Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 81. Keriwehan


__ADS_3

Di halaman yang tampak semakin cerah dengan sinar mentari yang mulai naik menandakan pagi sudah menjelang siang. Semua yang berkumpul di halaman rumah itu pun memutuskan untuk masuk ke rumah membersihkan diri kemudian menikmati sarapan yang sudah terhidang di atas meja makan.


"Ayo, kita mandi dan sarapan bersama." ajak Tuan Tedy.


"Iya Ayah," sahut Vino dan Vano serentak sementara Randa hanya membungkukkan tubuhnya sedikit memberi sapa melalui isyarat pada sepasang majikannya yang berlalu di hadapannya.


"Randa, kau juga ikut bergabung." ujar Tuan Tedy.


"Baik, Tuan." jawabnya.


"Sudah, jangan panggil seperti itu. Panggil seperti yang lainnnya. Kau sudah seperti anak kami juga."


Dengan pandangan masih menunduk Randa menjawab dengan ragu. "Baik, A-yah."


Tuan Tedy tersenyum mendengarnya. "Bagus." Kemudian mereka satu persatu masuk ke rumah setelah kepergian Tuan Tedy dan Nyonya Harina.


Singkat waktunya, semua sudah berada di meja makan setelah bersiap untuk memulai aktifitas mereka masing-masing. Vino dan Vano akan menuju ke kampus terlebih dahulu setelah itu barulah mereka menuju ke kantor.


Terlihat dua kursi kosong yang biasanya selalu terisi Kharisa dan Gara. Semua mata tertuju ke kursi itu.


"Apa mereka belum ada turun, Bi?" tanya Nyonya Harina pada pelayan yang berada tidak jauh dari ruangan itu.


"Oh...Tuan Gara dan Nyonya Kharisa sepertinya belum bangun, Nyonya." ujarnya sopan.


"Sudah, Bu. Sepertinya semalaman Gara bergadang karena tugas mereka semakin berat. Bahkan Gara harus belajar banyak dari istrinya." ujar Tuan Tedy membela anaknya.


"Yasudah, ayo kita sarapan." Nyonya Harina pun meneruskan sarapan dengan yang lainnya.


Hening. Sarapan berjalan semestinya. Usai sarapan kedua anak kembar itu serentak mendekati kedua orangtuanya.


"Ayah, Ibu, kami berangkat kuliah dan kerja sekalian yah." Vino dan Vano bergantian meraih punggung tangan mereka dan menciumnya.


"Hati-hati, Nak. Yang giat belajarnya yah. Untuk kerja jangan terlalu di paksakan." ujar Nyonya Harina sembari tersenyum hangat.


Vino dan Vano meninggalkan kediaman Tuan Tedy setelah mengucapkan salam. Begitu juga dengan Randa yang ragu-ragu mengikuti cara pamit kedua anak lelaki kembar itu untuk pergi ke kantor.


"Kita jadi kan ke rumah sakit, Ayah?" tanya Nyonya Harina.

__ADS_1


Hari ini adalah jadwal Tuan Tedy untuk konsultasi. Yah selama keadaannya membaik, ia memilih untuk datang sendiri ke rumah sakit. Karena ia tidak ingin membuat jalan apa pun untuk Reynka beralasan masuk ke rumahnya. Wanita itu terlalu berbisa.


"Iya, Bu. Ayo." Keduanya masuk menuju ke mobil dan beranjak pergi meninggalkan halaman rumah.


***


Di kantor, Randa tampak mondar mandir dengan gelisah. Sesekali matanya melirik jam yang melingkar di tangannya. "Astaga, sudah jam segini mereka belum juga sampai di kantor. Ini akan terlambat untuk meeting kalau begini." ujarnya gusar.


"Apa sebaiknya aku menelepon rumah saja, yah?" Dengan penuh pertimbangan Randa akhirnya menghubungi telepon rumah.


Sambungan telepon terhubung.


Tanpa basa-basi lagi, Randa langsung bertanya, "Halo, apakah Gara belum bangun?" tanyanya.


"Tuan Gara sepertinya masih tidur, Tuan." sahut Yati salah satu asisten rumah tangga.


"Oh ya ampun. Baiklah biar aku hubungi langsung saja." Randa mengakhiri panggilan telepon.


Segera tangan lincahnya mencari kontak kemudian menekan layar tombol hijau di gawainya.


