Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 11. Vano Mimpi Basah


__ADS_3

"Mengapa semua jadi berjalan di luar dugaanku seperti ini? apakah aku bisa baik-baik saja jika menikah dengannya? Kharisa apakah kamu kuat menghadapi dirinya? apa kamu yakin akan mampu menjalankan amanah Tuan Tedy?"


Derasnya hujan seakan mewakili tangisan di wajah Kharisa malam itu. Ia yang duduk seorang diri di teras depan rumahnya merasa tidak puas jika harus duduk memandangi hujan yang turun dengan deras.


Tubuhnya meringkuk memeluk kedua kaki yang terlipat di depannya. Malam yang begitu sunyi benar-benar membuat Kharisa semakin larut dalam kesedihannya.


Matanya yang sembab dan berkaca-kaca kini memandang air hujan yang berjatuhan. Kaki yang sedari tadi terlipat dalam dekapannya segera ia turunkan. Langkahnya tertuju pada halaman rumah yang tidak begitu luas.


Ia berdiri di derasnya hujan malam yang gelap di temani kilauan petir. Namun rasa takutnya sepertinya sudah tak ada lagi hanya rasa sakit yang ia lampiaskan.


"Tuhan, mengapa seperti ini? aku tidak kecewa dengan cobaan yang kau berikan. Tapi mengapa yang satu ini benar-benar membuatku patah semangat untuk hidup lagi. Sementara di dalam sana ada dua adikku yang harus aku tanggung jawabin."


"Vano, apa kau tidak mendengar suara orang menangis?" tanya Vino yang terbangun dari tidurnya.


"Heeem...tidak. Itu mungkin hanya halusinasimu saja." jawab Vano.


Namun Vino yakin jika itu adalah suara tangis meskipun suara hujan juga begitu mengganggu pendengarannya tetapi ia bisa mendengar jelas.


Dengan cepat Vino pun melangkah keluar dari kamarnya dan segera mencari sumber suara tangisan yang terdengar. Tangannya menarik kecil korden jendela lalu mengintil ke arag luar.


"Kak Risa?" Suara Vino begitu terkejut melihat keadaan kakaknya yang sudah terduduk denfan dengan tubuh yang basah kuyup.


"Kak, Kak Risa kenapa?" Vino dengan segera menghampiri Kharisa dengan membawa payung.


"Vino," sahut Kharisa tersadar dengan suara adiknya


Ia pun dengan cepat menyunggingkan sebuah senyuman yang menandakan jika dirinya tidak sedang bersedih.


"Kak, katakan ada apa?" tanya Vino lagi dengan penasarannya.


"Kakak hanya rindu dengan orangtua kita." jawabnya berbohong.

__ADS_1


Vino tersentuh mendengar pengakuan kakaknya. Sungguh bukan hanya Kharisa saja yang merindukan, tetapi mereka berdua juga sangat merindukannya.


Vino dengan cepat memeluk tubuh Kharisa tanpa perduli dengan tubuh kakaknya yang sudah basah.


"Kak, Vino juga merindukan Papah sama Mamah. Tapi kita harus kuat, Kakak punya Vino dan Vano kita harus bisa sama-sama saling menguatkan. Vino janji akan buat kakak bahagia. Vink akan berusaha keras menjadi adik yang sukses, Kak." ucapnya dengan suara lirihnya.


"Vino maafkan Kakak telah berbohong padamu. Maafkan Kakak telah menutupi ini semua dari kalian. Kakak tidak sanggup jika harus mengatakannya dan membuat kalian jadi marah dengan Tuan Tedy. Beliau adalah orang baik dan sangat berjasa bagi Kakak. Andai kamu tahu Kakak menangis karena hal itu apakah kamu bisa menguatkan Kakak lagi? Kamu pasti akan sangat marah pada Kakak jika tahu Kakak akan menikah dengan pria seperti itu." gumam Kharisa dalam hati sembari menangis sesenggukan.


Kedua kaka beradik itu sudah menangis dan saling memeluk. Tubuh mereka sama basahnya. Namun suasana dingin sepertinya tak mampu membuat mereka merasakannya. Hanya kesedihanlah yang begitu menguasai diri mereka.


