Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 62. Teror


__ADS_3

Kharisa hanya tersenyum-senyum


mendengar perkataan suaminya. Sepertinya Gara sedang menguji imannya pagi ini.


“Vino dan Vano, berhubung kalian


sedang kosong sekarang mau kan jadi adik yang berbakti dengan Kakak?” tanya


Kharisa dengan senyum penuh harap.


“I-iya Kak.” Sahut kedua  adiknya bersamaan.


“Yasudah sekarang jaga kakak ipar


kalian, jangan tinggalkan biar hanya sebentar saja. Kakak pergi dulu. Oke?”


Kharisa mencium wajah Gara kemudian mencium punggung tangan suaminya itu.


Ketiga pria itu terdiam mematung


tanpa sempat menjawab, tubuh Kharisa sudah lebih dulu tertutup dengan pintu


ruangan.


Setelah kepergian Kharisa, kini


Gara kembali menatap Vino dan Vano bergantian dengan tatapan kesal. Beberapa


waktu mereka menghabiskan waktu bersama dengan keheningan sampai akhirnya Gara


teringat akan sosok temannya sekaligus orang kepercayaannya selama ini.


“Vino, Vano, bagaimana keadaan


Randa?” tanyanya tiba-tiba.


“Kami juga belum tahu Kakak ipar.


Nanti kami akan jenguk dulu setelah itu kami beritahu dengan Kakak ipar,


bagaimana?” tanya Vano mengusulkan.


“Tidak, aku ingin segera


menemuinya. Bisakah kalian membantuku?”


Vino dan Vano saling melempar


pandangan, mereka tidak berani untuk menolak. Tapi jika tidak menolak, tentu


keadaan Gara sangat mengkhawatirkan saat ini.


“Ayo cepat bantu aku, kalian tidak


boleh menolak dan tidak berhak menolak.” Sahut Gara dengan menekan memperjelas


perintahnya.


“I-iya Kakak ipar.” Keduanya


membantu Gara untuk mengatur posisi sebaik mungkin. Sesekali Gara merintih


kesakitan karena lukanya memang sangatlah lengkap di setiap titik tubuhnya.


“Kakak ipar yakin baik-baik saja?”


tanya Vino ragu.


“Sudah cepatlah.” Sahut Gara yang


terkejut saat usai meminta tubuhnya di dekatkan pada kursi roda, tiba-tiba


pintu yang tertutup rapat kini terbuka.


“Ibu,” tuturnya dengan wajah yang


tercengang.


Sungguh lucu wajah tampan itu


seketika kikuk karena kepergok oleh Nyonya Harina yang sudah menatapnya tajam.


Entah mengapa wanita itu akhir-akhir ini jadi berubah menyeramkan seperti itu.


“Ada apa, Gara? Untuk apa kursi


roda ini?” Nyonya Harina melangkahkan kakinya semakin mempersempit jarak antara


mereka.


Bunyi haigh heels terdengar

__ADS_1


membentur lantai ruangan itu seiring langkah kaki Nyonya Harina yang tanpa memalingkan


tatapannya pada Gara.


“Bu, aku ingin mengetahui keadaan


Randa.” Sahut Gara masih dengan wajah kakunya.


Tanpa menjawab atau memberikan


ijin, Nyonya Harina sudah meminta Vino dan Vano untuk bergantian dengannya


menjaga Tuan Tedy. “Vino, Vano, kalian jaga Ayah. Ibu ingin bicara dengan Gara.”


“Baik, Bu.” Kedua pria kembar itu


segera bergegas pergi dari ruangan itu dengan cepat.


Nyony Harina segera berdiri dengan


bersedekap di depan Gara yang masih terduduk lemas. “Apa kurang kekhawatiran


Ibu padamu, Gara?”


Sungguh pertanyaan Nyonya Harina


membuat Gara kesulitan meneguk salivahnya sendiri, rasanya seperti gumpalan es


batu yang menyangkut di tenggorokannya saat ini. “Bu-bukan begitu, Bu.” Sahut


Gara menyangkal.


“Lalu? Mengapa masih melakukan hal


nekat seperti ini? Sudah lupakanlah. Sekarang Ibu ingin tahu kebenarannya.


Katakan!”


“Bu, Ibu benar ingin mendengar kebenarannya?”


tanya Gara meyakinkan sang Ibu dengan pasti.


Nyonya Harina masih menatapnya


dengan intens. Gara terlihat menarik nafasnya lalu menghela dengan kasar.


Kemudian ia menceritakan yang sebenarnya mulai dari insiden pemerkosaan yang di


anak dari pria itu.


“Sudah Gara jelaskan, Gara harap


Ibu tidak akan berpikir untuk membuang Kharisa dan anak yang ada di dalam


kandungan itu. Jujur Gara sudah menyayangi calon bayi itu, Bu.”


Usai Gara menjelaskan, Nyonya


Harina terdiam mematung. Kemana tatapan amarah tadi? Tentu sudah larut


bersamaan dengan cerita yang Gara telah ceritakan tadi.


Nyonya Harina menggelengkan


kepala, ia benar-benar telah melakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya


telah melukai hati Kharisa. Buliran bening kini lolos begitu saja di wajahnya.


