
Pendewasaan tidak selalu berukur dari usia. Terkadang perasaan akan jauh lebih berperan membentuk dewasanya seseorang. Dimana hati akan menang memikirkan kebahagiaan di sekitar di banding pikiran untuk menghakimi kesalahan seseorang.
_____________________________________
"Kak Risa..." Kedua pria kembar tersebut berteriak histeris lalu berlari mendekati sang Kakak yang sudah tidak sadarkan diri.
"Bu, apa kita bawa ke rumah sakit?" tanya Gara cemas melihat wajah pucat istrinya.
"Tidak Nak, istrimu sedang lemah. Sebentar lagi pasti akan sadar.
Selang beberapa saat kemudian setelah Nyonya Harina memberikan aroma minyak penyegar di hidung menantu, terlihat Khasiat menggerakkan kedua alisnya perlahan dan membuka matanya.
Kepalanya yang berat menatap sekeliling di hadapannya, banyak wajah khawatir terlihat jelas saat ia bangun.
"Kharisa..." Gara menggenggam tangannya.
"Kak Risa, minggir." Vino mendorong tubuh Gara agar memberinya tempat mendekati sang Kakak.
"Vino..." panggil Kharisa lirih.
"Iya Kak, Vino di sini jagain Kakak. Kakak mau apa? kita pergi? ayo Kak."
Kharisa menggeleng pelan. "Tolong maafkan dia, Vino."
Vino terkejut mendengar permintaan sang Kakak. Ia menggelengkan kepalanya masih menatap tak mengerti perasaan sang Kakak.
Perlahan Vino berdiri tanpa mengalihkan pandangannya dari Kharisa. "Vino...Kakak mohon, Dek. Semuanya tanpa ada yang mau terjadi seperti ini." Kharisa berusaha menggapai sang adik dengan tangan lemasnya.
Bahkan wajah kedua adiknya terlihat babak belur saat ini. "Kita tidak ada yang mau, Kak. Tapi dia yang mau. Dia pembunuh Ayah dan Bunda. Kakak lebih mementingkan perasaan Kakak dari pada meninggalkan pria pembunuh ini? baik, Vino yang akan pergi jika Kakak tidak mau pergi."
Air mata meluncur bebas di kedua pipi Kharisa. Tidak. Bukan kepergian Vino yang ia harapkan saat ini. Kharisa hanya ingin hidup bahagia bersama kedua adiknya dan keluarga dari suaminya, apa itu salah?
"Tidak Vino, jangan pergi Dek. Kakak sayang sama kalian. Tolong jangan seperti ini. Tinggallah bersama Kakak, Vino. Kakak tidak ingin pisah dengan kalian lagi." Tangis Kharisa pun terdengar pilu hingga tubuhnya bergetar.
"Kakak ikut kami, Vino bisa menghidupi Kakak tanpa bantuan dia. Jika Kakak tidak percaya silahkan Kakak tinggal di sini bersama pembunuh yang akan membesarkan anak Kakak nantinya."
"Vin, tolong hentikan kata-katamu. Kak Risa butuh ketenangan." sahut Vano.
Vino menatap tajam pada saudara kembarnya. "Butuh hidup tenang? lihat! Selama pembunuh itu melenyapkan Ayah dan Bunda, sekali pun kita tidak akan pernah bisa hidup tenang."
__ADS_1
Vino melangkah mundur menatap penuh kebencian pada keluarga Gara. Matanya tampak berkaca-kaca melihat sang Kakak tercintanya menangis pilu.
Kharisa menggelengkan kepalanya. "Vino, Kakak mohon jangan pergi, Dek. Kakak sayang sama kalian."
Vino memilih mengabaikan permintaan sang Kakak. Vino memutar tubuhnya dan meraih koper miliknya yang bersebelahan dengan koper sang Kakak. Kakinya melangkah menuntun keluar dari rumah megah itu.
Kharisa yang masih lemas meraung melambaikan kedua tangan berusaha menggapai sang adik yang sudah melangkah semakin keluar dari rumah mertuanya. Vano dengan cepat memeluk sang Kakak.
"Kak jangan seperti ini. Kasihan keponakan Vano, Kak. Vino pasti baik-baik saja. Vano yang akan mengawasi dia dari jauh. Kakak jangan khawatir." Kharisa menangis sesenggukan di dalam dekapan sang adik.
Gara terdiam menunduk. Bahkan saat ini dirinya pun telah menjadi pemisah antara saudara tersebut.
Vano yang bisa melihat suasana tidak enak itu melepaskan pelukannya. "Kakak ipar, tolong bawa Kak Risa ke kamar. Biar Vano yang lihat arah Vino pergi." ujarnya pelan.
Tap Tap Tap Tap
Terdengar langkah kaki masuk ke rumah. Semua memandang kedatangan seseorang yang masih terlihat bernafas memburu. Randa. Pria itu sudah kehilangan momen sedih dua kali. Yan pertama momen dimana Kharisa mencegah suaminya menyerahkan diri. Dan yang kedua, momen dimana Vino memutuskan pergi dari rumah tersebut.
