Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 92. Kembalinya Mr. Dave


__ADS_3

Sebuah speed kecil tampak baru bersandar di sebuah dermaga yang lumayan panjang. Dermaga yang terdiri dari tatanan kayu yang kokoh. Wajah manis tampak tersenyum lebar melihat tempat yang ia tuju sudah menyuguhkan pemandangan yang begitu memanjakan mata mereka.


"Kharisa, bagaimana kau tahu pemandangan di sini sangat indah?" kata Gara antusias.


Pulau kecil dengan air laut yang sangat jernih berwarna biru terus menyuguhkan atraksi beberapa ekor penyu yang berada tidak jauh dari dermaga itu.


"Aku hanya tidak sengaja melihatnya di beranda Instagram waktu itu." ujarnya berjalan menyusuri dermaga di pandu oleh seorang yang akan menunjukkan mereka hotel, lebih tepatnya hanya sebuah penginapan yang sederhana saja.


Beberapa pengunjung yang tengah snorkling itu tampak melihat ke arah mereka. Siapa lagi yang menjadi pusat perhatian para turis selain ketampanan Gara yang begitu menggoda.


"Silahkan Pak, Bu. Ini kamarnya dan jika ada yang di butuhkan ini ada nomor telepon saya." ujar seorang pria yang tampak ramah.


"Terimakasih yah, Pak." sahut Kharisa sementara Gara hanya diam saja.


Keduanya masuk dan membiarkan pemilik penginapan itu pergi setelah memberikan kunci kamar dan mengucapkan salam.


"Hey...hey mau kemana?" tanya Gara ketika melihat Kharisa hendak membuka pintu kamar mereka.


Kharisa mengernyitkan dahinya kemudian membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.


"Mau ke depan. Aku tidak sabar melihatnya." ucap Kharisa.


"Ini bulan madu, bukan liburan." ucap Gara ketus.


"Lalu?" tanya Kharisa datar.


Gara berjalan mendekati sang istri tanpa mengalihkan tatapan matanya. Kharisa meneguk kasar salivahnya.


Tentu ia tahu tujuan Gara saat ini, senyuman pun menyungging di wajah wanita itu. Dengan gerakan cepat ia berlari keluar dari penginapan sederhana itu menuju dermaga di depan penginapan mereka.


"Kharisa!" teriak Gara yang melihat tingkah istrinya kabur keluar.


Keduanya berlari berkejaran di atas jembatan kayu yang kokoh. Tawa Kharisa terdengar hingga mengundang rasa penasaran para wisatawan.


"Aku masih mau di luar." ucapnya saat langkah kakinya terhenti tepat di ujung dermaga.


"Masih banyak waktu, ayo masuk." sahut Gara yang sudah berhenti berlari dan berjalan semakin dekat pada istrinya.


"Aku tidak mau. Ayolah mengerti ini tempat yang sudah lama aku impikan. Pulau Dermawan."

__ADS_1


Dahi Gara mengkerut. "Derawan. Sejak kapan kau jadi kacau membaca seperti itu?" ledek Gara yang seketika tangannya sudah menjangkau tubuh sang istri.


"Gara, lepaskan! turunkan aku." pekiknya meronta-ronta dalam gendongan sang suami.


"Tidak, kau belum memberikanku makan. Kita makan dulu biar bertenaga untuk berenang, oke?"


"Oke kita makan, tapi turunkan aku. Biarkan kita mencari makanan yang di luar saja. Aku ingin makan di pinggir pantai saja." ucap Kharisa.


Gara tersenyum sinis dan terus melanjutkan langkahnya menuju kamar. Menelusuri dermaga panjang itu.


Kemesraan yang benar-benar mencuri perhatian para pengunjung tentunya. Belum sehari mereka ada di pulau itu, namun satu ulah Kharisa sudah tampak mencuri perhatian para mata.


Gara benar-benar romantis. Keduanya masuk ke dalam kamar dan Gara menurunkan istrinya dari gendongannya. Tangannya yang sedikit berbulu itu memutar kunci kamar dan meletakkan kunci itu di saku celananya.


Kharisa menghela napas kasar, dia tahu jika sudah seperti ini tandanya harus pasrah jika ingin segera berakhir dan cepat menikmati liburannya.


Gara mulai menuntun sang istri menuju tempat tidur empuk itu, suasana hening sesekali terdengar suara orang yang ramai di laut menikmati speed dan lain-lainnya.


Di dalam kamar, keduanya saling beradu bibir, berpagutan begitu lembut dan perlahan semakin memperdalam. Lenguhan Kharisa perlahan terdengar saat tangan suaminya menelusuri bagian tubuhnya dari balik pakaian itu.


