
Setelah perjalanan Gara, kini mobil pun sampai di markas yang tampak seperti biasa. Beberapa gerbang ia lewati dan kini Gara masuk ke salah satu ruangan yang merupakan kumpulan mereka para anggota.
"Wah selamat datang di markas kita, aku harap kau tidak lupa dengan tempat ini, Gara." sahut salah satu anggota yang berjajar sama dengan Gara.
Namanya adalah Danu, ia tersenyum menyeringai melihat Gara yang melangkah mendekatinya.
"Apa Mr. Dave sudah sampai?" tanya Gara.
"Apa itu penting untuk mu?" sahut Danu lagi.
"Aku tidak ingin ribut. Katakan apa Randa-"
"Apa? Randa tidak memberi mu kabar? mungkin dia telah mengikuti jejak mu yang lupa kulit."
Gara memutar matanya malas dan segera berlalu pergi. "Tidak ada gunanya aku berada di sini, sebaiknya aku pergi dan kemari saat Mr. Dave sudah kembali saja." gumamnya.
"Yah aku tahu, sebaiknya aku pergi membeli keperluan ibu hamil saja." tutur Gara.
Wajahnya penuh semangat melangkah menuju mobilnya dan melewati beberapa gerbang yang siap dengan tatapan para penjaga di pintu itu.
Mobil melaju ke sebuah mall, tanpa Gara tahu jika hari ini Kharisa kembali pergi bersama dengan Rifal. Mereka pergi untuk mengecek seluruh lokasi yang berpisah dari perusahaan mereka. Beberapa pabrik mereka datangi hari ini hingga Kharisa merasa kelelahan.
Di mobil perjalanan lokasi berikutnya Rifal memperhatikan wajah Kharisa.
"Kharisa, wajahmu pucat sekali." tutur Rifal cemas.
"Oh ini hanya karena kurang makeup saja, Presdir." sahut Kharisa berbohong.
Mereka kembali fokus dengan tujuan meski beberapa kali Rifal mencuri pandangan pada wanita di sampingnya saat ini.
Namun demi kenyamanan Kharisa, Rifal tidak berani untuk bertanya lagi seperti yang Kharisa katakan jika ia tidak perlu di khawatirkan.
Perjalanan kini telah sampai di salah satu pabrik pengolah kelapa sawit. Rifal langsung menunggu Kharisa untuk ikut turun bersamanya.
Mereka berjalan sejajar hingga mencuri pandangan dari para pekerja di pabrik itu.
Keduanya tampak fokus mengamati hingga kembali mengumpulkan para buruh yang ada di tempat itu untuk memberikan pengarahan. Sementara Kharisa yang melihat limbah olahan sawit itu tampak mengerutkan dahinya saat menyaksikan untuk di buang.
"Presdir saya merasa kita mendapatkan satu jalan yang baik kali ini." tutur Kharisa dengan semangat yang penuh meski dirinya sangat lemah.
"Apa itu?" tanya Rifal penasaran.
"Kita bisa mendapatkan keuntungan juga dari limbah itu." sahut Kharisa menunjuk ke arah limbah yang sudah di arahkan ke tempat pembuangan.
"Yah limbah itu, Presdir. Kita bisa memakai limbah itu untuk energi listrik. Terutama di bagian pedalaman pasti sangat di butuhkan, bukan?"
Rifal mengangguk pelan paham dan ia sangat mendukung ucapan Kharisa.
"Ide yang brilian." tutur Rifal.
"Oke Kharisa saya rasa kita cukup sampai di sini dan sekarang kita harus kembali ke perusahaan untuk mengadakan meeting."
Keduanya melangkah menuju mobil namun tiba-tiba ada salah satu peralatan pabrik yang tanpa sengaja jatuh dan Kharisa yang sontak kaget segera mendorong tubuh Rifal.
"Kharisa." teriak Rifal yang sudah jatuh tersungkur sementara Kharisa sudah pingsan karena terjatuh besi berukuran tidak begitu besar.
__ADS_1
Semua para buruh berlari mengerumuni mereka, Rifal secepat kilat menggendong tubuh Kharisa menuju mobil.
Wajah Rifal sangat cemas ia beberapa kali mengusap wajah Kharisa selama di perjalanan dengan terus memangkunya.
"Kharisa, bangun." teriak Rifal sembari menepuk pelan wajah wanita itu.
Setelah perjalanan yang hampir memakan satu jam menuju ke rumah sakit kini kedua mata Kharisa sudah terbuka perlahan.
"Aduh." rintihan Kharisa terdengar lalu ia memijat pelan tengkuk lehernya yang terasa sakit.
"Presdir." Kharisa terlonjak kaget saat melihat Kharisa sudah berada di pangkuan pria tampan berwajah seperti plastik itu.
"Mengapa kau begitu terkejut? apa ada yang sangat sakit? kita ke rumah sakit sekarang." ucap Rifal serius.
"Ja-jangan, saya baik-baik saja, Presdir." tutur Kharisa.
"Tidak Kharisa, kita harus ke rumah sakit untuk memeriksanya. Aku takut terjadi apa-apa denganmu. Kau sudah menyelematkan aku." ucap Rifal.
"Saya sungguh baik-baik saja, bagaimana dengan Presdir apa baik-baik saja?" tanya Kharisa meyakinkan penglihatannya.
Rifal tersenyum tenang, melihat Kharisa mengkhawatirkan dirinya ia merasa sangat bahagia.
