
Di sebuah ruangan tampak seorang pria tengah sibuk berkutat dengan laptop kerjanya. Wajah tampan nan segar itu selalu meyegarkan hari-hari setiap orang yang melihatnya. Saat derap langkah kaki terdengar, ia melirik dan menghentikan sejenak aktivitasnya.
Senyuman sapa yang santun dan menenangkan terlihat di hadapannya. "Selamat pagi, Presdir." sapa Rika sembari meletakkan tas kerjanya di meja kerja miliknya.
Wanita itu memang datang sedikit terlambat dari sang atasan karena memang sudah meminta ijin pada Rifal. Dengan senyuman tampannya Rifal membalasnya. "Pagi, Rika. Bagaimana Kharisa?" tanyanya penasaran.
Benar, tak dapat di pungkiri meski ia terlihat bersikap biasa saja namun jauh dalam lubuh hatinya masih menyimpan sejuta harapan pada Kharisa. Rika sendiri sadar akan hal itu, dia tidak keberatan karena sampai sejauh ini Rifal masih tetap bersikap normal tidak mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain.
"Sepertinya jauh lebih baik, Presdir." jawabnya.
"Baguslah kalau begitu. Apa dia mengatakan kapan akan bekerja?" tanyanya lagi setelah menganggukkan kepalanya.
"Em...sepertinya belum bisa dalam waktu dekat ini, Presdir. Keadaan emosionalnya masih sulit di kontrol."
"Baiklah kalau begitu, kau bisa bekerja sekarang." pintah Rifal lagi. Rika segera menuruti perintah sang bos. Keduanya mulai bekerja dengan fokus. Suasana hening kembali seperti biasanya.
Sedangkan di sisi lain, terlihat Gara yang baru saja selesai mandi, ia sudah terlihat pulih kembali sementara Randa sudah pergi untuk mengawasi aktifitas Khard. Ia ingin memastikan jika pria itu masih ada di dalam sel tahanan.
Hari sudah menunjukkan mulai siang, Kharisa yang cukup lama berada di bawah pengaruh obat tidur tampak terlelap dengan tenangnya. Usai Gara memakai pakaian ia kembali menghampiri sang istri dan mengelus puncak kepalanya.
Tiba-tiba aktifitas Gara terhenti saat mendengar ketukan di luar ruangan itu. Ia menoleh menatap pada pintu yang kini sudah terbuka. Netra indah itu menangkap sosok pria yang berada di atas kursi roda.
"Ayah." ucap Gara terkejut saat melihat kondisi sang Ayah yang tampak lemas di bantu dengan dorongan Nyonya Harina. Tak lupa dua adik Kharisa juga sudah berada di belakangnya.
"Apa Kharisa masih ketakutan?" tanya Tuan Tedy tanpa basa basi.
"Iya, Ayah."
"Mengapa kau berbohong pada Ayah dan Ibu?" Mendengar pertanyaan Tuan Tedy, Gara terdiam sejenak. Ia takut jika sampai ucapannya akan membuat Ayahnya kembali jatuh sakit.
"Ayah, kita akan bicarakan hal itu nanti." sahut Gara yang enggan membahas di depan Kharisa takut kalau-kalau sang istri akan mendengarnya.
"Bu, sekarang biarkan Ayah istirahat dulu. Kita semua harus segera pulih dengan cepat dan kembali ke rumah." ucap Gara.
"Yasudah, Ibu antar Ayahmu. Kau jaga baik-baik Kharisa."
Mereka semua pergi tanpa menunggu lebih lama di ruangan itu, keadaan Kharisa benar-benar mengkhawatirkan saat ini. Gara membaringkan tubuhnya kembali di samping sang istri, hingga akhirnya ia kembali menatap wajah teduh Kharisa. Sungguh begitu nyaman jika berada di sisi wanita yang paling di cintai.
