Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 23. Mengusir Reynka


__ADS_3

Kini Reynka pun perlahan melangkah mendekati Gara yang masih terbaring lemas. ia tersenyum sangat menggoda, tanpa mau peduli dengan tatapan Gara yang begitu tajam.


"Mau apa kau kemari?" tanya Gara.


"Gara, mengapa kau bertanya seperti itu padaku? sudah jelas tugasku akan merawat seorang kekasih ku." terang Reynka yang kini duduk di pinggir tempat tidur kemudian melingkarkan tangannya sebelah pada bantal milik Gara.


Sementara Kharisa yang kembali duduk dan fokus bekerja enggan untuk berkomentar apapun pada keduanya.


"Kalian nikmatilah ruangan ini tanpa menganggap aku ada, itu akan jauh lebih baik." gumam Kharisa.


"Keluar dari ruangan ini, Reyn!" pintah Gara dengan menghardik Reynka.


Reynka menarik nafasnya berusaha kembali mengambil hati Gara. Wajah kesalnya ia paksa untuk kembali tersenyum.


"Gara, kau bicara apa? aku jelas tidak akan pergi sebelum memastikan jika dirimu baik-baik saja." tutur Reynka.


"Ini sudah malam, aku ingin istirahat." jawab Gara lagi.


"Baiklah ayo kita beristirahat, aku akan menemanimu sampai kau sembuh." Reynka yang mulai bergerak ingin berbaring di sebelah Gara segera di cegah oleh Gara.


"Jangan berani berbaring di sampingku, Kharisa kemarilah." panggil Gara.


Kharisa yang terkejut mendengar namanya di panggil menoleh seketika, sementara Reynka menatapnya begitu tajam.


"Ada apa? aku sedang sibuk bekerja." jawab Kharisa acuh.


"Bawa laptopmu dan berbaringlah di sampingku." ucap Gara yang seakan mengusir keberadaan Reynka di sisinya.


"Gara, apa yang kau lakukan apa kau mengusirku? Aku tidak mau pergi aku ingin menemanimu di sini."

__ADS_1


Gara yang enggan berkomentar tentang apa yang Reynka katakan, hanya menatap Kharisa yang masih sejak tadi tidak ingin bergerak dari tempat duduknya.


Begitu juga dengan Kharisa yang terus menatapnya sejak tadi, ia tidak ingin menjadikan dirinya sebagai penghalang untuk Reynka dan Gara bersama. lagipula Kharisa lelah jika harus berkelahi lagi dengan Reynka untuk keinginan Gara sementara sebelum reinka hadir dirinya sudah berkelahi lebih dulu dengan Gara.


"Kau selesaikanlah urusanmu dengan kekasihmu. Aku sama sekali tidak ingin berada dan atau pun ikut campur dengan masalah kalian." jawab Kharisa dengan beraninya pada Gara.


Gara sangat kesal mendengar ucapan Kharisa yang begitu mengacuhkan perintahnya. Sayang sekali kedua tangan Gara saat ini masih belum bisa di gunakan. Andai sudah bisa mungkin ia akan menarik kasar tubuh Kharisa agar berada di sisinya dan membuat Reynka pergi.


"Jadi kau tidak mau bersamaku disini? Baiklah kalau begitu aku akan berteriak memanggil Randa untuk membawa aku pulang ke rumah." hardik Gara.


Kharisa begitu terkejut melihat kemarahan Gara saat ini, mengapa ia begitu ingin agar Reynka pergi menjauh darinya bukankah saat malam pernikahan justru dirinya yang mendekati Gara.


"Huh lagi-lagi saat ini aku menjadi alat untuk perantara pelampiasan kemarahannya." umpat kesal Kharisa.


Lagi pula sepertinya Gara tahu jika Kharisa masih enggan untuk pulang ke rumah dan merawat suaminya di rumah, akhirnya ia pun menyetujui permintaan Gara malam itu.


Reynka yang masih berdiri di samping ranjang kini menatap langkah Kharisa yang perlahan mendekat ke arahnya dan menaikkan tubuhnya di tempat tidur tepat di samping Gara.


"Sial, apa-apaan Gara sampai segitunya dia menginginkan aku pergi?" gumam Reynka dengan tatapan kesalnya karena telah di permalukan oleh Gara.


