Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 96. Dendam Sia-sia


__ADS_3

Hal yang paling berbahaya adalah ingatan buruk yang terus semakin tumbuh di dalam hati seseorang. Hingga seluruh pencapaian demi melampiaskan dendam tanpa perduli sasaran. Hal yang paling mulia adalah mengikhlaskan dan berusaha menjadi yang terbaik agar tidak melakukan hal yang sama dengan yang di alami.


___________________________________________


Tidak ada lagi sosok misterius yang selalu menjadi tanya dalam benak pembisnis sukses hingga mereka begitu was-was dengan seluruh kekayaannya. Namun siapa yang tahu jika pelenyapnya adalah Hengki. Dalam dunia gelap tidak akan sulit untuk menghilangkan jejak kematian seseorang tentunya.


Kini semua usaha kerja keras seorang Mr. Dave sudah berakhir sia-sia tanpa ada hal yang memuaskan. Bahkan pembalasan kematian keluarganya pun masih membuat dirinya tidak puas.


Waktu perlahan namun pasti berlalu, membuat rembulan yang tadi gagah menguasaialam, perlahan harus rela bergeser demi sang mentari.


Silau sinar mentari di Kota kecil tersebut tampak menyelinap di sela-sela gorden bernuansa putih tulang itu.


Kharisa mengerjapkan matanya kemudian mengusap pelan kedua kelopak mata itu. Masih sangat pagi untuk ia bersiap.


"Wah... indahnya." ujarnya menatap tenang pada tampilan sungai yang terlihat tenang di depan hotel tersebut. Sebuah kapal tongkang pemuat batu bara terlihat melintas dengan tenang.


Berbentuk seperti pegunungan yang berjalan di atas laut.


"Kenapa tidak membangunkan ku?" tiba-tiba suara Gara terdengar di telinganya.


Kedua tangan yang berbulu itu melingkar di pinggang rampingnya. "Ini masih terlalu pagi, aku hanya tidak ingin tidur lagi makanya bangun. Lagi pula kau terlihat kelelahan." jawabnya masih terus memandangi pemandangan di depan.


"Masih ada waktu, kita mandi bersama? Hem?" tanya Gara yang lebih tepatnya mengarah sebuah permintaan.


Kharisa pun tersenyum menyanggupi permintaan sang suami. Keduanya kembali memadu kasih di kamar mandi tepatnya di dalam bathtub yang sudah terisi air dan aromaterapi.


***


"Halo, Bu. Bagaimana Ayah?" tanya Gara ketika mendapat telefon dari Nyonya Harina.


"Ayahmu masih belum sadar di ruang ICU, Gara. Kalian dimana?"


"Kami sudah di bandara, Bu. Semalam tidak sempat pulang karena perjalanannya sang jauh dari bandara." tutur Gara.


"Baiklah Nak, Kharisa baik-baik saja kan?" tanya Nyonya Harina cemas pada menantunya.

__ADS_1


"Ibu Kharisa baik, tunggu kami sampai di sana yah? Kami segera menemani Ibu." Kharisa yang bertutur kata begitu lembut setelah merebut ponsel sang suami tak menyadari tatapan sendu Gara.


"Ternyata ini yang Ayah dan Ibu inginkan dari menantunya. Kau benar-benar menantu idaman Kharisa. Aku bangga memilikimu." batin Gara sedikit menyunggingkan senyuman.


"Kasihan Ayah, laki-laki si Mr itu harus segera di tangkap. Membuat onar saja." celoteh Kharisa sembari menggeret kopernya menuju pintu pemberangkatan.


Langkahnya terhenti saat menyadari jika ia tengah mengoceh seorang diri. "Ya ampun..." ucapnya menepuk dahi melihat Gara berdiri mematung seraya tersenyum.


"Halo...ayo masuk." ajak Kharisa yang kembali berjalan mendekati Gara setelah sadar jika suaminya itu berdiri mematung.


"Hah? ada apa?" tanya Gara gelagapan.


"Masuk!" ucap Kharisa.


Keduanya menuju tempat check in lalu tak lama terdengar perintah agar segera boarding. Tak menunggu lama, keduanya mulai mengikuti jalur menuju ke pesawat.


