
Di dalam kamar suara tarikan lemari pakaian terdengar memecahkan keheningan.
Gara masih berdiri menatap sang istri yang berdiri di depannya sedikit lebih jauh. "Mandilah, aku akan menyiapkan pakaian." pintah Kharisa dengan tanpa menatap sang suami.
Perlahan langkah itu pun menjangkau tubuh Kharisa tanpa di sadari oleh sang pemilik tubuh. Kedua tangan melingkar serentak saling bertemu di depan perut rata itu. "Bantu aku melewati semuanya kedepannya." lirih Gara di telinga Kharisa saat dagu itu mendarat di bahu sang istri.
Kharisa sontak terkejut merasakan hal yang benar-benar tidak di sangka. Perlahan ia meraih wajah suaminya dan membalikkan tubuhnya agar berhadapan. "Apa itu? kita sudah suami istri. Tentu akan bersama melewati semuanya, bukan?"
Gara menatap netra indah itu, begitu dalam. "Bantu aku melewati semua hal yang sudah ku lakukan pada banyak orang." ujar Gara menatap Kharisa menjadi sendu.
Kharisa pun tersenyum lalu mengangguk. "Iya, kita akan lewati bersama. Apa pun yang ingin kau lakukan aku akan mendukungmu."
Bahagia. Bahagia sekali Gara benar-benar merasakan cinta yang tulus dari seorang istri. Mungkin ini yang namanya cinta, pikirnya di dalam pelukan erat itu.
Terkadang seseorang tidak menyadari ketika cinta datang. Namun cinta tidak bisa turun pada sembarang orang. Cinta hanya akan bisa di rasakan pada sosok yang memiliki ketulusan dan jiwa yang besar. Dan kini Cinta sudah datang pada mereka.
"Sudah mandilah, bau." Kharisa melepaskan pelukannya pada tubuh Gara.
Wajahnya tersenyum melihat ekspresi wajah suaminya yang kembali menyeramkan. "Jangan menakutkan seperti itu, nanti air takut menyentuhmu." ledek Kharisa.
Baru saja rasanya Gara ingin bermanja-manja pada istrinya, namun Kharisa sudah kembali menyadarkan siapa dirinya. Pria yang tidak pantas memiliki perawakan manja sama sekali.
Kharisa tersenyum senang melihat kepergian Gara ke kamar mandi dan melanjutkan memilih pakaian untuk suaminya.
Setelah selesai dengan aktifitas itu, Kharisa beranjak keluar kamar. Ia melangkah menuju ke arah kamar sang adik.
Tangan mungilnya mengetuk pintu tiga kali.
Tok
Tok
Tok
Kedua pria yang tengah fokus belajar kini melirik ke arah pintu kamar mereka. Yah mereka sedang bersama di kamar milik Vano untuk belajar bersama.
Knock pintu terputar dan perlahan terbuka. "Kalian sedang belajar?" tanya Kharisa seraya tersenyum.
__ADS_1
"Masuklah Kak, ayo gabung dengan kami." panggil Vino langsung menghentikan kegiatan belajarnya di ikuti dengan Vano.
Kharisa menghela napasnya perlahan namun masih menunjukkan senyum teduhnya. Tangannya mengusap lembut kepala kedua adiknya.
"Adik Kakak sekarang sudah dewasa yah? kalian berdua sangat tampan. Rasanya Kakak jadi rindu Vino dan Vano yang kecil." ujar Kharisa menatap kedua adiknya penuh cinta.
"Kakak juga sekarang sudah tua hahaha." Vino bersuara memecah keheningan kemudian menghambur memeluk sang Kakak. Vano juga ikut memeluk sang Kakak. Ketiganya begitu saling menyayangi.
"Kakak sudah melewati banyak moment saat kalian kecil dulu. Pasti kedua adikku ini sangat menggemaskan dulu. Sayangnya Kakak tidak bisa melihat hal itu." Entah kenapa mendadak Kharisa merasa waktu begitu banyak memisahkan mereka dan keluarganya.
Kehidupan yang begitu singkat untuk menikmati rasanya saling mengasihi sesama saudara. Perlahan namun pasti buliran bening itu lolos di pipi Kharisa. Sungguh ia tidak bisa membayangkan nasib keluarganya yang terpecah belah seperti dulu.
Pelukan yang tadinya hanya lembut berubah menjadi semakin erat. Vino dan Vano yang awalnya tersenyum merasa ada yang aneh.
"Kak, mengapa menangis? Kita sudah bersama sekarang Kak. Kakak berhak bahagia." ujar Vano melepaskan pelukannya.
"Em... tidak. Kakak hanya terharu bisa berkumpul dengan adik Kakak ini dan melihat kalian sekolah sekaligus bekerja." sahut Kharisa.
