Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 50. Memberi Tahu Identitas


__ADS_3

Gara yang baru ingat pernah melihat ukuran bra istrinya pun menarik kedua bibirnya hingga membuat senyum menyeringai di sana.


Tangannya yang ingin melayang di wajah salah satu pengunjung toko itu akhirnya ia turun kan perlahan.


Gara segera menghampiri pelayan toko itu untuk memberi tahu ukuran bra istrinya. Dengan cepat pelayan itu segera mengambil apa yang sudah Gara beritahu.


Pandangan heran, takut dan lainnya masih tersorot jelas dari mata mereka pada Gara.


Tak ada yang masih berani menatap meski mereka sangat penasaran.


Usai pertunjukan menegangkan itu, kini Gara segera pergi dari mall dengan wajah kembali datar.


Ia melajukan mobilnya tanpa memperdulikan beberapa mata dari toko itu yang menatap kepergiannya seraya menggelengkan kepalanya.


"Sekarang aku sudah bisa perhatian denganmu, lihatlah barang yang aku beli. Kau tidak mungkin menyangka hal ini kan, Kharisa?" gumam Gara tampak bersemangat menuju ke rumahnya.


"Harusnya aku segera menjemput mu, tapi jam pulang kerja belum usai. Apa aku menunggu di depan kantornya saja yah? oh iya baiklah. Awas saja sampai pria itu berani mendekatinya lagi."


Gara segera melajukan kendaraannya membelah jalanan yang begitu padat dengan kendaraan lainnya.


Selang beberapa waktu, ponsel Gara berdering saat hampir tiba di perusahaan. Ia meraih ponselnya dan menempelkan pada daun telinganya.


"Gara, di mana kamu?" tanya Nyonya Harina dari seberang sana.


"Di jalan, ada apa, Bu?" sahut Gara.


"Sebaiknya kamu bawa Kharisa periksa kandungan hari ini yah." pintah Nyonya Harina.


"Oh iya, Bu." ucap Gara.


Tanpa sengaja mata Gara yang menatap gedung pencakar langit yang berdiri kokoh itu kini tertuju pada mobil yang baru sampai bersamaan dengannya.


"Pria itu." ucap Gara mengepalkan tangannya saat Kharisa turun dari mobil bersama dengan Rifal.


Wajah Kharisa terlihat lemas, dan wajah Rifal tampak cemas.


"Kharisa." ucap Gara.


Tanpa pikir panjang Gara segera berjalan cepat meninggalkan mobilnya mendekat ke arah Kharisa.


"Heh, apa-apaan ini?" teriak Rifal membulatkan dua mata beningnya itu.


"Biarkan Kharisa ijin hari ini. Wajahnya sudah sangat pucat. Kalau terjadi sesuatu dengan istriku apa anda bisa bertanggung jawab?" pekik Gara tanpa ada sopannya berbicara.


Salivah milik Rifal seketika sulit sekali ia teguk dan tersangkut di tenggorokannya.


"Gara, apa yang kau lakukan?" tanya Kharisa merasa tidak enak hati mendengar kelancangan suaminya.


"Ibu meminta ku untuk membawa mu memeriksa calon anak kita." terang Gara tersenyum sinis sembari melirik ke arah Rifal.

__ADS_1


Wajah putih mulus itu memerah melihat pengakuan Gara jika Kharisa sedang hamil dan menjalin hubungan suami istri.


"Baiklah Kharisa, sebaiknya kau periksa saja, dan istirahatlah."


Rifal melangkah masuk ke kantor sementara Gara tampak menyunggingkan senyuman penuh kemenangan di sana. Kharisa yang menatap suaminya seperti mengerti mengapa Gara harus tiba-tiba datang dan mengungkapkan semuanya.


Tapi dengan pengakuan Gara, setidaknya Kharisa bisa terbantu agar Rifal tidak bisa memanfaatkan kedekatan mereka.


"Sudah menikah dan hamil. Baiklah aku beri kau peluang tapi jika kau menyia-nyiakan peluang itu lihatlah aku akan mengisi penuh peluang tanpa menyisahkan celah sedikit pun untukmu." ucap Rifal dalam hati seraya menatap ke kursi kerja Kharisa.


Sedangkan di sisi lain, Kharisa masih tak berbicara ia hanya tersenyum-senyum sendiri dalam hatinya.


"Kalau terjadi sesuatu dengan istriku, apa kau mau tanggung jawab?" pertanyaan Gara pada Rifal terus terngiang di ingatan Kharisa.


"Sungguh manis sekali, ternyata seperti ini rasanya di cemburui?" gumam Kharisa tanpa sadar sudah melepas senyumannya yang tak lagi ada di dalam hati.


Gara yang sadar dengan ekspresi istrinya mengernyitkan dahinya hingga membentuk beberapa lipatan di sana.


"Apa yang lucu?" sahut Gara.


