
Kharisa hanya tersenyum-senyum
mendengar perkataan suaminya. Sepertinya Gara sedang menguji imannya pagi ini.
“Vino dan Vano, berhubung kalian
sedang kosong sekarang mau kan jadi adik yang berbakti dengan Kakak?” tanya
Kharisa dengan senyum penuh harap.
“I-iya Kak.” Sahut kedua adiknya bersamaan.
“Yasudah sekarang jaga kakak ipar
kalian, jangan tinggalkan biar hanya sebentar saja. Kakak pergi dulu. Oke?”
Kharisa mencium wajah Gara kemudian mencium punggung tangan suaminya itu.
Ketiga pria itu terdiam mematung
tanpa sempat menjawab, tubuh Kharisa sudah lebih dulu tertutup dengan pintu
ruangan.
Setelah kepergian Kharisa, kini
Gara kembali menatap Vino dan Vano bergantian dengan tatapan kesal. Beberapa
waktu mereka menghabiskan waktu bersama dengan keheningan sampai akhirnya Gara
teringat akan sosok temannya sekaligus orang kepercayaannya selama ini.
“Vino, Vano, bagaimana keadaan
Randa?” tanyanya tiba-tiba.
“Kami juga belum tahu Kakak ipar.
Nanti kami akan jenguk dulu setelah itu kami beritahu dengan Kakak ipar,
bagaimana?” tanya Vano mengusulkan.
“Tidak, aku ingin segera
menemuinya. Bisakah kalian membantuku?”
Vino dan Vano saling melempar
pandangan, mereka tidak berani untuk menolak. Tapi jika tidak menolak, tentu
keadaan Gara sangat mengkhawatirkan saat ini.
“Ayo cepat bantu aku, kalian tidak
boleh menolak dan tidak berhak menolak.” Sahut Gara dengan menekan memperjelas
perintahnya.
“I-iya Kakak ipar.” Keduanya
membantu Gara untuk mengatur posisi sebaik mungkin. Sesekali Gara merintih
kesakitan karena lukanya memang sangatlah lengkap di setiap titik tubuhnya.
“Kakak ipar yakin baik-baik saja?”
tanya Vino ragu.
“Sudah cepatlah.” Sahut Gara yang
terkejut saat usai meminta tubuhnya di dekatkan pada kursi roda, tiba-tiba
pintu yang tertutup rapat kini terbuka.
“Ibu,” tuturnya dengan wajah yang
tercengang.
Sungguh lucu wajah tampan itu
seketika kikuk karena kepergok oleh Nyonya Harina yang sudah menatapnya tajam.
Entah mengapa wanita itu akhir-akhir ini jadi berubah menyeramkan seperti itu.
“Ada apa, Gara? Untuk apa kursi
roda ini?” Nyonya Harina melangkahkan kakinya semakin mempersempit jarak antara
mereka.
Bunyi haigh heels terdengar
__ADS_1
membentur lantai ruangan itu seiring langkah kaki Nyonya Harina yang tanpa memalingkan
tatapannya pada Gara.
“Bu, aku ingin mengetahui keadaan
Randa.” Sahut Gara masih dengan wajah kakunya.
Tanpa menjawab atau memberikan
ijin, Nyonya Harina sudah meminta Vino dan Vano untuk bergantian dengannya
menjaga Tuan Tedy. “Vino, Vano, kalian jaga Ayah. Ibu ingin bicara dengan Gara.”
“Baik, Bu.” Kedua pria kembar itu
segera bergegas pergi dari ruangan itu dengan cepat.
Nyony Harina segera berdiri dengan
bersedekap di depan Gara yang masih terduduk lemas. “Apa kurang kekhawatiran
Ibu padamu, Gara?”
Sungguh pertanyaan Nyonya Harina
membuat Gara kesulitan meneguk salivahnya sendiri, rasanya seperti gumpalan es
batu yang menyangkut di tenggorokannya saat ini. “Bu-bukan begitu, Bu.” Sahut
Gara menyangkal.
“Lalu? Mengapa masih melakukan hal
nekat seperti ini? Sudah lupakanlah. Sekarang Ibu ingin tahu kebenarannya.
Katakan!”
“Bu, Ibu benar ingin mendengar kebenarannya?”
tanya Gara meyakinkan sang Ibu dengan pasti.
Nyonya Harina masih menatapnya
dengan intens. Gara terlihat menarik nafasnya lalu menghela dengan kasar.
Kemudian ia menceritakan yang sebenarnya mulai dari insiden pemerkosaan yang di
anak dari pria itu.
“Sudah Gara jelaskan, Gara harap
Ibu tidak akan berpikir untuk membuang Kharisa dan anak yang ada di dalam
kandungan itu. Jujur Gara sudah menyayangi calon bayi itu, Bu.”
Usai Gara menjelaskan, Nyonya
Harina terdiam mematung. Kemana tatapan amarah tadi? Tentu sudah larut
bersamaan dengan cerita yang Gara telah ceritakan tadi.
Nyonya Harina menggelengkan
kepala, ia benar-benar telah melakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya
telah melukai hati Kharisa. Buliran bening kini lolos begitu saja di wajahnya.
