
Randa yang melangkahkan kakinya semakin memasuki rumah itu mendapat tatapan dari berbagai arah. Tuan Tedy dan Nyonya Harina menatap dirinya penuh tanya. Sedangkan Gara, ia sudah terlihat gelagapan.
Bingung harus mencari alasan apa? sementara di depannya saat ini ada kedua orangtuanya.
"Seorang pria yang berparas sangat menakutkan ini ternyata sangat kacau Tuan, Nyonya." ungkap Randa menggelengkan kepalanya.
"Randa, memangnya ada apa sih? kalian tidak sedang bertengkar kan?" tanya Tuan Tedy.
Gara masih terdiam. "Sebaiknya aku yang bercerita, setidaknya itu sedikit menutup rasa malu." batin Gara.
"Tuan, Nyonya, barusan Gara-"
"Ayah, Ibu, maafkan Gara. Untuk hari ini Gara masih belum berani memimpin meeting di kantor. Gara masih gugup, tapi Gara janji berikutnya Gara akan segera berhadapan langsung dan memimpin meeting di kantor tanpa Randa." tuturnya berterus terang sebelum Randa mengatakan semua dengan penuh ejekan.
Gara menundukkan kepalanya. Ia yakin jika dirinya telah membuat perasaan orang tuanya kecewa kali ini sehingga ia sama sekali tidak berani menatap dua orang di hadapannya.
Tak lama terdengar suara tawa dari Tuan Tedy. "Sungguh? apakah benar Bu? yang ada di hadapan kita sekarang adalah Gara? Apa Ayah tidak salah lihat? sejak kapan anak kita memiliki mental kerupuk seperti ini?" Tuan Tedy terkekeh mendengar penuturan jujur dari Gara bahkan ia melangkah mendekati Gara.
Tangannya yang tak lagi kencang itu meraih kening Gara, "Oh syukurlah anakku tidak demam meeting."
Sekali lagi ia terkekeh, bahkan kali ini Tuan Tedy tak sendirian. Nyonya Harina juga ikut tertawa sembari menggelengkan kepalanya.
"Randa, apa kau yakin ini Garaku? mengapa rasanya sungguh berbeda? apa ada yang salah dengan anak kita, Ayah?" celetuk Nyonya Harina.
"Saya juga tidak habis pikir, Nyonya, Tuan. Ternyata nyali seorang mafia hanya sebatas mental kerupuk." ejek Randa.
Manik mata hitam legam milik Gara melirik tajam ke arah Randa. "Sudahlah, Gara ingin membawa Kharisa ke rumah sakit. Randa, kau siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Siap bos mental kerupuk." Randa lagi-lagi tertawa sebelum berpamitan untuk meninggalkan ruangan itu.
Nyonya Harina dan Tuan Tedy masih tertawa menatap kepergian putra mereka. Wajah tampan nan sangar yang selalu membuat musuh kikuk, kini menjadi lemah hanya karena ketidak memiliki pengalaman di bidang bisnis mampu merusak segala reputasi Gara.
"Hah sial...hanya karena satu kesalahan ku saja mereka semua memandang ku seperti ini. Baiklah, ini hal yang menjadi mimpi buruk untuk ku. Dan tidak akan ku ulangi lagi. Aku tidak akan membiarkan namaku rusak lagi." umpat kesal Gara sembari melangkah menuju kamar sang istri.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Gara di perlihatkan pemandangan indah nan menggoda. Baju Kharisa tersibak ke atas tubuh dan begitu juga dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Sudah tergeletak di lantai kamar itu.
Gara tampak meneguk kasar salivahnya, melihat perut putih nan mulus itu. Cukup lama manik mata itu menatap intens ke depan sana dengan penuh terawang. Satu hal yang ada di benak Gara saat ini. "Perut indah itu akan terisi benih ku nanti, yah aku yakin. Kita akan hidup bahagia pada waktunya. Aku akan berusaha menebus semua kesalahanku kali ini, Kharisa. Laki-laki itu hadir karena keteledoran ku." tutur Gara.
Cukup lama ia menikmati pemandangan itu. Wajahnya tampak tersenyum kecil.
"Sayang, bangun!" Kharisa tampak mendaratkan beberapa kali ciuman pada wajah Gara pagi itu.
"Emh...ada apa sih?" tanya Gara.
"Ayo bangun, kamu harus kerja. Cari uang buat dede bayi kita. Kan aku sudah tidak bekerja. Cepat bangun!" Kharisa terus mengguncang tubuh suaminya.
"Astaga Kharisa aku masih sangat mengantuk. Lagi pula aku bosnya, kan? uang tetap mengalir biar aku tidak bekerja."