Kepalanya mengangguk lalu tiba-tiba membawa Kharisa ke dalam pelukannya.
"Kharisa, terimakasih telah memperdulikan ku." tuturnya pelan.
Mata Kharisa melotot tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Dengan cepat Kharisa melepaskan pelukan Rifal padanya.
"Maaf Presdir, saya hanya berusaha bekerja dengan baik." ucap Kharisa gugup.
Ia benar-benar tidak mengerti apa yang Rifal pikirkan tentangnya saat ini.
***
"Silahkan Tuan, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pelayan di sebuah toko bayi.
Gara tampak bingung harus membeli kan apa untuk Kharisa.
"Em kira-kira apa yang harus saya beli untuk wanita hamil?" tanya Gara.
"Oh untuk wanita hamil? bukan di sini tempatnya Tuan." ucapnya tersenyum lebar.
Gara masih tetap dengan wajah datarnya. "Ini banyak peralatan anak bayi, bagaimana kau bilang bukan tempatnya?"
"Ibu hamil tidak membutuhkan ini semua, Tuan. Ini hanya peralatan bayi saja. Bukan untuk ibunya."
"Katakan sekarang apa yang harus saya cari untuk wanita hamil." ucap Gara setengah berbisik.
"Ini tulis saja di ponsel ku dan beritahu aku dimana aku harus mencarinya." ucap Gara lagi seraya menyodorkan ponsel miliknya.
Wanita itu segera mengetik.
Pakaian Ibu hamil, sabuk ibu hamil, bantal khusus Ibu hamil, Bra hamil dan menyusui, Susu Ibu hamil, cemilan sehat, vitamin kehamilan.
"Ini Tuan, semuanya sudah lengkap." wanita itu menyodorkan ponselnya pada Gara.
__ADS_1
"Hah? apa harus seperti ini?" Gara terkejut melihat daftar keperluan untuk Kharisa. Bukan karena banyaknya, tapi karena namanya sangat privasi bagi Gara.
Wajah pekerja itu tersenyum malu melihat ekspresi Gara yang canggung.
"Sabuk Ibu hamil? Bra hamil dan menyusui?" gumam Gara menyebut dua benda yang menurut dirinya hal yang paling tidak mungkin jika ia pergi berbelanja.
"Mari saya antar, Tuan." Gara tersadar dari lamunannya dan segar menggelengkan kepalanya.
"Em... begini saja, kau pergi belikan aku semuanya ini uang untuk mu." sahut Gara.
"Tapi Tuan, saya sedang bekerja." bantahnya.
"Ah sial." umpat Gara kesal.
"Yasudah di mana tempat nya?" tanya Gara frustasi.
"Di lantai empat, Tuan. Di sana ada toko bernama xx." terangnya.
Gara segera melangkah pergi meninggalkan wajah yang tertawa melihat pria tampan yang menggemaskan.
"Uh... wajahnya sangat menakutkan tapi pria itu romantis sekali." ucapnya sembari mendekap kedua tangannya ke dalam pelukannya sendiri.
Gara melangkah menuju lantai dan toko yang telah di sebutkan oleh pekerja tadi. Matanya menatap ke dalam toko sungguh para pengunjung semua berisi wanita. Tak ada satu pun pria yang mengisi toko itu. Beberapa pengunjung di antar oleh suaminya namun mereka hanya sampai di depan toko karena menemani anak mereka.
Gara menatap terus mempertimbangkan langkahnya apakah harus masuk atau mundur.
Tapi kalau ia mundur sia-sia perjalanan nya hari ini.
Ia ingin sekali melihat Kharisa bisa merasa perhatian Gara.
"Hah sudahlah masa bodoh." sahutnya dan melanjutkan cepat langkahnya menuju salah satu pekerja yang ada di toko itu.
"Silahkan Tuan, ada yang bisa kami bantu?" tanya wanita itu menatap Gara ke bagian belakang. Ia mengira jika akan ada wanita yang ikut bersama Gara, namun ternyata tidak ada.
"Ini ambilkan semua yang ada di tulisan ini." Gara menyerahkan ponselnya dengan wajah dinginnya.
"Baik, mohon ditunggu sebentar."
Kini beberapa saat Gara sudah melihat dua wanita yang bekerja di toko itu melangkah menuju arahnya. "Akhirnya perjuangan ku tidak sia-sia." ucap Gara dengan lega.
"Ini Tuan, tapi ada satu yang kami belum bawa." ucap wanita itu.
"Mengapa?" tanya Gara heran.
"Untuk bra kami belum bertanya dengan anda Tuan, ukurannya." tutur pelayan itu.
Wajah Gara jadi gugup, matanya melirik kesana kemari untuk menatap setiap dada para wanita yang tampak menonjol.
Semua yang mendengar segera memeluk tubuh mereka masing-masing karena sadar dengan tatapan Gara.
"Astaga apa yang mereka pikirkan? aku bahkan tidak tahu ukurannya. Ah tapi aku ingat kalau tidak salah Kharisa biasa terlihat seperti wanita yang itu."
"Berapa ukuran Bra mu?" Gara bertanya dengan polosnya hingga membuat wanita pengunjung itu marah.
"Hei dasar mesum! beraninya kau bertanya hal itu!" pekiknya.
__ADS_1
"Katakan atau kau mau aku habisi!" hardik Gara membalas bentakan wanita itu karena ia sudah sangat malu mau tidak mau Gara harus menunjukkan wajah sangarnya lagi.
Semua langsung terdiam tanpa berani bicara lagi kali ini.