
Setibanya di rumah sakit, Gara langsung membawa Kharisa ke ruang IGD. Dengan wajah panik ia melangkah mondar mandir di depan ruangan IGD.
"Apa yang terjadi sebenarnya? argh!" teriak Gara.
Selang beberapa waktu kemudian, tampak seorang wanita di temani tiga orang pria berjalan dengan langkah terburu-buru mendekat ke arah Gara.
"Gara,"
"Bu," sahut Gara.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Nyonya Harina yang segera memeluk putranya.
"Kakak ipar, bagaimana keadaan Kak Risa?" Vino bertanya dengan wajah khawatirnya begitu juga dengan Vano ia tampak antusias menunggu jawaban dari Gara.
Gara menatap nanar kedua adik iparnya. "Dokter masih menangani Kharisa. Sepertinya ada yang sengaja membuat ku lengah dan aku tidak tahu saat kami di depan rumah tiba-tiba Kharisa sudah terjatuh di dekat kolam."
Nyonya Harina membungkam mulutnya tak kuasa menahan ketakutannya.
"Sebaiknya Vino, Vano, dan Randa kalian ke kantor saja. Untuk saat ini aku masih belum bisa mulai mengelola kantor. Tolong bantu Ayah."
"Baiklah Kakak ipar. Tapi jika terjadi sesuatu dengan Kak Risa tolong beri kami kabar." sahut Vano.
"Pasti."
Walau berat melangkahkan kaki meninggalkan rumah sakit, namun kedua adik kembar Kharisa juga tidak ingin membuat keadaan Kakaknya semakin memburuk. Mereka lebih baik menjauh untuk sementara waktu seperti apa yang Gara katakan jika kejiwaannya tengah terguncang.
"Aku ke kantor, Gara. Kabari jika membutuhkan sesuatu." sahut Randa sebelum ia berjalan mengikuti Vino dan Vano.
"Thanks, Randa."
Kini di depan ruangan hanya tersisa Nyonya Harina dengan Gara. Mereka duduk di kursi tunggu.
"Sabar, Sayang. Kamu pasti mampu melewati ini semua."
"Bu, Gara mungkin mampu. Tapi Kharisa tidak, Bu."
"Jangan bicara seperti itu. Ibu tahu benar, Kharisa wanita yang tangguh. Dia sangat kuat, mungkin saat ini bukan kamu atau Kharisa yang di uji. Tapi kalian berdualah yang di uji. Kalian harus bisa saling menguatkan."
Gara tertunduk meratapi ucapan sang Ibu. Ini yang ia sangat benci, Gara tidak suka jika memiliki wanita. Baginya wanita hanyalah alat untuk menemukan kelemahan dirinya.
Tiba-tiba saja pintu pun terbuka. Dengan sigap Gara langsung berdiri menghampiri Dokter.
"Dok, bagaimana istri saya?"
"Iya Dokter, menantu saja baik-baik saja, kan?" Nyonya Harina ikut menimpali.
__ADS_1
"Syukurlah pasien segera di bawa ke sini sehingga kami bisa segera bertindak cepat. Namun-" (Belum usai sang Dokter menjelaskan Gara segera memotong pembicaraannya).
"Namun apa, Dokter?"
"Janin di dalam kandungan pasien tidak bisa di selamatkan, Tuan. Karena seperti pasien mengalami benturan yang begitu keras. Dengan terpaksa kami harus mengangkat janin tersebut."
"Anakku." Gara tersandar lemas di tembok rumah sakit. Ia merasa gagal menjadi seorang Ayah untuk anak yang di kandung Kharisa.
Bagaimana mungkin baru saja ia merasakan betapa bahagianya menjalankan peran Ayah yang menghadapi istri ngidam, tiba-tiba di ambil begitu saja.
