Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 53. Kebahagiaan


__ADS_3

Di hotel berbintang kini kedua pasangan suami istri tampak tengah merebahkan tubuh lelah mereka di atas kasur yang empuk. Hari yang mengguncang batin Kharisa membuat Gara memutuskan untuk beristirahat di hotel tanpa harus pulang.


"Bagaimana jika Ayah dan Ibu mengkhawatirkan kita?" tanya Kharisa.


"Jangan khawatir, aku sudah mengirimkan pesan pada Ibu. Dan besok jika kau tetap ingin masuk bekerja kita berangkat dari sini saja." tutur Gara.


"Dari sini?" tanya Kharisa kaget. Ia berfikir jika istirahat di hotel hanya sampai malam saja ternyata Gara berniat membawanya untuk sampai esok.


"Hem. Dari sini. Untuk keperluan tenang saja. Biarkan supir yang akan mengantarkan nanti."


Setelah percakapan singkat itu keduanya memutuskan membersihkan diri lalu segera beristirahat.


Gara kembali seperti biasanya, ia duduk di kursi kamar hotel menatap dengan pandangan kosong. Wanita yang bersamanya saat ini sudah terlelap tanpa sadar lagi.


"Tring." Dering ponsel menandakan ada pesan di benda persegi panjang milik Gara yang ia letakkan di atas nakas itu.


Segera tangannya menangkap benda tipis itu, langkahnya bergegas menuju pintu kamar. Di raihnya knock pintu dan terbukalah pintu setengah saja.


"Terimakasih, Pak Jun." ucap Gara pada supir pribadi Tuan Tedy, Ayahnya.


"Sama-sama, Tuan." Pintu yang tertutup rapat itu mengantarkan kepergian pria paruh baya itu.


"Apa ada yang salah dengan Tuan Gara yah? baru kali ini aku mendengarnya bersuara. Padahal biasanya cuman matanya saja yang terus berbicara." gumamnya bergidik ngeri.


Semua perlengkapan Kharisa sudah ada di kamar itu atas bantuan pelayan di rumah dan juga Pak Jun.


Bulan terasa merambat begitu cepat, mentari mulai muncul di ufuk timur. Gara yang sejak semalam masih setia menyaksikan pergeseran demi pergeseran bulan itu kini tak sadar dengan tatapan samar-samar dari wanita yang baru membuka kedua matanya perlahan.


Kharisa, wanita yang terlelap dengan panjang tak sadar jika suaminya masih setia menyaksikan pergantian malam itu seorang diri.


"Kau tidak tidur?" tanyanya dengan suara serak yang masih terdengar lemas.


Gara memalingkan matanya dari jendela kamar hotel mengarah ke wanita itu.


"Bersiaplah, aku akan segera mengantar mu ke kantor."


Tanpa banyak ucapan Kharisa menurut pada Gara. Ia bergegas menuju kamar mandi, dengan pakaian ganti yang sudah di bawanya masuk bersama.


Beberapa menit ia lewatkan untuk membersihkan tubuh, usai berpakaian rapi wanita yang sudah kembali segar itu melirik ke arah suara dentingan sendok yang saling bersentuhan dengan gelas kaca.

__ADS_1


"Biar aku yang membuatkan mu minum." ucap Kharisa yang meskipun Gara menyetujui itu tak akan mungkin terjadi.


Air dan bubuk sudah terlanjur larut di dalam adukan tangan pria itu.


Kharisa mendekat ke arah Gara, matanya mendelik saat menyaksikan itu bukanlah kopi atau teh.


"Susu untukmu, minumlah semoga ini bisa mengurangi rasa mual-mual mu." pintah Gara.


Kharisa terdiam tanpa kata, bagaimana Gara menyiapkan ini semua? itulah yang ada di pikiran Kharisa.


"Em... terimakasih." ucapnya namun tak mendapat jawaban atau balasan dari sang suami.


Gara sudah memunggunginya ke arah kamar mandi.


"Itu susu jangan lupa di habiskan." pintahnya di sela-sela pintu yang hampir tertutup rapat.


"Iya." jawab Kharisa.


Mata Gara sempat melirik wajah Kharisa yang menarik bibirnya membentuk sebuah lengkungan senyum yang sangat rupawan. Di balik hati yang kacau, ia masih memiliki Gara yang setia di sisinya dan memberikannya harapan untuk tetap bertahan.


Gara tak dapat menolak pesona yang di tawarkan wanita manis dan dewasa itu yang selalu mampu mengobrak-abrik perasaannya.