"Tidak, kau mencontohkan yang tidak baik untuk karyawan. Cepat bangunlah atau kau tidak ingin menjadi Ayah yang baik dan bertanggung jawab?" Mendengar perkataan istrinya, Gara seketika terbangun dari tidurnya.
Mata yang masih setengah tertutup itu kembali menutup dan menjatuhkan tubuhnya namun tidak di kasur, melainkan di pangkuan sang istri. "Beri aku sarapan hot!" ucapnya dengan suara khas bangun tidur.
"Sarapan apa? hot dog? sejak kapan kamu suka sarapan seperti itu?" Kharisa tampak membelai wajah suaminya yang berada di pangkuannya.
"Oke, tapi bukan sarapan. Melainkan makan malam, dengan satu syarat."
Gara yang mendengar langsung bangkit dari aktifitas malasnya. "Syarat?" tanyanya memandang lekat wajah cantik sang istri.
"Pergi bekerja dulu, nanti aku siap-siap berikan makan malam hot untuk mu. Oke?"
"Oke, siapa takut. Aku akan segera pulang."
Setelah perjanjian pagi itu akhirnya Gara melewati hari-hari dengan penuh semangat di kantornya. Seluruh berkas yang bertumpuk di meja kerjanya sudah selesai dengan tangan lincahnya.
Tidak terlihat sedikit pun lelah di raut pria tampan itu. "Hah akhirnya selesai juga. Oke, Kharisa i am coming..." ucapnya bersemangat pulang ke rumah.
Perjalanan yang cukup memakan waktu lama karena memang kendaraan sedang macet di waktu jam pulang kerja. Dan hal itu membuat Randa jadi jauh memiliki waktu untuk melihat berkas yang akan ia ambil di meja kerja Gara.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa semua ini?" tanyanya tak habis pikir.
Seluruh pemeriksaan anggaran yang seharusnya di perkecil justru menjadi berkali-kali lipat angkanya di tabel itu.
Seperti biasanya, Tuan Tedy masih memantau seluruh hasil kerja keras anaknya itu. Matanya membulat saat menerima email dari Randa.
"Ayah! apa yang terjadi?" Nyonya Harina hampir ikut jantungan melihat suaminya mendadak terduduk di sofa.
"Ayah, Ibu, aku pulang. Kharisa!" teriak seorang pria yang tidak lain adalah Gara. Ia melangkah dengan wajah bahagia dan penuh semangatnya menyusuri rumah itu.
"Gara!" teriak Tuan Tedy.
"Iya Ayah, ada apa? dimana Kharisa?" tanyanya masih tak sadar dengan raut wajah marah Tuan Tedy.
"Gara, berhenti." sahut Nyonya Harina yang menyadarkan putranya.
"Ibu, ada apa dengan Ayah?" tanyanya.
"Apa maksudnya ini, Gara? kau ingin membuat Ayah bangkrut? hah!" sentak Tuan Tedy.
Netra itu sontak membulat menyadari angka yang ada di sana. "Ayah, siapa yang melakukan ini?" tanyanya.
"Lihatlah, Bu. Dia masih tidak menyadari atau memang benar-benar ingin membuat perusahaan Ayah bangkrut."
Sekali lagi Gara memperhatikan berkas itu, dan benar di sana terlihat beberapa coretan tangan miliknya. "Maafkan aku, Ayah. Sepertinya ada kekeliruan."
Tuan Tedy langsung melayangkan tangannya mendarat di wajah Gara.
"Plak" bunyi suara tamparan itu seketika menyadarkan lamunannya.
"Astaga, apa yang aku pikirkan?" Gara menggelengkan kepalanya sembari mengerjapkan matanya. Sejenak ia terkekeh sendiri mengingat lamunan konyolnya itu.
Gara melangkah mendekati Kharisa. "Sekali pun bukan aku yang pertama, tapi aku tetap mencintaimu, istriku. Aku menunggu mu untuk siap menjadi istri yang seutuhnya untuk ku." ucapnya sembari membelai rambut Kharisa.
__ADS_1
Gara merapikan baju sang istri kemudian ia menggendong Kharisa. Mungkin jauh lebih baik membawa Kharisa dalam keadaan terlelap seperti ini. Mobil pun melaju ke arah rumah sakit. Sepanjang jalan Gara terus mengusap kepala Kharisa agar semakin nyenyak. Randa mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sangat di bawah rata-rata.
"Hedeh kalau seperti ini bisa satu Mingguan baru sampai di rumah sakit." gerutu Randa penuh penyesalan kenapa dia yang harus menyetir mobil itu? Anda saja tadi dia tidak datang ke rumah Tuan Tedy, tentu dia tidak akan merasakan apes seperti ini.