Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 85. Malam Hangat


__ADS_3

Malam harinya Kharisa dan Gara keluar dari kamarnya. Semua penghuni rumah sudah berada di meja makan menunggu keduanya untuk bergabung.


"Ayo makan, sayang." ajak Nyonya Harina pada Kharisa tak lupa menunjukkan senyumannya yang hangat.


"Iya, Bu. Terimakasih." Kharisa dan Gara ikut bergabung di meja makan itu.


Suasana pun hening. Hanya terlihat Kharisa membantu mengambil beberapa lauk untuk di letakkan di piring sang suami. Nyonya Harina mengulum senyum melihat perlakuan menantunya.


"Ayah tidak salah pilih istri untukmu, kan Gara?" Suara Tuan Tedy terdengar mengisi keheningan.


"Terimakasih, Ayah." ucap Gara singkat.


Kharisa menunduk malu sembari menikmati makan malam itu.


"Bu, sepertinya ada makanan yang celemotan di bibir Ayah." Tuan Tedy kembali bersuara.


Nyonya Harina menoleh menatap sang suami dengan dahi yang mengkerut. Belum sempat ia mengucapkan kalimat, Tuan Tedy sudah mengedipkan matanya memberi isyarat.


Nyonya Harina pun paham apa yang harus di lakukan. "Maafkan Ibu, Ayah. Ini sudah hilang kok."


"Kharisa, kalau sudah menikah bersikaplah lembut pada suamimu. Setiap makan tugas seorang istri bukan hanya melayani mengisi piring suami, melainkan memastikan air di gelas suami terisi dan mengusap sisa makanan di wajah suami. Ingat berbaktilah dengan suami. Layani suamimu dengan baik, begitu pun dengan sebaliknya." pintah Tuan Tedy.


"Iya, Ayah." Kharisa hendak mengikuti permintaan sang mertua, namun saat tangannya meraih tisu di meja lagi-lagi Tuan Tedy mencegahnya.

__ADS_1


"Tidak pakai tisu, Nak. Lakukan seperti Ibumu tadi." sahut Tuan Tedy.


Vino dan Vano saling berbisik. "Kak Risa di kerjain sama Ayah." bisik Vino sesekali menahan tawanya melihat reaksi Gara yang sok cool. Wajah datar, tanpa senyum meski dalam hatinya begitu penuh kemenangan.


"Kasihan Kak Risa, Ayah ada-ada saja." ujar Vino.


Kharisa mengusap bibir Gara pelan, keduanya saling tatap. Tidak menyadari lagi jika di meja makan saat ini hanya tersisa mereka berdua. Pandangan yang saling bertautan kini memberikan suasana yang sangat berbeda.


Gara menatap dalam netra indah itu. Tangannya meraih pipi sang istri sementara Kharisa tidak lagi menggerakkan tangannya yang menempel sempurna di bibirnya.


Perlahan namun pasti Gara semakin mendekatkan wajahnya pada Kharisa. Semakin dekat, semakin dekat dan sukses bibir mereka pun saling menempel. Kharisa memejamkan mata, Gara sudah memperdalam ciuman itu. Akhir dari penantian yang menyakitkan kini telah memberikan suasana yang begitu indah.


Tanpa menunggu lama, Gara yang merasakan sesuatu sudah menjalar di tubuhnya kini menggerakkan tangannya untuk meraih tengkuk leher Kharisa. Tangan itu menekan lebih dalam kepala sang istri.


"Ada apa?" tanya Gara terdengar berat. Tatapan mata yang sayu seolah menunjukkan keadaan Gara yang sedang menahan gejolaknya.


Kharisa menoleh kekiri dan kekanan mencari sosok manusia yang bersama mereka tadi, sayangnya tidak satu pun orang di sana.


"Astaga, sejak kapan semuanya sudah pergi?" tanya Kharisa gelagapan tanpa berani menatap wajah sang suami.


Gara mendekatkan kembali wajahnya dan menempelkan sempurna bibirnya di daun telinga Kharisa. "Sejak kau menyentuh bibir suamimu ini." bisiknya seraya tersenyum penuh kemenangan.


Mendadak tubuh Kharisa menggeliat merasa sangat geli saat Gara sudah menghembuskan nafasnya di tengkuk leher miliknya. Dan memberikan kecupan singkat di sana.

__ADS_1


"Jangan," lirih Kharisa.


"Gara." pekik Kharisa saat melihat aksi sang suami yang sudah menggendong tubuhnya ke kamar saat itu juga.


"Astaga jantungku, Kharisa tenanglah." gumamnya semakin tak karuan saat pintu kamar pun terbuka dan Gara membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Gara meletakkan tubuh Kharisa di atas kasur dan menopangkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Kharisa.


Kharisa semakin gugup mendapatkan perlakuan seperti itu dari Gara. Tubuh kekar itu masih berada di atas tubuh sang istri.


Hingga akhirnya Gara kembali mendaratkan ciuman di bibir sang istri dan mereka kembali melanjutkan aksinya. Kali ini Kharisa tidak merasakan ketakutan lagi bahkan tanpa Gara mematikan lampu kamarnya.


Keduanya pun memadu kasih di malam itu penuh cinta. Gara mulai menunjukkan betapa kuatnya tubuhnya beraksi malam itu setelah mengisi tenaga dengan makan malam.


Suara desahan saling bersahutan malam itu hingga malam semakin larut keduanya pun memutuskan untuk beristirahat dari aksi panasnya.


"Tidurlah." pintah Gara seraya mengecup kening sang istri yang masih terlihat berkeringat.


Kharisa bahkan tak sanggup untuk bersuara lagi, ia hanya mengangguk pelan dan langsung terlelap begitu saja. Gara tersenyum melihatnya.


Kemudian pria itu menyelimuti tubuh polos istrinya dan ikut terlelap. Sebelum ia terlelap tiba-tiba muncul dalam benaknya. "Ternyata obat tidurku ini?" gumamnya dengan senyum smirknya.


***

__ADS_1


Halo semuanya untuk para readers terimakasih selalu setia menunggu update novel ini yah. Dan untuk beberapa hari ini author minta maaf kurang konsisten updatenya. Karena banyak kesibukan. Sebelumnya author ucapkan mohon maaf lahir dan batin yah dan bagi yang non muslim author ucapan selamat hari kenaikan Isa Al-Masih. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Insyaallah bulan depan author akan kembali update rutin untuk kedua novel author. Terimakasih


__ADS_2