
Malam itu setelah mereka makan Kharisa meminta untuk segera pulang. Ia enggan untuk berlama-lama di luar karena tubuhnya sudah terasa sangat lemas.
Gara membayar makanan dan mereka segera masuk ke mobil, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Masih seperti biasanya tidak ada percakapan di antara mereka.
"Apa tidak ada yang ingin kalian beli?" tanya Gara berusaha mencairkan suasana.
Kharisa tampak bungkam. Akhirnya Vano yang menjawab. "Tidak, Kakak ipar."
Gara hanya menganggukkan kepalanya saja. Beberapa waktu telah berlalu, kini mobil mereka telah sampai di rumah kecil yang sederhana itu.
Gara turun lebih dulu membukakan pintu mobil Kharisa yang saat ini sudah terlelap.
"Kak." panggil Vano yang ingin membangunkan Kakaknya namun di cegah oleh Gara.
Vino dan Vano saling berbisik. "Diam saja." sahut Vino yang lebih paham tentang maksud Gara.
Kini kedua pria itu turun lebih dulu untuk membukakan pintu rumah. Sementara Gara kini sudah meraih tubuh istrinya yang berada di dalam mobil.
Ia menggendong Kharisa dengan kuatnya dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah terbuka.
"Sepertinya Kakak ipar benar baik dengan Kak Risa." gumam Vano yang melihat dari ketulusan Gara.
"Van, kenapa sih Kak Risa suka cuek sama Kakak ipar? padahal Kakak ipar sepertinya penyayang sekali yah?" bisik Vino.
"Hus, itu urusan orang dewasa jangan ikut campur." pekik Vano.
Mereka segera menutup kembali rumah itu lalu menuju ke kamar. Suasana di rumah itu begitu sunyi tanpa ada suara televisi yang menyala.
"Aaaaaa." teriak Kharisa yang baru tersadar saat tubuhnya sudah di letakkan perlahan oleh Gara di tempat tidur. Dan saat itu juga matanya terbuka menyaksikan ketika Gara masih berada di dekatnya saling bertatapan.
"Apa yang membuat mu berteriak seperti orang gila?" ketus Gara.
"Kau mau apa dekat-dekat?" tanya Kharisa dengan penuh curiganya.
"Memangnya mau apa? aku hanya meletakkan tubuhmu yang seperti karung goni itu ke kasur." celetuk Gara.
Mata Kharisa membulat mendengar hinaan suaminya yang mengatakan tubuhnya seperti karung goni.
Matanya melirik pada tubuhnya memastikan jika tubuhnya tidak segendut itu.
Gara menggelengkan kepalanya melihat reaksi Kharisa yang memperlihatkan ketakutannya akan gemuk.
"Kak Risa, ada apa?" tanya Vino dan Vano yang sudah lancang masuk ke dalam kamarnya.
Gara dan Kharisa yang masih tetap dengan posisi Kharisa baring sementara Gara di atasnya bertumpu dengan dua tangan membuat Kharisa segera di dorong keras oleh Kharisa hingga pria itu tersungkur ke kasur.
"Kalian." ucap Kharisa terkejut.
Vino segera di tarik Vano keluar kamar. "Sudah berhenti mengkhawatirkan Kak Risa jika ada Kakak ipar. Kita tidak boleh melihat adegan seperti itu." pekik Vano.
"Halah kau juga penasaran kan dengan adegan seperti itu?" goda Vino.
"Tidak, paling kau saja." bantah Vano.
__ADS_1
"Ehem." Suara Gara tiba-tiba terdengar dari arah yang tidak begitu jauh.
Vino dan Vano kini sudah berhambur dari pergosipan panas mereka.
"Kakak ipar." ucapnya serentak.
Gara berlalu ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, ia merasa gerah malam itu.
Di kamar, Kharisa yang sedang mengganti pakaian mendengar dering ponsel suaminya.
"Ibu." Kharisa membaca nama penelpon yang ada di layar ponsel Gara.
"Aku sampai lupa menanyakan kabar Ayah dan Ibu." gumam Kharisa.
"Ada apa?" tanya Gara yang melihat Kharisa berdiri mematung di depan meja kecil itu.
"I-tu Ibu menelpon." ucap Kharisa dengan wajah kagetnya.
Gara melangkah mendekat dan meraih ponselnya.
"Halo, Bu." ucap Gara.
"Gara, apa malam ini kau belum pulang?" tanya Nyonya Harina.
"Besok pagi Gara pulang, Bu. Gara masih ada urusan." ucap Gara.
Tiba-tiba Kharisa yang tanpa sadar sudah mendengarkan suara mulutnya yang terbungkam karena merasa sangat mual yang luar biasa.
"Suara wanita?" gumam Nyonya Harina menatap heran dari seberang telepon itu.
"Bu, Gara matikan dulu teleponnya yah? besok pagi Gara akan ke rumah." ucapnya tanpa mendengar lagi perkataan Nyonya Harina sambungan telepon sudah berakhir.
Kini Gara segera menuntun Kharisa untuk ke kamar mandi. Keduanya berada di kamar mandi tanpa menutup pintu.