Gara benar-benar merubah hidupnya menjadi sederhana. Biasanya yang selalu mendapat fasilitas jet pribadi kini harus mengikuti banyaknya peraturan yang berlaku di bandara.


"Apa tidak ada pesawat yang lebih bagus lagi?" tanya Gara merasa duduknya tidak leluasa di dalam pesawat itu.


Gara memilih memejamkan matanya dan mulai menikmati perjalanan tanpa mau menjawab Kharisa lagi. "Dasar mafia, kebiasaan hidup enak!" batin Kharisa.


Perjalanan yang begitu memakan waktu akhirnya mengantarkan Kharisa ikut terlelap di samping suaminya. Suhu di dalam pesawat pun semakin dingin. Gara terbangun kala merasakan tangan sang istri bergetar mungkin karena kedinginan.


Ia meraih tangan itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Kharisa pun tak sadar jika kepalanya sudah di sandarkan pada dada bidang pria itu.


Ia lebih melanjutkan tidurnya hingga tak terasa dengan makanan yang di hidangkan di depan mereka.


Sedangkan di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama tampak sosok Randa yang terbaring pasrah di atas kasur empuknya. Wajahnya lebam banyak bekas luka yang masih terlihat basah oleh darah.


"Permisi." Suara salah satu pelayan terdengar pelan sembari mendorong pintu kamar itu.


"Masuk, Bi." pintah Randa.


"Saya bawakan alat kompres, Tuan. Dan ini obatnya harus Tuan minum setelah makan." ucap Bi Silvi.

__ADS_1


"Terimakasih, Bi." sahut Randa.


Pria itu berusaha bangun namun ia kesulitan karena otot perutnya terasa begitu sakit setelah mendapat beberapa kali injakan dari para teman yang saat ini menjadi musuhnya.


"Saya bantu, Tuan." ujar Silvi dengan hati-hati meraih lengan Randa dan menyandarkan pria itu pada sandaran tempat tidur.


"Terimakasih yah." ucapnya sembari meringis menahan sakit.


Dengan telaten wanita itu mulai menempelkan alat kompres pada luka-luka yang tampak membiru itu agar tidak bengkak.


Randa pun hanya diam sesekali merintih. Suasana hening, tidak ada percakapan di antara mereka.


"Permisi, Tuan. Saya bawakan makan untuk Tuan." ujar Bi Yati yang berusia lebih tua sekitar empat puluh tahunan. Sementara Silvi masih berusia dua puluh lima tahun.


"Silvi, ini makanan untuk Tuan Randa. Kamu tolong bantu makankan yah? Saya mau siapkan pakaian untuk Nyonya di rumah sakit." ujar Bi Yati.


"Baik, Bi. Nanti biar Silvi saja yang urus Tuan Randa." jawabnya lemah lembut.


Pintu kamar pun tertutup setelah Bi Yati pergi keluar. Silvi tampak canggung melihat tatapan Randa padanya.


"Silvi, kamu usia berapa?" tanya Randa datar.


"S-saya dua puluh lima tahun, Tuan." jawabnya sembari menunduk dan tanpa sadar tangannya yang memegang kompres justru bergerak mengarah ke bagian intim Randa.


"Kamu kenapa?" tanya Randa sedikit menyunggingkan senyum saat melihat tangan Silvi mengarah pada miliknya.


Silvi yang melihat wajah Randa seketika mengarahkan pandangannya pada tangannya. "Astaghfirullah..." ujar Silvi terkejut dan langsung menarik tangannya cepat.


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja. Oh iya ini sudah selesai. Saya bantu Tuan makan sekarang yah? baru minum obatnya." ujar Silvi dengan wajah yang sudah merona.


Randa hanya menikmati seluruh pelayanan Silvi tanpa komentar.


***


"Aku pulang capek-capek begini kelakuan kamu? dasar wanita tidak tahu diri kamu! keluar dari rumahku! kalian semua keluar!" teriakan seorang pria menggelegar di dalam rumah megah tersebut kala melihat lima orang pria tampak menikmati tubuh satu wanita yang mereka keroyok di dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2