"Kita sayang sama Kakak. Kita berdua tetap jadi adik kembar Kak Risa yang kecil kok hehehe." sahut Vino.
Tidak ada yang lebih besar dari pada kenikmatan bersama keluarga yang Kharisa miliki saat ini. Tuhan benar-benar baik telah memberikan mereka hidup utuh lagi, meski kedua orangtuanya sudah tidak lagi ada.
Di sela-sela langkah Kharisa menuju ke dapur ia tersenyum lembut sembari mengucapkan dalam hati, "Ayah, Bunda, kami rindu. Kalian bisa lihat anak-anak kalian di sini hidup bersama kan? kami tidak lagi terpisah. Andai kalian ada pasti semuanya begitu terasa lengkap." batin Kharisa kembali mengusap kasar air matanya.
Wanita itu telah sampai di dapur dan membuat cemilan kentang goreng. Dan tak lupa Kharisa juga menyajikan susu untuk kedua adiknya beserta anggota keluarga lainnya.
Pelayan juga ikut membantu untuk menyiapkan kentang dengan potongan yang berbentuk panjang-panjang.
Di dalam kamar, Gara tampak menatap ke setiap sudut ruangan kamarnya. Matanya yang selalu terlihat tajam begitu menakutkan. Meski ia tidak sedang marah, entah tatapan itu selalu membawa aura kelam di sana.
Netra hitam kecoklatan itu menangkap pakaian yang sudah di sediakan oleh sang istri tercinta. Ia memakai pakaian dengan gerakan cepat kemudian keluar kamar tanpa menata rambutnya.
Matanya terus menyorot setiap bagian rumah. Pintu kamar Vano terbuka dengan cepat.
"Astaghfirullah Kakak ipar." ujar keduanya kaget. Gara yang hanya memandang tajam memastikan istrinya tidak ada kembali menutup pintu kamar tanpa mengatakan apa pun.
"Ada apa dengannya?" tanya Vano.
__ADS_1
"Halah, biasalah mabuk cinta." sahut Vino santai.
"Mabuk cinta..." Vano tampak tidak mengerti dengan bahasa saudara kembarnya.
"Anggap aja laut. Bisa buat mabuk." Vino acuh.
Sedang Gara sudah melangkahkan kakinya dengan lebar. "Bu, dimana istriku?" tanyanya.
"Memang hanya kamu yang memiliki istri?" Tuan Tedy terdengar mengejek putranya.
"Ayah." tegur Nyonya Harina lagi.
"Kharisa...ya ampun Gara." Nyonya Harina setengah berteriak karena belum saja ia selesai menjawab anaknya sudah melangkahkan kakinya pergi dari ruang tengah itu.
Kedua orangtuanya hanya menggeleng seraya tersenyum. Gara benar-benar menggemaskan jika sudah tentang Kharisa.
"Seperti Ibu waktu kita pacaran dulu." sahut Tuan Tedy.
"Ih...Ayah nih. Ayah loh yang ngejar-ngejar Ibu dulu. Kalau Ibu tidak masuk sekolah sehari saja Ayah pasti panik sampai minta di anterin sama bodyguard segala ke rumah." ujar Nyonya Harina terkekeh mengenang masa bucin-bucinnya suaminya dulu.
"Ibu masih ingat saja sih?" Keduanya kembali menonton televisi tanpa memperdulikan Gara yang sudah mondar-mandir di rumah besar itu.
***
Sejak malam itu suasana rasanya begitu manis. Tidak ada lagi masalah, bahkan Kharisa dan Gara sudah sama-sama tidak bisa saling lepas. Mereka begitu menikmati masa pacaran mereka setelah sama-sama jatuh cinta.
Bahkan Reynka pun sudah tidak lagi pernah memunculkan wajahnya di depan sang mantan kekasih yang membuatnya tergila-gila.
Saat ini, di sebuah pulau kecil. Tepatnya di Kalimantan. Jauh dari kata mewah, tampak sepasang suami-istri tengah menikmati momen bulan madu mereka.
Yah Kharisa memilih pulau Derawan untuk berbulan madu dengan sang suami. Perjalanan yang sangat melelahkan memang. Tapi Gara tentu tidak dapat menolak keinginan bos besarnya.
"Kharisa, kau yakin ingin bulan madu kesini? apa kita tidak kembali dan mencari tempat yang jauh lebih baik?" tanya Gara setibanya di bandara yang tidak begitu besar.
Kharisa hanya tersenyum. "Aku sudah lama menginginkan tempat ini. Apa kau akan tega menolaknya?" tanya Kharisa menatap lesu sang suami.
"Baiklah, ayo kita segera masuk taksi." Gara menggeret koper keduanya menuju taksi bandara yang sudah tersedia di depan.
__ADS_1