
Makan malam pun selesai, kini mereka semua berpindah ke ruang keluarga untuk bersantai.
"Gara, tunggu apa lagi segera bawa Vino dan Vano kemari." pintah Tuan Tedy.
"Ayah." sahut Kharisa terkejut.
"Tidak ada penolakan. Kau harus tinggal di rumah ini lagi."
"Siap Ayah." sahut Gara segera pergi melajukan mobilnya menuju kontrakan istrinya.
Di perjalanan Gara mencoba mengecek ponselnya. "Tidak ada sama sekali kabar dari Randa. Baiklah besok aku akan ke markas untuk memastikan jika mereka sudah berangkat atau belum."
Sedangkan Kharisa yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya masih tidak berani mengatakan apa pun pada Tuan Tedy dan Nyonya Harina.
"Prasangka Ayah benar, saat ini terbukti kan Gara sudah perlahan mulai berubah karena mu Kharisa. Ayah percaya cepat atau lambat kalian akan bahagia." tutur Tuan Tedy.
"Iya Ayah." sahut Kharisa berusaha memaksa senyuman di wajahnya.
"Kau pasti lelah, Ibu antar ke kamar istirahat ayo." ucap Nyonya Harina.
Kharisa segera menuruti perkataan mertuanya dan meninggalkan Tuan Tedy bersama pelayan di ruang itu.
"Untung saja, perutku juga sudah sangat mual." gumam Kharisa.
Keduanya masuk ke kamar Gara, terlihat tempat tidur yang sudah lama tidak di tiduri. Semenjak kepergian Kharisa, Gara memang tidak pernah merebahkan tubuhnya di kasur itu.
"Terimakasih, Bu sudah mengantarkan Kharisa." ucapnya buru-buru.
Nyonya Harina yang pergi meninggalkan Kharisa kini kembali membuka pintu kamar Gara.
Terdengar suara Kharisa yang muntah-muntah di dalam kamar mandi. Wajah panik Nyonya Harina kini berubah menjadi tersenyum lebar dengan pikiran yang sudah tahu menebak apa yang terjadi pada menantunya itu.
"Kharisa...hamil." serunya dengan tersenyum bahagia.
Nyonya Harina berdiri di depan kamar mandi menunggu pintu kamar mandi itu terbuka.
"Ibu." Kharisa terkejut melihat sosok wanita di hadapannya tanpa suara.
Wajahnya semakin gugup melihat tatapan Nyonya Harina.
"Kemari." ajak Nyonya Harina dengan menggenggam kedua lengan Kharisa mereka duduk di pinggir kasur.
"Kharisa, kamu hamil sejak kapan?" tanya Nyonya Harina menebak sangat tepat sasaran.
Mendengar pertanyaan yang sudah jelas jawabannya itu, Kharisa meneguk kasar salivahnya.
"Ayo katakan. Besok kita pergi ke rumah sakit yah?" seru Nyonya Harina.
"Tapi..." Kharisa kebingungan harus mengatakan apa, sementara dirinya tidak tahu apa harus mengakui jika dirinya hamil atau tidak.
"Gara, cepatlah datang. Aku tidak tahu harus bagaimana saat ini. Tolong aku. Apa aku harus berbohong atau jujur? aku takut melukai kembali hati Ayah dan Ibu."
__ADS_1
Kharisa masih diam membisu. "Sudah sebaiknya kau istirahatlah, Ibu akan mengomel pada Gara nanti. Lihat saja anak itu. Bisa-bisanya memiliki kabar bahagia tidak memberi tahu kami." ucap Nyonya Harina dan segera membantu Kharisa berbaring.
"Tidurlah yang nyenyak, sebentar lagi suamimu akan datang."
Kharisa hanya tersenyum tanpa mau mengatakan apa pun. Kini Nyonya Harina tampak menyelimuti tubuh Kharisa lalu ia pergi meninggalkan kamar anaknya.
Wajahnya tak hentinya menunjukkan senyuman lebar hingga sampai di hadapan sang suami.
"Ibu kenapa? kok senyum-senyum seperti itu?" tanya Tuan Tedy penasaran.
"Rumah ini sebentar lagi akan ada suara bayi, Ayah." terang Nyonya Harina.
"Bayi?" kening Tuan Tedy mengernyit dalam.
"Kharisa, Bu?" tanya Tuan Tedy menebak.
Nyonya Harina menganggukkan kepala dengan senyuman yang sejak tadi masih tak hilang dari wajahnya.
"Kita akan punya cucu, kita akan gendong cucu, Bu?" seru Tuan Tedy tanpa sadar sudah berdiri dengan tegapnya dari kursi roda itu.
Wajahnya tampak segar tak terlihat sama sekali wajah pucatnya itu.
Keduanya saling berpelukan senang. Akhirnya yang di tunggu kini datang juga.
"Haah semoga saja nanti cucu kita pintar seperti Kharisa. Tidak seperti Gara, dia harus bisa meneruskan usaha Ayah." tutur Tuan Tedy.
