayah yang barusan keluar kamar setelah mengganti pakaian tidurnya.
"Selamat malam semuanya." Suara wanita terdengar kembali di ambang pintu dengan tidak tahu malunya.
__ADS_1
Semua yang tengah berbicara serius sementara makan, berhenti dan melihat ke arah sumber suara.