Kharisa terdengar terus memuntahkan seluruh makanannya sementara Gara sudah memijat pelan tengkuk leher istrinya.
Beberapa kali tangannya juga mengusap rambut yang hampir menutupi wajah Kharisa.
"Sudah selesai?" tanya Gara.
Kharisa hanya mengangguk saja tanpa menjawab.
"Kemari biar aku yang membersihkan." ucap Gara.
Kharisa yang ingin menolak namun tak kuasa karena tubuhnya terasa sangat lemas. Akhirnya membiarkan suaminya untuk melakukannya.
Seusai Gara membersihkan wajah Kharisa ia segera melingkarkan tangan Kharisa di pundaknya dan menuntunnya ke kamar.
Di kamar Kharisa merasa senang melihat perhatian Gara padanya yang benar-benar di luar dugaannya selama ini.
Ia terus menatap Gara yang membantunya untuk bersandar di kasur.
"Sudah berhenti mengagumi diriku seperti itu." ucap Gara yang sadar akan tatapan Kharisa padanya.
__ADS_1
Kharisa yang malu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan dokumen milik suaminya.
"Apa itu?" tanya Kharisa yang berusaha memalingkan pembicaraan.
Gara menatap ke arah yang Kharisa lihat. "Dokumen dari perusahaan Ayah, aku bingung harus memeriksanya bagaimana." tutur Gara dengan wajah datarnya.
"Mengapa harus kau?" tanya Kharisa.
"Lalu siapa lagi? Pria itu sudah di penjara." sahut Gara.
"Biarkan aku yang memeriksanya." ucap Kharisa segera bergerak dari tempat tidur.
"Jangan kau sedang lemah." bantah Gara yang mencegah Kharisa.
"Tapi kau pasti sangat mengharapkan bantuan dari ku kan?" tanya Kharisa sangat tepat sasaran.
Gara terdiam lalu menganggukan kepalanya setuju.
Kini ia duduk di dekat Kharisa sembari memperhatikan Kharisa. Kharisa yang memeriksa seluruh anggaran mau pun berkas yang harus di tandatangani itu semua dengan teliti.
Di tengah-tengah itu Kharisa merasa ada hal yang membuatnya sejak tadi tidak tenang yaitu keadaan kedua orangtua Gara.
"Bagaimana keadaan Ayah dan Ibu?" tanya Kharisa ragu.
Gara yang tadinya ikut belajar mempelajari semua yang sudah di periksa oleh Kharisa terhenti dari aktifitasnya.
Ia menatap dalam wajah Kharisa dan mulai menarik nafasnya dalam. Berharap semoga Kharisa mau menerima kenyataan dirinya dan kembali mau mempertahankan pernikahan mereka lagi.
"Ayah sempat masuk rumah sakit saat mendapat surat itu." ucap Gara.
Kharisa yang tidak habis pikir dengan nasib Tuan Tedy meneteskan air matanya tanpa sadar dan membungkam mulutnya yang bergemetar.
"Ayah sakit?" tanyanya lirih.
"Iya, Ayah sangat syok saat mengetahui pengakuan mu. Bahkan ia sempat meminta maaf terus menerus padaku karena telah bersalah besar telah memaksa pernikahan kita. Sampai saat ini sepertinya Ayah masih tidak bisa terima." terang Gara.
"Ayah, ma-afkan Kharisa Yah. Kharisa sama sekali tidak bermaksud seperti itu." ucapnya dengan sangat sedih.
Gara yang tadinya tidak begitu dekat perlahan mendekatkan tubuhnya pada Kharisa dan merangkul pundak istrinya.
"Sudah, tidak ada yang perlu di sesali. Semua sudah terjadi, sekarang Ayah sudah mulai membaik." ucap Gara.
"Ayah sudah sangat baik, tapi apa yang sudah ku perbuat? aku sangat mengecewakannya. Aku benar-benar tidak tahu diri, Gara." tangis Kharisa semakin menjadi ketika Gara membawanya ke dalam pelukan itu.
Tangannya terus mengusap lembut punggung Kharisa berusaha memberikan kekuatan. "Dalam hidup tidak ada yang perlu di sesali, tapi harus di perbaiki." ucap Gara di tengah-tengah kesedihan mereka.
Kharisa perlahan mulai menatap wajah suaminya dan bangun dari pelukan itu. "Apa yang harus ku lakukan?" tanya Kharisa.
Gara tersenyum. "Datanglah menjenguk Ayah ia pasti sangat senang melihat putrinya datang." tutur Gara.
Kharisa menggelengkan kepalanya. "Tapi aku sudah mengakui diriku yang tidak normal." bantah Kharisa.
"Aku yang akan membantu mu. Kita bahagiakan Ayah kita." ucap Gara dengan mata yang sudah berkaca-kaca berusaha menahan air matanya.
__ADS_1
Baru kali ini dan karena Kharisa lah seorang hingga Gara bisa berkata sebaik itu. Selama ini dirinya selalu melakukan hal yang membuat hati kedua orangtuanya tersakiti.
"Tapi aku sudah kotor, Gara. Aku sangat malu pada diriku sendiri. Apa kau tidak jijik padaku" tanya Kharisa.