Sayangnya Vino tidak tahu jelas apa alasan Kharisa menangis hingga merasakan sakit yang mendalam seperti saat ini. Anda Kharisa bisa bercerita tentu beban di hatinya bisa sedikit berkurang.


"Kak, kita masuk yah. Papah sama Mamah akan sedih melihat kita menangisi mereka dengan rapuh seperti ini." tutur Vino menyadarkan Kharisa saat itu juga.


Kharisa pun memberikan sebuah anggukan dan menandakan jika dirinya setuju untuk masuk ke rumah. Vino memapah tubuh lemas Kharisa dan mendudukkannya di kursi depan rumah.


"Kakak tunggu di sini. Vino akan mencarikan handuk untuk Kakak." ucapnya dengan bergegas pergi.


"Astaga Vin, itu cewek bodynya kayak gitar waow." ucap Vano.


"Iya Van, uhhh cantik dan seksi banget yah." sahut Vino.


"Kali ini biar aku yang dekatin dia. Pasti cewek itu tidak menolakku, wajahku kan lebih tampan darimu." tutur Vano menyombongkan dirinya.


Terlihat dari arah yang tidak begitu jauh, Vano pun sedang berkenalan dengan seorang wanita. Beberapa kali ia terus mengusap tangannya di celana miliknya untuk membersihkan sebelum bersalaman dengan gadis bertubuh gitar itu.


Cukup lama mereka berbincang-bincang sampai akhirnya Vano mulai mendekatkan wajahnya pada wajah wanita itu.


Vino yang melihat dari kejauhan tampak panik karena keberanian Vano pada lawan jenis. Karena selama ini Vino lah yang jauh lebih aktif sementara Vano selalu lebih banyak diam.


"Van, jangan ini tempat umum." teriak Vino.

__ADS_1


Namun Vano tampak mengacuhkan teriakan peringatan kakaknya itu. Ia terus mendekatkan wajahnya dan mulai menonjolkan mulutnya untuk mencium wajah wanita itu.


Semakin maju dan semakin maju lagi bibirnya hingga tiba-tiba, "Awwww." teriak Vano saat mendapati wajahnya telah di hempas oleh bantal.


"Ada apa sih?" tanya Vano dengan kesalnya saat melihat Vino yang berdiri di hadapannya.


"Ada apa..ada apa, tadi sedang bermimpi apa? sepertinya kau sedang bermimpi basah yah?" tanya Vino dengan ketusnya tanpa berbasa basi lagi.


Mendadak mata Vano membulat setelah mendengat perkataan kakaknya itu.


"Apa dia melihatku atau aku sedang mengatakan sesuatu tadi?" gumam Vano dengan menduga-duga.


Namun Vino segera bergegas keluat kamarnya dengan rambut yang masih basah. Vano merasa penasaran mengapa kakaknya mandi malam-malam seperti ini.


"Apa justru dia yang baru mimpi basah sampai kepalanya juga ikut basah?" tanya Vano penasaran.


Dengan segera ia berjalan turun dari tempat tidur mengikuti jejak langkah Kakaknya itu. Matanya kembali membulat saat mendapati Kharisa dan Vino yang sedang duduk di ruang tengah dengan secangkir teh hangat.


"Kak Risa kenapa?" tanya Vano penasaran melihat kedua kakaknya basah dan mata Kharisa yang sudah memerah.


"Sudah masuk ke kamarmu sana dan lanjutkan mimpi basahmu itu!" pekik Vino dengan wajah ketusnya.


"Hah mimpi basah?" Suara Kharisa yang begitu terkejut dan hampir tersedak dengan teh hangatnya.


"Hehehe bukan, Kak Risa. Maksudnya mimpi di waktu yang hujan itu kami bilang mimpi basah." ucap Vano yang berusaha mengeles.


Kharisa hanya menggelengkan wajahnya heran mendengar peribahasa dua adiknya itu yang menurutnya sangat aneh di dengar.


Sementara Vano masih saja melirik ke arah Vino berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan kakaknya saat ia tertidur lelap tadi. Lebih tepatnya saat ia tengah menikmati mimpi ingin mencium wajah wanita yang tidak begitu ia ingat lagi saat ini.


Namun Vino justru memelototinya karena kesal dengan adiknya yang begitu lelap tertidur sementara ia mendengar jelas suara tangis Kharisa.

__ADS_1


__ADS_2