Akhirnya karena kehadirannya tidak di inginkan begitu malu Reynka pun segera pergi dari ruangan itu dengan membanting pintu sedikit kencang.


"Sudah pulang kan? aku sebaiknya turun kembali ke sana." sahut Kharisa yang merasa tidak nyaman jika berada di samping pria itu.


"Tidak! tetaplah disampingku sampai pagi." pintah Gara lagi.


"Tapi dia sudah per-" (ucapan Kharisa terpotong saat melihat Gara menatapnya dengan marah).


"Aku bilang tetap di sini, tetaplah disini jangan membantah."

__ADS_1


Akhirnya Kharisa hanya menghela nafasnya tanpa mau mengatakan apa-apa lagi pada Gara.


Ia kembali sibuk dengan laptop miliknya dan tiba-tiba saja Khard kembali menghubunginya melalui ponselnya.


Gara yang melirik seketika mengetahui siapa penelpon dari ponsel milik istrinya itu. "Jangan berteleponan aku ingin istirahat, besok saja jika ada yang penting."


Kharisa yang baru ingin menggeser tombol layar ponselnya kembali ia urungkan karena mendengar perkataan Gara. "Apa-apaan sih dia ini? aku kan bekerja kalau terganggu biarkan saja aku turun dan tidak tidur di sampingnya." gumam Kharisa yang kesal.


"Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain mengurusi pekerjaannya selalu dan menghubungi pria itu? Gara apa yang kau pikirkan mengapa kau memikirkan kehidupan orang yang tidak penting?"


Beberapa kali panggilan dari Khard masih terdengar, namun Kharisa yang menurut pada Gara selain karena takut Gara marah, ia juga masih bingung akibat kejadian saat di kantor.


Kharisa pun kembali teringat akan pernyataan Khard, ia tidak bisa konsen dalam bekerja. "Mengapa ada pria tampan sebaik Khard bisa menyatakan perasaannya padaku apa dia tidak perduli tentang pernikahanku atau justru dia mengetahui tentang pernikahan ku yang tidak baik ini?"


***


Sedangkan paman dan tante Kharisa di rumah mereka tengah berbincang-bincang tentang kehidupan Kharisa saat ini.


"Pah, kita harus bisa mengambil hati Kharisa, Pah. Bila perlu kita meminta maaf saja padanya tentang kejadian masa lalu dan berusaha meyakinkannya jika kita memang benar-benar baik padanya dan sudah berubah." tutur Tante Dila berusaha membujuk suaminya.


"Tapi Mah, papah ini capek karena mengurus perusahaan seharian dan perkembangan perusahaan kita akhir-akhir ini sudah mulai tidak normal. Kalau Mamah ingin melakukan sesuatu lakukanlah sendiri, papah harus lebih fokus pada perusahaan."


Paman Rehan enggan untuk mengikuti rencana istrinya. "Pah, kalau memang perkembangan perusahaan kita tidak baik kedepannya kita akan bisa meminta bantuan Kharisa, lagi pula yang Mamah tahu Tuan Tedy pasti akan melakukan apapun untuk Kharisa menantu kesayangannya itu." lanjut Tante Dila.


"Iya, Mamah ada benarnya juga. Baiklah kalau begitu Mamah atur rencana untuk kita mengunjungi Kharisa di rumah Tuan Tedy." sahut Paman Rehan.


Tante Dila pun tersenyum menyeringai mendapat persetujuan dari suaminya saat ini. Mereka sepertinya akan kembali mendapatkan apa yang mereka inginkan, harta Kharisa yang dulu saja rasanya tidak cukup untuk mereka miliki dan mereka tahu apa jabatan Kharisa saat ini dan bagaimana nasib kedepannya Kharisa di tangan Tuan Tedy.


Paman dan Tante Kharisa benar-benar tergila-gila dengan harta, tanpa Kharisa tahu jika harta kedua orang tuanya yang tersisa dari hasil penyitaan masih ada dan saat ini dikelola oleh paman dan tantenya sendiri.

__ADS_1


Namun bagi Paman Rehan dan Tante Dila sepertinya anda kurang beruntung menghadapi nasib keponakan kalian saat ini. Kharisa memang bener ada di tangan orang yang tepat yaitu Tuan Tedy.


__ADS_2