
Manik mata hitam legam itu tak berhenti menatap wajah tua yang masih terlihat tampan walau tak semuda dulu lagi, Tuan Tedy terlelap di hadapan Nyonya Harina dengan hembusan napas yang teratur, bulu mata tipis dan sedikit panjang itu selalu menjadi perhatian lebih hingga sejauh ini.
Perlahan Nyonya Harina menutup netra itu di iringi dengan detik jam yang selalu berputar teratur hingga ia benar-benar terlelap dalam malam yang panjang itu.
Malam yang menenangkan dengan begitu banyak kejadian mengerikkan telah terjadi di hari ini, tak menutup kemungkinan jika tubuh mereka kelelahan. Hingga akhirnya semua terlelap dengan tenang.
Berbeda halnya dengan Vino dan Vano yang baru tiba di rumah Tuan Tedy, "Heh akhirnya kita sampai juga, Van."
"Iya, aku sangat mengantuk. Ayo kita ke kamar." ajak Vino.
Keduanya masuk ke rumah megah itu dan segera membersihkan tubuh lalu setelah usai dengan aktifitas di kamar mandi mereka merebahkan tubuh di kasur yang empuk itu.
***
Burung-burung berkicau di pagi hari, terbang menggoda pasangan masing-masing. Mentari terlihat malu-malu bersinar. Celah-celah jendela menyelusup masuk cahaya matahari. Lelaki yang berada di atas ranjang terlihat tak jemu-jemu memandang gadis yang masih terlelap . Kala erangan kecil terdengar. Dengan sigap ia menutup kembali kedua matanya. Tidak ingin terlihat oleh gadis itu jika ia tengah memandang wajah manisnya.
Netra mata melirik sipit ke arah pria yang ada di atasnya saat ini. Ia sedikit menengadah demi mencapai wajah sang suami.
"Tampannya." tutur Kharisa pelan sembari mengusap anak rambut milik Gara yang sedikit menutup keningnya.
Kharisa mendekat pada wajah tampan Gara lalu mendaratkan satu ciuman. "Eh?" tutur Kharisa yang terkejut dan serentak manik matanya membulat saat menangkap tatapan yang tiba-tiba mengarah padanya.
"Apa aku sangat tampan?" tanya Gara dengan senyum menyeringai.
"Ih...kau ini yah." Kharisa mencubit kecil lengan Gara.
"Aw..." Gara meringis kesakitan.
"Sakit? yang mana? maafkan aku." Kharisa terlihat sangat panik sembari tangannya bergerak cepat memeriksa setiap bagian tubuh sang suami.
Gara kembali terkekeh melihat kepanikan Kharisa yang tertipu. "Apa?" tanya Kharisa saat melihat jari Gara menunjuk bibirnya beberapa kali dengan senyuman yang masih mengembang di wajahnya.
"Ayo cepat, berikan aku obat." pintah Gara masih melanjutkan gerakan jarinya menepuk di bibirnya.
"Obat?"
"Hem, obat. Cium. Cepat." pintah Gara lagi.
__ADS_1
Kharisa pun tertunduk malu melihat permintaan Gara yang menurutnya seperti sedang mengerjainya, bukan untuk obat sebenarnya.
"Sudahlah, aku ingin mandi."
Kharisa bergegas hendak meninggalkan tempat tidur kecil itu, namun belum sempat tubuhnya turun dari sana Gara sudah lebih dulu menariknya hingga kedua bibir mereka bertemu. Dan dengan cepat Gara menerobos bibir merah muda segar itu.
"Em..." teriak Kharisa yang hanya bisa terbungkam karena aksi Gara.
"Hahaha...manis." Gara tersenyum girang setelah beberapa menit melewatkan aksi romantis pagi itu.
Kharisa dengan cepat segera beranjak pergi berlari kecil menuju kamar mandi. Sedangkan Gara tak henti-hentinya terkekeh memandangi punggung sang istri yang kini sudah tidah terlihat lagi tertutup dengan pintu kamar mandi.
Di kamar mandi, Kharisa yang baru saja hendak melepaskan pakaiannya tiba-tiba teringat akan tugasnya. "Astaga, aku akan bekerja. Sebaiknya Gara yang harus aku bersihkan lebih dulu. Kharisa, mengapa kau bisa melupakan kewajiban mu sih?" gumamnya sembari kembali membuka pintu kamar mandinya.