Vano menghela nafas kasar. "Hah...sejak kapan jalanmu seperti keong begitu? ayo ikut aku."
Randa kebingungan melihat suasana canggung di ruangan itu.
"Gara, bawalah. Nanti Dokternya Ibu suruh ke kamar langsung. Kharisa, istirahat yah!" pintah Nyonya Harina lembut.
Sesampainya di kamar, Kharisa di rebahkan di tempat tidur. Dan di berikan selimut. Usai memastikan kenyamanan sang istri, Gara mendaratkan satu ciuman di kening wanita yang sedang gundah itu.
Kharisa tampak memejamkan mata, suasana sunyi di ruangan kamar menambah kecanggungan di antara mereka. Mata yang terpejam bukan berarti mengantuk, hanya saja Kharisa sedang tidak ingin berpandangan dengan pria yang begitu mengaduk-aduk perasaannya saat ini.
Genggaman tangan masih bisa wanita bermata sembab itu rasakan hangatnya. Cinta Gara begitu besar hingga mampu menyingkirkan rasa dendam yang seharusnya Kharisa lakukan saat ini. Bahkan untuk berkata kasar pun Kharisa tidak sanggup.
Cinta yang tulus tidak akan sanggup menyakiti hati yang ia cintai. Biarlah hatinya luka seorang diri, tak mengapa. Asal cinta yang ia inginkan tetap ada dan tidak tersakiti.
Deru nafas yang terdengar perlahan mulia teratur, namun tak menghilangkan suara sesenggukan dari wanita yang terbaring lemah di tempat pembaringan berukuran king size tersebut.
Gara mengusap lembut kening sang istri.
"Sesakit inikah melihat cintaku tersakiti? Sekali pun tak pernah terpikirkan olehku jika cintaku salah satu korban dari kejahatanku di masa lalu. Kharisa, sungguh andai waktu bisa terulang. Aku bahkan tidak ingin melakukan hal itu. Mengapa aku menjadi orang bodoh saat itu? Mengapa semua terasa menyedihkan begini? Gara tertunduk hingga ia sendiri pun tak kuasa menahan buliran bening yang jatuh ke pangkuannya.
Kedua paha yang menopang tubuh tegap Gara duduk di bibir tempat pembaringan tersebut menjadi saksi tempat pendaratan air mata pria itu.
__ADS_1
"Semuanya, semua yang aku takutkan dan selalu hadir dalam mimpiku kini terjadi. Aku orang yang paling tidak tahu diri, Kharisa. Berharap kebahagiaan setelah banyak melakukan dosa di masa lalu." Bayangan di mana Gara melajukan mobilnya dan membanting stir kala mobil yang melaju dengan kecepatan sedang tengah melintas di jalan yang berbatasan dengan lautan di Kota tersebut.
Bahkan Gara pun tampak tersenyum puas melihat aksi brutalnya yang membuat kedua mertuanya jatuh ke laut bersama dengan mobilnya.
Senyuman yang begitu puas karena misinya satu lagi terselesaikan. Begitu banyak daftar yang di berikan oleh Mr. Dave untuk ia selesaikan.
Dengan hilangnya satu target lagi, kekuasaan Mr. Dave semakin bertambah.
Tok Tok Tok
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Gara berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Gara, ini Dokter yang akan memeriksa keadaan Kharisa." ucap Nyonya Harina.
Gara pun mempersilahkan Dokter tersebut masuk ke dalam kamar bersama sang Ibu.
***
"Ada apa, Vin? kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?" Seorang wanita berparas Arab tampak memperhatikan ekspresi sang sahabat satu kelas di perkuliahan.
"Entahlah. Sel, ada lowongan kerja?" tanya Vino lemas.
Keduanya tampak bertemu di salah satu cafe yang tampak tidak begitu banyak pengunjung.
"Em... bukannya kamu udah kerja yah?" tanya Sely penasaran.
"Yah aku resign. Ada tidak?" tanya Vino lagi.
"Sebenarnya sih tidak ada. Tapi karena kamu, yasudah nanti malam aku bicara dengan Daddy aku." ucap Sely tersenyum lebar.
Sementara di sisi yang tidak begitu jauh, tampak Vano yang menunduk dengan wajah sendunya. "Bagaimana? apa kita masih harus mengikuti Vino? pengawal yang lain juga sudah standby kok." sahut Randa masih menatap ke arah dalam cafe yang berdinding kaca transparan.
"Pulang saja." jawab Vano lemas.
Randa tersenyum kecil. "Kalau cinta gerak cepat. Jangan seperti keong." Vano yang mendengar ledekan dari Randa menatapnya tajam namun segera ia tepis kekesalan di hatinya.
Sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengurusi dirinya. Ada sang Kakak yang harus ia bahagiakan.
***
__ADS_1
Di sudut kamar terlihat wanita yang tengah menangis pilu, ia melihat seluruh tubuhnya penuh memar. Di sampingnya tampak pria terlelap begitu tenang tanpa sehelai kain pun.
"Aku tidak bisa jika seperti ini terus. Lebih baik aku mati." tangisnya semakin tersedu-sedu kala pergelangan tangan itu ia tempelkan sebilah pisau buah