Wajah Kharisa memerah malu karena sadar dengan pertanyaan suaminya. Kedua retina berwarna hitam pekat itu memutar acak karena sadar jika dirinya telah salah tingkah.


"Em...tidak ada yang lucu." tutur Kharisa.


"Kharisa." panggil Gara.


"Apa kau tidak apa-apa jika aku pergi ke California dalam waktu dekat ini?" tanya Gara ragu.


Ini adalah pertanyaan yang sudah sejak tadi di pertimbangkan oleh Gara.


"Mengapa aku harus keberatan? pergi lah apa hak ku melarang mu." tutur Kharisa namun Gara bisa melihat raut wajah Kharisa yang tak searah dengan perkataannya.


"Dia akan pergi?" gumam Kharisa tanpa sadar jika dadanya terasa sangat sesak kali ini.


Ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan padanya saat ini. Kepergian Gara seakan memberikan kesunyian pada hatinya.


Meski ia tak mencintai pria itu, selama ini Gara sudah selalu memperhatikannya dengan sangat baik. Kharisa sudah merasa nyaman dengan hal itu.


"Kau keberatan?" tanya Gara melirik dari spion mobilnya.


"Ti-tidak, pergilah aku justru senang kau pergi. Aku bisa bebas melakukan banyak hal tanpa ada kau." ketus Kharisa membohongi suaminya.


"Baiklah. Aku tidak tahu kapan bisa pulang. Jaga dirimu baik-baik dan anak kita."


Ucapan Gara mampu membuat mata Kharisa membulat sempurna.


Sungguh pengakuan yang sama sekali tidak pernah Kharisa harapkan. Bahkan jika di bilang ia sendiri pun berat mengakui janin yang ada di rahimnya saat ini.


Bibir tipis itu terkunci rapat, Kharisa tak bisa berkata-kata lagi, ia tidak menyangka Gara yang berhati seperti batu kini sudah selembut kapas.

__ADS_1


"Tapi sebelum itu, sepertinya aku harus menunggu sampai panggilan dari pengadilan untuk kesaksian." tambah Gara lagi.


Kini mobil sudah sampai di halaman Tuan Tedy, Gara menghentikan mobilnya namun dari keduanya masih tidak ada yang turun bahkan bergerak.


Kharisa masih mendengarkan dengan seksama perkataan Gara seraya menatap matanya intens.


"Kau jangan takut, aku akan terus di sisimu."


Masih tak ada ucapan apa pun yang terlontar. Hanya kedua mata Kharisa yang sudah berkaca-kaca memandang suaminya.


Tanpa sadar air mata itu jatuh dengan derasnya meski mata Kharisa masih menatapnya. Gara meraih pipi istrinya dan mengusap pelan air mata itu. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mulai memiringkan kepalanya.


Kharisa perlahan memejamkan matanya, Gara mengerti maksud penerimaan dari istrinya.


"Tok...tok...tok." Suara jendela mobil yang gelap membuat Nyonya Harina tak melihat jelas apa yang terjadi di dalam mobil.


"Ibu." Kharisa segera mendorong wajah suaminya hingga Gara mengusap kasar wajahnya.


"Ada apa, Bu?" tanya Kharisa cepat beranjak dari dalam mobil.


"Ah...Ibu datang di waktu yang tidak tepat." ucap Gara kesal saat turun dari dalam mobil.


"Ibu salah apa sih?" tanya Nyonya Harina tak mengerti mendengar keluhan anaknya.


Gara yang kesal meminta beberapa pelayan untuk membawa belanjaannya ke dalam rumah.


"Bi, tolong bawa barang di mobil." pintahnya.


"Baik, Tuan." ucap para pelayan dengan sigap segera membuka bagasi mobil.


"Bagaimana kata Dokter, Gara?" tanya Nyonya Harina.


Gara yang hendak melangkah kan kakinya seketika menepuk jidatnya.


"Astaga aku sampai lupa tujuan ku membawa Kharisa periksa." ucapnya.


Nyonya Harina menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya itu.


"Bagaimana apa kau mau kita langsung pergi? atau mandi dulu?" ucap Gara memberi tawaran pada Kharisa.


"Mandi saja dulu baru pergi." sahut Kharisa.


"Yasudah ayo Ibu antar." ajak Nyonya Harina memapah tubuh menantunya yang tampak lemas.


Gara sudah masuk terlebih dulu ke dalam kamarnya. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Oleh sebab itu ia sangat ingin menyusul Mr. Dave. Namun beberapa hari lagi Gara ingat jika persidangan Randa akan segera tiba.


Gara dan Kharisa tentu harus hadir. Tidak mungkin ia membiarkan Kharisa untuk datang sendiri.


Sementara kehadiran Tuan Tedy dalam pengintrogasian beruntung bisa di handle oleh Gara. Hingga semua tidak perlu tahu apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2