
Denting jam seakan menjadi nada indah di antara suami istri yang tengah berada di dalam kamar setelah banyaknya kejadian dramatis saat jalan pagi. Dari mulai langkah yang tidak sekali pun ia biarkan tanpa tuntunannya sampai menggendong sang ibu hamil saat kembali pulang ke rumah.
Romantis. Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir setiap orang yang melewati keduanya. Meski rasa dongkol di hati Kharisa seakan ingin menyeruak keluar.
Nafas Gara tampak memburu, tatapan mata yang semula terpancar memukau meredup seketika, bayangan kekejaman yang ia lakukan kembali terputar di dalam ingatannya.
Dari bibir kasur yang terbebani dengan tubuh wanita yang tengah mengandung kini ia menatap jelas ekspresi Gara.
Derap langkah tak mampu di tangkap oleh rungu. Setiap langkah kaki yang di ambil sangatlah ringan. Wajah tanpa semangat kian meredup, Gara membenamkan wajahnya pada tubuh Kharisa setelah meletakkan ponsel miliknya.
Ia berlutut di sisi tempat tidur demi meraih tubuh Kharisa yang duduk. Ada perasaan sakit melihat kerapuhan sang suami, namun Kharisa masih menunggu Gara untuk membuka cerita padanya.
Tangan lembut nan lentik itu naik ke atas puncak kepala Gara, bergerak perlahan demi memberikan ketenangan.
"Aku mendapat panggilan lagi." Suara Gara terdengar tiba-tiba di sela-sela pelukannya.
Wajahnya yang tadinya terbenam sempurna pada perut Kharisa kini ia dorong dan menengadah demi menatap wajah sang istri.
"Mr. Dave?" tanya Kharisa tepat sasaran.
"Apa dia meminta mu untuk melakukan sesuatu lagi?" Kharisa kembali bertanya dengan wajah cemasnya.
Gara mengedipkan pelan matanya, ia tak sanggup untuk melakukan hal itu lagi. Entah kemana perginya jiwa pembunuh yang ada pada diri Gara. Pria yang tak pernah kenal kata ampun, pria yang tidak pernah puas jika nyawa seseorang tidak lenyap di tangannya saat itu juga.
"Mundurlah! aku mohon jangan melakukan hal itu lagi. Kita akan mulai semuanya dengan baik." Kharisa menatap dalam manik mata sang suami yang tampak begitu gusar.
"Apa kau sangat menginginkan hal itu?" tanya Gara sembari terus memperhatikan tatapan sang istri yang sejak tadi tak berpaling sedetik pun.
"Aku sangat menginginkan nya. Sangat."
Belaian lembut terus bergerak di kepala itu tanpa henti. Jari jemari Kharisa bergerak mengusap perlahan-lahan bulu mata Gara yang panjang. Menampilkan mata yang begitu tegas di sana.
Manik mata hitam kelam itu semakin meredup setelah mempertimbangkan perkataan sang istri.
__ADS_1
Sementara di wajah Kharisa sudah terlihat kristal bening lolos begitu saja dari sudut mata. Harapan yang begitu ia inginkan jika Gara akan memulai kehidupan dengannya tanpa terlibat dengan Mr. Dave.
"Jangan menangis, aku tidak ingin melihat mu bersedih seperti ini." Gara berdiri demi bisa meraih dan memeluk tubuh Kharisa.
"Baiklah aku akan mundur." tutur Gara di sela-sela rasa bimbangnya. "Tapi hentikan tangis itu, kau tahu kan jurus paling ampuh membuat ku lemah adalah wajah sedih mu."
"Benarkah?" Manik mata Kharisa yang tertutupi dengan buliran bening kini terlihat menyipit karena senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya.
Gara hanya mengangguk pelan di iringi tangan yang mengusap pelan air mata di ujung pelupuk mata wanitanya.
Pelukan begitu erat ia dapat lagi setelah rasa senang Kharisa menyeruak dari hatinya. Hal yang selama ini Kharisa tunggu-tunggu adalah kata itu, keluar. Cukup sederhana bukan harapan wanita ini?
Bagi Kharisa hidup sederhana tanpa biaya tinggi dari Mr. Dave sungguh tak masalah. Bahagianya bukanlah dari kekayaan, melainkan ketenangan dan saling mengasihi. Itu sudah lebih dari cukup. Karena kemiskinan sesungguhnya tidak akan merenggut kebahagiaan.
