Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 79. Hukuman


__ADS_3

Mendengar celotehan Kharisa, Gara mengurungkan niatnya untuk memejamkan mata. Pria itu kini memiringkan tubuh agar berposisi tidur sembari menghadap ke arah Kharisa.


"Sampai aku tahu kamu berani bermain celup-celup di belakang ku, lihat akan ku beri besi panas di ucokmu itu."


Wajah Gara yang tadinya menatap teduh, kini mengernyitkan dahinya dalam. "Celup-celup? Lalu apa tadi? Ucok? Astaga bisa-bisanya dia memberikan nama aneh seperti itu?" Gara terkekeh tanpa bisa menahan diri lagi.


Kharisa benar-benar melawak di tengah tidurnya. "Kau lucu sekali." batin Gara.


Rasanya Gara semakin mengenal sikap istrinya yang selalu berubah di waktu tertentu. Jika ia bekerja, wajahnya dan sikapnya selalu menunjukkan wanita super tangguh. Namun berbeda jika ia berada di alam mimpi. Bibir tipisnya selalu bersahut bak burung beok. Sedangkan jika ia ketakutan, Gara bahkan kesulitan untuk jauh meski hanya satu detik darinya.


Pemandangan yang meneduhkan rasanya. Hingga tanpa sadar pria itu tertidur dengan senyuman yang masih tertinggal di wajahnya yang terlelap.


Di ruangan keluarga. Nyonya Harina tampak mengulum senyumnya sedari tadi. Tuan Tedy, Vino, dan Vano beserta Randa menatap penuh keheranan.


"Bu, ada apa? Ibu baik-baik saja, kan?" Akhirnya setelah lama mengamati istrinya yang tak kunjung mencurahkan kebahagiaan itu, Tuan Tedy melontarkan pertanyaan.


Nyonya Harina menoleh ke arah sang suami di sampingnya. Ia kembali mengingat tentang posisi Gara yang sudah siap untuk bertempur.


"Sudah Ibu baik-baik saja, Ayah. Sekarang Ayah pimpin doa yah? Semoga pertempuran anak kita membuahkan hasil. Ibu sudah sangat menunggu momen ini."


"Pertempuran?" tanya Vino dan Vano serentak kaget.


"Hus... telinga kalian belum cukup umur." Randa menegur kedua adik kembar Kharisa.


"Maksud Ibu..." Tuan Tedy memperagakan kedua tangannya saling menempel dan beberapa kali menutup kemudian membuka kembali. Yah gerakan itu jauh lebih mudah di pahami oleh orang sepantaran mereka.


Nyonya Harina pun mengangguk tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.


Tuan Tedy dengan penuh semangat ia menengadahkan kedua tangannya seraya mengucapkan beberapa doa dan semua yang ada di ruangan itu ikut mengamini.


Beberapa menit berlalu, akhirnya usai sudah mereka memanjatkan seluruh doa mereka sore itu. Sampai akhirnya terdengar, "Amiin." dari mereka semua secara bersamaan.


Setelah selesai sesi memanjatkan doa, mereka kemudian beranjak ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Sementara pelayan di rumah itu sudah mulai tampak berlalu lalang membersihkan rumah hingga suara-suara kesibukan di dapur juga mulai terdengar.


Pertanda makan malam sudah dalam proses pengolahan.


Senja mulai memantulkan cahaya kemerahan menembus gorden bersih yang berwarna kecoklatan menambah kesan mewah di kamar itu. Kharisa masih enggan membuka matanya. Rasanya tubuhnya begitu lelah dan masih ingin melanjutkan tidurnya.


Namun ia sadar, rumah yang ia tinggali membutuhkan sosok menantu yang baik. Kharisa membuka matanya menyipit karena silau. Wajah tampan yang pertama kali ia lihat adalah Gara.


Bibirnya melukis senyuman indah di sana. Satu kata yang terucap dari mulutnya. Tampan. Tangan mungil Kharisa meraih anak rambut Gara. Ia mengusap pelan wajah sang suami.


Dengan bibir yang masih tersenyum, Kharisa segera mendekati wajah teduh itu dan mendaratkan satu kecupan di pipi sebelah yang tidak tertindih. Karena posisi Gara masih seperti tadi.


