
Kini Kharisa pun bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk satu jajaran kursi dengan Gara, keduanya begitu cuek tanpa ada suara. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, Tuan Tedy yang sedang duduk di kursi depan tampak mencuri pandangan pada Kharisa dan juga putranya.
"Mereka sangat lucu, aku sudah membayangkan di rumah mereka akan ramai jika bertengkar." gumam Tuan Tedy sembari terkekeh membayangkan mereka yang sudah menikah.
"Khard, nikungnya yang tajam." bisik Tuan Tedy pada supir mobilnya yang sekaligus sekertaris kepercayaannya.
Khard memiliki usia yang sepantaran dengan Gara. Ia baru saja bergabung dengan Tuan Tedy semenjak Tuan Tedy memutuskan untuk memilih Kharisa. Karena ia berfikir jika Kharisa akan membutuhkan pendamping selain dirinya. Mengingat Tuan Tedy sudah begitu tidak sehat ia pun mengambil Khard sebagai tangan kanannya yang di nilai cukup baik dalam bekerja.
Dengan segera Khard pun mencari posisi yang paling pas untuk menikung tajam. Dan sukses hal itu membuat Kharisa terhempas ke dalam dekapan Gara.
Keduanya saling berpandangan hingga akhirnya Gara yang tersadar dengan cepat mendorong tubuh Kharisa. "Hey, apa-apaan ini? mengapa kau menyupir begitu ugal-ugalan?" pekik Gara setengah berteriak.
"Ma-af, Tuan." sahut Khard dengan suara takutnya.
"Gara, mengapa kau semarah itu. Dia tidak sengaja." bantah Tuan Tedy.
Gara hanya berdecak kesal sesekali matanya menatap tajam ke arah spion mobil dan Khard pun melihatnya. Ia tertegun melihat tatapan tajam yang di miliki Gara. Beberapa waktu berlalu, kini mobil pun tiba di rumah sederhana Kharisa.
Vino dan Vano yang merasa asing dengan mobil itu segera megintip. "Kak Risa." ucapnya bersamaan dengan segera membuka pintu rumah dan menyambut kedatangan Kakaknya.
Kharisa pun berpamitan dengan Tuan Tedy dan menawarkannya agar mau mampir ke rumah pemberian Tuan Tedy itu.
"Kharisa, dia?" tanya Tuan Tedy.
__ADS_1
"Iya Tuan, mereka berdua adik saya. Yang ini Vano dan yang ini Vino. Vino, Vano, ini Tuan Tedy yang pernah Kakak ceritakan pada kalian." terang Kharisa seraya memperkenalkan.
Kedua adiknya menyambut dengan hangat kehadiran Tuan Tedy, "Selamat datang, Tuan kami adik-adiknya Kak Risa." tutur anak kembar itu dengan tersenyum lebarnya.
Tuan Tedy tersenyum mendengarnya, "Kharisa, saya salut denganmu bisa rukun dengan saudaramu seperti ini." tutur Tuan Tedy.
"Terimakasih Tuan, hanya mereka berdua yang Kharisa punya dan tentu tidak akan mungkin Kharisa tinggalkan." tuturnya dengan wajah tersenyum.
Tuan Tedy yang sedang berdiri di samping mobil tidak lagi memperdulikan Gara yang masih duduk di dalam mobil dan sibuk memainkan ponselnya.
"Yasudah kalau begitu saya pamit pulang duluyah." tutur Tuan Tedy dengan sopannya.
Kharisa dan kedua adiknya pun mengiyakan dan memperhatikan kepergian Tuan Tedy hingga mobil pun sudah tidak terlihat lagi.
"Kak, Tuan Tedy baik sekali yah." sahut Vino.
Kedua adiknya tercengang mendengar perkataan Kharisa. "Permintaan apa, Kak?" tanya Vino lagi.
Kharisa yang melamun tersadar akan perkataannya yang di dengar oleh adiknya. "Hah, tidak bukan apa-apa." Kharisa mengelak dan akhirnya mereka bertiga pun memilih untuk segera masuk ke rumah.