"Tapi konsekuensinya akan berbahaya." Wajah yang tadinya begitu bahagia kini meredup seketika. Kharisa mengernyitkan dahinya dan segera bangkit dari duduknya. Ia berdiri sejajar dengan Gara.
"Apa itu?"
"Entah aku akan pulang dengan nyawa atau akan pulang hanya tubuh ku saja."
"Tidak, kau berbohong kan? aku tidak ingin hal itu terjadi." Kharisa semakin mengeratkan pelukannya di iringi tangisan yang begitu jauh lebih dalam. Rasa takut kehilangan kini benar-benar menyiksa perasaannya.
"Sudah, demi pernikahan kita aku akan pulang dengan selamat. Aku tidak akan mengambil perintahnya lagi. Tunggu aku pulang, jangan menangis. Aku harus bersiap untuk menghadap."
Gara meraih kedua tangan Kharisa untuk melepaskan pelukannya, namun tangan itu seperti enggan melepas.
"Biarkan aku ikut denganmu."
"Tidak, kau harus di rumah. Aku harus menyelesaikan semuanya. Tunggu aku yah."
Gara bergerak ke kamar mandi, terpaksa dengan langkah lunglai Kharisa melangkah menuju lemari pakaian sang suami. Entah mengapa rasanya sangat berat mengijinkan Gara pergi saat ini.
Tak pernah Kharisa selemah ini, ia tidak suka menangis berlarut-larut. Dengan cepat wanita itu mengusap air matanya dan kembali memancarkan senyumnya.
__ADS_1
"Oke jangan meragukannya, Gara, suamimu pasti akan kembali. Dia akan kembali menjadi suami yang dramatis. Hehehe."
Baju lengkap dengan celana dan lainnya kini telah tertata rapi di atas kasur. "Sudah selesai?" tanya Kharisa menatap ke arah kamar mandi dan tersenyum penuh arti.
Pria berotot dengan tanda luka samar-samar di beberapa bagian tubuhnya seakan menambah kata sexi. Gara hanya mengenakan balutan handuk di bagian pinggang yang tidak begitu panjang.
Ia melangkah mendekati Kharisa dan membawa tubuh sang istri kembali dalam dekapannya. Mata yang terpancar senyuman seketika tak bisa mengendalikan rasa takutnya lagi.
Ia memejamkan matanya erat merasakan pelukan yang begitu masuk ke dalam hatinya. "Pulanglah untukku." ucapnya lirih.
Bibir merah itu mendarat lembut di kening Kharisa. Perlahan ia mendaratkan bibirnya tepat di bibir pink Kharisa.
Tak ada lagi penolakan yang Kharisa lakukan saat ini. Gara mulai melancarkan bibirnya dan indera perasa di dalam rongga Kharisa.
Ini ciuman sebagai tanda memberi kekuatan untuk Gara. Cukup lama keduanya saling menikmati ciuman itu. Sampai akhirnya Gara sadar ia tak punya waktu lama, sebelum Mr. Dave geram padanya.
"Aku bantu untuk bersiap." Kharisa segera meraih pakaian sang suami. Memastikan tidak ada yang tertinggal satu pakaian pun. Usai sudah drama suami istri itu, kini Kharisa mengantarkan kepergian sang suami sampai ke mobil.
"Loh Gara mau kemana? bukankah ini hari libur?" Nyonya Harina penasaran terlebih lagi ia melihat wajah menantunya yang sembab.
"Gara ada urusan, Ibu." sahut Kharisa mencoba tetap menunjukkan senyuman meski tubuhnya ingin sekali terjatuh.
"Vino, Vano jaga istri ku. Kalian akan mendapatkan hal yang jauh lebih parah jika istriku lecet sedikit pun. Ingat itu." teriak Gara dari dalam mobil dengan kepala sedikit keluar.
"Siap Kakak ipar." Vino dan Vano serentak memberikan hormat padanya.
"Cepatlah pulang." Lagi-lagi Kharisa mengatakannya dengan menaruh harapan besar pada Gara.
Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Tuan Tedy. Membelah keramaian jalanan di kota itu. Beberapa gedung pencakar langit terlihat indah menjulang tinggi.
Kecepatan mobil semakin tinggi, Gara sungguh ingin segera menyudahi hal ini. Ia ingin hidup tenang setidaknya kegelisahan yang ia rasakan setiap malamnya tidak akan bertambah lagi dengan menambahkan satu korban yang di pintah Mr. Dave.
Akankah Gara bisa pulang dengan selamat?
__ADS_1
Nantikan selanjutnya yah!