
Derap langkah kaki terdengar jelas semakin mendekat kala manik mata seisi ruangan di kediaman Tuan Tedy mengarah pada sumber suara.
"Kharisa, kamu mau kemana, Nak?" Nyonya Harina berjalan tergesa-gesa mendekati sang menantu.
"Maaf Bu, Kharisa butuh waktu sendiri dulu." ujarnya sembari mengusap buliran bening yang lolos begitu saja di kedua pipinya.
Koper besar terlihat jelas di sebelahnya berdiri kokoh. Siap mengantar keperluan sang pemilik barang sampai pada tujuan.
Tuan Tedy mendorong kursi rodanya secepat mungkin. "Kharisa, Ayah minta maaf jika paksaan Ayah menjadikan kalian korban. Ayah sama sekali tidak bermaksud menyakitimu dan kedua adikmu. Ayah yang salah di sini."
"Kak, boleh kita bicarakan ini di kamar?" tanya Vano yang mendekati sang Kakak.
Kharisa menjawab dengan anggukan pelan. Keduanya berjalan kembali ke kamar Kharisa meninggalkan Nyonya Harina dan Tuan Tedy yang termenung.
Di dalam kamar.
"Kak, apa Kakak akan membiarkan keponakan ku menjalani hari seperti kita dulu meski hanya tidak ada Ayahnya?" tanya Vano pelan.
Kharisa menunduk menatap dalam pada perut yang masih rata itu. "Vano, Kakak masih tidak sanggup untuk melihat pembunuh orangtua kita. Kakak sungguh kecewa. Kakak benar-benar tidak kuat." tutur Kharisa masih terdengar bergetar meski ia sama sekali tidak mengeluarkan air mata lagi.
Vano memeluk sang kakak yang duduk di pinggir tempat tidur tersebut. "Ayah, Bunda sudah tenang di sana Kak Risa. Bahkan Kakak sendiri yang membantu Kakak ipar untuk berubah meninggalkan dunia itu. Semuanya sudah terbayar Kak. Bisakah kita hidup lebih hangat sekarang? Ayah dan Ibu juga begitu menyayangi Kakak. Mereka sudah menebus segala cinta dari Ayah dan Bunda yang tidak kita rasakan."
Keduanya hening. Vano tampak melepas pelukannya dan berlutut di depan sang Kakak. Tangannya bergerak meraih genggaman sang Kakak.
"Vano mohon Kak Risa. Jangan rusak masa depan Kakak lagi hanya karena masa lalu yang saling kebetulan. Tuhan memberikan jalan ini untuk tujuan yang baik. Kakak di bawa dalam kehidupan Kakak ipar untuk merubahnya. Ayolah Kak, demi calon baby Kakak. Vano dan Vino yang akan melindungi Kakak jika sampai terjadi apa-apa kedepannya."
"Mengapa Tuhan mengirimkan aku pada pria yang sudah merenggut nyawa orangtuaku sendiri? rasanya sulit mempercayai. Cintaku besar, tapi kepergian Ayah dan Bunda jauh lebih menyakitkan. Dan itu karena pria yang aku cintai." Kharisa menunduk meratapi nasibnya.
Sementara di ruang tengah Vino berjalan memasuki rumah dengan tangan yang tampak berdarah. Nyonya Harina dan Tuan Tedy menatap kaget pada bocah itu. Namun apa yang berani mereka katakan? apakah menanyakan keberadaan Gara? ada keadaan putra mereka? rasanya tidak mungkin.
Hanya diam satu-satunya cara yang mereka lakukan. Randa yang melihat langsung berlari keluar rumah. Ia mencari Gara melalui GPS dari ponsel sang sahabat.
__ADS_1
Setelah cukup lama perjalanan, Randa menemukan sinar mobil yang masih menyala tanpa berjalan.
"Kita ke rumah sakit. Ayo bertahanlah." ujar Randa yang berusaha memapah tubuh Gara untuk masuk ke mobilnya.
Gara menepis tangan sahabatnya. "Randa, kau bawa dokumen orangtuanya kan?" tanya Gara menatap sahabatnya dengan tatapan penuh harap. Raut wajahnya tampak tidak bersemangat sama sekali.
Mata yang selalu tajam menawan itu kini memerah sendu. Di wajah terlihat beberapa luka yang masih basah.
"Ya, aku bawa. Untuk apa?" tanya Randa ragu.
