Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 18. Kharisa Menemani Gara


__ADS_3

"Bu, bagaimana keadaan Gara, putra kita?" tanya Tuan Tedy.


Nyonya Harina yang sangat khawatir berusaha memperlihatkan wajah tenangnya. Ia teringat pesan Kharisa ini semua demi kesehatan keduanya.


"Gara baik-baik saja, Ayah. Sebaiknya kita pulang saat ini biarkan Gara beristirahat saja di temani oleh Kharisa." tutur Nyonya Harina.


Khard yang ikut masuk ke dalam ruangan itu bersama Nyonya Harina hanya berdiam diri tanpa mengatakan apa pun. Tuan Tedy yang menurut pada istrinya kini sudah di bantu Khard untuk berjalan menuju ke mobil.


"Apakah Ibu yakin putra kita baik-baik saja?" Suara uTuan Tedy kembali terdengar selama beberapa saat hening.


Saat ini memberikan senyuman yang begitu tulus sepertinya harus di lakukan oleh Nyonya Harina demi membuat suaminya tenang dan bisa beristirahat dengan baik.


"Iya Ayah, Gara baik-baik saja. Hanya kata Dokter dia butuh waktu untuk mengendalikan tubuhnya yang memiliki beberapa benturan di bagian tubuhnya. Tidak ada yang serius kok." terang Nyonya Harina dan Tuan Tedy hanya menghela nafasnya lega.


Setelah beberapa waktu mereka pun tiba di rumah, Khard yang ikut dengan mobil itu membantu Tuan Tedy masuk ke kamarnya bersama supir mereka.


"Pak Jun, sebaiknya antarkan Khard pulang ke rumahnya kasihan dia pasti sudah kelelahan." pintah Tuan Tedy setelah memastikan tubuhnya telah terbaring dengan sempurna di atas tempat tidur.


"Tuan, itu tidak perlu saya bisa mengendarai taksi saja." Khard merasa keberatan karena tidak seharurnya pimpinannya di repoti olehnya.


"Khard, jangan seperti itu. Menurutlah dan itu akan jauh lebih baik."


Akhirnya Pak Jun pun mengantarkan Khard pulang ke rumahnya, sementara Vino dan Vano yang telah menyadari kedatangan Tuan Tedy segera menemuinya setelah memastikan jika guru privatnya sudah pulang.


"Tok...tok...tok." Ketukan pintu kamar yang terbuka itu terdengar dari luar.


Nyonya Harina dan Tuan Tedy melihat kehadiran kedua adik kembar Kharisa di sana. "Masuklah." pintah Nyonya Harina menyambut Vino dan Vano dengan baik.


"Apa yang terjadi dengan, Paman?" tanya Vino.


"Lihatlah mereka ini sangat lucu, Bu. Kakaknya memanggilku Ayah tapi adik-adiknya memanggilku Paman."


Tuan Tedy dan Nyonya Harina menertawakan mereka berdua yang terlihat cemas. "Panggil saja seperti Kakak kalian memanggil Ayah dan Ibu." terang Nyonya Harina.


"Ba-ik Ayah, Ibu. Lalu apa yang terjadi?" tanya Vano melanjutkan pertanyaan Kakaknya.

__ADS_1


"Tadi kakak ipar kalian kecelakaan dan membuat Ayah jadi syok sampai tidak sadarkan diri-" (Belum sempat Nyonya Harina menyelesaikan pembicaraanya Vino dengan cepat kembali bertanya).


"Lalu bagaimana dengan Kak Risa, Bu?" tanya Vino begitu mengkhawatirkan Kakaknya.


"Lihatlah, apa sebegitu sayangnya kalian dengan kakak kalian sampai yang kecelakaan saja tidak kalian tanyakan justru Kakak kalian yang tidak ada kami sebutkan justru yang kalian tanyakan?"


Vino dan Vano saling menatap, mereka bingung harus mengatakan apa. Memang benar apa yang Nyonya Harina katakan barusan jika yang kecelakaan adalah anak mereka, Gara dan bukan Kakak mereka.


"Em...maksudnya bagaimana keadaan Kakak ipar? apakah dia baik-baik saja?" tanya Vano ikut menimpali .


"Semua baik-baik saja, hanya saat ini Gara masih harus di rawat di rumah sakit. Dan tentunya Kakak kalian harus merawatnya dulu di sana." tutur Nyonya Harina.


"Oh begitu, baiklah syukur semua baik-baik saja. Ayah dan Ibu segera beristirahatlah kalian pasti sangat lelah." tutur Vano dan Vino kemudian segera berpamitan untuk keluar dari kamar itu.