Tubuh yang tadinya berdiri kokoh seketika ambruk di kursi roda yang ada di


dekatnya.


“Bu...” panggil Gara meski ia


tetap berada di tempat tidur itu.


“Kharisa.” Ucap Nyonya Harina


lirih.


“Mengapa Gara? Mengapa kamu


menyembunyikan masalah sebesar ini dengan Ayah dan Ibu? Hah? Apa kamu tidak


tahu ini benar-benar sangat keterlaluan. Ibu tidak bisa merelakan semuanya di


alami Kharisa. Dia benar-benar malu, dan...dan bagaimana bisa wanita ular itu


mengetahui semuanya?”


“Gara tidak tahu, Bu. Yang pasti

__ADS_1


Reynka tidak akan begitu saja melepaskan Gara. Gara hanya tidak ingin Kharisa


semakin malu jika Ibu dan Ayah tahu tentang kehamilannya.”


Nyonya Harina tampak menundukkan


kepalanya masih tidak habis pikir dengan yang terjadi  pada menantunya itu. “Kharisa...malang sekali


nasib mu, Nak.” Ucapnya dengan tangis yang masih terus berlangsung.


***


Di sisi lain, Kharisa yang sudah


berada di kantornya tengah fokus bekerja dengan laptopnya. Masih seperti


hari-hari biasanya, ia penuh dengan semangat meski rasa rindunya pada Gara


semakin memuncak.


Wajah yang tadinya begitu serius


terlihat senyum-senyum berbinar. “Mengapa aku jadi selalu merindukannya sih? Astaga


Kharisa, apa sih yang kau pikirkan? Tenang...fokuslah kau sedang bekerja.” Ucapnya


menyemangati dirinya sendiri.


Meski bersusah payah Kharisa


memfokuskan dirinya untuk bekerja, namun wajah Gara masih saja terus muncul di


layar monitornya.


"Pulang, Kharisa. Aku sakit."


Kharisa memejamkan matanya beberapa kali, kemudian mengusap kasar matanya. "Astaga ada apa dengan ku ini?" gumamnya tampak frustasi.


Tiba-tiba suara ponsel Kharisa berdering tanda pesan masuk.


"Kharisa, bagaimana kabarmu? aku harap kamu baik-baik saja. Aku merindukan mu."


Mata Kharisa melotot pada benda tipis yang ia genggam itu. Nomor yang tidak ia kenal.


"Nomor siapa ini?" tanyanya pada diri sendiri.


"Ah sudahlah." Kharisa acuh dan segera mengabaikan pesan itu. Ia kembali fokus pada pekerjaannya.


Belum beberapa menit ia mengabaikan pesan itu, tiba-tiba ponselnya kembali berdering tanda pesan berikut masuk.


"Jaga anak kita baik-baik yah."


"Hah?" Sontak dada Kharisa terasa sesak. Ia mendorong kasar kursi kerjanya hingga roda kursi itu berada di sudut pembatas ruangan Kharisa.


Sudah bisa di pastikan orang itu adalah ayah dari bayi yang Kharisa kandung saat ini. Wajah Kharisa pucat.


"Tidak...ini tidak mungkin. Aku tidak percaya. Mungkin ini Reynka."


Meski kegelisahan begitu menyerang dirinya, namun Kharisa masih yakin jika Reynka tengah melakukan ini untuk meneror dirinya.


Tubuhnya kembali mendekati meja itu dan meraih ponselnya. Kharisa menghubungi nomor itu untuk memastikan jika benar itu adalah Reynka.


"Halo, Sayang. Apa kau merindukanku?"


"Khard." ucap Kharisa lirih.


Tangannya bergetar ketakutan, kembali memori pemerkosaan saat dirinya tak berdaya terngiang di ingatan Kharisa. Benda tipis itu jatuh dengan sendirinya dari genggaman Kharisa.


Ia berdiri dengan tatapan kosongnya, buliran bening sudah lolos begitu saja di pipi mulusnya.


Keduanya bahu tegasnya bergetar menahan suara tangis. Rika yang mencermati Kharisa dari luar ruangan merasa ada yang tidak beres.


"Kharisa, apa yang terjadi?" Rika yang berlari masuk ke ruang kerja Kharisa segera menangkap tubuh yang saat itu juga hampir jatuh.


Kharisa pingsan di tahanan Rika, "Tolong... tolong." teriak Rika panik sembari membopong tubuh Kharisa menuju sofa.


Beberapa pekerja berlari masuk ke ruang kerja itu.


"Ayo bantu aku membawanya ke rumah sakit." pintah Rika dengan wajah takutnya.


Beberapa tenaga pria kini membawa Kharisa menuju rumah sakit terdekat. Rifal yang sedang berada di lantai dasar merasa penasaran dengan kerumunan di depan lift itu.


Ia melangkah cepat mendekat, dan matanya terbelalak melihat ada Kharisa dan juga Rika di dalam kerumunan itu.


"Ada apa ini?"


Kerumunan pun memecah memberikan jalan untuk pimpinan perusahaan mereka.


"Kharisa tak sadarkan diri di ruang kerjanya, Presdir." sahut Rika gugup.


"Bawa dia ke mobil." pintah Rifal dengan mantap.

__ADS_1


__ADS_2