Di dalam kamarnya, Kharisa tampak merebahkan tubuhnya dengan segera di tempat tidurnya demi melampiaskan kelelahannya dan juga kekesalannya hari ini. Semua bebannya ternyata belum berakhir, kini ia harus bersiap memulai hidup baru yang entah kemana arahnya.
"Bagaimana jika aku menolaknya? apakah aku memiliki hak untuk menolak pernikahan itu? Apa aku masih bisa di sebut manusia yang punya perasaan jika menolak pernikahan itu?" Kharisa terus bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Rasanya sangat mendadak bahkan Kharisa sendiri belum sempat berfikir untuk mengenal pria apa lagi harus menikah. Terlebih lagi dengan pria yang sangat mengerikkan seperti Gara. Impian hidup yang ingin Kharisa bangun bukanlah pernikahan dini, melainkan kehidupan yang bahagia dengan kedua adiknya yang sudah sejak lama ia nantikan.
Jika ia menikah secepatnya apakah ia bisa memiliki impian itu lagi. "Van, apa kamu tidak melihat wajah Ka Risa seperti sedih?" tanya Vino khawatir.
"Iya aku melihatnya." jawab Vano dengan wajah datarnya.
"Kita bicara dengan Kakak nanti malam yah? sekarang biarkan Ka Risa beristirahat dulu." tutur Vino lagi dan Vano mengangguk tanda setuju.
Keduanya tidak tahu saat ini jika Kharisa sangat butuh teman cerita, tapi ia tidak mungkin jika harus berbagi beban hidupnya dengan kedua adiknya itu. Sudah cukup selama ini penderitaan kedua adik kembarnya itu. Kali ini tugas Kharisa adalah membahagiakan adiknya.
"Aku harus membuat sebuah perjanjian dengannya. Yah itu benar, aku tidak boleh menjadi wanita lemah di hadapan pria itu. Bagaimana pun aku harus menunjukkan jika aku tidak bisa di injak-injak seenaknya oleh dirinya." gumam Kharisa.
Kharisa berencana untuk bertemu dengan Gara besok di kantor tanpa Tuan Tedy di tengah-tengah mereka. Sebelum hari pernikahan ia harus memiliki kekuatan sebagai wanita yang terpaksa menikah.
Rasa pusing dan lelah Kharisa kali ini membuatnya kehilangan kesadaran di atas kasur dan tidak butuh waktu lama ia pun sudah terlelap dengan nyenyaknya. Di luar kamar, kedua adiknya sudah tampak saling membantu membersihkan rumah.
Apa lagi yang mereka bisa lakukan selain membantu Kharisa membersihkan rumah. Karena wanita itu sudah melarang kedua adiknya untuk melakukan hal apa pun selain belajar. Kharisa ingin kedua adiknya menjadi orang yang sukses agar bisa memiliki masa depan yang baik.
Setidaknya Tuhan berpihak pada Kharisa kali ini, kedua adiknya bukanlah anak yang nakal dan susah di atur. Mereka sangat menghargai semua keputusan Kakaknya tanpa berani membantahnya.
"Kok Kak Risa belum juga keluar kamar? apa dia masih sibuk dengan pekerjaannya?" tanya Vano tiba-tiba tersadar.
Vino pun mengecek ke kamar Kakaknya, pintu kamar telihat tidak tertutup rapat perlahan Vino mengetuk pintu itu namun tidak ada jawaban. Ia pun memutuskan untuk membuka pintu itu. Vino melihat Kakaknya yang sudah tertidur di atas kasur. Dengan hati-hati ia kembali keluar kamar dan menutup rapat pintu kamarnya.
__ADS_1
"Kak Risa sepertinya kelelahan, dia tertidur lelap." terang Vino.
Mereka pun berlanjut ke arah dapur, semua sudah tampak bersih. Akhirnya mereka mulai memasak untuk makan malam. Berkat penyiksaan yang di lakukan Tante Dila pada mereka, akhirnya mereka sudah bisa mengerti semua tentang pekerjaan rumah hingga masak memasak.