
Mobil yang melaju memecahkan keramaian seketika merubah tujuan awal yang hendak menuju ke kantor. "Yah, aku harus bertemu langsung dengan Dokter." ungkap Gara.
Dua puluh menit kemudian, akhirnya Gara tiba di rumah sakit. Ia segera menuju ke ruang Dokter karena memang sudah mengirimkan pesan janji.
Hentakan sepatu pantofel milik Gara terdengar merdu saling bersentuhan seiring gerakan kaki jenjang pria tampan itu. Ia sampai di depan pintu ruangan Dokter.
Tangan kekar itu mengetuk pintu kemudian memutar knock pintu. "Silahkan masuk, Tuan." tutur Dokter.
"Terimakasih, Dok." sahut Gara.
Pria itu mendaratkan bokongnya di kursi. Dan tanpa banyak kata, ia langsung mengatakan semua yang terjadi dengan Kharisa, istrinya. "Jadi, kira-kira apa yang di alami istri saya, Dok? saya khawatir."
"Kalau begitu anda bisa segera membawa pasien untuk kami periksa lebih lanjut, Tuan. Dan setelah itu jika memang pasien menderita penyakit bipolar, kita akan segera menindaklanjutinya."
"Tapi apa anda memiliki pemikiran yang sama dengan saya, Dok?"
"Sepertinya jika memang ciri-ciri yang Tuan katakan benar terjadi pada pasien, ada kemungkinan itu memang benar, Tuan."
Usai kesepakatan keduanya, Gara segera bergegas pergi dari rumah sakit. Ia melajukan kembali mobilnya menuju ke perusahaan untuk menghadiri meeting sebentar. Di tengah-tengah perjalanan ponsel Gara pun berdering.
Gara meraih ponselnya kemudian menempelkan benda tipis itu pada daun telinganya. "Hey, apa kau tidak hadir dalam meeting sebentar lagi?" Randa sudah bersuara tanpa menunggu Gara mengucapkan sapa terlebih dahulu.
"Ada apa? aku sudah di jalan."
"Oh baiklah, aku menunggu mu." ucap Randa mematikan sambungan telepon.
Tanpa ia tahu jika saat ini Gara tengah berusaha menenangkan dirinya yang gerogi. "Ah...sial, ini adalah meeting pertama kali ku. Bahkan aku tidak tahu harus melakukan apa saja nanti. Meski sudah melakukan latihan sebelumnya." ucapnya sembari mengusap kasar kepalanya.
"Andai saja Kharisa tidak sakit. Dia pasti bisa membantu ku. Saat ini aku hanya bisa mengandalkan Randa saja." Selama perjalanan Gara tampak gusar. Ia terus memikirkan bagaimana cara untuk mengatasi meeting hari ini.
Tidak ada yang tahu apa yang Gara dapat selama perjalanan singkatnya barusan. Mobil yang sudah terparkir di depan kantor ternama nampak terbuka.
Gara melangkah dengan tubuh yang tidak seperti biasanya. Wajah di tekuk sedemikian kerasnya. Beberapa pekerja di gedung itu nampak menatap heran dan setengah bingung. Bagaimana tidak? Gara pewaris tunggal CW Sejahtera yang tadi pagi terlihat sehat bugar, kini mendadak memperlihatkan kening yang sudah di perban nampak melangkah gontai.
Tanpa perduli lagi, Gara melangkah terus menuju ke ruangan kerjanya. Di sana Randa terlihat mengernyitkan dahi.
"Apa ini? kau habis kecelakaan?" tanya Randa khawatir. Namun saat tangannya hendak meraih kening Gara, pria itu menepis lebih dulu.
"Diamlah! aku sedang sakit. Demi meeting ini aku harus tetap kuat mempresentasikan rencana CSR perusahaan kita." ungkap Gara berusaha mencuri perhatian dari sahabatnya itu.
CSR atau biasa disebut Corporate Social Responsibilty merupakan pendekatan bisnis dengan memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang berkelanjutan dengan memberi manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan bagi seluruh pemangku kepentingan.
Randa tentu tidak tega melihat pernyataan Gara. "Sudahlah, biarkan aku saja yang memimpin meeting ini. Kau bisa belajar lain waktu saja. Saat ini keadaan mu tidak mendukung. Yang penting hadir saja. Oke?"
__ADS_1
Bak mendapatkan payung di hujan yang deras, Gara hampir saja tertawa merdeka. Namun dengan sigap ia membungkam mulutnya. Masih dengan wajah sakit, namun tidak mengurangi raut menyeramkan di wajah tampan itu.
Keduanya pun masuk ke ruang meeting. Randa mulai membuka meeting dengan baik. Pria itu jauh lebih berpengalaman di banding Gara. Gara terus memperhatikan gerakan dan respon masing-masing dari para investor di ruangan itu.
Sungguh meeting yang luar biasa. Tidak ada keraguan sedikitpun dari para investor untuk menerima usulan dari perusahaan CW Sejahtera.
"Ah... cuman seperti ini?" batin Gara lega sembari menyandarkan tubuhnya terdengar napasnya berhembus begitu kasar.
Usai menyetujui kesepakatan semua berlalu pergi dari ruangan meeting. Begitu pun Gara yang sudah meninggalkan Randa tanpa mendengar teriakan Randa.
"Hei, kau mau kemana? kita harus-"
Melihat lawan bicara yang tidak terlihat lagi, Randa hanya bisa menghela napasnya kasar. "Hah ada-ada saja, bukankah tadi dirinya terlihat sakit?"
Di sisi yang berbeda, tepatnya di kediaman Tuan Tedy.
"Kharisa," Nyonya Harina tampak mengusap lembut rambut menantunya yang sejak tadi sudah tidak bersuara lagi.
