Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 37. Usaha Gara


__ADS_3

"Lepaskan, Gara." pintah Kharisa.


"Diamlah, aku masih ingin berada di pelukan ini." tutur Gara.


Kharisa yang lelah jika harus terus memberontak perlahan pun diam. Ia masih menangis namun tiba-tiba saja perutnya terasa mual.


"Ada apa?" tanya Gara saat mendengar Kharisa membungkam mulutnya karena ingin muntah.


Kharisa berlari dengan mendorong tubuh Gara, ia memuntahkan seluruh isi perutnya yang masih kosong itu di kamar mandi. Gara berlari menyusulnya dan ia ikut membantu memijat leher Kharisa.


Matanya menatap kasihan pada istrinya itu, Kharisa berulang-ulang memuntahkan air yang begitu membuatnya kesakitan.


"Sudah selesai?" tanya Gara.


Kharisa terduduk di depan suaminya air mata jelas terlihat di wajah cantiknya itu. "Ayo aku bantu." Gara memapah tubuh Kharisa agar duduk di kursi meja makan.


"Ada apa dengan Kak Risa, Kakak ipar?" tanya Vano cemas.


"Kakak kalian-" (ucapan Gara terhenti saat Kharisa menimpalinya lebih dulu).


"Kakak hanya masuk angin." ucap Kharisa.


Setelah selesai memasak, kini semua mandi termasuk Gara, sementara Kharisa yang sudah mandi segera bersiap dengan pakaian formalnya. Sangat cantik dan elegan, terlihat jelas wanita itu terlihat dewasa.


"Sudah selesai, ayo sarapan." ajak Gara yang baru selesai memakai baju milik Vino.


"Ada apa?" tanya Gara menekuk wajahnya melihat Kharisa yang membungkam mulutnya. Dengan cepat ia berlari mendekat untuk siaga jika Kharisa sampai muntah di kamar itu.


"Aku tidak apa-apa." sahut Kharisa. Sebenarnya ia bukan mual, tapi ia tengah menahan tawa melihat tubuh atletis Gara yang benar-benar terbentuk jelas di baju adiknya itu.


"Bajumu sepertinya kekecilan." sahut Kharisa lagi yang hendak melangkah keluar kamar mencarikan pakaian lainnya.


"Tidak usah, ini saja. Aku akan melapisinya dengan jas nanti." tolak Gara.


"Terserah kau saja." tutur Kharisa dan segera keluar kamar membawa tas kerjanya.


Semua pun kini makan dengan suasana hening, Vano dan Vino sesekali mencuri pandangan pada Kharisa maupun Gara. Namun mereka masih tidak ada yang berani berucap.


Sarapan selesai, Gara segera melajukan mobilnya mengantar Kharisa. Selama di perjalanan keduanya saling diam. Gara hanya fokus menyetir sementara Kharisa tampak canggung.


"Apa tujuanmu?" Tiba-tiba suara Kharisa terdengar.


"Memperbaiki hubungan kita." sahut Gara.


"Aku tidak percaya itu." ucap Kharisa.

__ADS_1


"Terserah kau, yang jelas aku tidak akan membiarkan ada perpisahan itu." sahut Gara.


Kharisa tampak mengepal tangannya geram, apa yang sedang Gara rencanakan padanya sama sekali membingungkan Kharisa. Sedangkan di awal pernikahan Kharisa ingat jelas bagaimana Gara mati-matian menolaknya.


Tanpa terasa kini mobil sudah berhenti di depan kantor Kharisa, "Bagaimana kau tahu aku kerja di sini? sedangkan aku saja belum memberitahumu tempat kerjaku." Kharisa menatap bingung pada pria di sampingnya itu.


"Turunlah." sahut Gara yang enggan menjawab pertanyaan dari Kharisa.


Gara benar-benar membuat suasana hati Kharisa pagi itu seakan ingin menyala dari bara api yang hampir padam. Ia melotot pada Gara meski Gara tidak menatapnya sekali pun. Kharisa membuka pintu mobil dan segera turun.


"Astaga dia wanita atau laki-laki?" ucap Gara yang terkejut mendengar suara pintu mobilnya di banting keras oleh Kharisa.


Tanpa memperhatikan Kharisa masuk ke kantor kini mobil Gara sudah melaju ke arah kediaman Tuan Tedy.


"Kharisa, Presdir Rifal menunggumu di ruangannya." sahut Rika yang kebetulan tengah menunggu kedatangan Kharisa.


"Terimakasih, Rika." sahut Kharisa dan segera melangkah menuju ruangan yang sudah ia tahu.


Kharisa mengetuk pelan pintu ruangan transparant itu lalu masuk ke dalam saat mendapat perintah untuk masuk.


Pria tampan berkulit putih bersih sangat-sangat mulus layaknya kulit bayi. Mata Kharisa tampak menatap instens berusaha menyadarkan dirinya jika di hadapannya saat ini adalah seorang pria.


"Kulitnya sangat licin sekali," gumam Kharisa yang menatap telapak tangannya perlahan berusaha membandingkan dengan kulit yang menurutnya paling putih.


"Kharisa." panggil pria itu dengan melambaikan tangannya.


"Kamu kenapa?" tanya Rifal.