"Sayang, tenanglah. Jangan seperti ini. Mungkin Tuhan menginginkan jalan lain atas kejadian ini. Percaya pada Ibu, semua yang terjadi boleh di tangisi tapi tidak boleh terlalu berlebih-lebihan. Karena semua hanya milik yang Kuasa. Semua yang kita miliki hanya titipan."
"Bu, tapi mengapa untuk hal ini? Gara baru saja merasakan menjadi sosok Ayah, Bu? bagaimana kalau Kharisa tidak bisa menerima hal ini? Gara memang suami yang tidak berguna, Bu."
"Maaf, saya permisi dulu. Sebaiknya pasien segera di kunjungi untuk melihat keadaannya." Sang Dokter berpesan karena ia takut jika Kharisa kembali histeris saat melihat keadaannya saat ini.
"Termasuk, Dokter." Nyonya Harina membawa Gara yang masih berduka ke dalam ruang Kharisa.
Terlihat wajah cantik pucat nan teduh masih terbaring dengan menutup matanya. Buliran bening yang sejak tadi tertahan akhirnya lolos dengan sempurna di wajah Nyonya Harina.
"Sungguh malang nasib mu, Nak. Ibu tidak mengerti mengapa semua terjadi padamu? Tapi Ibu percaya akan ada kebahagiaan di depan sana untuk mu. Allah maha baik, Ibu percaya itu." tutur Nyonya Harina dalam hati.
Gara yang terlihat sudah mendekati Kharisa beberapa kali mencium tangan sang istri. Ia memikirkan bagaimana jika Kharisa bertanya tentang janinnya padanya? apa yang harus Gara katakan? sungguh menyakitkan untuk mengucapkan kata keguguran itu pada Kharisa.
Sakit. Sangat sakit dengan menyaksikan perubahan Kharisa akhir-akhir ini. "Kharisa, berubahlah. Jadilah wanita ku yang selalu cuek dan dingin. Aku rindu dengan Kharisa ku yang dulu. Aku lelah melihat mu seperti ini. Ku mohon."
Perlahan kelopak mata yang tertutup dengan rapat kini bergerak. Nyonya Harina sadar akan hal itu. Sementara Gara masih menatap tangannya yang menggenggam tangan sang istri sesekali ia menciumnya.
"Gara, Kharisa." Nyonya Harina dengan antusias mendekati menantunya.
"Kharisa, kamu sudah sadar?" tanya Gara. Terlihat senyuman mengembang di wajahnya.
"Dia...dia akan keluar. Gara, aku takut."
Kharisa kembali ketakutan, ia menarik kasar lengan Gara untuk menutupi tubuhnya. Namun Gara dengan sigap meraih wajah Kharisa dengan kedua tangannya. Ia meluruskan pandangan hingga mereka saling berhadapan.
Terlihat jelas manik mata Kharisa yang bergerak tidak beraturan. Ia sangat ketakutan, "Gara, aku takut. Dia akan datang, dia ingin mengulang hal itu lagi. Aku tidak mau."
"Kharisa, lihat aku. Mulai saat ini aku tidak akan membiarkan dia datang. Aku sudah membuatnya pergi jauh. Ayolah percaya padaku. Aku akan melakukan apa pun untuk mu."
Kali ini Gara seakan tengah berbicara dengan anak kecil. Mungkin dengan cara seperti ini Kharisa yang tidak bisa berpikir normal lagi akan bisa lebih tenang.
"Oke? kamu percaya dengan ku, kan? dia tidak akan datang lagi. Dengan satu syarat."
Kharisa pun terdiam saat mendengar perkataan suaminya. Ia mengernyitkan dahinya. "Syarat?"
__ADS_1
"Hem, syarat. Kamu tidak boleh keluar rumah tanpa aku di samping mu."
"Benarkah? dia tidak akan datang?" tanya Kharisa lagi.
"Iya, Sayang. Dia tidak akan datang. Kamu mau kan berjanji dengan ku untuk tidak takut lagi?"