Rasa bosan. Tentu tidak ada rasa itu selama Kharisa tetap di sisinya. Seumur hidup pun Gara akan rela jika berada di ruangan yang tidak begitu luas selama ia masih di takdirkan berdua.
__ADS_1
"Ponsel." Gara tiba-tiba teringat akan benda kecil milik istrinya yang sudah ia sembunyikan.
Dengan cepat ia kembali mengambil ponsel itu di dalam lemari yang ada di samping tempat tidurnya. Tangannya menyalakan tombol hingga beberapa detik ponsel pun kembali aktif.
"Khard." Gara tampak geram saat mendapati banyaknya pesan yang masuk dari pria itu.
"Oke, ini bisa menjadi barang bukti untuk aku semakin memberatkan hukumanmu." Gara menyimpan kembali ponsel itu berharap Kharisa tidak akan mencarinya.
Usai dengan ponsel kini Gara terlihat memeriksa tubuhnya yang di penuhi luka itu, sedikit memijat demi memastikan jika ia sudah kuat atau belum. "Ah sial, ini masih belum sempurna." umpatnya kesal karena merasakan bagian kakinya belum begitu pulih.
Ceklek
Suara pintu tiba-tiba terdengar terbuka tanpa ada ucapan permisi, senyum mengembang di wajah seorang wanita yang berseragam formal dan berbalut jas putih kebanggaannya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Reynka yang kembali menghampiri mantan kekasihnya setelah berulang kali mendapatkan penolakan.
Gara memutar malas bola matanya, "Apa perlu aku beri papan di depan pintu tidak menerima tamu?" sahut Gara ketus.
Reynka semakin mengembangkan senyumnya dan meneruskan langkah kaki itu setelah menutup pintu ruangan. Ia berjalan menuju ke arah Gara. "Wanita itu terlelap, aku ingin berbicara denganmu."
"Keluar!" Gara bersuara pelan namun penuh penekanan. Ia sadar tidak mungkin jika harus berteriak di rumah sakit terlebih ada wanita yang sangat membutuhkan ketenangan saat ini.
"Kejarlah pria di luar sana, aku sudah pengangguran." Bukannya menurut justru Reynka berakting meneteskan air matanya.
"Aku tidak perduli dengan uang atau apa pun itu Gara, aku hanya ingin mendapatkan cinta mu lagi. Aku sudah mampu mendapatkan uang untuk kita hidup bersama." Bukan Reynka namanya jika tidak cerdik. Sekali pun Gara menjadi gelandangan, cepat atau lambat ia akan menjadi penerus perusahaan milik Tuan Tedy.
"Pergi...pergi dari sini." Suara lirih namun terdengar jelas di telinga keduanya. Kharisa yang masih terjaga oleh Gara kembali bersuara. Namun sepertinya saat ini ia hanya bermimpi.
"Kharisa." Gara melemparkan genggaman Reynka dan memilih mengusap puncak kepala istrinya yang terlihat begitu gusar. Tak lupa ia memberikan satu ciuman di kening yang di penuhi keluh itu. Perlakuan Gara semakin membuat Reynka panas, dadanya seperti terbakar.
"Gara, apa yang kau harapkan dari wanita gila sepertinya? bahkan suatu saat kau bisa menjadi korban pembunuhan oleh istrimu sendiri."
Nafas Gara memburu saat mendengar penuturan tak berperasaan dari Reynka. Matanya beralih menatap Reynka dengan tajam. Dengan sekuat tenaga pria itu menarik kasar Reynka hingga menyeretnya saat kaki Reynka tersandung.
"Gara, hentikan."
Pria itu tidak perduli, ia menarik terus hingga keduanya sudah berada di ambang pintu. "Pergi kau, dasar sampah. Jangan pernah berpikir aku akan sudi kembali padamu, Ingat kau sudah dengan suka rela menebar tubuhmu pada pria lain. Dimana urat malumu untuk memohon kembali denganku lagi, bahkan jika kau bukan wanita mungkin aku sudah mencincang tubuhmu."
