
Tanpa berani melawan Kharisa diam mendapatkan ciuman lembut dari suaminya. Ini adalah malam di mana mereka akan menyempurnakan pernikahan mereka.
"Gara, aku takut jika seperti ini." ucap Kharisa.
Sejenak aksi Gara pun terhenti. Ia menatap Kharisa dengan tatapan sayu. "Kau takut?"
Kharisa menganggukkan kepalanya. "Bisakah kita melakukan dengan suasana yang tidak tegang. Aku takut." Suasana kamar yang sunyi seakan mengingatkan Kharisa kembali pada suasana di kamar hotel saat itu.
Beruntung saat ini ketakutan Kharisa sudah bisa ia kuasai. Gara terdiam sejenak. Ada perasaan senang karena istrinya tidak memberikan penolakan atas permintaannya malam ini.
"Tunggu di sini." pintah Gara beranjak dari tempat tidur.
Kharisa menarik selimut agar menutup wajah dan tubuhnya yang malu. Sementara Gara sudah memutar musik romantis dengan suara begitu memenuhi kamar mereka. Gara mematikan lampu kamar utama dan menggunakan lampu tidur yang bernuansa kekuningan remang-remang.
Sungguh menambah kesan romantis. Anggap saja keduanya sedang berbulan madu di temani suasana romantis yang ala kadarnya.
"Astaga, kenapa jantungku rasanya mau meledak seperti ini? Ya Tuhan semoga aku bisa melayani suamiku dengan baik malam ini." Kharisa terus mengucapkan dalam hati sembari bersembunyi di balik selimut tebal itu. Tangannya sudah memegangi dadanya yang terus berpacu begitu cepatnya.
Bahkan keringat pun telah mengucur deras di kening wanita itu. Kini terdengar langkah kaki Gara yang tidak memakai alas kaki mulai mendekati tempat tidur mereka yang akan menjadi saksi bisu pergulatan mereka.
Gara tersenyum tipis melihat samar-samar tingkah istrinya. "Akhirnya malam yang ku tunggu-tunggu." batinnya melanjutkan langkah dan merebahkan tubuhnya di kasur empuknya.
Tangan kekar itu sudah melingkar di tubuh sang istri yang terbalut selimut. Di balik selimut, Gara tidak mengetahui reaksi Kharisa yang hampir saja menjatuhkan bola matanya andai hal itu bisa terjadi. Karena kegugupan yang sama sekali tidak bisa ia hindari.
"Aduh... tangannya. Kharisa ayolah kamu berani." ucapnya seraya memberi kekuatan pada dirinya sendiri.
"Hei...mau sampai kapan selimut ini kau tahan? hem?" Perlahan tangan Gara meraih selimut dan menurunkan dari ujung kepala sang istri.
Kharisa yang dengan bergemetar pun berusaha menurut, ia membiarkan Gara melancarkan aksinya. Usai selimut tersingkir, Gara membalikkan tubuh Kharisa yang memunggunginya saat ini. Ia mulai membelai kepala sang istri sembari memberikan ciuman manja di bibir mungil itu.
Kharisa masih mengunci mulutnya. Gara bersusah payah meraih indera perasa istrinya. Cukup lama ada adegan pertempuran bibir di sana hingga akhirnya perlahan Kharisa pun mulai tampak menikmati aksi suaminya.
Alunan musik romantis mengiringi permainan mereka malam itu. Gara begitu penuh gairah, nafasnya sudah terdengar menderu. Dari aksi bibir perlahan turun semakin turun bibir pria itu.
Sungguh nikmat. Gara benar-benar memperlakukan Kharisa sangat lembut. Sesekali Kharisa menarik tubuh suaminya yang bergerak di bawah sana untuk meminta pelukan hangat. Gara dengan sayangnya memeluk Kharisa. Meski ada sesuatu di bawah sana yang meronta untuk segera menuntaskan aksi itu, namun Gara harus sabar.
__ADS_1
Kharisa sangat butuh kelembutan. Gara tidak ingin sedikitpun memberikan bayangan pria itu pada permainan mereka malam ini.
"Lakukanlah." suara gemetar serak Kharisa terdengar memerintahkan sang suami untuk melanjutkan aksinya.
"Tatap mataku, Kharisa." Di sela-sela cahaya yang remang, keduanya saling tatap.
Gara sudah mulai berusaha melancarkan aksinya. Sedikit pun Kharisa tak memalingkan tatapannya.
Ia bahkan mulai menjerit kesakitan, mungkin ini adalah bukan yang pertama. Tapi tetap saja ia merasakan sakit yang luar biasa. Tubuh berotot Gara pun perlahan mulai kembali bergerak lebih kuat lagi hingga terdengarlah keduanya saling bersahutan menyambut kenikmatan surga dunia itu.
Gara terdiam sejenak, ia mencium lembut bibir sang istri. Cukup lama. Sampai akhirnya Kharisa sudah tidak merasakan sakit dan Gara mulai melancarkan aksinya.