"Mengapa dia tidur sambil tersenyum seperti ini? membuat ku semakin gemas saja." batin Kharisa kembali mencium pipi berbulu itu.


Matanya membulat begitu lebar, "Lagi." Suara serak dan sangat familiar itu mampu membuat keceriaan Kharisa mendadak lenyap bak di telan bumi.


Ia diam mematung, malu, kesal, bodoh, dan entah apa lagi yang ia lontarkan untuk mengutuk dirinya yang bodoh itu.

__ADS_1


Wajah Kharisa kian memerah. Sementara Gara tersenyum puas rasanya ia sangat ingin tertawa pecah kali ini. Namun Gara tetap seperti biasanya. Hanya senyum kecil yang mampu ia keluarkan, selebihnya adalah wajah sangar.


Kharisa yang secepat kilat menyibakkan selimut di tubuhnya segera memijakkan kakinya untuk bersiap lari ke kamar mandi. "Eits..." Gara menarik kasar pergelangan tangan Kharisa dan berhasil membuat tubuh sang istri tertelungkup di atas tubuhnya.


Kharisa enggan menatap wajah suaminya. "Aku ingin meminta hak ku." ujar Gara dengan tatapan yang tidak bisa di artikan lagi.


Wajah Kharisa begitu gugup. "H-hak apa?" tanyanya berpura-pura tidak mengerti ucapan sang suami.


Gara mengingat satu kata. "Hak celup-celup." ujarnya berusaha tetap tenang.


"Hah celup-celup? apa aku salah jika aku bermimpi sedang marah-marah tadi? tapi kenapa dia tahu perkataan ku itu?" Kharisa masih bingung dan berusaha menerka-nerka dengan posisi yang masih sama seperti semula. "Tidak, ini pasti hanya kebetulan. Lalu aku harus bagaimana sekarang? Apa aku harus menyerahkan diri? dia memang berhak atas diriku." Kharisa masih melanjutkan pertengkaran dirinya dalam hati.


Tanpa ia sadari jika pelukan Gara kini sudah terlepas di tubuhnya. Gara terdiam menikmati wajah di atasnya yang tengah melamun.


Hening. Cukup lama posisi itu bertahan hingga akhirnya Kharisa menunjukkan wajah geli dan menutup matanya seakan tengah mendapat serangan wajah dari Gara.


Gara hanya tersenyum dalam hati. "Apa kau begitu menginginkan aku mencium mu?" tanya Gara tiba-tiba mengubah raut wajah Kharisa yang berangan-angan tengah mempersiapkan diri berubah menjadi malu dan gelagapan.


"Apa maksud mu?" tanyanya menahan malu.


"Mandilah, sebentar lagi makan malam." pintah Gara.


"Lepaskan pelukan mu." sahut Kharisa masih tidak menyadari posisinya dengan Gara saat ini.


Manik matanya melirik lengan Gara yang tengah terletak di atas kepalanya seraya menikmati tidur terlentangnya yang terlihat pasrah.


"Dasar, bisa-bisanya dia mengejekku." Sepanjang aksi mandi itu, Kharisa terus menggerutu kesal.


***


Malam yang mulai terasa hangat kini menyambut suasana tenang di ruangan meja makan. Kharisa yang datang bersama Gara tampak sangat segar. Rambut terurai setengah kering membuat seluruh mata yang berada di ruangan itu tertuju pada Kharisa dan mengulum senyum.


"Alhamdulillah..." ucap semuanya serentak.


Mata Kharisa dan Gara saling bertaut tidak paham. Mendengar seruan hamdalah itu.


Semua duduk berkumpul di meja makan. "Ada apa, Bu?" tanya Kharisa.


Gara masih diam cuek, enggan berkomentar seperti biasa. Pria itu tidak perduli dengan sekitar.


"Habis mandi basah yah, Kak?" celetuk Vino sembari tersenyum lebar.


"Hus." tegur Vano yang menyenggol lengan saudara kembarnya.


"Sudah ayo makan." ajak Tuan Tedy.


Semua menikmati makan malam yang telah di hidangkan. Tidak ada pembahasan di meja makan itu, semua fokus pada isi di piring masing-masing yang di suguhkan oleh sepasang sendok.