Brak...! Suara pintu tertutup dengan kasarnya hingga Gara lupa kehadiran Kharisa.
__ADS_1
"Kharisa." Gara berlari menghampiri istrinya yang sudah menggigit selimut tebal dan menatap takut pada Gara.
"Ayo sayang, pergilah denganku. Kita akan hidup bersama dengan anak kita."
"Kharisa, aku mencintaimu. Tinggalkan suamimu."
Wajah Gara yang melangkah mendekat padanya kini berubah menjadi wajah Khard. Kharisa sudah menggelengkan kepalanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia menangis ketakutan.
Gara semakin cepat menjangkau sang istri dan memeluk paksa istrinya ketika kharisa sudah mendapat sebilah pisau di atas nakas.
"Ah..." rintih Gara melihat lengannya sudah terluka oleh pisau.
"Pergi!!" teriak Kharisa diiringi air mata.
"Tidak, berikan pisau itu padaku." Gara mencoba untuk merebut benda tajam itu. Kekuatan Kharisa kalah dengan sang suami. Ia melepaskan benda tajam dengan paksaan dari Gara. Gara sudah mengeluarkan darah segarnya, namun pelukannya tetap ia berikan pada Kharisa bahkan semakin erat.
"Kharisa, aku suamimu. Tenanglah."
"Tidak, aku tidak mau. Kau pergi! aku tidak ingin bersamamu." Suasana semakin tidak terkendali. Kharisa terus saja memberontak ketakutan di pelukan Gara. Semuanya benar-benar di luar perkiraan. Gara sungguh tidak habis pikir dengan hal ini.
Sejak awal Kharisa selalu tenang jika bersamanya, namun ada apa dengan istrinya kali ini? Bantuan dari rumah sakit segera tiba ketika Gara memintanya.
"Tolong istri saya, Dokter." Gara di bantu dengan dokter dan juga suster untuk mengendalikan ketakutan Kharisa.
"Nyonya Kharisa, saya mohon tenanglah. Anda aman dengan kami." Dokter memegang kuat tangan Kharisa di bantu dengan Gara dan juga suster.
"Tidak, dia jahat. Saya mohon biarkan saya pergi. Saya tidak ingin bersamanya. Saya mohon tolong saya."
Gara menatap wajah sang istri dengan bantuan tangannya, air mata Kharisa terus mengalir. "Tatap aku, Kharisa. Aku suamimu. Kau aman di sisiku. Dia tidak akan datang."
"Gara..."
"Iya, aku Gara. Kita akan hidup bersama selamanya. Jangan takut, oke?"
"Dia ingin mengambilku darimu. Aku tidak mau, dia jahat." Kharisa mengadukan rasa takutnya pada sang suami hingga keduanya kini berpelukan lagi. Dokter dan suster terlihat berkeringat akibat menahan amukan Kharisa saat tadi.
Nafas Kharisa masih terlihat memburu, wajahnya pucat dan mata sembabnya cukup menguras banyak tenaganya walau dalam waktu yang singkat.
Sedangkan di luar ruangan terlihat Reynka yang sudah berjalan berlenggang menuju ruang kerjanya. Ia tersenyum puas setelah berhasil melaksanakan aksinya. "Gara, kamu terlalu fokus menatapku hingga tidak sadar jika aku sedang menyuntikkan obat pada istrimu. Dan untuk mu Kharisa, aku harap secepatnya kau akan segera di pindahkan ke rumah sakit jiwa."
__ADS_1
Tawa puas tercetak jelas di wajah Reynka, sungguh aksi yang ia lakukan benar-benar di luar dugaan Gara. Sebelumnya Reynka sudah mengetahui jika Kharisa mengalami depresi dan hal itulah yang membuat pikirannya terbuka untuk melaksanakan hal yang lebih jauh lagi.