"Ayah itu masih sangat lama sekali masih." ucap Nyonya Harina.
Keduanya kini menikmati tontonan di televisi sembari menunggu anaknya pulang.
"Halo selamat malam semuanya." Suara manja Reynka terdengar dari arah pintu rumah Tuan Tedy.
"Reynka." ucap Nyonya Harina terkejut melihat sosok wanita yang sama sekali tidak di sangka kedatangannya.
"Ada apa kau kemari?" tanya Nyonya Harina menatap sinis pada wanita yang pernah melukai hati anaknya itu.
"Reynka kebetulan dari luar negeri, ini ada oleh-oleh untuk Om dan Tante." ucapnya menyodorkan beberapa paper bag yang ia genggam.
"Maaf Reynka, lain kali sebaiknya kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Iya kan Ayah?" ucap Nyonya Harina.
"Oh kalau oleh-oleh Ayah rasa tidak apa-apa, Bu. Kan Gara jarang sekali membawakan kita oleh-oleh." ujar Tuan Tedy.
"Aw Ibu." rintih Tuan Tedy yang merasa kesakitan saat pinggangnya di cubit Nyonya Harina.
Reynka tersenyum puas mendengar penerimaan dari Tuan Tedy kali ini.
"Yes, gue dapat cela sepertinya di rumah ini."
"Oh iya kebetulan Dokter Om keluar negeri, kemarin sudah kabarin Reynka. Jadi sementara yang periksa Om adalah Reynka." terangnya.
"Boleh saja, berarti kalau Om yang di periksa hitungannya sama atau bagaimana?" tanya Tuan Tedy.
__ADS_1
"Ayah." pekik Nyonya Harina kesal pada suaminya.
Namun Tuan Tedy hanya mengedipkan mata pada istrinya.
Nyonya Harina sangat kesal melihat tingkah suaminya itu.
"Dasar tua keladi, giliran wanita laju sekali dia."
Nyonya Harina hanya terdiam tanpa mau bicara apa-apa lagi mendengar perbincangan Reynka dan suaminya.
"Kalau untuk Om gratis deh. Obat pun biar Reynka saja yang siapkan. Om tidak usah repot-repot." ungkapnya tersenyum lebar.
"Sialan kalau gini ceritanya gue bangkrut. Sudah bayar tuh Dokter sialan pakai tubuh gue ini malah pengobatan gratis pula. Okelah untuk saat ini fine, nggak masalah. Yang penting Gara harus jatuh ke pangkuan gue lagi."
Reynka memang telah bekerja sama dengan Dokter Tuan Tedy demi mendapatkan waktu agar bisa mengunjungi rumah mantan kekasihnya itu.
"Ini ada bau-bau bangkai sepertinya, Bibi tolong berikan pewangi ruangan di sini yang lebih banyak dong." pintah Nyonya Harina sedikit berteriak sembari melirik tajam pada Reynka yang sudah memeriksa keadaan Tuan Tedy.
"Assalamualaikum." Suara Vino dan Vano kini terdengar dari luar pintu rumah.
Gara dan kedua adik iparnya masuk ke dalam rumah. "Walaikumsalam." sambut Nyonya Harina ramah dan kedua pria kembar itu mencium punggung tangan Nyonya Harina bergantian.
Gara melirik tajam pada arah Reynka yang tengah bersama Tuan Tedy duduk di sofa.
"Bu, apa itu?" tanya Gara enggan memperjelas pertanyaannya.
"Sudah kamu sebaiknya masuk sana ke kamar. Biarkan mereka." pintah Nyonya Harina.
Reynka yang sudah tersenyum melihat kedatangan Gara segera meletakkan seluruh alat pemeriksaannya dan berlari mendekati Gara.
"Honey, aku sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu?" tanya Reynka yang melingkarkan tangannya sangat menempel pada lengan Gara.
Vino dan Vano saling melempar tatapan, keduanya menaikkan bahu mereka memberikan jawaban jika mereka tidak ada yang paham.
Gara menepis kasar tangan mantannya lalu beranjak pergi menuju ke kamarnya seperti yang Nyonya Harina perintah padanya.
"Gara." panggil Reynka yang hendak mengejar pria itu namun di cegah oleh Nyonya Harina.
"Mau kemana? itu tugasmu belum selesai." ucap Nyonya Harina menunjuk ke arah suaminya.
Reynka merasa kesal tidak berkesempatan berbicara dengan Gara.
"Dasar orangtua sialan." pekiknya dan kembali pada Tuan Tedy.
"Vino, Vano ayo Ibu antar ke kamar." ucap Nyonya Harina.
Kedua pria itu menuju ke kamar bersama Nyonya Harina. Sesampainya di kamar Nyonya Harina ikut masuk.
"Ibu boleh bicara sebentar?" tanyanya.
"Iya, ada apa, Bu?" tanya keduanya antusias.
__ADS_1
"Sejak kapan Kakak kalian hamilnya?"
"Hamil?" Vino dan Vano serentak bersuara kaget dan saling menatap satu sama lain.