Gara berusaha bangun sendiri dengan bantuan mobilnya yang ia pegang erat. Berjalan gontai menuju mobil Randa.
Seluruh dokumen di koper kerja bagian kursi penumpang di bongkar Gara. Pria itu hanya mengambil seluruh bukti-bukti keterkaitan dirinya dengan kematian seluruh korban.
Randa yang melihat wajahnya seketika panik dan merebut seluruh berkas tersebut. "Kembalikan!" hardik Gara.
"Tidak Gara, kau bisa di hukum mati. Kau pikir sedikit korban yang kita lenyapkan saat itu?" tanya Randa.
Suara decitan mobil Gara begitu terdengar nyaring kala sang pemilik mengendarai dengan kecepatan tinggi. Gara berjalan menuju ke kantor polisi untuk menyerahkan dirinya.
Tatapan nanar dengan tangan yang terasa bergetar kini terus fokus menatap jalanan yang ia tuju. "Maafkan aku Kharisa, mungkin dengan seperti ini kau bisa memaafkan diriku dan memulai hidup dengan baik." lirihnya menitihkan air mata dan memejamkan mata sesaat.
Randa yang di tinggalkan seorang diri begitu cemas. "Astaga mengapa jadi seperti ini? bahkan dia sendiri belum tahu jika istrinya hamil ahhh." Randa mengusap kasar wajahnya.
Pria itu berjalan gelisah mondar-mandir di samping mobil dengan sebuah ponsel yang menempel di daun telinganya. "Halo," ketika sambungan telepon tersambung.
"Iya, ada apa?" tanya seseorang dari seberang sana.
"Van, tolong Kharisa bawa mencegah Gara untuk menyerahkan diri di kantor polisi. Kau tidak mau kan keponakanmu kehilangan ayahnya? Gara pasti di hukum mati jika sampai menyerahkan diri."
Wajah Vano yang tegang kini kembali terlihat tegang berkali-kali lipat. "Oke, kami segera kesana."
__ADS_1
Ketika sambungan telepon terputus, tampak Vano menghampiri sang Kakak. "Kak Risa, jangan berpikir lama. Kakak Ipar segera di hukum mati jika Kakak menyia-nyiakan waktu ini. Ayo Kak, jangan sampai menyesal." tutur Vano sontak membuat Kharisa kaget buka kepalang.
"Apa maksud kamu, Vano?" tanya Kharisa mengernyitkan dahinya.
"Kakak ipar ke kantor polisi saat ini?" tuturnya. Kharisa membulatkan matanya. "Kakak ipar pasti tidak akan bisa bebas Kak." lanjut Vano lagi.
Kepanikan Kharisa mengalahkan rasa marahnya ternyata. Dan Vano sedikit mengulum senyum melihat sang Kakak yang refleks berdiri hendak berjalan keluar kamar. Vano pun mengiringi perjalanan mereka menuju ke mobil.
Langkah yang cepat itu tak lagi menghiraukan kedua orang tua yang tengah diam membisu.
Nyonya Harina yang melihat kepergian mereka menatap sang suami.
"Ayah..." ujarnya meminta pertolongan.
"Biarkan mereka, Bu. Mereka sudah dewasa." tutur Tuan Tedy yang merasa pasti semua baik-baik saja tanpa ia tahu jika sang putra sudah menuju ke tempat pengeksekusian sebentar lagi.
Vano mengemudi dengan kecepatan sedang, ia takut terjadi hal buruk dengan kehamilan sang Kakak. Selama perjalanan Vano dan Randa terus berkomunikasi. Mereka berjalan menembus jalur-jalur cepat untuk bisa mencegah Gara.
"Van, bisa percepat lagi mobilnya?" tanya Randa.
"Nggak bisa Randa, Kak Risa sedang hamil muda." ucap Vano menatap sejenak kakaknya.
"Vano, Kakak baik-baik saja. Percepat mobilnya." tutur Kharisa yang mulai cemas.
"Oke, sebentar. Aku coba hubungi Gara biar dia bisa memperlambat laju mobilnya." ujar Randa mematikan sambungan telepon.
"Ah... kenapa tidak di angkat juga sih?" gerutu Randa yang memegang ponselnya dan tangan yang sudah bergetar.
_______________________________
Berbahagialah menata masa depan, jangan sekali-kali menengok ke belakang. Jika tak ingin semua usahamu akan hancur sia-sia.
__ADS_1