***


Kharisa yang melihat keadaan Gara begitu memprihatinkan kini mendengus kesal. "Huh menyusahkan saja, seharusnya kalau kau ingin kecelakaan jangan di sini mengapa tidak di luar negeri saja. Setidaknya Ayah dan Ibu tidak akan tahu keadaan itu dan membuat mereka mencemaskanmu."


"Sebaiknya aku melanjutkan pekerjaanku saja." tutur Kharisa dengan meminta salah satu karyawan di perusahaan itu untuk mengantarkan tas kerjanya yang berisi beberapa berkas dan juga laptop miliknya.


Kharisa enggan membuang-buang waktu, ia segera mengatur posisi ternyaman di ruangan itu tepatnya duduk di sofa dengan menselonjorkan kedua kakinya sebagai tumpuan untuk laptopnya itu.


"Huuh begini ternyata lebih nyaman dari pada bekerja dengan duduk di kursi kantor."


Hingga waktu tanpa terasa sudah terlewati cukup lama, Kharisa yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya mendengar suara ketukan pintu dari luar ruangan itu. Saat ini mereka sudah berada di ruang rawat semenjak Gara sudah melewati masa kritisnya, Dokter memindahkannya di ruang rawat.


"Loh Pak Jun?" Kharisa terkejut melihat supirnya sudah ada di depan pintu ruangan yang ia buka barusan.


"Tuan Tedy meminta saja untuk mengantarkan baju anda, Nyonya." terangnya dengan nada bicara yang sangat sopan.


"Pak Jun, terimakasih banyak yah. Maafkan saya sudah sangat merepotkan Bapak." sahut Kharisa dengan lebih sopan dan lembut lagi.


"Tidak apa-apa Nyonya, sudah menjadi kewajiban saya, sama sekali tidak merepotkan kok. Kalau begitu saya langsung segera pulang, Nyonya permisi."


Kharisa pun mempersilahkan supir pribadi ayah mertuanya itu untuk segera pulang karena takut jika lebih lama ia akan terkena macet dan tentu itu akan jauh lebih melelahkan lagi nantinya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku mandi dulu biar lebih tenang mengerjakan pekerjaanku." ucap Kharisa dan segera masuk ke kamar mandi.


Kharisa yang tengah asyik menikmati setiap guyuran air di shower yang membasahi tubuhnya tiba-tiba mematikan shower itu.


"Apa benar suara barusan adalah Gara?" tanyanya begitu penasaran.


"Aaaaaa...aaaaaa. Tidak, ini tidak mungkin!" teriak Gara yang begitu syok merasa tangannya tidak bisa bergerak.


Kharisa yang mendengar jelas teriakan itu segera menarik cepat handuknya dan berlari keluar.


"Ada apa?" tanyanya tampak panik.


Tatapan mata Gara tertuju padanya, ia melihat tubuh Kharisa yang masih basah terbalut dengan handuk.


"Astaga." tutur Kharisa yang melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya.


Gara yang sempat terdiam kini kembali teringat akan dirinya yang begitu membuat dirinya kaget.


"Katakan padaku, apa yang terjadi dengan tanganku."


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, itu hanya-" (tutur Kharisa yang belum sempat mengatakan apa pun namun Gara sudah kembali memotong pembicaraannya).


"Apa katamu tidak ada yang perlu di khawatirkan?" Gara kembali bersuara tinggi dengan matanya yang sudah melotot pada Kharisa.


"Dokter! Dokter!" Suara Gara terus berteriak tanpa mau mendengarkan ucapan dari Kharisa. Ia sama sekali tidak mau mendengarkan Kharisa saat ini.


"Hah terserah padamu saja, aku mau kembali mandi." ucap Kharisa dengan masa bodohnya.


Melihat tingkah istrinya rahang Gara kembali terlihat mengeras menahan kekesalannya.


Mata Gara masih menatap ke sekeliling ruangan itu, ia tidak menyangka jika dirinya suda berada di rumah sakit.


Seketika Gara terdiam, matanya tampak kesal ia teringat dengan kejadian terakhir yang membuatnya sampai masuk ke rumah sakit saat ini.


"Ini semua karena wanita itu." tutur Gara menatap tajam ke arah kamar mandi. Kemarahannya sungguh semakin besar pada Kharisa.

__ADS_1


Ditambah lagi sikap cuek Kharisa yang meninggalkan dirinya sendiri dengan masa bodohnya membuat rasa kesalnya semakin menjadi-jadi.


__ADS_2