Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 35. Tinggal Bersama


__ADS_3

Tuan Tedy yang malam itu tiba-tiba terpikirkan dengan nasib kantornya meminta Nyonya Harina menghubungi Khard.


"Bu, coba tolong Ayah untuk menghubungi Khard." tutur Tuan Tedy dengan suara bergemetarnya.


Nyonya Harina yang sedang duduk di bibir kasur segera bangun dan berjalan mendekati meja. Di sana ponsel Tuan Tedy terletak dengan sempurna.


"Ibu telponkan yah?" ucap Nyonya Harina dan Tuan Tedy mengedipkan sekali matanya tanda mengiyakan.


Tangan Nyonya Harina menekan tombol panggil lalu ia menempelkan benda tipis itu tepat di telinganya.


Beberapa detik ia menunggu telpon itu terhubung namun ternyata nomor Khard sudah tidak bisa di hubungi.


"Tidak aktif, Ayah." jawab Nyonya Ningrum.


"Yasudah mungkin ini juga sudah jam istirahat dia pasti kelelahan. Besok pagi saja Ayah hubungi dia." ucap Tuan Tedy.


Keduanya pun memutuskan untuk makan malam. Di meja makan Tuan Tedy tampak menatap ke segala sudut rumah mereka mencari sosok pria yang tidak lain adalah Gara.


"Gara tidak ada di rumah lagi yah, Bu?" tanya Tuan Tedy.


"Iya, tadi dia pergi katanya ada kerjaan." jawab Nyonya Harina.


Tuan Tedy hanya mendengus kesal lalu menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi Gara pergi dengan hal yang tidak jelas.


***


Di rumah yang tidak begitu besar, kini Kharisa sudah selesai menata makanan di meja makan yang berukuran kecil itu.


"Vano, bangunkan dia." pintah Kharisa.


"Kakak ipar, Kak?" tanya Vano.


"Iya." jawab Kharisa.


Vano beranjak ke kamar Kharisa di sana Gara terlihat memejamkan matanya. "Kalau Kakak ipar tertidur seperti wajahnya sangat tampan. Tapi kalau dia bangun sungguh menakutkan." tutur Vano yang tanpa sadar terdengar oleh Gara.


"Kau menyukai ku?" Suara Gara tiba-tiba terdengar dengan kedua mata yang masih tertutup.


"Em ti-dak, itu anu Kakak ipar di panggil Kak Risa makan." jawab Vano dengan gugupnya dan langsung saja ia berlari keluar kamar menemui saudara.


Gara tersenyum lalu bangun dari tidurnya, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah bantalnya itu.


"Mau kemana?" tanya Kharisa yang bingung. Ia takut jika Gara salah jalan.


"Ke kamar mandi, mau ikut?"


Mendengar ucapan suaminya itu Kharisa membuang wajahnya, ia tampak jadi salah tingkah. Vino dan Vano mendaratkan tubuh mereka di kursi.

__ADS_1


"Kalian makanlah." pintah Kharisa.


Kedua adik Kharisa kini makan, Gara yang baru saja bergabung segera duduk di samping Kharisa.


Gara menatap Kharisa yang sudah menyantap makanannya.


"Ehem." Gara berdehem seolah memberikan kode pada Kharisa untuk melayani dirinya.


Kharisa meliriknya lalu Gara melirik Kharisa dan piring yang masih kosong bergantian.


Kharisa menghela kasar nafasnya lalu mengambilkan makan untuk sang suami.


Vino dan Vano hanya berani mencuri-curi pandang saja.


"Sudah, makanlah." pintah Kharisa.


Gara makan dengan lahap, meski masakan mereka sangat sederhana sayur bayam di campur beberapa macam lainnya, lalu lauk tempe goreng dan lauk lainnya, Gara bisa merasakan nikmat.


"Apa seperti ini makanan kalian sehari-hari?" tanya Gara.


Kharisa tidak menjawab, Vino dan Vano juga tidak berani menjawab karena tidak ada perintah dari Kakak mereka.


"Sepertinya aku jadi tambah napsu makan jika makan yang seperti ini." tutur Gara kemudian melanjutkan makannya lagi.


"Aku fikir dia tidak terbiasa makan makanan seperti itu." gumam Kharisa.


"Ini sudah malam, sebaiknya kau pulang saja." ucap Kharisa setelah selesai makan malam.