"Halo." Terdengar suara berat di seberang sana.


"Oke, aku segera kesana." ujarnya tanpa mematikan sambungan telepon.


"Kharisa, bangun." Gara menepuk beberapa kali wajah sang istri.


"Hem...ada apa? aku masih lelah." Kharisa hanya bersuara lirih kemudian melanjutkan tidurnya lagi.


"Hei...hari ini kita kesiangan. Kita ada meeting, bukan?"


Mendadak Kharisa terbangun. "Astaga meeting. Ini semua karena kau membuatku terjaga semalaman."


"Ayolah jangan berdebat, lagi pula itu kan hakku yang seharusnya sudah ku dapatkan lebih dulu."


"Iya tapi kau salah waktu, seharusnya bukan di waktu seperti ini. Bahkan aku kelelahan seperti ini."


"Yah tapi kau suka kan? nikmat bukan? bahkan aku bisa saja mengulangi sekali lagi sebelum kita ke kantor." Gara menggoda istrinya yang tengah sibuk merapikan beberapa berkas yang tercecer di meja.

__ADS_1


Sementara Gara sibuk mengguyur tubuhnya tanpa menutup kamar mandi itu.


Keduanya terus berdebat karena peperangan semalam, tanpa ada yang menyadari jika di seberang telepon ada wajah yang tercengang karena terus mendengarkan begitu banyaknya kosakata yang terdengar ambigu.


"Makanya ucokmu itu di kontrol. Pokoknya aku tidak mau lagi jika bukan waktu libur." Kharisa bersuara terdengar seperti mengomel pada anak kecil.


"Yah suka-suka si Ucok dong. Kapan dia bangunnya. Sudah mandilah cepat!" pintah Gara.


"Aku akan mandi jika kau sudah keluar."


"Kenapa?" tanya Gara tersenyum ganjil.


"Kau hoby celup-celup bukan? aku tidak ingin menghabisi tenagaku yang tersisa ini."


"Ucok... celup-celup? ya ampun." batin Randa yang menggelengkan kepalanya agar tersadar dan langsung mematikan panggilan itu.


"Ternyata itu penyebab mereka bangun sampai siang seperti ini?" Randa tersenyum menggelengkan-gelengkan kepalanya.


Dengan gerakan gesit, Gara dan Kharisa serentak berlari kecil keluar kamar kemudian keluar dari rumah menuju ke mobil. Keduanya masuk ke mobil dengan tergesa-gesa.


"Ya ampun seperti pasangan yang lagi ada misi penangkapan aja. Benar-benar serasi." ujar Yati memperhatikan kepergian mobil kedua pasangan suami istri itu.


Beruntung mereka terlambat di waktu agak siang, pengendara di jalan pun tidak begitu ramai karena sudah memasuki jam kerja. Gara melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


Kharisa pun tidak memperdulikan hal itu, ia jauh lebih cemas pada kantor yang saat ini sudah menunggu mereka.


Setibanya di kantor Gara membiarkan mobil itu terparkir di sembarang tempat. Kemudian security yang bertugas menata kendaraan langsung mengatur setelah kepergian sang pemilik.


Gara dan Kharisa berjalan cepat memasuki lift, tidak ada lagi sapaan ramah dari wajah Kharisa. Mereka begitu tampak tegang. Bagaimana tidak, para investor sudah menunggu kedatangan mereka di ruangan tersebut.


Randa juga sudah tak nampak di depan ruang meeting. Itu tandanya Kharisa dan Gara sudah sangat terlambat sampai Randa harus bisa mengulur waktu mereka di dalam.


"Permisi." Suara dua orang dari pintu ruang meeting pun terdengar dengan nafas yang tersengal-sengal. Semua mata menatap ke arah keduanya.


Pandangan yang tadinya biasa saja mendadak berubah dengan tatapan aneh. Manik mata semua tertuju pada Kharisa.


Gara yang sadar akan hal itu melirik istrinya. Oh ya ampun, tanda cinta. Yah, Kharisa tidak menyadari tanda merah di dadanya tepat di bagian dekat kera baju formalnya.

__ADS_1


"Maaf, silahkan duduk." Gara dengan cepat mengalihkan pandangan semuanya. Kemudian ia melepas jas kerja dan memberikan pada Kharisa.


"Lehermu merah." bisiknya saat memberikan jas itu


__ADS_2