
Akhirnya dengan wajah kesalnya Gara meminta waktu sebentar untuk bicara dengan Kharisa. Wanita yang sama sekali tidak ia cintai bahkan tidak ia kenal. Dan Tuan Tedy pun mengijinkannya, setidaknya mereka berdua harus memiliki waktu sebentar untuk bicara mengenai pernikahan mereka.
"Aw sakit." suara Kharisa merintih dan mengusap pergelangan tangannya yang sudah di cengkram begitu erat pada Gara.
"Sakit? sakit katamu? ku fikir kau tidak bisa merasakan apa pun seperti urat malumu yang sudah putus. Bisa-bisanya kau merayu seorang pria yang sudah bau tanah seperti ayahku untuk kau jadikan senjata kekayaanmu." Gara begitu menghina Kharisa dengan lancangnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf, jika memang begitu pandangan anda pada saya. Saya sadar saya memang wanita yang tidak memiliki kekayaan seperti keluarga anda, tapi ingat satu hal Tuan Gara Crisswong! saya bukan wanita yang serendah seperti yang anda katakan barusan. Saya memiliki karier yang baik dan masih banyak perusahaan ternama di luar sana yang menawarkan jabatan yang tidak kalah tinggi dari Ayah anda Tuan." tutur Kharisa dengan menekan nada bicaranya begitu marah.
Gara yang tertawa mendengar perkataan Kharisa merasa tidak percaya akan hal itu. "Silahkan buktikan perusahaan mana yang mau memperkerjakan wanita sepertimu. Dan satu lagi jangan terlalu membanggakan dirimu yang rendah itu." pekik Gara dengan menunjukkan jari telunjuk tepat di depan wajah Kharisa.
Mendengar hinaan itu hari Kharisa semakin sakit, matanya tampak berkaca-kaca. Tapi Kharisa tidak akan semudah itu untuk mau membiarkan siapa pun menghina dirinya.
__ADS_1
"Tuan Gara, jika memang anda bisa berfikir seperti itu anda salah besar. Justru saya menerima permintaan Tuan Tedy untuk membantunya mengelola perusahaan karena saya prihatin satu-satu harapan Tuan Tedy sayang tidak bisa di harapkan. Karena jauh mementingkan egonya di banding keluarganya." ucap Kharisa menekan nada bicaranya kembali.
Gara begitu kesal mendengar perkataan yang Kharisa katakan padanya. "Ingat sekalipun aku tidak bisa menolak permintaan Ayah menikahimu, jangan mimpi untuk mendapatkan apa yang kau mau! Ingat perkataanku, aku tidak akan bisa menerima kehadiranmu selamanya. Pernikahan ini tidak lebih dari permainan yang akan kita mulai. Ingat!" pekik Gara dengan memberi ingatan pada Kharisa.
Ucapan Gara begitu menyayat hati Kharisa sungguh sakit yang begitu menyayat-nyayat hatinya. Tidak pernah sekali pun Kharisa berfikir jika ia akan bertemu dengan seorang pria yang sebegitu kasarnya dalam berucap.
"Pupus harapanku mencintai pria pertama setelah Ayah yang begitu ku nanti. Dan sekarang aku harus harus bertemu dan menikah dengan pria sepertinya. Tidak Kharisa, percayalah kau akan mendapatkan kebahagiaan dari apa yang sudah kamu lakukan dengan baik." ucapnya dalam hati dan segera meninggalkan Gara yang masih berdiri di sana.
Kini Kharisa sudah kembali ke ruangan menemui Tuan Tedy yang menunggu keputusan dari mereka. "Bagaimana? di mana Gara, Kharisa?" tanya Tuan Tedy tanpa mau tahu perasaan Kharisa.
"Mengapa kau memanggilnya Tuan? kalian sudah akan segera menikah. Panggil saja Gara atau panggilan sayang lainnya." seru Tuan Tedy terkekeh.
__ADS_1
Namun keduanya hanya terdiam tanpa membalas tawa Tuan Tedy. "Secepatnya Ayah akan mengurus pernikahan kalian. Dan ingat Gara kau tidak akan Ayah ijinkan untuk keluar negeri tanpa seijin istrimu setelah menikah." pintah Tuan Tedy.
Lagi-lagi Gara tidak menjawab perkataan ayahnya, ia sangat berat jika harus menikah dengan wanita dan melihat penampilan Kharisa sangat jauh dari seleranya. Kharis terkesan jauh lebih formal dan tidak sama sekali menunjukkan bagian tubuhnya seperti Reynka. Meskipun Reynka seorang Dokter, tetapi tetap saja jika berpakaian sungguh membuat Gara sangat senang. Mengenakan dress mini seperti yang Gara sukai. Pria itu begitu senang melihat wanita yang tampil sangat anggun.
Tetapi jika di lihat tentu wajah kedua wanita itu memang berbeda, Kharisa berparas manis. Sementara Reynka hanya berparas seperti wanita bule pada umumnya.
Setelah Tuan Tedy mengawasi keduanya yang sibuk bekerja di satu ruangan tampak Gara sesekali bertanya pada Ayahnya. Tuan Tedy terus sabar mengajari putranya sementara Kharisa tampak dengan cekatan memperhatikan setiap lembar berkas satu demi satu. Sesekali Tuan Tedy melirik ke Kharisa, ia tersenyum sudah berapa lama mereka berada di ruangan itu namun tak sedikit pun Kharisa bertanya padanya.
Hal itu menandakan jika Kharisa memang benar-benar mau mempelajari semua yang Tuan Tedy berikan saat ini. Sampai hari sudah terlewatkan begitu banyak, kini tak terasa hari sudah siang. Tuan Tedy pun memutuskan untuk segera makan dan mengajak dua anak itu.
"Ayah pergilah makan dengannya, Gara masih kenyang." tuturnya dengan menatap tajam pada Kharisa.
__ADS_1
"Tidak, kalau kalian berdua tidak ada yang mau makan, Ayah juga tidak akan makan biar kalian berdua puas jika Ayah sakit dan mati cepat." ancam Tuan Tedy begitu menakutkan kali ini.
Lagi-lagi ia memanfaatkan kelemahan fisiknya demi menyatukan dua insan yang sama-sama keras kepala itu. Andai Kharisa tidak memiliki rasa yang begitu besar pada Tuan Tedy hingga menganggapnya seperti orang tua sendiri, tentu ia tidak akan pernah mau perduli dengan apa yang Tuan Tedy katakan. Tapi wanita itu tidak setega itu pada Tuan Tedy hingga ia harus menuruti setiap permintaan Tuan Tedy selagi semua bisa ia lakukan.