Sejak kepergian Gara, wanita itu langsung naik ke tempat tidur meringkuk seakan merasakan hal yang tengah bercampur aduk, antara takut dan bahagia.
Beruntung Nyonya Harina mampu memberikan kehangatan dengan pelukannya. Selama itu juga wanita paruh baya itu meneteskan air mata. Sungguh keadaan Kharisa sangat memprihatinkan.
"Mengapa malang sekali nasib mu, Nak?" tutur Nyonya Harina menatap nanar pada wanita yang sudah terlelap dalam pangkuannya itu. Sesekali Nyonya Harina menyeka peluh di kening Kharisa.
Kasih sayang Nyonya Harina tak bisa menutupi rasa rindu Kharisa pada belaian kedua orangtuanya, terutama sang Ibu. Karena itulah sentuhan Nyonya Harina mampu menghipnotis ketegangan yang Kharisa rasakan.
Tiba-tiba suara pintu terdengar terbuka. "Ibu." ucap Gara.
"Kau sudah pulang?" tanya Nyonya Harina pada Gara, namun tidak di jawab.
"Apa dia membuat keributan, Bu?" tanya Gara melihat nafas Kharisa yang sudah teratur bergerak di tubuhnya. Namun penampilan selimut di kamar itu sudah bisa menjelaskan jika baru saja ada kejadian.
"Sst... istri mu baru saja tidur. Ayo ikut Ibu keluar." Nyonya Harina menarik tangan putranya menuju ruang keluarga.
"Gara, apa yang terjadi sebenarnya dengan Kharisa? mengapa Ibu merasakan ada sesuatu yang aneh dari tingkahnya?" tanya Nyonya Harina.
"Bu, Gara belum bisa jelaskan untuk saat ini sebelum kita membawa Kharisa ke rumah sakit." ungkap Gara.
"Ke rumah sakit? apa itu tandanya Kharisa menderita penyakit yang serius, Gara?" tanyanya dengan penuh raut kecemasan.
"Bu, Gara sudah konsultasi dengan Dokter tadi. Dan Dokter menyarankan untuk membawa kembali Kharisa ke rumah sakit agar bisa di pastikan dengan jelas penyakitnya." tutur Gara.
Di tengah-tengah perbincangan keduanya, tampak seorang pria dengan langkah pelannya menghela nafas kasar. "Bu, rupanya di sini? Ayah nunggu di kamar sejak lama."
__ADS_1
Tuan Tedy yang mengejutkan Nyonya Harina dan Gara sontak membuat keduanya melempar tatapan pada Tuan Tedy.
"Ayah." Dengan sigap Nyonya Harina menyambut sang suami membantunya untuk duduk di sofa bersama mereka.
"Apa yang kalian bicarakan? Hem?"
"Itu Ayah..." Nyonya Harina menggantung ucapannya.
"Apa yang terjadi dengan Kharisa, Bu, Gara?" tanyanya penuh selidik.
"Kalian ingin menyembunyikan sesuatu dengan Ayah?" tanya Tuan Tedy lagi.
Setelah lama bungkam, akhirnya Gara mengatakan yang sebenarnya. Ia harus bisa bergerak cepat untuk membawa istrinya ke rumah sakit.
"Astaga, Ayah sungguh tidak menyangka kejadiannya sampai sejauh ini." ungkap Tuan Tedy merasa prihatin pada nasib menantunya.
"Iya Ayah, Ibu juga tidak tega melihat Kharisa sedih seperti tadi. Ibu takut jika Kharisa mengalami... gangguan jiwa." Nyonya Harina melanjutkan ucapannya setelah merasa ragu untuk mengatakannya.
"Bu, Gara tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Setelah bangun nanti Gara akan membawa Kharisa ke rumah sakit."
"Iya, Nak. Lebih cepat lebih baik. Ibu dan Ayah akan mendukung semua usahamu untuk menantu kita, iya kan Ayah?"
Tuan Tedy tersenyum melihat jelas wajah putra semata wayangnya. "Sepertinya anak kita sudah mulai cinta mati yah, Bu? tidak sia-sia Ayah memaksa mereka menikah." tutur Tuan Tedy.
"Ayah, jangan bicara yang tidak-tidak." elak Gara memandang wajah sang Ayah kesal.
"Sudah-sudah, ini bukan waktu untuk berdebat." ungkap Nyonya Harina.
"Apa masih belum mencintai menantu kesayangan Ayah? kalau tidak, Ayah bisa menjodohkan dengan Randa. Sepertinya dia pria yang baik." goda Tuan Tedy.
Manik mata hitam legam milik Gara membulat sempurna. "Ah sudahlah, Gara mau istirahat."
Belum sempat Gara berlalu pergi Nyonya Harina dan Tuan Tedy sadar akan hal yang aneh. "Gara." panggil keduanya serentak dan sukses membuat tubuh Gara kembali berbalik ke arahnya.
"Apa lagi, Bu, Ayah?" tanyanya.
"Itu, kening kamu kenapa? apa terjadi sesuatu?" Nyonya Harina bangkit dari duduknya hendak meraih perban yang menempel sempurna di kening putranya.
"Oh... ini hanya gaya saja, Bu."
"Gaya?" tanya Nyonya Harina mengernyitkan dahinya.
Gara melepaskan perban di keningnya. "Sudah Gara ke kamar dulu."
__ADS_1
Lagi-lagi langkah kaki Gara berhenti saat mendengar suara dari arah pintu. "Oh Tuhan, jadi itu hanya gaya? apa ada hubungannya dengan meeting di kantor tadi?" Randa dengan lantang bersuara sembari meneruskan langkah kakinya.