Kharisa menggelengkan kepalanya dan menggaruk tengkuknya yang tidak kasar itu. "Tidak apa-apa, Presdir. Em anda memanggil saya?" tanya Kharisa dengan cepatnya mengalihkan pembicaraannya.


"Ayo duduk." sahut Rifal.


Kharisa mendaratkan tubuhnya di kursi itu dan kini ia berhadapan dengan Rifal. "Kharisa, saya sudah mengetahui kemampuanmu. Dan untuk sementara ini, saya mau kamu menggantikan Rika untuk menjadi sekertaris saya. Karena beliau akan mengambil cuti beberapa waktu ini." terang Rifal dengan tanpa sengaja membuat Kharisa terkejut.


Kharisa tampak meneguk kasar salivahnya mendengar perkataan itu, ia tak menyangka jika hari-hari berikutnya ia akan selalu bersampingan dengan pria itu.


"Mulai hari ini." sahut Rifal dan membuat lamunan Kharisa mendadak tersadar. Matanya membulat sempurna seolah bertanya, "Hari ini?" begitu yang di artikan dari tatapan itu.


"Iya Kharisa, hari ini." sahut Rifal tersenyum.


"Ba-baik, Presdir." sahut Kharisa.


Di mulai dengan pagi itu, Kharisa sudah duduk di satu ruangan dengan pria itu. Ia kembali fokus mengerjakan semua yang menjadi tugas Rika biasanya. Begitu juga dengan pria yang di sebelah sana, ia begitu fokus menatap layar laptopnya.


"Wajahnya cantik." gumamnya sembari tersenyum.

__ADS_1


Ternyata pria itu saat ini tengah memasang cctv yang terletak di salah satu benda hiasan yang sengaja ia letakkan di meja kerja Kharisa.


Sampai hari sudah tiba waktunya makan siang, kini Rifal masih juga tidak sadar. Kharisa menutup laptop miliknya dan menatap ke arah pimpinannya.


"Aduh perutku sangat mual sepertinya aku kelaparan. Padahal biasanya aku sangat tahan jika tidak makan siang. Tapi Presdir Rifal mengapa belum juga selesai bekerjanya yah?" gumam Kharisa seraya memijat pelan perutnya.


"Sudahlah aku hampiri saja beliau, dari pada aku mual di sini."


Kharisa melangkah menuju meja kerja Rifal, matanya menatap sejenak mencermati ekspresi Rifal yang sejak tadi masih menatap layar laptop dengan wajah tiba-tiba menekuk saat ia sadar Kharisa sudah tidak ada di sana.


Wajahnya baru saja hendak menatap ke arah meja Kharisa, ia terkejut. "Astaga." ucapnya sembari mengelus dadanya.


"Kau di sini?" tanya Rifal hingga membuat Kharisa semakin bingung.


"Iya, Presdir. Memangnya ada apa?" tanya Kharisa.


"Ada apa?" Rifal kembali melontarkan pertanyaan tanpa mau menjawab pertanyaan Kharisa.


"Saya mau mengingatkan makan siang, Presdir." terang Kharisa.


"Oh oke, kalau begitu ayo kita makan siang di kafe dekat kantor." ajak Rifal dengan segera berdiri dari duduknya.


"Saya, Presdir?" tanya Kharisa dengan menunjuk dirinya.


"Iya, kamu. Kita makan bersama karena ada banyak hal yang ingin saya bicarakan." terangnya lagi.


Kharisa menurut dan segera meraih tas miliknya di meja kerjanya. Keduanya melangkah keluar dengan mobil yang sudah siap mengantar mereka untuk pergi.


"Silahkan Tuan dan Nona." sahut Pak Ali dengan sopannya mempersilahkan keduanya masuk ke mobil lalu duduk. Mobil melaju dengan kecepatan sedang ke arah kafe yang sudah di sebutkan Rifal.


***


Gara yang berada di dalam kamarnya kini beranjak dari tempat tidur berniat ingin menemui Tuan Tedy. Namun belum sempat ia melangkah keluar, ponselnya sudah terdengar berdering.


Panggilan dari Randa. "Ada apa?" sahut Gara.


"Tuan, saat ini kita mendapat tugas dari Mr. Dave untuk ikut bersamanya ke California bertemu dengan beberapa pimpinan perusahaan." terang Randa.


Gara terdiam, ia berfikir bagaimana ia bisa meninggalkan Kharisa sementara saat ini Kharisa tengah hamil. "Aku akan menyusul." sahut Gara.


"Maaf, Tuan. Mr. Dave menunggu kita siang ini di markas." tutur Randa menolak.


Gara mengusap kasar wajahnya dan segera mengakhiri panggilan itu. "Aku harus bertemu sendiri dengan Mr. Dave." ucapnya segera bergegas mengambil kunci mobilnya.


"Gara." panggil Nyonya Harina sembari berlari kecil mengejar putranya.

__ADS_1


"Ibu, Gara ada pekerjaan penting. Salamkan pada Ayah. Gara akan segera kembali." ucapnya mencega Nyonya Harina untuk menghalangi kepergiannya.


"Apa pun caranya aku harus tidak pergi kemana pun untuk saat ini." ucap Gara dengan melajukan mobilnya semakin kencang.


__ADS_2