Mata Kharisa menatapnya kesal. "Terserah kau saja." ucap Kharisa berlalu dari meja makan dan mengemasi piring kotor yang ada di meja makan.


"Kalian sebaiknya belajar, jangan seperti diriku yang tidak cerdas ini karena malas belajar." pintah Gara pada kedua adik iparnya itu.


Vino dan Vano segera masuk ke kamar, sementara Gara kini membantu membawa yang lainnya ke dapur.


Sesampainya di dapur, Kharisa terkejut melihat suaminya berada di sampingnya. Namun lirikannya itu segera ia buang dan kembali fokus mencuci piring.


"Kemari, biarkan aku saja yang mencucinya." tutur Gara merebut spons yang penuh busa itu.


"Tidak usah." bantah Kharisa.


"Kharisa, biarkan aku yang mencucinya. Kau ke kamar saja istirahat."


Kharisa melangkah pergi meninggalkan Gara seorang diri. Ia membaringkan tubuhnya di kasur. Belum lama ia berbaring tiba-tiba terdengar suara piring pecah.


"Astaga." Kharisa berlari ke dapur melihat Gara begitu juga dengan Vino dan Vano.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Kharisa.

__ADS_1


"Maaf, tanganku licin sekali." ucap Gara.


"Lagi pula sudah ku katakan kau tidak bisa mencuci piring." sahut Kharisa.


"Aku bisa, hanya saja keberuntungan sedang tidak berpihak padaku. Aku akan melakukannya sekali lagi." tutur Gara.


Tangannya meraih piring dan kembali piring itu pecah lagi setelah berusaha kuat ia pegang dengan tangannya yang berbusa, Kharisa dan adik-adiknya hanya menggelengkan kepala saja.


Gara yang merasa frustasi dengan dua piring yang pecah memilih untuk membawa piring itu ke dalam bak lalu menyiramkannya dengan air bersamaan dengan menyabuninya.


"Vino, Vano, kalian cuci piring yah. Kakak akan mengobati kakinya yang terluka." tutur Kharisa.


Gara sampai tidak merasakan apa pun pada kakinya karena kegigihannya untuk bisa menyelesaikan cucian piring itu.


"Kemari." ajak Kharisa menarik pergelangan tangan suaminya.


"Mau kemana? cucian piringku belum selesai." terang Gara.


"Sudah ikut aku." Kharisa mendudukkan suaminya di kursi meja makan lalu ia mengambil kotak p3k. Kharisa duduk berjongkok lalu membersihkan luka di kaki Gara yang mengeluarkan darah.


"Jangan mencuci piring lagi." pintah Kharisa dengan tatapan yang masih fokus dengan perban kecil di tangannya.


"Kau mengkhawatirkan diriku?" tanya Gara tersenyum.


"Tidak."


"Jujur saja, kau mengkhawatirkan diriku." bantah Gara yang terus memaksa istrinya.


"Aku mengkhawatirkan piring-piring di rumahku. Sekali cuci piring kau memecahkan dua belum satu malam kau tinggal di sini."


Wajah Gara tersenyum kini menghilang bagai di telan bumi.


"Baiklah tidak apa-apa, kali ini kau melakukan kesalahan Gara." gumamnya berusaha menguatkan diri.


"Ayo tidur." ajak Gara.


Mata Kharisa melotot, ia sampai lupa jika malam ini tidurnya akan kembali bersama dengan Gara.


"Kau duluan saja." pintah Kharisa.


Gara yang tidak terima dengan perintah istrinya kini segera menggendong sang istri ke dalam kamar.


"Turunkan aku, hey apa yang kau lakukan?" Kharisa terus berteriak meronta di dalam gendongan suaminya.


Vino dan Vano yang mendengar keributan itu segera berlari mengintip, namun mereka sudah tidak melihat apa pun lagi di sana.


Suara itu berasal dari penghuni kamar Kharisa. "Apa Kakak ipar bermain kasar dengan Kakak?" tanya Vano dengan polosnya.

__ADS_1


"Tidak, sudahlah jangan kepo urusan suami istri." pintah Vino.


Keduanya selesai membersihkan piring lalu mereka masuk ke kamarnya. Besok Vino dan Vano ingin bangun pagi untuk memasak. Mereka tahu Kharisa lelah bekerja, mereka harus membantu Kakaknya.


__ADS_2