Tubuh yang tadinya berdiri kokoh seketika ambruk di kursi roda yang ada di
dekatnya.
“Bu...” panggil Gara meski ia
tetap berada di tempat tidur itu.
“Kharisa.” Ucap Nyonya Harina
lirih.
“Mengapa Gara? Mengapa kamu
menyembunyikan masalah sebesar ini dengan Ayah dan Ibu? Hah? Apa kamu tidak
tahu ini benar-benar sangat keterlaluan. Ibu tidak bisa merelakan semuanya di
alami Kharisa. Dia benar-benar malu, dan...dan bagaimana bisa wanita ular itu
mengetahui semuanya?”
“Gara tidak tahu, Bu. Yang pasti
__ADS_1
Reynka tidak akan begitu saja melepaskan Gara. Gara hanya tidak ingin Kharisa
semakin malu jika Ibu dan Ayah tahu tentang kehamilannya.”
Nyonya Harina tampak menundukkan
kepalanya masih tidak habis pikir dengan yang terjadi pada menantunya itu. “Kharisa...malang sekali
nasib mu, Nak.” Ucapnya dengan tangis yang masih terus berlangsung.
***
Di sisi lain, Kharisa yang sudah
berada di kantornya tengah fokus bekerja dengan laptopnya. Masih seperti
hari-hari biasanya, ia penuh dengan semangat meski rasa rindunya pada Gara
semakin memuncak.
Wajah yang tadinya begitu serius
terlihat senyum-senyum berbinar. “Mengapa aku jadi selalu merindukannya sih? Astaga
Kharisa, apa sih yang kau pikirkan? Tenang...fokuslah kau sedang bekerja.” Ucapnya
menyemangati dirinya sendiri.
Meski bersusah payah Kharisa
memfokuskan dirinya untuk bekerja, namun wajah Gara masih saja terus muncul di
layar monitornya.
"Pulang, Kharisa. Aku sakit."
Kharisa memejamkan matanya beberapa kali, kemudian mengusap kasar matanya. "Astaga ada apa dengan ku ini?" gumamnya tampak frustasi.
Tiba-tiba suara ponsel Kharisa berdering tanda pesan masuk.
"Kharisa, bagaimana kabarmu? aku harap kamu baik-baik saja. Aku merindukan mu."
Mata Kharisa melotot pada benda tipis yang ia genggam itu. Nomor yang tidak ia kenal.
"Nomor siapa ini?" tanyanya pada diri sendiri.
"Ah sudahlah." Kharisa acuh dan segera mengabaikan pesan itu. Ia kembali fokus pada pekerjaannya.
Belum beberapa menit ia mengabaikan pesan itu, tiba-tiba ponselnya kembali berdering tanda pesan berikut masuk.
"Jaga anak kita baik-baik yah."
"Hah?" Sontak dada Kharisa terasa sesak. Ia mendorong kasar kursi kerjanya hingga roda kursi itu berada di sudut pembatas ruangan Kharisa.
Sudah bisa di pastikan orang itu adalah ayah dari bayi yang Kharisa kandung saat ini. Wajah Kharisa pucat.
"Tidak...ini tidak mungkin. Aku tidak percaya. Mungkin ini Reynka."
Meski kegelisahan begitu menyerang dirinya, namun Kharisa masih yakin jika Reynka tengah melakukan ini untuk meneror dirinya.
Tubuhnya kembali mendekati meja itu dan meraih ponselnya. Kharisa menghubungi nomor itu untuk memastikan jika benar itu adalah Reynka.
"Halo, Sayang. Apa kau merindukanku?"
"Khard." ucap Kharisa lirih.
Tangannya bergetar ketakutan, kembali memori pemerkosaan saat dirinya tak berdaya terngiang di ingatan Kharisa. Benda tipis itu jatuh dengan sendirinya dari genggaman Kharisa.
Ia berdiri dengan tatapan kosongnya, buliran bening sudah lolos begitu saja di pipi mulusnya.
Keduanya bahu tegasnya bergetar menahan suara tangis. Rika yang mencermati Kharisa dari luar ruangan merasa ada yang tidak beres.
"Kharisa, apa yang terjadi?" Rika yang berlari masuk ke ruang kerja Kharisa segera menangkap tubuh yang saat itu juga hampir jatuh.
Kharisa pingsan di tahanan Rika, "Tolong... tolong." teriak Rika panik sembari membopong tubuh Kharisa menuju sofa.
Beberapa pekerja berlari masuk ke ruang kerja itu.
"Ayo bantu aku membawanya ke rumah sakit." pintah Rika dengan wajah takutnya.
Beberapa tenaga pria kini membawa Kharisa menuju rumah sakit terdekat. Rifal yang sedang berada di lantai dasar merasa penasaran dengan kerumunan di depan lift itu.
Ia melangkah cepat mendekat, dan matanya terbelalak melihat ada Kharisa dan juga Rika di dalam kerumunan itu.
"Ada apa ini?"
Kerumunan pun memecah memberikan jalan untuk pimpinan perusahaan mereka.
"Kharisa tak sadarkan diri di ruang kerjanya, Presdir." sahut Rika gugup.
"Bawa dia ke mobil." pintah Rifal dengan mantap.
__ADS_1