Tanpa ada yang menduga senyuman yang telah lama terkubur kini terlukis indah di wajah Kharisa. Ia senyum dengan wajah chubby karena kedua pipinya di apit oleh tangan Gara. Kharisa menganggukkan kepala pada Gara.
Gara menarik wajah sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya. Bagaimana pun caranya Gara harus berusaha lebih keras untuk mengawasi Kharisa dua puluh empat jam.
Keduanya berpelukan, Nyonya Harina tampak lega melihat anaknya sudah jauh lebih tenang saat ini. Cukup lama Kharisa menikmati pelukan hangat itu, sampai akhirnya Gara melepaskan lingkaran tangannya.
"Kharisa." panggil Gara.
Namun belum sempat Gara berbicara, kini Nyonya Harina memilih untuk mengambil alih posisi Gara.
"Gara, biarkan Ibu yang berbicara saat ini. Kami sesama wanita."
"Baik, Bu." Gara menjauh dan membiarkan Nyonya Harina mendekati Kharisa.
"Sayang," Nyonya Harina berbicara dengan nada lembut di iringi tangan yang terus membelai wajah pucat Kharisa.
"Ibu sayang sekali dengan Kharisa. Kharisa harus menjadi wanita yang kuat sayang. Jangan lemah, banyak orang jahat di luar sana yang tertawa ketika melihat Kharisa sedih. Kharisa percaya dengan Ibu, kan?"
Kharisa kembali tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Bu, Gara pergi memakamkan janin dulu yah." bisik Gara dan mendapatkan persetujuan dari Nyonya Harina.
"Sayang, aku keluar sebentar. Kamu selalu dengan Ibu yah?" Gara mendaratkan satu ciuman di kening Kharisa. Entah sejak kapan keduanya sudah semakin hangat seperti ini. Yang jelas perasaan itu perlahan sudah mulai menyatu dengan bantuan banyaknya masalah bahkan dorongan dari para musuh, termasuk Khard dan Reynka.
Setelah kepergian Gara, kini Nyonya Harina kembali melanjutkan bicaranya. "Kharisa, jika mungkin saat ini kamu belum berhasil menjadi seorang Ibu, mungkin suatu saat nanti akan ada waktu yang jauh lebih baik dan dengan cara yang baik. Kamu paham kan maksud Ibu?"
Perkataan Nyonya Harina seketika menghentikan senyum di wajah Kharisa. Ia menatap dalam manik mata wanita paruh baya di hadapannya saat ini.
Kharisa tampak menggeleng tidak percaya. Bibirnya bungkam tak bisa berucap satu kata pun. Perlahan bibir pucat itu mulai bergetar menahan kesedihannya. Buliran bening pun lolos di ujung pelupuk matanya.
Nyonya Harina dengan cepat memeluk Kharisa. "Sabar sayang, mungkin Tuhan memiliki jalan lain di kemudian hari. Ibu percaya kamu kuat, Nak."
"Kharisa bukan Ibu yang becus melindungi anak, Bu. Tuhan menghukum Kharisa." tangisnya terdengar akhirnya setelah beberapa waktu hanya terlihat getaran tubuh.
"Tidak sayang, kamu wanita dan Ibu yang baik. Sekarang biarkan malaikat kecilmu bahagia di surga. Ikhlaskan dia, Ibu juga berusaha mengikhlaskan cucu Ibu. Kita mulai hidup baru yah? jangan membuat cucu Ibu sedih di surga."
"Iya, Bu. Maafkan Kharisa, Bu."
"Jangan minta maaf, sayang. Semua sudah takdir."
Akhirnya tidak butuh banyak kata, Nyonya Harina berhasil menyelesaikan permasalahan kali ini. Tugas selanjutnya hanya berusaha menghindarkan Kharisa dari segala macam teror untuk membuat Kharisa kembali normal seperti semula.
__ADS_1