Gara begitu bergairah saat ini, bahkan ia tak memberikan sedikit pun kesempatan Kharisa untuk mengambil napas.


Seluruh pakaiannya sudah terlepas satu persatu. Begitu pun dengan Kharisa yang sudah terbaring kini mulai di tuntun Gara untuk melepaskan pakaiannya. Keduanya semakin memperdalam aksi panas itu hingga tak ada lagi kesadaran yang menguasainya.


Tubuh keduanya berkeringat dan memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi.


"Aku lapar." ucap Kharisa.


"Sebentar aku akan meminta makanan di antar ke kamar." jawab Gara.


"Makan di luar." ucap Kharisa memelas.


"Tidak. Besok baru ada aktifitas di luar. Hari ini jadwalnya kita."


Kharisa hanya bisa terdiam mendengar penuturan Gara. Kali ini sepertinya tubuhnya akan mengalami penurunan yang drastis, terutama lemak di tubuhnya. Gara akan begitu aktif mengajaknya olahraga.


Kegiatan mandi telah usai, keduanya melanjutkan makan, tidak cukup sampai di situ. Gara yang melihat penampilan sang istri yang sangat menggoda dengan dress berbahan silk satin itu kembali membawa Kharisa ke atas tempat tidur.


"Berbaringlah, aku ingin bersamamu di tempat tidur." Gara memeluk tubuh istrinya dan sesekali tangannya menyelusup ke bagian dada sang istri.

__ADS_1


Tak ada percakapan keduanya. Hanya menikmati siaran televisi di depannya. Sementara tangan pria itu terus aktif berusaha memancing kembali gairah keduanya.


Cukup lama keduanya tampak terdiam sampai akhirnya mereka kembali melakukan hubungan itu.


Benar-benar berbulan madu yang panjang sepertinya.


***


"Sepi banget nggak ada Kak Risa." ujar Vino di sela-sela makan malam hanya bersama keluarga yang tersisa di rumah.


Nyonya Harina dan Tuan Tedy tersenyum mendengarnya. "Sabar sayang, nanti mereka pulang semoga bawa anggota keluarga baru biar rumah kita ramai." sahut Nyonya Harina.


"Hehe iya, Bu."


Tiba-tiba seseorang berjalan cepat dari arah depan. Pelayan itu menundukkan kepalanya sedikit memberi isyarat pada majikannya saat tiba di depan mereka.


"Maaf Tuan, Nyonya, di depan ada seorang pria dengan beberapa pengawalnya semuanya serem sekali." terang Bi Silvi bergidik ngeri.


"Siapa yah Ayah?" tanya Nyonya Harina penasaran dan segera beranjak dari tempat duduknya.


"Ibu, biar saya saja yang melihatnya." ujar Randa yang hendak keluar namun gerakan tubuhnya saat mendorong pelan kursi terhenti mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali.


"Apa kabar Tedy? Harina? kalian sepertinya sangat menikmati makan malam ini yah?" sapa seseorang dengan perawakan kebuleannya.


"Kau...berani sekali kau menginjakkan kaki di rumahku!" Tuan Tedy geram dan tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Amarah yang beberapa waktu ini selalu berusaha ia hilangkan atas permintaan sang istri demi kesembuhannya.


"Dan kau...berani sekali kau hidup dengan layak setelah apa yang kau lakukan pada kelompokmu. Penghianat!" pekiknya menatap tajam ke arah Randa.


"Apa kau lupa berurusan dengan siapa? hah? jawab!" Mr. Dave tampak melempar vas bunga yang tidak jauh darinya.


Seketika kemarahan Tuan Tedy naik. Pria melangkah dengan penuh emosi menuju ke arah pria yang membuat onar di rumahnya.


"Ayah, jangan!" Nyonya Harina berteriak hendak meraih lengan suaminya namun kalah cepat dengan langkah Tuan Tedy.


"Kau pikir kau siapa? kau sudah membuat putraku hampir meregang nyawa! Akan ku bunuh kau!" Tuan Tedy berteriak hendak menghajar Mr. Dave, namun beberapa pengawalnya langsung menangkap Tuan Tedy.


Tampak senyuman menyeringai di wajah Mr. Dave. "Lepaskan!" teriak Tuan Tedy.

__ADS_1


"Lepaskan dia!" teriak Randa.


Nyonya Harina mendekati sang suami dan ketakutan. Ia takut jika suaminya akan kambuh lagi di saat seperti ini.


__ADS_2