"Loh, sudah mandinya? kok masih rembes?" ledek Gara yang sebenarnya mengetahui jika istrinya belum mandi.
"Ayo sekarang kamu duluan yang aku mandiin. Setelah itu baru aku yang mandi." Kharisa melangkah dengan wajah cemberut menatap sang suami.
Kharisa melepaskan dengan hati-hati pakaian sang suami, lalu menyeka tubuh Gara dengan peralatan yang sudah tersedia.
Wajah cantik natural itu terlihat sangat sabar membersihkan satu-persatu bagian tubuh Gara dengan sangat hati-hati karena takut jika gerakan tangannya akan menyentuh luka bekas tembakan.
"Sudah selesai, sekarang ayo aku miringkan sedikit biar aku bersihin bagian belakang lagi." pintah Kharisa.
Gara menurut, Kharisa masih acuh dengan senyuman Gara yang terus terpancar sejak tadi. Ia kesal karena dikatakan rembes. Meski sebenarnya Gara hanya berniat untuk menggodanya, entah kenapa Kharisa merasa sangat sensitif dan ingin marah pada suaminya itu.
"Nanti setelah kerja kamu langsung kesini yah? biar soal barang pelayan yang membawakan." pintah Gara masih tampak memunggungi sang istri.
"Iya." jawab Kharisa sekenanya.
"Kamu mau sampai kapan bekerja di kantornya dia?" tanya Gara lagi.
"Sampai belum tahu." jawab Kharisa lagi dengan gaya bicara yang lebih cuek lagi.
"Oh...yasudah." sahut Gara acuh meski saat ini ia sedang menertawakan Kharisa.
__ADS_1
Setelah usai aktifitas itu, Kharisa segera menuju kamar mandi. Ia mandi tanpa mengatakan apa pun pada Gara setelah memakaikan kembali pakaian rumah sakit itu. Suasana berubah menjadi hening.
Beberapa menit berlalu, Kharisa sudah keluar dengan pakaian kantornya yang sudah di bawakan semalam. Dan seperti biasanya, ia menuju kaca di ruangan itu yang tidak terlalu besar namun cukup jika untuk bermake up. Penampilan elegan dan formal yang semakin hari semakin membuat Gara mengagumi sosok Kharisa. Teringat awal pertemuan, ia sangat tidak menyukai penampilan Kharisa yang terlalu tampil formal, namun nyatanya waktu mampu merubah selera pria itu.
"Tok...tok...tok." Tiga kali suara ketukan pintu dari luar ruangan membuyarkan keheningan di ruangan itu.
Kharisa dengan sigap membuka pintu dan matanya menangkan dua sosok pria tampan yang tidak lain adalah Vino dan Vano.
"Pagi, Kak Risa." sapa keduanya bersamaan.
"Pagi, kalian kok kesini pagi-pagi sekali?" tanya Kharisa heran karena kedua adinya sudah seharunya bersiap untuk les private.
"Iya Kak, lesnya udah selesai kok. Tinggal tunggu jadwal, Pak Refi sudah membantu kami untuk mendaftar paket." terang Vino.
Kharisa menganggukkan kepalanya paham dan segera mempersilahkan kedua adiknya untuk masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana keadaan Kakak ipar?" tanya Vano mendekat pada Gara.
"Masih lemas." jawab Gara singkat dengan wajah sedikit memelas.
Kedua adik Kharisa menatap ke arah kakak mereka serentak sembari menatap penampilan dari atas ke bawah. Kharisa merasa risih mendapat tatapan seperti itu.
"Ada yang salah?" tanya Kharisa heran.
"Kakak serius mau bekerja?" tanya Vano kasihan pada kakak iparnya. Kharisa mengangguk ragu, masih bingung dengan maksud dari sang adik.
"Kakak ipar sedang sakit seperti ini, apa sebaiknya Kakak ijin bekerja saja dulu." usul Vino lagi.
"Kalian tahu kan? kakak itu masih belum lama bekerja di sana. Tidak enak kalau kakak terlalu sering minta ijin." terang Kharisa.
"Berhenti saja, Kak." usul Vano lagi.
"Iya, lagi pula aku sedang lemas seperti ini. Bukannya kamu bilang akan banyak kantor yang meminta tenaga kerjamu?" sahut Gara
Kening Kharisa berkerut tidak mengerti, mengapa Gara jadi berubah seperti ini? bukannya semalam ia sudah sepakat untuk tetap bekerja?
__ADS_1