***


Setelah kejadian hari itu, kini Kharisa mulai menjalani hari-hari seperti tak ada yang terjadi. Hubungannya dengan Gara pun sudah semakin membaik. Keduanya semakin saling mengisi hati tanpa canggung lagi.


Gara mulai di sibukkan dengan kantor Tuan Tedy yang berhasil ia pimpin berkat bimbingan sang Ayah. Sementara Kharisa yang tetap bekerja di perusahaan Kairin Group selalu di antar jemput dengan sang suami tercintanya.


Meski begitu, sampai saat ini Gara masih tak berani menyentuh Kharisa. Ia belum memiliki nyali yang kuat untuk mendapatkan penolakan dari Kharisa.


Satu bulan berlalu, Tuan Tedy sudah memutuskan untuk pensiun dari kantornya. Dan menyerahkan semuanya pada Gara.


"Sayang, aku bisa bangun sendiri." tutur Kharisa lembut saat tubuhnya masih bergelut dengan bantal hamil yang menenggelamkan tubuhnya. Sebenarnya perutnya masih belum besar, namun Gara yang terlalu antusias seolah memperlakukan Kharisa layaknya wanita yang sudah mengandung sembilan bulan.


Sama sekali tidak membiarkan Kharisa bergerak tanpa bantuannya. Beruntung pria itu tidak memiliki kekuasaan di kantor tempat sang istri bekerja, setidaknya dengan begitu Gara tidak mempermalukan Kharisa dengan sifat berlebihannya itu.


Mentari masih tampak malu-malu menunjukkan kehangatannya. Gerbang besar di kediaman Tuan Tedy terbuka otomatis saat Gara dan Kharisa berjalan melewati gerbang dengan kostum training.


"Jangan berlari." sahut Gara menarik lengan istrinya.

__ADS_1


"Aku tidak berlari." jawab Kharisa sembari mengernyitkan dahinya.


"Sudah biarkan aku memegangi mu. Nanti bayinya jatuh, Sayang." ucap Gara.


Kharisa lagi-lagi memutarkan malas bola matanya kesal. "Lalu aku harus berjalan semut begitu?" tanyanya sembari berkacak pinggang menghentikan langkahnya.


"Ayo ikuti langkahku." ajak Gara menuntun Kharisa. Sumpah demi apa pun ini sama saja gerakannya dengan langkah semut.


Pelan tanpa terlihat jika tubuh mereka sedang berjalan.


"Sayang, kapan sampainya kalau begini?" Kharisa kembali bersuara mereka sejak tadi masih tak melangkah jauh dari kediaman Tuan Tedy.


Kedua wajah tersenyum cerah yang menampilkan keriput di sana terkekeh menikmati pemandangan lucu anak mereka. Begitu juga dengan Vino dan Vano mereka menggelengkan kepala melihat tingkah Gara.


"Ternyata Kakak ipar kalau cinta memusingkan juga yah?" suara Vano terdengar di sela-sela tawa bahagia itu.


"Biarlah, setidaknya itu jauh lebih baik. Dari pada mereka berdua diam-diaman." sahut Vino.


"Ayo kita jalan pagi." ajak Nyonya Harina.


Tuan Tedy, Vino, dan Vano mengikuti langkah wanita di depannya. Kini keadaan Tuan Tedy berangsur-angsur membaik.


Tanpa ada yang mendengar jika ponsel di salah satu kamar terus berdering beberapa kali. Sayang, sang pemilik tak mendengar karena tengah berada di luar kamar.


Hari libur kini begitu nikmat meski hanya satu hari saja. Kharisa harus menyelesaikan semuanya kerjanya secepat mungkin sebelum masa cuti persalinannya akan ia ambil. Begitu juga dengan Gara, ia ingin menyelesaikan semua kerjaan di kantor sebelum persalinan sang istri.


***


Pagi yang cerah namun tak menampik dari wajah seorang pria berparas tegas dan kejam. Di ruang yang gelap ia bermain dengan kursi singgasananya mengayunkan kursi kebesaran itu sembari mengetuk-ngetuk jari jemarinya di atas meja.


Gigi yang terdengar menggeretak seakan tengah mewakili kemarahan yang terpendam dari pria itu.


"Rupanya kau ingin bermain-main dengan ku?" ucapnya tersenyum tajam hingga menunjukkan kelicikan yang terpancar di sana.


Akankah hubungan Gara dan Kharisa selamanya bahagia?


Siapa kah yang tengah menahan amarah saat ini?


Nantikan kelanjutannya di episode berikutnya yah!

__ADS_1


__ADS_2