Usai makan malam, semua duduk berkumpul di ruang keluarga.

__ADS_1


"Ayah, Kharisa ingin mengajukan satu usulan untuk perusahaan." ujarnya dengan lembut sembari menatap wajah Tuan Tedy.


"Silahkan Kharisa." sahut Tuan Tedy.


Kharisa melirik sang suami, Gara menatapnya kemudian menghela nafas pelan. "Begini Ayah, Gara sudah memeriksa seluruh penjualan produk di perusahaan. Tapi hasilnya begitu merosot jauh. Sepertinya produk kita perlu ada pembaruan seperti yang sudah Gara diskusikan dengan Kharisa."


Suasana menjadi tegang. Tuan Tedy merasa penasaran dengan apa yang anak dan menantunya rencanakan.


"Jadi Kharisa mengusulkan untuk pembaruan produk, Ayah. Kita tidak hanya mengelola limbah plastik itu menjadi bahan seperti yang kita jual selama ini. Kita bisa membuat paving blok atau sejenis bahan bakar minyak. Itu akan jauh lebih di butuhkan menurut Kharisa saat ini."


Tuan Tedy menganggukkan kepala, "Sepertinya itu ide bagus. Ayah juga sudah lama tidak update untuk penjualan. Kalian bisa bekerjasama dalam pekerjaan ini?" tanya Tuan Tedy.


"Bisa, Ayah." sahut Kharisa dan Gara bersamaan.


"Kharisa, mulai malam ini kamu harus menuntun Gara bersama Randa. Kalian harus memastikan Gara bisa menguasai semua ini." titah Tuan Tedy.


"Siap, Ayah." ujar Kharisa penuh semangat.


***


Malam sudah semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Gara berdiri di depan Kharisa memperhatikan semua tampilan dari layar laptop sang istri. Bahkan ia harus melihat kelihaian Kharisa dalam menentukan model yang akan mereka produksi. Dan menentukan beberapa poin dari macam limbah plastik yang akan di masukkan dalam kategori bahan pokok nantinya.


"Ah...salah, sepertinya ini sangat buruk. Aku ganti lagi yang lebih bagus hasilnya." Ini adalah yang kesepuluh kalinya Kharisa mengulang layar laptop menjadi kosong tanpa sisa. Gara sudah setengah sadar menatap layar itu.


"Kau bisa memahaminya, kan?" tanya Kharisa pada Gara.


Seketika mata Gara kembali segar. "I-ya bisa." ucapnya cepat.


"Aku tidak boleh terlihat lemah. Sudah cukup aku menjadi pria bodoh. Jangan menambah kekurangan ku dengan kantuk ini, ayolah Gara, come on." ujarnya dalam hati.


Sementara Kharisa sudah mengulum senyum tanpa Gara ketahui. "Rasain, emang enak aku kerjain? siapa suruh bikin aku malu tadi." batin Kharisa tertawa puas penuh kemenangan.


"Padahal file aslinya sudah aku simpan hehehe." batin Kharisa lagi.


Wanita itu tahu jika Gara gengsi mengakui dirinya yang sudah lelah menatap hasil kerja sang istri yang sampai saat ini tak kunjung usai.


"Gara, kamu menang di tempat tidur. Tapi soal di depan laptop aku yang menang." ujar Kharisa dalam hati.


Bahkan saat ini, mata Gara sudah mulai sayu-sayu. Ia beberapa kali mengerjapkan matanya untuk menahan kantuk. "Mengapa lama sekali sih?" akhirnya Gara pun bersuara.


"Lama apanya? sudah selesai dari tadi kok. Hanya saja aku lagi ingin mencoba-coba yang lainnya." celetuk Kharisa dengan ekspresi datar.


"Kamu mengerjai ku?" tanya Gara sadar akan boomerang itu.


"Menurutmu?" Kharisa tampak menantang suaminya.


Tanpa aba-aba, Gara yang mengantuk, kini sudah menggendong tubuh Kharisa ke arah tempat tidur. "Gara, turunkan aku!" pekik Kharisa.


"Tidak akan, kau sudah mengerjaiku malam ini. Terima hukumannya." Gara langsung menindih tubuh Kharisa begitu sampai di tempat tidur empuk itu.

__ADS_1


__ADS_2