Malam yang panjang, mereka melakukan hal itu hingga tak terasa kain penutup kasur itu pun ikut basah karena keringat keduanya. Kharisa menatap Gara sayu, matanya masih memancarkan kenikmatan yang baru saja ia dapatkan.
"Terimakasih." Gara mencium puncak kepala Kharisa.
"Maafkan, aku." ujar Kharisa dengan tatapan sedih.
Gara membelai kepala Kharisa. "Maaf untuk?"
Namun matanya terbelalak saat menyaksikan yang pandang justru junior suaminya yang masih berdiri tegak.
"Ih... dasar mesum." Kharisa memukul dada bidang Gara yang masih berkeringat dan tampak beberapa helai bulu di sana ikut mandi basah oleh keringat itu.
Kharisa pun memunggungi sang suami karena malu. Suasana yang tadinya sedih justru mencair akibat pusaka sang suami.
Gara mendekati Kharisa di belakang dan melingkarkan tangannya di perut Kharisa. Lalu membisikkan sesuatu di telinga istrinya. "Bagiku ini tetaplah yang pertama. Sangat nikmat. Bahkan aku tidak tahu rasanya bagaimana yang lebih nikmat. Karena ini adalah yang pertama bagiku."
Kharisa membalikkan tubuhnya. Ia menatap lekat wajah sang suami. "Yang pertama?" tanyanya terkejut seakan tidak percaya.
Gara menganggukkan kepalanya. "Ini yang pertama untukmu dan untukku. Beri aku bonus. Oke?"
"Bon-" Belum sempat Kharisa mengucapkan satu kalimat tanya, Gara sudah kembali menyerangnya.
Malam itu mereka menghabiskan malam yang sangat panjang. Gara terus menyerang Kharisa tanpa memberikannya ampun. Sungguh kekuatan Gara benar-benar di akui oleh Kharisa.
__ADS_1
Usai melakukan hubungan itu, keduanya memutuskan untuk tidur di waktu jam menunjukkan waktu jam dua malam. Suasana sudah sangat larut.
Kharisa enggan untuk membersihkan diri. Ia tidur dalam pelukan suaminya. Gara membiarkan alunan musik terus menyala karena ia juga merasa lelah untuk sekedar bangun dari tempat tidurnya.
***
Di sebuah hotel, bahkan di waktu untuk mengejar cinta Gara pun Reynka masih memadu kasih dengan pria lain.
Sungguh wanita ini tidak bisa menahan hasratnya. Ia sangat haus akan belaian pria. Katroy lenyap, tidak bagi Reynka untuk berhenti memadu kasih dengan pria lain.
Jam yang sudah hampir pagi pun, wanita itu masih asyik bergoyang di atas tubuh pria yang menikmati pelayanannya.
Khard, terus melancarkan aksi tangan dan mulutnya yang tidak henti-hentinya menikmati setiap area tubuh wanita di atasnya.
Keduanya sudah saling memberi kepuasan tersendiri. Khard memejamkan matanya sesaat setelah merasakan kepemilikannya mencapai puncak kenikmatan.
Suara erangan panjang mereka terdengar bersamaan dengan tubuh Reynka yang bergemetar merasakan sensasi luar biasa itu.
"Haaaah aku lelah." ujar Reynka merebahkan tubuhnya di atas tubuh Khard sembari memainkan jari lentiknya di dada pria itu.
"Apa masih menginginkannya? aku bisa membuat mu lebih puas dari ini." ucap Khard tersenyum sumringah.
"Kenapa harus bertanya? kau memang seharusnya melakukan itu padaku. Ingat aku sudah berjasa atas dirimu. Dan jangan lupakan rencana kita." Tanpa menunggu lama, Khard pun membalikkan posisi mereka.
Kini pria itu yang mengambil alih menjadi pelaku permainan. Ia mulai menelusuri setiap lekuk tubuh Reynka dengan rakusnya. Bahkan tidak butuh waktu lama, Reynka menggeliat merasakan sensasi di tubuhnya berangsur-angsur nikmat. Suaranya pun begitu menggelegar di kamar itu.
"Dasar jal*ng," batin Khard tersenyum ganjil melihat reaksi Reynka yang tak bisa di bohongi lagi."
***
Mentari pagi menyapa penghuni bumi dengan sinarnya yang begitu cerah. Suara burung-burung merdu saling bersahutan di langit biru.
Bunga berwarna warni mulai meneteskan embun pagi itu.
"Kharisa dan Gara belum pada bangun yah?" tanya Nyonya Harina yang tengah duduk di taman halaman rumah bersama suami tercintanya, Tuan Tedy beserta kedua adik kembar Kharisa.
__ADS_1
"Belum, Bu. Sepertinya Kakak dan Kakak ipar bergadang semalam. Kan mereka sedang belajar." ujar Vino.